Siang ini matahari bersinar terang. Berada di kota macet dan penuh polusi udara membuat semua orang malas beraktivitas. Setelah kuliah selama berjam-jam lamanya, Harin merasa sangat lelah hingga ia hampir saja ketahuan dosen karena tidur di kelas.
Ia menyalahkan dirinya sendiri karena semalaman harus begadang mengerjakan tugas kuliah yang berhari-hari ia tumpuk menjadi satu.
Sudah tiga hari berada pada mode diam dan mengurung diri di kamar, akhirnya hari ini Harin keluar rumah dan masuk kampus. Walaupun banyak yang terjadi dalam hidupnya tapi Harin tetap menjalaninya. Meski hatinya ikut sakit setiap saat. Harin punya Arzan tapi dia merasa tak memilikinya seutuhnya.
"Hhh'
Harin menghela nafas, matanya menatap layar ponsel di tangannya
3 panggilan dari Arzan.
1 pesan dari gween
2 pesan dari mama
1 video dari Jessica
Harin memilih untuk mengabaikan semua itu, dan membuang tatapan jauh-jauh ke jalan raya di depan sana. Suara kendaraan yang bising, membuat atensi Harin yang sedang duduk di kafee out door teralihkan.
Tak lama ia melihat sebuah mobil putih memasuki pekarangan kafee, mata harin tetap fokus ke mobil itu sampai pintunya terbuka dan menampakkan sosok pria memakai denim jaket berwarna hitam. Dia adalah Galih cowok yang terpaksa harin temui hari ini. Dan sekarang cok itu menatapnya dari jauh sambil tersenyum.
Harin langsung mengalihkan tatapannya pada gelas minuman di depannya ketika pria itu berjalan ke arahnya. Tiba-tiba saja ia merasa gugup dan tak tau harus bersikap seperti apa.
"Gue telat ya?" tanya pria itu saat duduk di depan Harin.
Harin menatap wajah pria tampan di depannya. "Enggak kok, 15 menit dari yang kita janjiin." jawabnya melihat jam tangannya.
Galih memang kelihatan jauh berbeda setelah lulus SMA, Galih yang pernah terkenal sebagai cowok kutu buku, cupu kini tampil di depan Harin berpenampilan keren dengan pakaian bermerek, kulitnya juga bersih, dia pria yang pintar merawat wajahnya, rambut yang selalu tertata rapih keatas, memperlihatkan jidat dan tatapannya yang sendu, dia pria yang sangat manis, tapi sayang Harin melihat Galih adalah lelaki biasa, yang bahkan tak pantas di puji, karena lelaki yang paling tampan dan pantas di kaguminya hanyalah Arzan Leonardo kekasihnya.
"Jadi lo mau nanya apa ke gue?"
tanya Galih kepalanya menengok keseblah kiri, ia sedang mencari pelayan, setelah menemukan pelayan yang sedang berdiri mengantar minuman kesalah satu meja pelanggan, Galih melambaikan tangannya.
Pelayan wanita itu menoleh, sambil menundukkan kepala dengan senyuman di bibir, memberikan isyarat bahwa Gali harus menunggu sebentar.
Galihpun mengembalikan tatapannya pada Harin dengan raut bahagia yg ia sembunyikan. Untuk pertamakali Harin memintanya ketemuan dan rasanya dia telah berkencan dengan gadis ini.
"Ada sesuatu yang perlu aku tau dari kamu dan kamu harus jawab jujur ketika aku tanya. " jelas Harin.
"Mau pesan apa Mas?"
Tiba-tiba pelayan datang dan memberikan menu pada Galih.
Galih melirik pelayan sebentar lalu ia mengalihkan tatapannya pada Harin. "Lo mau pesan apa?"
"Hmm? Aku udah__"
"Mbak, nasi gorengnya dua, sama jus lemontea." katanya pada pelayan.
"Jusnya dua?" tanya pelayan itu memastikan pesanan benar.
"Lo suka jus kan?" tanya Galih tapi tidak dijawab oleh gadis itu. Galih kemudian menatap minuman Harin yang tersisa sedikit.
"Jus lemontea nya satu sama jus jeruknya ya mbak. " pesan Galih.
Galih tau harin pasti akan memesan jus jeruk.
Pelayan itu menggangguk kemudian mengambil menu dari tangan Galih, lalu pergi meninggalkan Harin dan Galih untuk mengambil pesanan mereka.
Setelah pelayan itu pergi Harin membuang nafas lelah. "Kan aku udah bilang, aku masih kenyang. "
"Udah gue pesan dong. Lagian lo gak bilang," ucap Galih tercengir.
