Berada di kota besar yang luasnya sulit di perkirakan, Harin tak pelik menemukan kendaraan yang bisa membawanya kemana saja, walaupun pintu kemana saja berada di atas tataran benda ajaib yang lebih ia butuhkan, namun sayang itu hanya lah benda karangan imajinasi si pembuat kartun. Mana ada benda seperti itu di dunia nyata.
Banyak yang heran ketika melihat gadis itu berlari keluar kafee dengan air mata yang bercucuran. Seperti yang sudah terjadi, Harin kesal, sangat kesal! Karena Galih berani mengucapkan kalimat yang sama sekali Harin tidak ingin dengar, bagaimana bisa Galih lancang mengatakan bahwa bagaimana jika arzan mati? Walaupun itu hanya andaian kata namun cukup menoreh luka dihatinya.
Harin menderap cepat langkahnya memasuki rumah sakit, setelah berdebat panjang dengan supir taxi karena saling keras kepala. Harin yang meminta kembalian dari lembaran merah yang ia tawarkan, tapi ditolak mentah-mentah sama supir taxi karena tak memiliki uang kembalian.
"Saya juga gak punya uang pas, bapak aja yang kembaliin uang saya, "
Harin memberikan uangnya lagi, namun supir itu menolaknya dengan gelengan.
"Mana punya kembalian saya neng, baru narik nih, di tukar dulu sana."
Harin mendengus. "Gak bisa pak, saya lagi buru-buru gak ada waktu buat nukar duit."
Sebenarnya Harin beralasan saja agar supir itu mau mengerti dan merelakan bayaran Harin, karena Harin juga tidak ingin melayangkan uang lembaran merahnya dengan cuma-cuma karena itu adalah uang terakhir di dompetanya. Harin belum sempat ke ATM.
Cukup lama keduanya berfikir tak ada yang yang mau mengalah, sampai Harin berdehem dan supir taxi itu menatapnya dengan helaan.
"Okelah neng saya ikhlas bentar lagi bulan puasa padahal, untung-untung sedekah." bapak taxi itu tersenyum paksa.
Harin membalasnya dengan senyum kikuk, sembari mengulurkan uang seratusan itu kembali malu-malu. "Engga deh pak, Ambil aja uangnya Harin ikhlas, " ucap harin dengan kekehan halus membuat supir itu menatap uang itu ragu-ragu, harin buru-buru mengibaskan tangan, "tenang aja pak, uangnya gak usah dibalikin Harin ikhlas sumpah!" tak mau berlama-lama di dalam taxi, Harin segera membuka pintu mobil tak lupa berterima kasih pada supir itu karena sudah mengantarnya sampai tujuan.
Alhasil Harin yang mengikhlaskan uangnya ia hanya tidak ingin di kira pelit, anggaplah uang itu menjadi keuntungan bagi supir tadi, dan Seperti yang bapak itu bilang "sedekah mendekat bulan puasa" meski itu hanya kode-kode si bapak taxi tentunya.
****
Harin menarik nafas sejenak kemudian menghembuskannya, saat kakinya berhenti di depan sebuah pintu coklat dengan gagang berwarna perak, ia Merapikan rambutnya sebentar, lalu dengan mantap membuka pintu hingga menimbulkan bunyi denyitan.
Di dalam sana ada Kamila mama Arzan yang sedang duduk membersihkan tubuh Arzan dengan Handuk basah. Sontak kepala Wanita itu menoleh dan langsung terkejut sekaligus senang saat melihat Harin membuka pintu.
Harin melebarkan senyum, saat atensi teralihkan padanya. Matanya langsung tersorot melihat seorang cowok yang terbaring lemah di atas brangkar. Gadis itu melangkah hati-hati memasuki ruangan bernuansa putih ketika bau khas obat-obatan langsung menusuk indra penciumannya membuat gadis cantik itu bergidik tak suka.
.
