Malika memutar kran wastafel, lalu mengusap wajahnya dengan tisu. Dari pantulan cermin, Malika melihat Dista keluar dari bilik toilet, kemudian berjalan mendekat ke arahnya.
"Mal, lo masih suka sama Kelvin?" tanya Dista.
Malika membuang bekas tissu ke dalam tong sampah yang berada di bawah wastafel. Mengendikkan bahunya sembari menatap Dista dari samping. "Masih. Cuma gue sadar diri ketika Kelvin deket sama Nazwa. Gue sama Nazwa beda jauh Dis. Nazwa itu ratu sekolah, sedangkan gue? Tapi, ketika gue lihat dia bersikap cuek sama Kelvin, gue nggak jadi lepas Kelvin. Apalagi tadi lihat Nazwa deket sama murid baru di kantin. Ya walaupun yang gue rasa murid baru itu yang deketin Nazwa."
Dista manggut-manggut menunggu Malika melanjutkan ucapannya.
"Lo tau murid baru itu nggak?" tanya Malika.
"Setahu gue namanya Dimas. Dia ganteng juga lho Mal," jawab Dista antusias.
"Gantengan Kelvin," sanggah Malika. "Lo suka sama murid baru itu?" Malika menautkan kedua alisnya, menatap Dista penuh curiga.
Dista memutar matanya malas. Enggan menjawab.
***
"Dasar cewek nggak tahu diri! Udah gue peringatin masih aja dideketin," cibir Malika seraya mendorong bahu Nazwa, membuat Nazwa hampir terjatuh, tapi Kelvin menahannya.
"Apaan sih lo?" tegas Kelvin tak terima.
"Sejak kenal Nazwa, lo berubah, Vin! Nggak kayak dulu lagi ketika lo deket sama gue."
"Dulu? Kapan gue deket sama lo?" Kelvin mengangkat kedua alisnya. Merasa tak pernah dekat, walaupun dia tahu Malika menyukainya sejak lama.
Malika memalingkan wajahnya, mengepalkan telapak tangannya penuh emosi, lalu kembali menatap tajam Nazwa.
"Gara-gara lo, semua berubah! Lo ambil semua keinginan gue, Nazwa!"
"Gue nggak pernah ngambil apa pun dari lo. Salah lo sendiri karena udah sia-siain itu," balas Nazwa datar.
"Termasuk Kelvin?" tanya Malika. "Lo suka dia ‘kan?"
"Nggak," jawab Nazwa singkat.
Malika tersenyum miring, lalu berganti menatap Kelvin yang masih diam mematung mendengar jawaban Nazwa. "Lo denger ‘kan Nazwa bilang apa? Dia nggak suka sama lo Kelvin!"
"Kalo gue yang suka sama Nazwa, gimana?"
Nazwa tersentak kaget, menatap Kelvin tidak percaya. Sementara Malika menutup mulutnya terkejut. Sorot matanya menatap Nazwa penuh aura permusuhan. Satu tangannya terkepal erat lalu menunjuk muka Nazwa menggunakan jarinya.
"Denger ‘kan? Ini semua gara-gara lo Nazwa!" Tangan Malika terangkat akan memegang rambut Nazwa, namun sebelum itu Kevin sudah lebih dulu menahannya.
"Nazwa!" Suara Dimas membuat mereka bergeming dan sontak menoleh.
“Naz, aku mau ngomong,” lanjut Dimas.
Nazwa menatap Dimas tajam dan bergerak gelisah ketika Dimas berjalan mendekatinya.
"Naz," panggil Dimas sekali lagi, "Bisa?"
Kelvin hanya bergeming memerhatikan. Ingin rasanya dia menarik tangan Nazwa lalu membawanya pergi. Dalam diamnya, Kelvin hanya bisa mempersiapkan diri untuk melindungi Nazwa jika sampai Dimas melukainya.
Nazwa tak menjawab. Ya atau tidak. Dia hanya takut suatu hal buruk terjadi. Dia hanya takut, kenangannya mencabik-cabik benaknya hingga dia tidak bisa mengendalikan diri. Namun di sisi lain, dia juga ingin tahu apa yang akan dibicarakan Dimas.
"Ngomong aja," jawab Nazwa datar.
"Aku mau ngomong berdua, Naz.”
Nazwa menatap Kelvin sekilas, terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk samar. “Ya udah, ayo!” Nazwa berjalan lebih dulu diikuti Dimas.