"Baru mau aku bilang, kamu nya yang motong ucapan aku terus, masih segala dipesanin. Kan aku udah makan."
"Lo kelihatan lemes, muka lo juga pucat, dan mata lo bilang kalo lo cuma makan roti tadi pagi."
"Kok kamu tau aku cuma sarapan roti?"
"Berarti tebakan gue bener. " ucap Galih dengan sebelah bibir terangkat.
Harin mendesis kesal, bisa-bisanya galih tau kondisinya. Jika seperti ini, Harin harus menunggu mereka sampai selesai makan.
"Kita bisa omongin ini sambil makan. " kata Galih melanjutkan.
Harin menarik nafas sebelum berbicara. "Kamu pernah sekolah di SMA Teratai kan?"
Galih tiba-tiba tertegun menatap Harin. Kenapa tiba-tiba Harin menanyakan sekolah lamanya?.
"Ya."
"Berarti kamu kenal Arzan."
Galih terhenti menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Kenapa lo nanya Arzan ke gue?"
Mata Harin mengerjap, ia memosisikan diri membungkuk dengan kedua tangan terlipat di atas meja bundar. Kepala harin sedikit mendekat ke Galih. Ia menyorotkan tatapan serius.
"Karena hanya kamu yang bisa aku tanya tanpa kamu harus bohong, atau nutup-nutupin semuanya kan?"
Galih menaikkan sebelah alis, semakin bingung dengan pernyataan Harin, entah apa yang gadis ini dapatkan darinya.
"Emangnya gue nutupin apaan?"
Galih menatap Harin lebih lekat.
"Oke. " Harin menyelipkan rambutnya ke telinga sebelum bicara lebih serius. Manis dan Galih terpanah dengan kecantikan yang terpancar di wajah gadis itu.
"Kamu pernah satu sekolah kan sama Arzan?" tanya Harin memulai pembicaraan.
Galih mengangguk "Iya."
"Aku mau tau Arzan dulu seperti apa. Apakah dia anak baik, nakal, dan berapa banyak cewek yang dekat sama dia. " terang Harin dengan nada serius.
"Hahaha. "
Galih tertawa, tawa yang terkesan dingin. Membuat Harin mengerutkan dahi. "Kenapa ketawa?"
"Segitu keponya lo sama masalalu cowok lu. Kenapa gak nanya sendiri ke dia, kenapa harus gue?"
Harin mengepal jari-jarinya tatapannya lutus pada Galih ia merasa bodoh karena bertanya pada Galih. Dan Galih benar kenapa juga ia harus bertanya oada orang kenapa dia tidak menanyakan langsung saja ke orangnya. Harin semakin murung dibuatnya.
"Ya... Karena kamu pernah satu sekolah sama Arzan dan kamu yang bisa buka jalan buat aku bisa tau masa lalunya dia. " jawab Harin, merapatkan bibirnya, mungkin itu adalah jawaban paling tepat untuk Galih.
"Masa lalu ya masalalu Rin, gak usah diungkit lagi kali."
"Ya aku tau, masa lalu gak perlu di ungkit-ungkit, tapi bagaimana kalau misalnya kamu sulit lupain masalalu kamu, dan kamu sebenarnya terjebak, sampai kamu gak bisa lanjutin hidup kamu sendiri."
"Emang itu yang lo rasain?" Tanya Galih.
Harin menggeleng lemah. "Bukan. "
"Maksud aku bukan gitu."
Galih mengangguk-angguk paham dengan apa yang dipikirkan gadis itu saat ini. "Gue ngerti."
Harin mengangkat kepala menatap penuh wajah Galih.
"Menurut gue, Ada dua masalalu yang gak bisa kita lupain, masalalu yang buat lo hancur dan masalalu yang buat lo bahagia. Ibaratnya sebuah file, ketika lo merasa file itu penting, lo bakal nyimpen itu baik-baik di memory lo, tapi ketika lo merasa file itu dah gak penting, dan harus di ganti dengan file yang lain, gak mungkin lo simpen kan pasti lo hapus,"
"Seperti itu juga, kalo lo merasa Arzan gak bisa lupain masalalu nya, berarti orang yang ada dalam masalalu Arzan adalah orang yang penting, bukan begitu?"
"Dari mana kamu tau kalau aku lagi bahas masa Arzan."
Galih tertawa pahit, "Udah ketebak Rin, dari pertama lo ngajak gue ketemuan, gue udah tau lo mau bahas Arzan."
"Maaf." lirih Harin.