"Kamu udah datang sayang, katanya masih ada kelas, bolos ya?"
Harin hanya tersenyum kikuk, lalu setelah berhadapan dengan Kamila, wanita itu langsung menyambutnya dengan pelukan, tak lupa kecupan manis mendarat di pipi empuk harin membuat harin langsung terkekeh.
"Apa kabar Tante?" tanya harin sembari tersenyum, matanya ia sempatkan melirik cowok yang berbaring di brangkar.
"Oh baik dong, kamu?" jawab kamila balik menanyakan kabar gadis di depannya.
"Baik Tante. " kekeh Harin malu-malu.
"Alhamdulillah, " kamila tak bosan-bosannya memeluk Harin sekali lagi, "Tante senang kamu datang."
Harin hanya menarik senyum simpul, "Eumm..." gumam harin beralih menatap cowok yang sejak tadi memenuhi pikirannya. "Arzan? " panggilnya.
"Dia udah siuman tadi. " kata Kamila saat melihat harin yang langsung duduk di sebelah Arzan.
Mata gadis itu bergerak cemas, bibirnya meringis saat mendapati luka lebam di wajah arzan yang kebiruan, gadis itu meraba halus permukaan wajah arzan yang penuh luka goresan kaca namun sama sekali tak mengurangi ketampanan cowok itu, bahkan dengan wajah pucat penuh luka pun Harin semakin mencintai laki-laki ini. Harin kemudian mencari apakah ada luka lain di tubuh Arzan yang lebih membuat hatinya sakit, rupanya leher dan tangan kanan cowok itu di Gips dan kedua kakinya penuh perban. Harin ingin menangis melihat kondisi Arzan, namun ia berusaha menahan semuanya dengan senyum di paksakan. Cukup di malam kejadian itu saja Harin menangis bodoh, di saat ia benar-benar mengira Arzan sudah tewas akibat kecelakaam itu, namun ternyata polisi salah memberi informasi bahwa korban yang meninggal adalah lawan dari pelaku tabrakan Arzan.
"Zan, kok bisa sih?" Tanya harin tidak percaya sembari mengambil tangan cowok itu lalu ditempelkan di pipi bulatnya. "Aku belum percaya Kamu kecelakan, rasanya mimpi liat kamu tiduran di rumah sakit, "
Harin mengamati paras Arzan lalu meringis, "Kamu sih, sok-sok'an mau jadi pembalap, ginikan jadinya." gerutu cewek itu membuat Kamila terkekeh.
"Arzan kan mantan pembalap Rin."
Harin langsung menatap kamila heran, jika benar begitu berarti selama ini ia tidak tau perihal Arzan yang suka balapan, lalu apa saja yang dilakukan Harin selama jadi pacar Arzan? Kamila yang sedang meletakkan wadah berisi handuk basah di atas nakas, berbalik dengan kerlingan.
"Arzan pernah tuh, balap becak sama abang-abang kompleks waktu masih SMA. Seringnya lagi nih, dia ngajakin semua tukang becak di komplek buat di ajakin balapan, katanya biar menambah Skill abang-abang becak kalo lagi narik penumpang. " cerita kamila serius tanpa dosa. Bahkan wanita itu sampai berkacak pinggang karena tak kuasa menahan tawa.
Harin melengos pelan, dengan nafas lelah. Ia kembali menatap wajah arzan yang masih tertidur sambil mendengkur halus. Sungguh pikirannya melambung tinggi ketika wanita yang akan menjadi mertuanya ini bercerita bahwa Arzan adalah seorang mantan pembalap, ia langsung membayangkan Arzan yang ikut geng motor anak Jalanan yang suka kebut-kebutan di jalan raya. Namun ekspetasi itu terbuyarkan oleh kerecehan sang calon mertua di depanya.
"Emang ya si zazan anaknya suka aneh, suka usil kadang. "Kekeh Kamila dengan gurat geli.
