Nazwa berjalan sambil menarik-narik tali ransel, kemudian menghampiri ayah, ibu, dan kakaknya di ruang makan. Nazwa bergeming, enggan untuk mengucapkan sesuatu. Apalagi berbicara dengan orang tuanya. Namun, sikap Nazwa yang hanya diam membuat Veno khawatir. Sementara ayah ibunya hanya diam memerhatikan Nazwa.
"Naz, udah mendingan?" tanya Veno yang dibalas dengan anggukan oleh Nazwa. "Kakak anter ke sekolah ya," tawar Veno.
Nazwa mendongak, lalu menggeleng pelan. "Aku sama Alina."
"Ya udah, nanti kalau pulang telepon, ya!"
"Gimana nanti aja," ujar Nazwa kemudian melahap sarapannya. Setelah itu, dia beranjak pergi. “Aku berangkat.”
"Naz nggak pamit sama Mama Papa?"
Langkah Nazwa terhenti. "Nggak," jawabnya tanpa menoleh, kemudian kembali melangkah keluar.
Veno menatap Nazwa dengan pandangan nanar, lalu mengembuskan napas berat dan berganti menatap orang tuanya. "Mama sama Papa nggak kasihan sama Nazwa?" tanya Veno ketika mengingat apa yang terjadi semalam.
"Bukannya nggak kasihan, Ven, tapi Nazwa yang nggak ngerti kita. Kita bekerja juga untuk kamu sama Nazwa," jawab Dino.
Veno berdecak. "Mama dan Papa yang nggak ngerti! Sejak Mama dan Papa sibuk, Nazwa kesepian. Dia jadi pemurung. Bahkan mentalnya terganggu, dia sakit! Apa Mama dan Papa nggak bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk Nazwa? Dia butuh perhatian Mama dan Papa. Atau jangan-jangan Mama dan Papa nggak sayang aku dan Nazwa?”
Dinda meletakan sendok dan garpu di atas piringnya yang sudah kosong. Wanita berkepala empat itu menatap anak pertamanya dengan tatapan intens. "Veno, kami sayang kalian berdua. Mana ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya sendiri? Kami bekerja untuk menghidupi kehidupan keluarga kita, untuk sekolah dan keinginan kalian, agar nggak serba kekurangan."
"Tapi Ma, yang kita butuhkan itu kehadiran Mama dan Papa. Aku dan Nazwa butuh perhatian Mama dan Papa setiap hari, butuh kebersamaan kita sekeluarga, butuh waktu sebentar saja setiap hari untuk bercerita banyak hal pada Mama dan Papa. Emang nggak bisa kalau Papa aja yang kerja?"
"Nggak bisa! Apa kamu mau kayak dulu lagi? Perusahaan hampir aja bangkrut kalo nggak ditangani kami berdua waktu itu," sahut Dino.
Veno menghela napas. "Terserah deh. Veno cape ngomong panjang lebar juga nggak bakal di dengar. Semoga Mama dan Papa nggak menyesal," ujar Veno, lalu beranjak pergi.
***
"Naz lo tadi malem pulang jam berapa sih?" tanya Alina.
"Lo udah tidur," jawab Nazwa tanpa menoleh.
"Lo sama Kelvin kan?" tanya Alina membuat Nazwa menoleh seketika dengan tatapan datar.
"Kok tahu?"
"Gue lihat lo di taman."
"Kenapa nggak nyamperin?"
"Takut ganggu yang lagi berduaan. Nanti ketiganya setan, gue nggak mau jadi setan."
Nazwa menatap Alina tajam. Agak tidak suka dengan bercandanya Alina jika tentang Kelvin. Nazwa mempercepat langkahnya menuju ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi kira-kira tiga menit yang lalu.
***
“Kali ini, saya akan memperkenalkan seorang teman baru bagi kalian. Dia datang dari jauh, jadi saya harap kalian bisa berteman dengan baik.”