"Gue tau lo lagi sedih karena masa lalu cowok lo."
Mendengar itu Harin rasanya ingin menangis, matanya panas, bibirnya bergetar tapi Harin menahan diri agar tidak menangis dan menggantinya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Galih menatap Harin dengan tatapan iba. "Semua orang butuh waktu buat ngehapus semua kenangan masalalunya. Dan lo gak bisa nuntut Arzan buat lupain masa lalunya." ucap Galih mengakhiri dengan tersenyum hangat.
Harin menatap Galih, mereka bertatapan untuk sejenak.
"Tapi aku hanya mau tau. Apa aku salah untuk tau masa lalu dia?"
"Ya enggak salah sih, yang jadi pertanyaannya apa lo sanggup? apa lo gak bakalan sakit hati? " jawab galih melihat Harin dengan tersenyum miring.
"Aku bisa tahan kok, aku udah yakin sama diri aku buat tau semua masalalu dia, sekalipun itu buat aku sakit hati. Tapi rasa sayang aku ke Arzan bisa ngalahin semuanya."
"Cihh... Ini nih, bodo karena cinta." galih tertawa dingin.
"Bukan git... -,"
Harin menghela nafas, membuang tatapan, saat ia ingin berbicara kembali, pelayan datang menyediakan makanan di atas meja, membuat obrolan mereka terhenti berapa saat. Harin menatap Galih, lewat tatapnnya Harin berharap cowok itu bisa diajak berdiskusi tanpa menyerangnya dengan pertanyaan. Sementara Galih membalas tatapan Harin dengan senyum kecil di bibirnya.
"Natap gue gitu amat. Awas jatuh cinta lu." gumam Galih meletakkan sendok dan garpu kepiring Harin.
"Dih gak ya, aku udah tunangan kali."
Galih memasang ekspresi tak percaya, sambil menatap jari manis Harin.
"Mana? Gak ada cincin di tangan lo."
Harin ikut menatap jarinya, "Harus emang pake cincin?"
"Harus lah!" jawab Galih lantang, Harin menggeleng pasrah.
Pelayan yang sedang meletakkan pring terakhir di depan Galih menjadi kebingungan dua pasangan ini, lantas ia pamit dan pergi meninggalkan Harin yang saling melempar tatapan.
"Jawab pertanyaan Aku!"
"Gak usah ngegas dong santai. Mending lo makan dulu."
Akhirnya dan dengan rasa terpakasa mereka makan dengan tenang, sembari menghabiskan makanan Harin mencuri tatapan pada Galih yang begitu lahap menyantap Nasi goreng.
"Kamu lapar ya?" tanya Harin.
"Iya nggak sempat makan tadi."
"Kenapa gak makan?"
"Kuliah pagi, abis itu gue ke kantor papa gue, ada meeting, gak sempat makan siang di sana karena dah janji sama lo, takutnya gue telat. "
Harin mengagguk-angguk. "Kamu kerja di kantor papa kamu sekarang? Sambil kuliah?"
"Yaps. Jadi penerus bokap, karena gue anak satu-satunya."
Harin tersenyum tipis, ia mengerutkan hidung, Galih memang tipe pria yang sangat mapan dan punya masa depan cerah, sedangkan Arzan, jika ditanya mau jadi apa? dia tidak pernah menjawab, kadang lelaki itu bingung dan berakhir menjawab ingin mengembangkan karier musiknya. Harin meletakkan sendoknya diatas piring yang masih tersisah nasi goreng. Harin tidak menghabiskan makanannta ia beralih menatap wajah Galih yang berada do depannya. Dipikiarannya dia terus membandingkan Arzan dan Galih.
Ia kembali berfikir mungkin karena masalalunya Arzan malas memikirkan masa depannya sendiri. Harin menggembungkan pipi, tak sadar Galih kini menatapnya dengan tatapan bingung.
"Lo mikirin apa asih?" tanya Galih sambil melap bibirnya denagn tisseu
Harin tersadar segera menggeleng. "Enggak, aku gak mikirin apa-apa kok?"
"Dasar cewek gak pernah mau jujur, selalu aja ngasih teka-teki." Ucap Galih dalam hati, ia hanya tersenyum melihat ekspresi Harin yang terlihat menggemaskan dengan pipi yang sengaja di gembung-gembungkan.
"Gue cerita yang gue tau aja." ucap Galih tiba-tiba.
"Oke gapapa."
Harin langsung mengangguk mantap, dia tidak sabar mendengar cerita Galih.
"Jadi dulu..."
Tbc.