Nazwa terdiam menatap langit-langit kamar rumah sakit, kosong, sesekali hadir sekelebat bayangan wajah-wajah yang hadir dalam kehidupannya. Mama, Papa, Kelvin, Alina, Dimas, dan banyak lagi. Perasaannya tidak berhenti memproduksi energi-energi negatif yang membuatnya kehilangan senyuman.
Kini, dia menatap Veno. Kakaknya entah sedang memikirkan apa. Terlihat sendu dan tak b*******h, tapi masih saja terlihat sangat tampan. Seketika dia pun tersenyum membuat Veno mencubit pipinya.
"Naz, lekaslah sembuh. Jangan terlalu memikirkan banyak hal, nggak baik untuk kesehatan kamu. Jangan sakit kayak gini lagi,” ujar Veno lembut.
Nazwa menatap Veno lekat seraya mengerutkan dahinya. “Aku … Kak, aku sakit apa? Kecapekan ya?”
Veno mengembuskan napasnya berat. “Kamu terkena bipolar. Terlalu sering dan banyak tertekan.”
Seketika Nazwa mengalihkan pandangannya. Dia terpejam. Berapa tahun dia terpuruk hingga separah itu? Berapa lama dia akan kembali sembuh? Apa dia akan kembali selalu ceria? Oh, Tuhan. Kali ini, Nazwa bergeming. Lemas. Kelu.
“Naz,” panggil Kelvin.
“Aku bisa gila?”
“Kamu kuat dan akan cepat sembuh, Naz.”
Nazwa kembali mengalihkan pandangannya dari Veno. Gila. Sembuh. Sakit. Tertekan. Berputar di kepalanya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
“Aku nelepon Mama dan Papa.”
Nazwa sontak menoleh. “Buat apa? Mereka nggak akan peduli sama Nazwa.”
“Mereka harus tahu kondisi kamu! Dia yang punya kewajiban merawat kamu dan menyembuhkan luka-luka kamu,” ujar Veno terdengar penuh emosi. “Mereka sedang dalam perjalanan ke sini.”
“Tapi, Kak.”
“Kakak sangat berharap mereka mau mengakui kesalahan mereka dan kita kembali seperti dulu.”
“Tapi, Kak. Kondisi Nazwa sedang seperti ini. Nazwa belum siap mendengarkan apapun dari Mama dan Papa.”
“Ada Kakak di sini, tenang aja.”
Nazwa menatap Veno, berusaha meyakinkan dirinya untuk menerima apapun yang terjadi nanti. Seluruh tubuhnya masih terasa lemas, tapi dia memaksa untuk bangun, lalu mendekap Veno erat. Dia terpejam meluruhkan air matanya, sedangkan Veno mengelus kepalanya lembut.
Tak lama, ponsel Veno bergetar di atas nakas. Dia melepaskan pelukannya, lalu memeriksa ponselnya. “Naz, Mama dan Papa udah sampai rumah sakit. Kamu harus siap ya, katakan apapun yang selama ini kamu pendam.”
Nazwa mengangguk sembari menggenggam tangan Veno erat, meminta kekuatan. Sampai akhirnya, pintu berdecit, sedikit demi sedikit terbuka dan tampaklah orang tua mereka berdiri di ambang pintu.
“Kakak,” cicit Nazwa seraya mengeratkan genggamannya dan merapatkan tubuhnya pada Veno.
“Tenang aja, ada Kakak.”
Nazwa menatap kedua orang tuanya yang mendekati mereka. Keduanya bahkan masih mengenakan pakaian kerja—papanya mengenakan kemeja biru tua dilengkapi dasi dengan warna yang lebih terang, celana hitam, dan sepatu pantofel; mamanya mengenakan rok hitam selutut, kemeja biru tua, dan high heels sepuluh sentimeter—membuat Nazwa merasa dijenguk oleh orang asing dari kantor.
"Nazwa," panggil Dinda. “Kok bisa sampai kayak gini, Sayang? Mama sangat khawatir.”
"Veno, Papa mau bicara," ujar Dino lalu keluar diikuti Veno setelah mengecup puncak kepala Nazwa.
Nazwa mengangguk pelan seraya menunduk, enggan menatap mamanya.
“Kamu kecapekan, ya? Apa yang sakit sekarang?”
Nazwa menatap mamanya sekilas, sebelum hanyut dalam kehangatan pelukan mamanya. Aroma tubuh seorang ibu, kehangatan, dan elusan tangannya di kepala Nazwa membuat dia kembali merasa ada. Ada dalam kehidupan mamanya.
"Nazwa, maafin Mama karena sering meninggalkan kamu sendirian. Mama merasa bersalah karena sekarang kamu sampai sakit seperti ini. Mama—" ucapannya terhenti ketika air matanya luruh di pipinya.
"Kenapa Mama sering ninggalin Nazwa sendirian? Mama juga terus menjauhkan Nazwa dari Kakak. Kenapa, Ma? Mama nggak sayang sama Nazwa?" tanya Nazwa dengan nada emosi. Kali ini, dia berharap sebuah penjelasan.