Alina mendongak, menatap murid baru yang akan menjadi teman sekelasnya. Namun sialnya, dia tak melihat wajahnya karena laki-laki itu menunduk saat Alina melihat ke depan.
Murid baru itu mendongak, lalu tersenyum tipis membuat para siswi kelabakan di tempat. Mereka langsung merogoh alat make-up dan kaca agar terlihat cantik di mata murid baru yang gantengnya di atas rata-rata itu.
Berbeda dengan Alina saat itu. Saat pandangan mereka bertemu Alina sontak terkejut, gadis itu diam tak berkutik. Pulpen yang Alina pegang pun menggelinding di bawah bangkunya sendiri.
Saat murid baru itu tersenyum padanya, Alina langsung tersadar dan mengerjapkan mata untuk memastikan murid baru itu adalah seseorang yang dia kenal.
"Naz, Naz, Nazwa!” bisik Alina.
“Apa sih, Lin?”
Alina menunjuk ke arah murid baru itu.
"Perkenalkan nama saya Dimas Adhijaya. Saya pindahan dari Singapura. Semoga kita bisa berteman baik." Dimas tersenyum ramah.
***
Dimas Adhijaya. Dia adalah sosok yang pernah ada di masa lalu Nazwa. Seorang cowok yang dulunya selalu Nazwa banggakan di depan teman-temannya. Namun, hubungan mereka harus berakhir karena sebuah penghianatan.
"Naz, lo nggak apa-apa?" tanya Alina ketika melihat Nazwa dari tadi bergeming. Bahkan makanannya pun tak kunjung dimakan.
Nazwa menggeleng pelan.
Alina kembali terdiam, fokus memakan makanannya. Dia memberi waktu untuk Nazwa menikmati waktunya, barangkali ingin hanyut merasakan ketidakpercayaannya pada kehadiran Dimas yang tiba-tiba.
"Hai!" sapa Dimas, kemudian duduk di samping Nazwa.
Nazwa menoleh, lalu menatap Dimas tajam. Napasnya menjadi tidak karuan ketika dia kembali melihat Dimas dari dekat. Segala kenangan yang membeku, perlahan mencair karena kehadirannya yang tiba-tiba.
Nazwa berganti menatap Alina, lalu mengangguk sebagai isyarat untuk segera beranjak pergi. Dia enggan berbicara apa pun dengan Dimas. Alina pun langsung berdiri, lalu berjalan bersama Nazwa.
Tanpa diduga, Dimas menahan lengan Nazwa.
Nazwa menatap Dimas tajam. "Lepas!" tegasnya sambil berusaha melepaskan cekalan Dimas.
Mendadak suasana menjadi tegang karena ucapan Nazwa yang dingin itu. Kantin yang awalnya riuh pun mendadak hening karena perhatian mereka terpusat pada Nazwa dan Dimas.
"Naz, gue minta maaf," ujar Dimas lembut.
"Le.pas!" pinta Nazwa penuh penekanan. Jangtungnya berdetak tak karuan, sekuat tenaga Nazwa pikirannya agar tak mengingat masa lalunya.
"Gue minta maaf," ujar Dimas sekali lagi. Kali ini, dia menggenggam kedua tangan Nazwa erat.
Nazwa menyentakkan tangan Dimas, menatapnya tajam sekali lagi, kemudian menarik tangan Alina untuk pergi.
Tiba-tiba, langkah mereka harus terhenti ketika dua orang perempuan menghalangi jalan mereka.
"Lo nggak tahu diri banget sih jadi cewek! Kelvin dideketin, anak baru juga dideketin. Pake acara sok nolak maaf lagi di kantin!" cibir Malika.
Alina melepaskan tangannya dari Nazwa, lalu menunjuk Malika tepat di depan wajahnya. "Lo kalau nggak tahu apa-apa mending diem aja! Cari masalah mulu!" Alina menatap Malika garang.
Murid-murid yang tak sengaja berjalan melewati mereka, sontak berhenti untuk menyaksikan perdebatan itu.
