Bertahun-tahun berlalu, dan keluarga Berg terus—seperti selalu.
Mathias kecil tumbuh, dan saat dia cukup besar, papanya Aksel kecil membawanya ke gletser, dan Mathias kecil mendengar es berbicara, seperti seluruh keluarganya sebelumnya.
Dan suatu hari, Mathias kecil pergi ke Antartika—membawa kompas tua kakek buyut Aksel, membawa foto lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi, membawa buku-buku keluarga. Dan di es Antartika, tempat segalanya dimulai, dia berdiri di tempat Lara yang pertama menemukan cinta.
Dia berlutut, meletakkan tangannya di es, dan mendengar.
Es berbicara.
Dan—seperti yang sudah terjadi generasi demi generasi—Mathias kecil bertemu seseorang di es. Cinta, ditemukan di tempat yang sama, lintas generasi.
Es mempertemukan orang-orang yang bergerak ke arah yang sama.
Maja kecil—penjaga cerita—menulis tentang itu juga, menambahkan bab baru pada kisah keluarga yang tidak pernah berakhir. Setiap generasi, cinta baru di es. Setiap generasi, cerita berlanjut.
Dan rumah putih di Bergen tetap berdiri. Dijaga. Bintang-bintang Mathias masih bersinar. Lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi masih di koridor. Kebun mawar Aksel masih mekar. Buku-buku keluarga masih di rak—sekarang lima, enam buku, ditulis oleh generasi demi generasi.
Dan setiap anak keluarga Berg, saat mereka kecil, masih tidur di bawah bintang-bintang fluoresen, dan masih bertanya: "Kenapa ada bintang di langit-langit?" Dan masih mendengar jawaban yang sama, lintas generasi: cerita tentang anak yang takut gelap, yang membuat cahayanya sendiri.
Lingkaran. Tidak pernah berakhir.
Dari Lara yang pertama, perempuan Indonesia yang lari ke Antartika dengan hati patah dan menemukan cinta. Lewat Aksel, lewat Maya, lewat Eirik, lewat Aksel kecil, lewat semua generasi.
Sampai sekarang. Dan seterusnya.
Cinta yang ditemukan di tempat paling dingin di dunia—mengalir, lintas generasi, di rumah putih di pinggiran Bergen, di es yang keluarga Berg cintai, di bintang-bintang yang menolak gelap.
Tidak terbatas.
(bersambung...)