Harin tersenyum sedih. "Tapi kok dia belum bangun Tante? " Tanya harin memegang tangan cowok itu. Kemudian menatap cemas Kamila yang berdiri di sampingnya.
Kamila, mengusap kepala Harin sembari tersenyum. "Tadi zazan bangun, terus dia bilang gini, " kamila mengerjap-ngerjapkan matanya, berpura-pura meniru Arzan "mama Arzan tidur lagi ya?" kamila memasang wajah masam, "gitu katanya. "
Mendengar itu harin tertawa sembari mendekatkan kepalanya ke muka Arzan. "Bener gitu?"
Kamila menggeleng sembari mengelilingi barangkar untuk memperbaiki selimut Arzan, mengusap kepala anaknya kemudian mengecup dahi Arzan penuh kasih sayang.
Matanya melirik Harin yang tersenyum haru, "Dia nyariin kamu tadi."
Harin kemudian melempar tatapannya pada Arzan, lalu mengelus tangan besar Arzan digenggamnya.
Menatap cemas tubuh Arzan. "Maafin aku ya Zan, tadi aku kuliah dosennya Jahat gak ngasih Izin " ringis Harin merasa kesal.
Kamila bergeming sesaat, rupa bahaginya terpancar saat melihat bagaimana gadis itu mengkhawatirkan putranya. Kamila tak perlu ragu lagi, niatnya yang menikahkan Arzan kembali kuat. Kamila tak perlu takut lagi ada yang menyakiti putranya karena di depan matanya sudah hadir gadis yang ia percaya akan mencintai putranya hingga akhir.
"Nak, Tante titip Arzan ya, Tante mau jemput Arfan di sekolah. Kamu gak papa kan disini sebentar?" tanya kamila meminta persetujuan.
Harin mengangguk tanpa suara, karena sejak tadi gadis itu lekat menggenggam tangan arzan, sambil menatapi Arzan. Berharap cowok itu membuka matanya, karena Harin benar-benar merindukan Arzan yang banyak bicara.
"Tante pergi dulu ya sayang. " pamit kamila menyempatkan mencium pipi Harin, berganti mengusap wajah Anaknya. "Bagun atuh, ceweknya udah datang masih aja tidur. "
Harin tersenyum kecut, sembari memasang tampang masam, membuat kamila menggeleng lemah kemudian tanpa kata lagi Wanita yang mengenakan gamis itu melenggang keluar dari kamar rumah sakit tak lupa menutup pintu.
Harin mengehela nafas pelan, "Zazan, kamu tau gak tadi Galih bilang gini, " cerita harin sambil menyentuh punggung tangan Arzan yang pucat. "Kalau kamu ninggalin aku suatu saat apa yang akan aku lakukan? Apa aku bisa sanggup zan, kamu tinggalkan?" Tanya Harin.
Arzan tentu saja tidak menjawab, hanya dengkuran halus yang terdengar, membuat gadis itu cukup kecewa, ia semakin tidak semangat. "Kamu gak kangen aku kah?" lalu diam-diam cewek itu mendekatkan wajah, mengecup bagian wajah paling lembut dan kenyal itu singkat, lalu menepuk bibirnya karena bertingkah sangat memalukan.
"Aku pikir kamu bakal bangun kalo aku cium hihihi, " Tapi kemudian wajahnya berubah datar mengulas senyum miris, ia merasa bodoh karena berbicara dengn orang yang sedang tertidur, "Ya udah yah, kalo gak mau bangun, aku gak maksa!".
Harin memberenggut seperti anak kecil, lantas merubah posisi duduknya membelakangi Tubuh terlentang Arzan. Gadis itu mulai merasa suram, hatinya lelah tapi hati itu ternyata masih kuat walaupun sudah retak dimana-mana.