Setelah pulang sekolah, Nazwa duduk di ruang tamu bersama keluarganya. Dia menatap orang tuanya bergantian, kemudian menatap Veno yang menunduk diam tidak seperti biasanya. Dia merasakan ada sebuah ketegangan di antara mereka.
"Ada apa sih?" tanya Nazwa bingung.
Dino menghela napas, lalu menatap Nazwa. "Veno akan Papa kuliahkan di Amerika."
Ucapan papanya membuat otot-otot tubuh Nazwa lemas. Seteleh mama dan papanya pergi dari luar negeri, sekarang dia harus kehilangan Veno yang selalu menemaninya ketika orang tuanya pergi. Dan setelah dia dijauhkan dengan Veno ketika usianya sembilan tahun, kini dia harus merasakan hal itu lagi. Padahal, Veno baru beberapa tahun kembali dari rumah neneknya.
Tatapan Nazwa berkaca-kaca. "Nggak! Bang Veno nggak boleh pergi!"
Veno hanya mampu menatap Adiknya dengan tatapan sendu, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia memilih patuh untuk mengikuti kemauan kedua orang tuanya.
"Nazwa, Veno harus berangkat sekarang!"
"Nggak! Nazwa nggak mau Kak Veno pergi lagi!" Wajahnya memanas dan air matanya mengalir deras di pipinya. Emosinya sudah tak terbendung dan sesak di dadanya sudah tak terkendalikan. Dia meraung.
"Nazwa!" tegas Dino sedikit lantang.
Nazwa menoleh sambil menggeleng tak setuju. "Kakak, kenapa diam saja? Ayo bilang nggak mau! Kakak udah janji nggak bakal ninggalin Nazwa sendirian lagi!”
Veno menatap Nazwa dengan tatapan sendunya tanpa memberi jawaban. Dia sudah memegang kopernya dan akan pergi sebentar lagi.
"Nazwa! Veno harus pergi melanjutkan kuliahnya di luar negeri agar bisa terjamin masa depannya," ujar Dinda, mencoba membujuk Nazwa agar mau melepaskan Veno.
"Nggak! Nggak bisa!"
"Pokoknya Veno akan kuliah Amerika! Terserah kamu mau setuju atau nggak!" tegas Dinda tanpa memedulikan tatapan memohon Nazwa.
"Ayo, Veno, nanti kamu ketinggalan pesawat!" Dino menarik tangan Veno, lalu keluar rumah. Veno hanya pasrah, sesekali menatap Nazwa sendu tanpa mengucapkan kata-kata. Perasaannya tak tega meninggalkan Nazwa sendiri.
Nazwa menatap ketiga orang yang sudah berada di luar rumahnya. Tubuhnya merosot dari sofa, pertahanan selama ini hancur seketika.
Bayangan ketika Veno kembali dijemput orang tuanya untuk kuliah di luar negeri membuat emosi Nazwa tersulut. Kala itu, untuk kedua kalinya Nazwa ditinggal sendirian lagi di rumahnya. Kala itu juga, Nazwa merasa sangat terlantar, tidak diurus dan tidak dipedulikan. Yang datang hanya sekadar uang dan uang, bukan perhatian dan kebersamaan.
“Jawab pertanyaan aku, Ma!”
Dinda bergeming seraya terus menatap Nazwa lekat. Perasaanya tak karuan. Terharu ketika mendengar Nazwa memanggilnya Mama. Sedih dan merasa bersalah ketika dia memang sering meninggalkan Nazwa dan menjauhkan Veno dari Nazwa.
“Mama!”
"Maafin Mama Naz. Mama dan Papa sangat menyayangi kalian berdua, tapi kala itu ada suatu hal yang harus Mama dan Papa selesaikan. Kami harus meninggalkan kamu, karena tidak mungkin membawamu ke mana-mana. Kami juga harus menyekolahkan Veno karena ada hal yang tidak bisa kami tolak."
“Hal apa? Apa terlalu sulit hingga membutuhkan waktu bertahun-tahun?”
"Nazwa, kenapa kamu seperti ini?" tanya Dinda.
"Nazwa kecewa dan Nazwa seperti ini karena Mama."
Dinda menggangguk terisak. Dinding-dinding egoisnya kini runtuh setelah dia mendengarkan Nazwa dan melapangkan hatinya untuk meminta maaf pada Nazwa. Dia mengusap air matanya, lalu kembali menatap Nazwa.
"Mau dengar ceritanya?"
“Aku sudah menunggu cerita itu sejak lama.”
“Baiklah.” Dinda menghela napas. "Waktu itu perusahaan Papa sedang mengalami kesulitan. Ada salah satu karyawan yang membawa uang perusahaan, akibatnya kita tidak bisa mengerjakan beberapa projek dan harus mengembalikan uang klien. Perusahaan kita hampir bangkrut. Papa sudah tidak sanggup lagi membayarnya karena tabungan kami pun sudah habis. Salah satu dari rekan bisnis pun telah mencabut sebagian sahamnya."