***
"Naz, gue minta maaf. Gue salah, tapi gue masih sayang sama lo. Gue ingin kita bersama lagi, kayak dulu." Dimas menyentuh tangan Nazwa, tapi Nazwa segera menepisnya. "Please, maafin gue. Gue udah putus sama dia. Gue masih cinta sama lo."
Wajah Nazwa memerah, mata tajamnya memandang Dimas tanpa takut. Sekuat tenaga dia berusaha menahan air matanya. Mengingat kejadian masa lalu membuat kebenciannya bergejolak. Terlalu sulit memaafkan, apalagi melupakan pengkhianatan Dimas pada dirinya.
"Gue nggak bisa!" tolak Nazwa.
"Kenapa? Gue masih sayang dan cinta sama lo. Apa yang kurang dari gue, Naz? Selama ini gue udah berusaha, tapi lo malah gini. Lo inget nggak perjuangan gue dulu buat lo? Buat lo!" Suara Dimas meninggi membuat Nazwa kaget karena sebelumnya Dimas tidak pernah semarah ini.
Tangan Nazwa terkepal erat di sisi badan. Tentu saja dia ingat semuanya. Bahkan masih sangat jelas. Pandangannya makin berkabur tertutupi oleh embun air mata.
"Kenapa diem? Coba jawab!" Dimas mencengkeram lengan Nazwa kuat sampai gadis itu meringis. Dimas tak peduli. Dia hanya ingin Nazwa kembali ke dalam lingkar cintanya.
"Lepas!"
"Nggak! Lo harus balikan sama gue!"
Cengkeraman itu semakin kuat, Nazwa menahan perih. Rasa benci itu makin membesar setelah mengetahui kelakuan Dimas seperti ini. Cukup. Emosinya tidak bisa ditahan kali ini.
"Gue nggak mau!" Nazwa menolak keras. "Gue inget semuanya! Mungkin lo yang lupa bahwa lo yang maksa gue untuk pergi saat itu. Gue juga inget kalo lo khianatin gue dengan sahabat gue sendiri. Apa perlu gue jelasin lagi siapa yang salah?" tanya Nazwa berapi-api. Tangannya terkepal erat dan keringat dingin bercucuran.
"Tapi gue bener-bener minta maaf untuk itu! Gue kelepasan Naz, kelepasan! Lo nggak pernah ngertiin gue, sementara lo selalu dimengerti! Lo egois!"
Air mata meleleh di pipi Nazwa. "Lo yang egois! Lo ngaku salah, tapi tetep nyalahin orang lain! Lo nggak tahu gimana perasaan gue ketika lo selingkuh sama sahabat gue sendiri! Gue kecewa, marah, tapi gue tetep bertahan seolah nggak tau apa-apa! Lo jahat dan gue nyesel banget nyerahin kepercayaan gue untuk orang kayak lo!"
Nazwa berdiri seraya mengusap air matanya. Dia menutup mulut agar isakannya tidak terdengar. Semua kekesalan yang dia pendam, kini lenyap setelah diungkapkan dengan penuh keberanian.
Dimas ikut berdiri seraya tetap menatap Nazwa. Dia marah, tapi juga tidak tega melihat gadis yang dia cintai menangis karenanya. Namun ingatan saat Nazwa pergi dengan cowok lain membuat emosi Dimas kembali menyeruak.
"Lo juga salah! Kenapa lo jalan sama cowok lain saat gue mau jalan sama lo? Lo nolak dan milih pergi sama dia! Lo marah ketika lo tahu gue selingkuh, tapi lo juga selingkuh! Gue tahu lo dendam, tapi nggak gini caranya! Segitu murahannya lo sampe cepet berpaling dari gue?"
Sedetik kemudian, satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Dimas. Dia meringis sambil memegang pipinya yang memerah. Dia menoleh. Alina. Alina yang menamparnya.
"Lo, berengsek! b******n! Nggak tau diri! Introspeksi dulu sebelum ngomong! Lo tahu nggak gimana perasaan cewek ketika cowoknya selingkuh sama sahabat sendiri? Tau nggak?" Alina mendorong bahu Dimas dengan telunjuknya. Wajah cantiknya berubah menjadi seram. Matanya tajam menatap Dimas dengan penuh kebencian.
Nazwa menangis hebat. Gadis itu memegang kepalanya. Rentetan kejadian demi kejadian muncul membuat kepalanya sakit luar biasa.
"Dasar nggak tau diri! Egois! Mau dimengerti, tapi nggak pernah ngertiin. Pantes cowoknya cepet berpaling."