Namun Dibalik itu, Tampa ia sadar, ada seseorang yang berpura-pura tertidur, memahan untuk tidak bangun dan membalas ciuman cewek itu, sungguh jantung Arzan seperti melompat dari tempatnya, Arzan mengulas senyum tipis dan membuka sebelah matanya, mengintip bahu Harin yang tertutupi rambut hitam bergelombang. Seandainya lehernya bisa digerakkan, cowok itu bisa melihat jelas tubuh Harin, namun Gips sialan yang melingkar di lehernya membuatnya susah bergerak hingga akhirnya matanya hanya bisa melirik.
Sementara harin Menatap langit-langit, sembari bergumam. "Maaf karena egois Zan, " lirihnya pada diri sendiri.
"Mungkin aku terlalu ngekang kamu buat cerita semuanya, padahal aku ga berhak sama sekali ikut campur masalalu kamu, iya kan?" gadis itu menekuk wajah kecewa suaranya bahkan terdengar serak.
"Mungkin aku gak ada apa-apanya Zan, di hidup kamu aku hanya seorang penghilang lelah, karena saat ketemu kamu dipesta malam itu, papamu bilang kamu lagi patah hati dan bodohnya aku malah menghampiri kamu tanpa malu, "
Dibelakangnya Arzan mendengarkan dengan gurat yang sama, rasa bersalah kembali memenuhi dirinya. Arzan tak lagi tersenyum hanya tatapan kosong dengan bibir yang mengatup rapat, cowok itu kembali menerka-nerka perasaan sebetulnya yang ia miliki untuk gadis di sampingnya ini.
Apa benar, aku cinta sama kamu Rin? atau seperti yang kamu bilang kamu hanya penghilang lelah dihidupku. Tapi kenapa rasa takut kehilangan lebih besar dibandingkan rasa melepaskan. Seperti itu Rin, hatiku masih bingung. Untuk itu biarkan seperti ini samapi kita menemukan titik terang.
"Seandainya kita bisa jujur sama perasaan masing-masing tanpa memikirkan ego, mungkin kamu tidak akan berhenti pada kata terpaksa mencintai, "
Air mata gadis itu luruh, jatuh menyentuh lantai yang putih dan pada akhirnya pecah bersama perasaannya. Harin menghapus air matanya "Kita gak harus lanjutin hubungan ini Zan, aku takut kita sama-sama Sak-, "
Belum sempat melanjutkan ucapannya gadis itu tersentak, matanya membulat sempurna ketika merasakan sesuatu melingkar di perutnya, dan itu adalah lengan Arzan yang memeluknya. lantas gadis itu berbalik dan mendapati cowok itu sudah membuka mata dengan tatapan khawatir. Arzan sudah bangun dan sekarang tersenyum ke arahnya. Harin sangat senang kemudian membungkuk, mendekati tubuh cowok itu.
"Kamu sudah bangun? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya harin khawatir sembari menyentuh kedua pipi Arzan.
"Kamu nangis?"
Bukannya menjawab Harin, cowok itu malah terfokus dengan mata berlinang di depannya, cowok itu paling benci ketika Harin selalu menangis, lantas nafas berat lolos dari bibir cowok itu, ketika melihat muka tidak berdaya Harin. tangan kiri yang ia gunakan untuk memeluk perut Harin kini berpindah di pipi gadis itu.
"Aku sudah bilang jangan suka nangis, aku gak suka. " ucapanya sembari menghapus jejak air mata di pipi ceweknya.
Harin dengan cepat menghapus air matanya, lalu buru-buru tersenyum agar cowok itu merasa baik. "Aku gak nangis kok, cuma sedih aja sama keadaan kamu."
Arzan tersenyum kecil, mata cowok itu mengerjap perlahan tapi pasti, Harin semakin melebarkan senyum palsunya agar Arzan tidak khawatir lagi, namun ucapan cowok itu berikutnya membuat seketika senyum Harin hilang bersama dengan perasaannya yang luruh.