Nazwa menatap mamanya yang sedang bercerita, lalu mengambil botol minumnya dari atas nakas dan memberikannya pada mamanya. Dinda tersenyum lalu meneguknya.
“Papa kamu menelepon Mama agar membantunya. Mama pun mau dan berusaha meminta bantuan kepada teman-teman Mama. Akhirnya, dengan kerja keras dan rasa empati teman-teman Mama, perusahan bisa diselamatkan.”
Nazwa terdiam, masih menatap mamanya. “Jadi, perusahaan bangkrut?”
"Nggak, Sayang. Kami tidak membiarkan hal itu terjadi. Kami hanya memulainya kembali dari awal. Kami tidak mau Nazwa dan Veno tidak bisa makan, tidak bisa menikmati sekolah dan rumah yang baik, juga tidak mau kalian diejek oleh teman-teman kalian. Mama dan Papa selalu ingin yang terbaik untuk Nazwa dan Veno."
"Tapi, kenapa kalian tidak pernah sekali pun liburan seminggu di rumah?"
“Kami memang terlalu sibuk bekerja, Sayang. Maafkan Mama.”
Mendengar permintaan maaf untuk kesekian kalinya membuat hati Nazwa teriris. Ada semacam rasa bersalah karena telah bersikap tidak sopan kepada orang tuanya. Juga semaca empati karena orang tuanya telah melakukan hal yang terbaik versi mereka. Dan hal itu semata-mata hanya untuk Nazwa dan Veno.
“Aku kangen Mama, Papa, dan Kak Veno. Aku nggak mau sendirian lagi di rumah,” lirih Nazwa disusul pelukan hangat dari Mamanya. “Nazwa … Nazwa minta maaf, Ma.”
"Nazwa, Mama yang harusnya minta maaf. Maafkan Mama telah meninggalkanmu dan selalu menjauhkan kamu dari Veno. Waktu itu, Mama benar-benar tidak bisa menolak teman Mama yang mau membiayai sekolah Veno."
“Kenapa teman Mama mau membiayai kuliah Kak Veno?"
"Karena ketika perusahaan Papa sedang berjaya, Mama menolong teman Mama hingga dia kembali bangkit bahkan memiliki perusahaan sendiri. Ya walaupun nggak sebesar punya Papa, tapi itu cukup besar. Apalagi perkembangannya sangat pesat dan dia bersedia membantu Mama untuk mengkuliahkan Veno di Amerika. Untuk balas budi katanya."
"Wah, teman Mama kaya banget ya?"
"Ya gitu. Maklum orangnya nggak enakan." kekeh Dinda pelan lalu menarik Nazwa ke dalam pelukannya lagi.
Sementara itu Nazwa tersenyum tipis. Sudah berapa lama kira-kira dia tak merasakan pelukan Mamanya itu. Wanita terhebat yang sudah melahirkannya. Berapa lama dia tak mengobrol bersama, canda tawa, curhat-curhat masalahnya di sekolah. Dan Nazwa menyadarinya bahwa sifat dinginnya kini mulai hilang sedikit.
Pintu berdecit. Veno datang dengan Papanya di belakang cowok itu yang kini tengah tersenyum melihat Nazwa dan Mamanya sedang berpelukan.
"Seneng banget kayaknya," ujar Veno sedikit terkekeh sembari melangkah mendekat.
Nazwa menguraikan pelukannya kemudian berganti memeluk Veno yang baru saja berdiri di sebelah Mamanya. "Aku udah tahu semuanya. Makasih perngertiannya selama ini," Nazwa mencium pipi kanan Veno membuat cowok itu tersenyum geli.
"Cie yang seneng banget. Nggak usah dingin-dingin kayak es lagi, ya!" Veno terkekeh lalu mencium kening Nazwa sejenak.
"Apaan sih?" Nazwa berdecak membuat Veno tertawa.
"Jadi?" ujar Dino yang kini sudah berdiri di samping Dinda.
"Papa!" panggil Nazwa.
Dino mengangguk tersenyum. "Nggak mau peluk?" tanyanya seraya mendekat dan Nazwa langsung memeluknya erat. Betapa rindunya dia pada papanya yang dulu saat kecil sering Nazwa bangga-banggakan kepada teman-temannya. Sudah sangat lama pelukan hangatnya tidak Nazwa rasakan.
"Papa, maafin Nazwa," ujar Nazwa.
Dino mengelus punggung Nazwa, mencium kening putrinya, lalu mencubit pipinya gemas. "Kamu nggak salah. Maafin Papa sama Mama yang lalai jagain kamu," ujarnya lembut.
Nazwa tersenyum tipis, kemudian kembali berpelukan erat.
"Jadi gimana nih?" tanya Veno dengan senyum menyebalkan.
"Baikaaan!" serunya mereka serentak.
***
Kecewa, marah, mengeluh boleh, asal jangan menyerah. Percayalah ada kalanya kamu akan bahagia.