Hati Nazwa tertohok saat itu. Sahabatnya mengatakan itu di hadapannya. Nazwa menatap Dimas yang bergandengan tangan dengan sahabatnya. "Mak—sud lo apa?" tanya Nazwa dengan suara bergetar.
Dimas menghela napas, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang sahabat Nazwa. "Sorry Naz. Kita putus! Gue udah nggak sanggup sama lo, gue udah cinta sama sahabat lo sendiri."
Nazwa menggelengkan kepalanya mencoba mengusir kejadian mengerikan itu. Bukannya hilang, kejadian itu malah terukir jelas dalam benaknya. Mencabik-cabik pikiran dan perasaannya. Membuatnya tak karuan.
"Gue sayang sama lo, Dim."
"Gue sayang sama lo, lebih dari apapun."
"Kalo sama Nazwa?"
Dimas menggeleng, disusul tawa keduanya.
Nazwa terpejam, meluruhkan air matanya. Mengingat hal itu, ingin rasanya dia berteriak selantang-lantangnya atau berlari sekencang-kencangnya atau memeluk seseorang untuk menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
"Ngapain lo selingkuh sama cowok lain?"
Nazwa menganga lebar saat Dimas menghajar Veno yang berdiri di sampingnya. "Lo ngapain jalan sama Nazwa?" bentaknya marah.
Napas Dimas memburu. Kedua tangannya terkepal, sementara tatapannya tajam menatap Nazwa sekarang. “Lihat, sekarang sudah terbongkar! Lo selingkuh sama cowok lain dan nggak perlu ngelak lagi. Nggak salah gue milih sahabat lo."
Nazwa menggeleng seraya memegang kepalanya, sesekali dia meringis karena rasa nyeri mulai menyerang keningnya lalu menjalar ke ubun-ubun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia terpejam, kemudian membuka matanya lagi dengan napas memburu.
"Cukup!" teriak Nazwa membuat Alina dan Dimas menoleh. "Dia bukan cowok gue, tapi kakak gue! Puas lo? Gue benci lo Dimas!!"
Dimas hanya bergeming—terkejut pada ucapan Nazwa—membuat Alina tersenyum melihat Dimas yang tak bisa berkutik lagi. Sementara itu, Nazwa tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Nyeri di kepalanya berhasil membuat seluruh otot-otot tubuhnya lemas. Perlahan, dengan disaksikan Alina dan Dimas, dia jatuh terkulai. Tak sadarkan diri.
***
Kabar Nazwa yang pingsan di taman belakang sekolah langsung menyebar luas ke seantero sekolah. Mayoritas mempertanyakan dan menerka-nerka penyebab pingsannya sang Ratu Sekolah. Berbeda dengan Kelvin yang langsung bergegas pergi membawa Nazwa ke rumah sakit.
"Gimana keadaan teman saya, Suster?" tanya Alina.
"Dia baik-baik aja.”
"Apakah kami boleh masuk?" tanya Kelvin.
"Silakan, yang penting kalian tidak mengganggu pasien," jawab Suster kemudian pergi, sedangkan Kelvin, Alina, dan Dimas memasuki ruangan rawat Nazwa.
Nazwa masih terpejam di atas ranjang pasien. Wajahnya terlihat sangat damai seolah tidak ada beban dalam hidupnya. Kali ini, tidak ada Nazwa yang cuek dan dingin, tetapi hanya ada Nazwa yang terlihat sangat lemah.
Alina duduk di samping ranjang Nazwa. Dia menatap Nazwa khawatir seraya menggenggam tangan Nazwa yang dingin. Alina terpejam sejenak, meluruhkan air matanya.
"Naz, bangun. Ada Kelvin nih nunggu lo, dia khawatir banget sama lo. Naz, jangan kayak gini lagi. Ayo bangun dan cepatlah sembuh," ujar Alina parau.
Alina semakin menggenggam erat tangan Nazwa, sesekali dia mengelusnya. Dia berdiri lalu mengecup kening Nazwa. Rasa khawatir dan sedih membuncah membuatnya sedikit lemas. Dia berbalik menatap Kelvin. "Vin, gue titip Nazwa bentar,” ujar Alina lalu pergi diikuti Dimas.
Kelvin menatap Nazwa lekat. Tangannya perlahan mengusap kepala Nazwa lembut, kemudian menggenggam tangan Nazwa erat. "Lo kenapa sih, Naz? Bangun dong, gue kangen sama lo. Mending lihat lo dingin dan cuek sama gue daripada kayak gini. Gue takut," ujar Kelvin pelan.