"Kalau kamu capek bilang ya, Biar kita istrahat sebentar, " ucap cowok mengusap air mata Harin yang kembali mengalir.
Karena inilah aku membenci kata bertemu dan paling menyukai kata perpisahan sebab ia menghancurkan hatiku tanpa ampun!
"Assalamualaikum!!! Selena gomez datang! Ada yang kangen?"
Teriakan itu menggema di penjuru ruangan dan membuat atmosfer yang mula hening menjadi kacau.
"Brisik gwen!!" pekik Jessica menampar lengan Gwen dengan tasnya.
"Aww! Kasar ihh, kok gwen dipukul" gadis yang mirip Lisa black pink itu memberenggut manja di depan pintu, persis anak kecil. sementara jesicca lebih memilih meninggalkan Gwen dan memghampiri Arzan dan Harin di bangsal rumah sakit. Cewek itu mendudukkan diri di brangkar kosong di ikuti Gwen dengan muka judesnya.
"Lo udah sadar?" tanya Jessica pada Arzan yang dibalas dengan anggukan lemah, sementara Harin menatapnya diam. Harin memilih menyembunyikan perasaan sesak di dadanya.
Jessica meletakkan kantong plastik berisi buah-buahan di atas nakas kecil. "Gue bawa buah-buahan buat Arzan."
"Makasih ya jess. " Kata harin.
"Apel doang, kecuali ada pisang sama buah naga, itu baru buah-buahan." caletuk Gwen membuat jessica mendelik tajam.
Gwen memang gadis yang selalu membesarkan masalah. Jessica kembali duduk di tepi brangkar tak lupa dengan tindakan bar-barnya, mencubit lengan Gwen hingga gadis yang asik berselfie dengan ponsel pipihnya itu tiba-tiba memekik.
"Aaakh! Sakit kambing!"
Jessica menahan nafas kesal. "Kebiasaan banget sih muka gue lo ambil pas nutup mata, awas aja lu jadiin status. "
Gwen menurunkan poselnya untuk dilihat hasilnya barusan, "Astaga lu jelek amat Jess," Gwen memperlihatkan foto selfie yg tidak sengaja mengambil gambar jessica yang tanpa sadar menutup mata dengan mulut terbuka. "Hahahaha mulutlo mangap-mangap gitu hahaha."
Gwen tersenyum licik lalu tanpa dosa membuka aplikasi w******p. Tak cukup berapa detik foto candid jessica sudah tepampang di storynya.
"Gwen!!! rese banget si lo!" teriak Jessica tidak terima.
"HAPUS GAK!" tariak jessica berusaha merebut ponsel Gwen.
"Eitss. Gak bisa lagi." sebelum Jessica mengambil ponselnya Gwen buru-buru menjauhkan ponselnya.
"GWEN HAPUS! " jerit jessica mendelik, ia sangat malu. cewek itu sampai memukul bahu Gwen dan berfikir Bagaimna jika teman sekampus melihat status Gwen yang kebanyakan teman-temannya. Jessica pasti ditertawai.
Harin hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap teman-temanya yang sangat brisik. Jika sudah berhadapan dengan mereka yang dilakukannya menghela nafas atau tidak menahan amarahnya.
Di sisi lain, Harin cukup beruntung memiliki teman seperti Gwen yang pecicilan tapi berjiwa pelindung, sedangkan jessica cewek bar-bar namun memiliki hati yang lembut dan selalu siap memberikan sugesti dari setiap masalah yang terjadi. Bagai Harin mereka berdua adalah paket lengkap yang selalu setia menemaninya.
Suara pekikan Jessica kembali terdengar ketika Gwen dengan santai berjalan ke nakas dan mengambil buah Apel di dalam kantong plastik.
"GWEN ITU APEL JANGAN DIMAKAN!"
"Lah terus mau diapain?" tanya Gwen dengan polosnya menggigit buah Apel yang cukup besar itu di mulut kecilnya.