"Heh! Temen lo nggak tahu diri banget sih! Kelvin direbut, sekarang murid baru juga diembat. Dasar b***h!" ujar Malika pada Alina.
"Gue aja ditikung sama dia. Emang dasarnya sama-sama pelakor!" sinis Dista di sebelah Malika. Dista memang sempat dikabarkan dekat dengan Riyan. Namun sekarang Riyan malah berhubungan dengan Alina.
"Kelvin?" Nazwa menautkan kedua alisnya. "Ambil!"
"Lo kalo suka Riyan bilang sendiri! Ngapain ngomongnya sama gue? Nggak guna!" Alina menatap Dista sinis.
"Songong banget jadi cewek. Sok jual mahal lagi. Padahal gue udah mundur dari Kelvin karena gue tahu siapa lo, tapi kelakuan lo kali ini bikin gue muak! Kelvin udah lo ambil, sekarang murid baru juga mau lo ambil? Gak nyangka Ratu Sekolah kayak gini." Malika melipat tangannya di depan d**a, memerhatikan penampilan Nazwa dan Alina dari bawah sampai atas.
"Salah milih kali! Harusnya lo, Mal, yang jadi ratu!" timpal Dista dengan gaya angkuhnya.
"Heh! Harusnya lo sadar diri. Nazwa nggak deketin Kelvin, tapi Kelvin yang deketin Nazwa! Kelakuan lo aja kayak gini, mana mau Kelvin sama lo," ujar Alina menggebu-gebu.
"Yang ngomong aja sahabatnya mulu! Lo bisu?!" tanya Malika dengan kekehan meremehkan Nazwa.
"Minggir!" ujar Nazwa dingin.
"Enak aja lo main pergi aja! Kita selesaiin dulu kali. Udah rebut Kelvin mau gebet juga tuh murid baru! Dasar nggak punya malu! Nggak tau diri! Bicth!"
"Malika! Lo nggak ngaca, diri lo kayak apa? Sadar diri dulu baru ngataiin orang! Bicth kok teriak bicth!" Alina menatap Malika sinis. Dia benci saat ada orang yang berani mengejek sahabatnya sendiri.
"Tampar aja Mal, dia harus beri pelajaran!" seru Dista.
Gigi Malika bergemeletuk, merasa kesal. Dia pun tak mampu mengendalikan dirinya. Tangannya bergerak ke atas, siap melayangkan tamparan pada Alina.
Namun, Nazwa berhasil menahan tangan Malika sebelum mendarat di pipi sahabatnya. "Jangan sentuh sahabat gue sedikit pun dengan tangan kotor lo atau lo akan terima akibatnya!" tegas Nazwa seraya menatap Malika penuh kebencian.
***
"Vin, Nazwa debat sama Malika tadi."
"Kok bisa?" tanya Kelvin.
Dio mengendikkan bahunya, lalu duduk di sebelah Zafi. "Nggak tahu. Katanya sih Malika bikin ulah duluan."
"s****n tuh cewek!" Riyan berdecak.
"Sebenernya lo suka nggak sih sama Nazwa, Vin?" tanya Zafi yang langsung membuat ketiga sahabatnya menoleh secara bersamaan.
"Kok lo nanya gitu?" Kelvin balik bertanya dengan mata memicing.
"Ya mau tahu aja. Gue takut lo cuma main-main. Kasihan dia," jawab Zafi sambil menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, sementara kakinya ia selonjorkan ke depan dengan mata yang terpejam.
Kelvin mengembuskan napasnya berat. "Gue suka, tapi—" Kelvin menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Dio penasaran.
"Nggak apa-apa."
Dio mendengkus pelan, sementara Riyan menepuk bahu Kelvin dua kali. "Gue tahu lo pasti bakal milih yang terbaik."
***
Hati memang terbiasa untuk memendam, tapi perasaan acap kali tak tahan untuk menahan segala beban.