Kelvin berdiri, mendekatkan wajahnya ke depan telinga gadis itu. "Cepat sembuh, gue sayang sama lo," bisiknya pelan. Kelvin kembali duduk, menelungkupkan kepala, hingga tertidur di samping Nazwa.
Tak lama kemudian, Nazwa menggerakkan jari-jarinya. Dia membuka matanya perlahan, sesekali meringis karena nyeri di kepalanya. Bau obat-obatan pun menyeruak di penciumannya, membuat dia merasa tidak nyaman.
Dia menoleh pada seseorang yang menggenggam tangannya. "Kelvin," ujarnya pelan.
Kelvin membuka matanya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menegakkan tubuhnya, mengucek matanya, lalu menatap Nazwa. Senyumnya terukir ketika sepasang mata itu kini telah membuka sempurna. "Naz, lo udah sadar? Ada yang sakit nggak? Gimana rasanya sekarang? Lo butuh apa?" tanya Kelvin beruntun. "Ini beneran lo ‘kan?" Kelvin menyentuh pipi Nazwa sejenak. Mata Nazwa pun mengerjap lucu membuat Kelvin tersenyum.
"Minum," ujar Nazwa lirih.
Kelvin langsung mengambil air bening di atas nakas, kemudian membantu Nazwa meminumnya perlahan.
"Masih sakit?" tanya Kelvin seraya mengusap pucak kepala Nazwa.
"Sedikit," jawab Nazwa sejujurnya. "Kak Veno mana?"
"Lagi sama dokter. Mau gue panggilin?" tawar Kelvin. Seolah tak butuh jawaban dari Nazwa, Kelvin akan melangkah pergi, tetapi Nazwa langsung menahannya.
"Jangan pergi! Gue takut di sini," ujar Nazwa dengan nada rendah dan penuh pormohonan.
Kelvin pun mengangguk tersenyum seraya menggenggam Nazwa lagi.
Rasa hangat langsung menyalur begitu saja saat Kelvin menggenggamnya erat. Hangat dan lembut. Nazwa tak bisa berbohong kalau saat ini dia tersentuh oleh perlakuan Kelvin.
"Jangan mikir yang enggak-enggak," kekeh Kelvin membuat Nazwa langsung memalingkan wajahnya ke samping. "Dibilang jangan mikir yang aneh-aneh juga," ujar Kelvin tersenyum geli.
"Apaan sih?" Nazwa tersenyum tipis.
Kelvin menyentuh dagu Nazwa. "Coba lihat mata gue, Naz." Mereka saling menatap, hingga Nazwa mengalihkan tatapannya, tak tahan dengan tatapan Kelvin seperti itu.
"Nazwa, lo harus jaga kesehatan. Jangan bikin gue tersiksa ketika melihat lo tak sadarkan diri. Gue takut lo pergi. Lo berharga. Gue cinta sama lo," ujar Kelvin lembut membuat Nazwa diam tak berkutik, terkejut oleh ucapan Kelvin untuk keduakalinya.
***
Dimas menyimpan ponselnya di atas meja. Tangannya terulur memainkan sedotan dalam gelas. Sesekali menatap Alina yang masih makan dengan tenang. Dia berdehem pelan, lalu menyingkirkan gelasnya ke samping, kemudian melipat tangannya di atas meja.
"Al, gue belum bisa lupain Nazwa. Gue ingin balik lagi sama dia," ungkap Dimas.
Alina yang baru menyendok nasi, spontan menjatuhkan kembali sendoknya. Dia berdehem sebelum meminum jus apelnya. Gairah makannya tiba-tiba hilang setelah mendengar ucapan Dimas.
"Gak bakal gue restuin lagi!" tegas Alina. "Enak aja lo mau balikan setelah lo buat Nazwa kayak gitu? Sampah banget!"
"Tapi gue masih sayang sama Nazwa, Al. Gue nggak bahagia sama dia dan inget Nazwa terus."
"Nggak ada kata tapi! Lo udah hancurin hubungan lo, ya lo harus terima akibatnya. Suruh siapa sia-siain yang baik demi yang cantik? Cantik pake make-up kok bangga!"
"Al, please-lah bantu gue."
"Nggak! Nazwa udah bahagia sama yang baru dan gue minta, lo jangan gangguin hubungan mereka."
"Maksud lo, cowok tadi?" tanya Dimas yang dijawab anggukan oleh Alina. "Apa nggak ada kesempatan lagi buat gue balikan lagi sama Nazwa? Gue lihat, sikap Nazwa ke cowok itu dan gue sama aja … dingin."