"Itukan buat Arzan Gwen!"
"Arzan Aja gak larang, ya kan Zan?" tanya nya menoleh pada Arzan. Namun cowok itu hanya hanya berdecak.
Melihat ekspresi Arzan acuh tak acuh, cewek itu bercelutuk, "Ah pelit lu Zan, " kemudian meletakkan apel yang persis logo Iphone itu kedalam kantong plastik.
"Astaga Gwen!" seru jessica menggelengkan kepala melihat cewek itu memasukan bekas apelnya kedalam kantong plastik.
Tak mau Arzan terganggu, Harin mengambil tangan kiri Arzan untuk kemudian diletakkan di atas pahanya, Harin mulai dengn memijat jari-jari Arzan agar peredaran di sekitar tangan cowok itu lancar. Arzan yang merasakan itu tersenyum, seandainya sebelah tangannya tidak sakit, cowok itu mungking bisa memegang pipi Hain yang bulat.
"Makasih sayang."
Harin hanya mengangguk tak lupa senyum manisnya yang selalu menyertai.
"Oh ya Zan, lu kenal indah gak?" tanya jessica membuat cowok didepan harin menoleh pada jessica yang duduk di brangkar.
"Gak tau gue, kalo ada anak yang namanya indah. "
Itu bukan Arzan tapi Gwen yang tiba-tiba berceletuk dengan kedua tangan bersedekap.
"Gwen Gue nanya sama Arzan! sekali lagi lu cerewet gue tabok peke sepatu! " ancam jessica membuat Gwen tersenyum kikuk.
"Sorry deh. "
Jessica hanya mendelik kemudian mengalihkan tatapnnya kembali pada arzan. Cowok itu tidak menjawab namun tiba-tiba menggenggam tangan harin sangat erat. Harin mengerutkan kening lewat tatapannya ia bertanya "siapa?". Arzan kemudian menggeleng sebagai tanda tidak tau.
"Indah Gwira? Kemarin dia integ ke kelas gue, dia nyamperin pas gak sengaja gue sama Gwen bahas kalo lo masuk rumah sakit." ungkap Jessica membuat Arzan semakin takut.
"Kenapa dia nanyain gue?" tanya Arzan dengan suara yang sedikut tertahan.
"Nah! Itu dia zan, dia kenal sama lu katanya dia temannya mantan pacar lu?"
Dek!
Arzan tiba-tiba tersentak, tanganya ia lepas dari genggaman membuat Harin semakin dibuat tidak mengerti dengan sikap Arzan.
"Sumpah ya gue baru tau lu punya mantan wkwk_" kekeh jessica, "Harin gak pernah cerita lagi." tambahnya mengedikkan dagu pada Harin.
Dengan bodohnya Harin bertanya dengan senyum menyakitkan. "Arzan, kamu punya mantan ya? Kok aku gak tau?"
Arzan hanya menatapnya dengan ketakutan.
"Aku gak mau kamu mikirin yang enggak-enggak." kata cowok itu.
"Ya gak papa dia kan cuma mantan, gak perlu tegang gitu, kalian berdua." bunyi Jessica mencairkan suasana.
Mendengar itu Harin dan Arzan menoleh bersamaan menatap jessica.
"Jangan bilang lu gak bisa lupain mantan lu Zan!"
Tanpa sadar Jessica baru saja menggores luka lain yang beberapa jam lalu berusaha Harin tahan.
"Zan kamu gak mau ngasih tau siapa nama mantan kamu?" tanya Harin membuat cowok itu kejut jantung.
"Ya elah, namanya Gwen. Udah! gak usah dipikirin, gue sama Arzan kan pernah pacaran yakan beb?" ucapnya dengan sebelah mata terkedip manja pada Arzan.
Gwen ikut-ikut mencairkan, saat melihat Harin menampakkan wajah sedih, mata gadis itu sampai berkaca-kaca ingin menangis.
