Sudah 2 jam Harin mengurung dirinya di dalam kamar, ia tertidur dengan wajah sangat lelah bahkan kelopak mata gadis itu bengkak saking lamanya menangis, ia tak sadar berkali-kali Bi Imah datang mengetuk pintunya memanggilnya untuk makan malam tapi Harin sengaja tak mendengar.
Bi Imah khawatir terjadi sesuatu pada anak majikannya itu, oleh sebab itu ia langsung menghubungi Ny. Prianda di luar Negri, tak lupa juga ia menghubungi Arzan karena lelaki itu adalah pacar Harin.
Sejak kepulangan Harin dari rumah sakit gadis itu langsung masuk kedalam kamar meskipun Bi Imah bertanya kenapa Harin pulang sambil menangis.
Jam dinding dalam kamar Harin menunjukkan pukul 8 malam, Hari mengerjapkan mata perlahan, ia memegangi kepalanya yang terasa berat mungkin efek menangis terlalu lama, harin bahkan meringis pelan mendapati kepalanya sedikit pusing. ia susah payah bangun dari kasur.
Saat sudah terduduk di tepian ranjangnya, Harin menoleh mencari keberadaan ponselnya yang di simpan di atas nakas.
Harin mengecek ponselnya ada banyak panggilan tak terjawab dari Mamanya dan juga kekasihnya Arzan.
Harin segera menelfon Mamanya barangkali ada sesuatu yang sangat penting hingga 25 memanggil tapi tak ia jawab karena tertidur. Harin juga lupa ponselnya dalam mode silent.
"Halo Mah? Maaf Harin gak denger mama nelfon, Hpnya aku Silent. "
"Are you okey hany? Kenapa bibi bilang kamu menangis?" tanya Mamanya di seberang sana.
Harin diam, jadi bi Imah sudah menelfon Mama padahal Harin tidak apa-apa, ia hanya ingin menenangkan pikirannya dan dengan cara menangislah Harin bisa melupakan sedikit masalahnya.
"I'm fine. Harin gak nangis mungkin bibi salah lihat. Harin hanya capek habis kuliah. " bohong Harin takut mamanya khawatir.
"Syukurlah, Mama kira kamu kenapa-napa, kamu udah makan?" tanya mamanya lagi.
"Belum Mah, Harin baru bangun tidur bentar lagi mandi, habis itu aku makan malam. " jawab harin lagi meyakinkan.
"Oke kalau gitu mama tutup telfonnya, mama ada pertemuan dengan orang penting."
"Iya mah. "
"Hubungi mamah kalau terjadi apa-apa sama kamu. " pesan mamanya.
"Ya. "
Setelah itu telfon terputus, dan Harin kembali di selimuti rasa sunyi. Ia menatap ke arah jendela kamarnya yang tebuka lebar.
Angin kencang di luar sana menggoyangkan pepohonan di halaman rumahnya.
Harin menarik nafas sesaat menghilangkan perasaan sesak yang kembali membentengi hatinya. Tiba-tiba ponsel ditangannya kembali berdering. Tertera nama Arzan di sana tapi Harin enggan mengangkat telfon dari cowok itu ada alasan kenapa dirinya menghindar dari Arzan.
Karena Mulai sekarang ia harus benar-benar memikirkan hubungannya dengan Arzan agar nanti tidak terjadi masalah yang bisa menghancurkan keduanya.
Harin memutuskan untuk mencari tau siapa masa lalu Arzan. Tak peduli dengan Arzan yang terus mencegahnya untuk mengetahui masa lalunya itu. Harin akan mencari tahu sendiri
Ia harus memikir cara untuk mengetahuinya Tapi sebelumnya ia harus segera menyegarkan diri dan mengisi tenaganya.
20 menit waktu yang lama digunakan untuk menenangkan diri di dalam kamar mandi. Ia keluar hanya mengenakan handuk, rambutnya basah menitikkan air ke lantai. Ia berjalan ke lemari besar dalam kemarnya kemudian mengambil baju dan celana pendek.
Setelah memakai baju, Harin melanjutkan kegiatannya menggunakan skin care di wajahnya tak lupa menyemprot tubuhnya dengan parfum aroma lembut membuatnya terasa fresh. Ia memandangi wajahnya di dalam cermin, matanya bengkak, dan bibirnya sedikit pucat.
Harin tidak mengerti kenapa semua ini harus terjadi padanya. Kenapa orang yang di cintainya menyimpan masa lalu yang begitu beratnya sampai tidak ingin Harin tau. Harin sangat kecewa pada Arzan tentu saja.
Bertahun-tahun menyembunyikan hubungannya yang tak tau alasannya kenapa dan betahun-tahun di bohongi oleh masa lalu cowok itu.
Harin seperti dibodohi oleh cowok itu.
Tok tok tok!
Harin menoleh ke pintu kamarnya yang di buka. Bi Imah muncul di ambang pintu membawa nampan berisi makan malam.
"Ini di makan ya non, bibi udah buatin makanan kesukaan non Harin. " Bi Imah masuk dan meletakkan makanan itu di atas meja tv dalam kamarnya.
"Ya ampun bi, kenapa dibawa ke atas segala, saya bisa turun ambil makanannya sendiri. " kata Harin merasa tidak enak kepada Bi Imah.