"Lo pikir siapa yang buat Nazwa jadi dingin kayak gitu? Nazwa nggak mau balikan sama mantan, dia lagi dihangatin sama Kelvin. Udah mulai luluh kok, tenang aja pasti jadian." jawab Alina tersenyum.
Dimas terdiam, merasakan sesuatu yang bergejolak dalam perasaannya. Seperti rasa cemburu dan rasa bersalah karena telah membuat Nazwa bersikap dingin. Sedikit demi sedikit, energi positif menjalar dalam jiwanya. Dia mungkin hanya butuh waktu sekali lagi untuk berbicara dengan Nazwa, menyelesaikan masalah dulu.
"Oke gue lepas Nazwa kalo emang nggak ada cara lain, tapi gue minta waktu berdua dengan Nazwa untuk selesaiin masalah."
Alina mengangguk-angguk. "Bagus. Gue bakal bantu dengan syarat gue harus ikut. Gimana?" tawar Alina.
"Oke!" Dimas mengangguk, kemudian pamit pergi setelah menghabiskan jusnya.
Alina mengangguk. Dia kembali melahap makanannya hingga habis. Setelah itu, dia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Riyan.
"Hei!"
Alina tersentak kaget saat sebuah tangan mendarat di bahunya. Dia berdecak pelan melihat siapa yang berada di belakangnya.
"Cepet banget sampenya. Emang udah pulang?"
Riyan mengangguk. "Udah." Riyan mengambil segelas jus apel milik Alina, lalu meminumnya. "Enak," ujarnya.
"Kebiasaan deh!" Alina berdecak, mengambil kembali jus apel miliknya. "Kok cepet banget datangnya, perasaan aku baru chat kamu."
"Aku udah di sini dari tadi, Sayang," jawab Riyan sambil mencubit pipi Alina, membuat Alina cemberut kesal. Riyan terkekeh sembari melingkarkan tangannya ke pundak Alina.
"Sama siapa?"
"Dio dan Zafi."
"Mereka ke mana?"
"Di ruangan Nazwa. Bentar lagi ke sini."
Alina mengangguk pelan. Menyandarkan kepalanya ke bahu Riyan sembari memejamkan mata. Riyan pun tersenyum tipis seraya mengelus kepala Alina lembut.
Seketika Dia terheran-heran ketika melihat satu gelas jus jeruk di hadapannya yang sudah habis setengah. Siapa yang duduk bersama Alina tadi?
"Al itu jus siapa?" tanya Riyan.
Alina membuka matanya. "Dimas,” jawab Alina.
Riyan mengernyitkan kening. "Dimas?" Riyan mengingat-ingat nama itu, seperti tak asing. Sedetik kemudian Riyan teringat, Alina pernah menceritakan Dimas padanya. "Mantannya Nazwa? Murid baru itu?" tanya Riyan lagi.
Alina mengangguk sembari berdehem pelan.
"Ngapain?"
"Dia minta restu aku buat balikan sama Nazwa.”
"Emang kamu Mamanya?" kekeh Riyan pelan.
Alina berdecak. "Diem dulu, Yan. Aku ngantuk," lirinya.
Riyan tersenyum sambil mengelus kepala Alina, sedangkan sebelah tangannya menggenggam Alina erat.
"Di sekolah, di kantin, di rumah sakit pun pacaran. Hebat!" Dio yang baru saja datang bersama Zafi dan Kelvin berdecak keras.
"Serah gue dong. Sewot amat," balas Riyan tak acuh. Tatapannya beralih pada Kelvin. "Nazwa sama siapa Vin?"
"Sama Bang Veno," jawab Kelvin membuat Riyan mengangguk paham.
"Kata Alina mantannya Nazwa ke sini, Nggak berantem sama lo ‘kan?" Riyan memicingkan matanya.
Kelvin menggeleng. Berbicara pun tidak apalagi berantem. Bahkan Kelvin baru tahu kalau Dimas pernah menjadi orang spesial dalam hidup Nazwa.
"Bagus. Terus habis ini lo mau ngapain lagi?"
"Ada deh nanti."
Riyan mengangguk pelan, lalu kembali menatap Alina yang sudah tertidur di dalam rangkulannya. Tak lama, tatapannya beralih pada ponsel Alina yang bergetar.
Unknown.
Al, nanti bantu gue cari waktu yang tepat buat ngomong sama Nazwa.
- Dimas.
***
Ketika aku ada di dekatmu, apa yang kamu rasakan? Rasa yang sama atau berbeda?