Jessicca tertawa hambar, sebelah tangannya menampar lengan Gwen, memberitahu lewat isyarat bahwa suasana akan panas.
"Dia masa lalu kamu kan Zan?"
Arzan mendesah berat kemudian membuang tatapan ke jendela. Harin mulai Lagi dan Arzan sangat lelah.
Air mata Harin jatuh, cowok itu tidak mau menatapnya. Harin merunduk hingga jarak sedikit menipis. Di depan wajah Arzan cewek itu bertatih-tatih dengn nafas sesaknya, matanya kabur akan air mata. Cowok itu tidak sanggup melihatnya.
"Kali ini aja Zan, jangan bohong sama aku." lalu dengan kesanggupan ia menyatuhkan keningnya dengan arzan menutup wajah cowok itu yang juga menangis. "Kasih tau aku masa lalu kamu."
Arzan merasakan air mata Harin menetes jatuh kepipinya, Arzan semakin menutup mata. Membiarkan perasaan sakit itu terbuka lebar. Dan Arzan sekali mengatakan pada hatinya, bahwa ia harus memutuskan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Namun ternyata mulutnya malah berkata lain.
"Maafin aku... Aku belum bisa cerita."
Harin menjauhkan diri, tiba-tiba berdiri, memakai tasnya, kemudian dengan emosi yang tertahan gadis itu bebalik, lalu dengan langkah cepat keluar dari kamar pasien.
"HARIN!"
Gwen dan jessica ikut berdiri meninggalkan Arzan yang terduduk dengan air matanya. Saat sempat jessica menatapnya dengan tatapan kecewa namun dengan cepat cowok itu mengalihkan tatapan tidak pedulinya.
Arzan duduk diam dengan pikiran yang sangat kacau kenapa sesulit ini mengatakan masa lalunya dengan Harin? kenapa sulit sekali mengatakan bahwa ada seseorang yang masih ia cintai dan Arzan takut perempuan itu kembali.
"Loh kok kamarnya kosong, Harin udah pulang?" tanya Kamila baru tiba bersama Arfan yang masih memakai seragam Smp.
Anak itu langsung menghampiri Arzan kemudian membuka tasnya lalu mengeluarkan rapor biru itu pada kakaknya.
"Apa nih?" tanya Arzan mulai membuka isi rapor itu sampai halaman inti.
"Gue peringkat 1, janji lo kalo gue dapat juara 1, si Moge buat gue!" kelakar Arfan dengan bangga.
Tangan kiri Arzan langsung mendarat di puncak kepala Arfan sembari tersenyum cowok itu berkata. "Apapun yang lo mau. "
"Yes!" cowok itu langsung duduk di brangkar kosong, meletakkan tasnya, kemudian membuka kancing serangamnya satu-persatu hingga kaos hitam polos itu terlihat.
"Lo harus ajarin gue naik motor, " ucapnya sembari menaruh seragamnya di tas. Kini ia memakai kaos hitam dengan celana pendek berwarna biru.
"Okey" balas Arzan memperbaiki posisinya sedikit berbaring. Cowok itu menatap adiknya yang kini memainkan ponsel. Pasti main game pikirnya.
Arzan bahagia dengan Arfan, meskipun adiknya itu gila game dan nonton tv, tapi ia tidak pernah melupakan pendidikan dan seallu serius dengn sekolah. Tidak seperti dirinya dulu yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak penting seperti latihan musik dan balapan.
"Lo harus bisa banggain papa Fan. "
Arfan mengangkat kepala menatap wajah kakanya. "Gue kan emang anak yang selalu bikin bangga ya kan Ma?"
Kamila mengangguk sambil menjatuhkan diri di samping anaknya.
"Kamu juga harus membahagiakan mama sama papa." ujar kamila bersamaan dengn itu mencium pipi anaknya.
"Menikahlah dengan Harin secepatnya."