"Bibi khawatir, dari tadi bibi panggil-panggil, non harin gak nyaut, jadi bibi memutuskan untuk membawa makanannya aja ke sini. "
Harin tersenyum kikuk, ia merasa bersalah karena pura-pura tidak mendengar teriakan bibi dari tadi. Saking sibuknya menangis. Ia sudah bisa menebak bibi pasti menelfon mamanya.
"Makasih ya bi. " ucap Harin kepada wanita paruh bayah itu.
Bi imah memang wanita yang sangat ramah, ia tipe seorang yang selalu waspada, apalagi menyangkut anak majikannya. Bi Imah tidak ingin salah satu anggota keluarga ini terluka.
Bi Imah wanita yang selalu memakai daster bunga-bunga itu sudah bekerja sangat lama di keluarga ini. Dan Harin sudah menganggap Bi Imah seperti keluarganya sendiri
"Bibi nelfon Mama ya tadi?" tanya Harin beranjak dari kursi lemari hiasnya. Ia mendekati Bi Imah dengan senyum tipis. "Lain kali jangan kasih tau Mama yah, kalau Harin nangis. "
"Tapi non__"
"Harin gak mau Mama khawatir. "
"Tapi saya gak mau non Harin sedih seperti tadi, saya khawatir non Harin kenapa-napa. " Bi Imah menunduk tak sanggup menatap Harin.
"Aku baik-baik aja bi. "
Bibi menatap Harin tidak percaya. "Non jangan sungkan cerita masalah non ke saya, siapa tau saya bisa membantu. "
"Iya bi makasih. " Harin tersenyum lebar membuat Bi Imah membalas senyum harin.
"Kalau begitu bibi kebawah dulu. " pamit bibi. Makanannya jangan lupa di habisn. "
Harin mengangguk membiarkan Bi Imah keluar dari kamarnya, setelah wanita itu keluar dan menutup pintu, barulah Harin mendekati sofa dan duduk untuk menyantap makanan yang dibawa oleh pembantunya.
Ia menatap makanan di depannya
Satu piring nasi putih dan Ayam goreng kecap kemudian satu mangkuk sup makaroni kesukaannya, lalu air putih, ini akan membuatanya sangat kenyang.
Usai mengahbiskan makannannya Harin turun membawa nampan berisi piring kotornya ke dapur, biasanya Bi Iamh kembali setelah Harin makan tapi kali ini ia sengaja tidak memanghil Bi imah karena tidak ingin wanita itu repot.
Tiba di dapur Harin langsung menuju wastafel untuk meletakkan piring kotor, setelah itu ia berjalan ke kulkas untuk mengambil air.
Harin meneguk air dalam botol hingga tandas. Lalu setelah itu Harin membuang botolnya ke tong sampah di samping kulkas.
Harin kembali ke kamarnya ia harus melanjutkan misinya bahwa ia harus mencari tau siapa masa lalu Arzan.
Setibanya di kamarnya, Harin langsung menelfon Jessica
Tuut...
"Jess lo tau nomor cewek yang nanya-nanya soal Arzan gak?" tanya Harin ketika jessica mengangkat telfonnya.
"Ya ampun rin, ngagetin tau gak, bisa gak sih bilang halo dulu, to the point banget." sesal Jesicca di telfon.
"Gue butuh informasi. " ucap Harin seakan tidak peduli drngan suara jessica yang kesal padanya.
"Informasi apaan Rin, gue ngantuk ih. " keluh jessica malah tidak jelas.
"Cewek yang waktu itu nanya soal Arzan lo tau nomor telfonnya gak?" ulang Harin sekali lagi kali ini dengan tenang.
"Cewek yang mana sih?" tanya Jesicca masih tidak mengerti karena kepalanya masih pusing. Tadinya ia masih tertidur dan Harin tiba-tiba menelfonnya.
"Yang lo bilang sama Gwen di rumah sakit tadi. " jelas Harin.
"Oh si Indah, gue lupa minta nomornya Rin. " kata Jessica jujur.
"Gue kira lo tau, ya udah deh maaf yah ganggu malam-malam. "
Harin berniat memtuskan telfonnya tapi-tiba suara jessica memghentikan niatnya.
"Mau nyari soal mantannya Arzan?" tanya Jessica serius
Harin tiba-tiba memgangguk. "Iya."
"Kenapa gak minta saran google aja, dia kan tau segalanya eheheh." ujar jessica tertawa.
"Gue sih gak lagi bercanda jess, kecuali lo mau gue coret dari daftar sahabat gue. "
"Becanda kali say biar gak tegang-tegang amat."
Harin mengehela nafas tidak paham kenapa ia punya dua sahabat yang otaknya geser.
"Ya udah gue tutup. "
"Eh tunggu dulu!" cegah jessica
"Ada apa?" tanya Harin meraut bingung
"Kenapa lo gak tanya si galih. Dia pernah satu sekolah sama Indah." jelasnya.
"Kok lo bisa tau?"
"Galih pernah cerita ternyata mantannya bernama Indah wkwk. "
"Jess... Plisss kali ini gue serius. "
"Beneran gue gak bohong. Coba telfon Galih tanyain sendiri, kalo gue bohong lo boleh hapus gue dati daftar sahabat lo. "
Tanpa berkata lagi harin memtuskan telfonnya.
"Kok gue harus berurusan sama galih sih?" lirih Harin menatap kegelapan di luar sana.
Saat ini ia berdiri di jendela kamarnya, mungkin semua orang yang mendekatinya terkait satu sama lain.