Sejak pulang dari bertemu Gilang, Harin mengurung diri di dalam kamarnya, pesan dari Arzan ia abaikan begitu saja.
Ada 20 panggilan telpon dari Arzan dan mamanya, dilihat dari riwayatnya itu sekitar satu jam lalu, Harin sudah 3 jam di dalam kamarnya. Hanya termenung, dengan air mata yang memggenang di pelupuk mata. Harin terlihat memeluk lutut di atas kasur, tatapannya datar. tapi tetes-demi tetes air mata jatuh membasahi pipi lembutnya.
Entah harus berapa banyak lagi ia menangis karena Arzan, Harin bingubg dengan kondisi hatinya yang makin hari makin hancur. Perasaannya tidak pernah lagi merasa baik. Satu-persatu kebohongan cowok itu terungkap dan paling bodohnya dia harus tau dari orang lain.
Pertemuannya dengan Gilang bisa di bilang cukup lama, Harin meminta cowok itu menceritakan sejauh mana dia tau tentang Arzan, yang notabenenya teman satu sekolah cowok itu.
Meskipun hanya beberapa yang cowok itu tau, tapi itu mampu menghancurkan hati Harin. Apalagi saat mengetahui Arzan punya pacar yang sangat ia sayang di masalalu.
Gilang hanya mengatakan bahwa Arzan dan pacarnya itu dulu adalah pasangan yang kemana-mana pasti pergi di bersama. Dan hubungan mereka sudah di ketahui seluruh sekolah. Mereka pernah menjadi pasangan paling romantis di sekolahnya dulu sebelum Gilang pindah ke sekolah Harin.
Hanya detail-detail itu yang Gilang ceritakan. Dia tak tau sejauh mana hubungan mereka. Hanya itu, selebihnya Gilang menceritakan pertemuan mereka di seskolahnya. Pertemuan di mana pria itu pernah tenggelam dan Harin datang menyelamatkan cowok itu.
Harin, hanya mendengar Arzan memiliki perempuan di masa lalu, hatinya seperti di pukul berkali-kali, dia cemburu, hatinya tak terima jika ada yang pernah membahagian Arzan sedalam itu, sampai-sampai Arzan tidak mampu melupakannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan itu membuat Harin bergerak, momosisikan dirinya berbaring, gadis itu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Udara malam ini sangatlah dingin, gerimis terus terjadi sepanjang bulan , mungkin akan turun hujan lebat malam ini, isak tangis mulai terdengar dari balik selimut itu bersamaan dengan bunyi telpon yang terus berdering di dalam kamarnya. Benda pipih itu terletak di atas nakas, tepat di samping ranjang cewek itu. Tapi Harin malas mengangkatnya.
Harin membiarkan dirinya terpukul dengan kenyataan.
"Non Harin, Den Arzan ada di ruang tamu, saya di minta panggilin non, katanya mau ngajakin non Harin makan malam!"
Mendengar nama Arzan, Harin perlahan membuka selimut, pipinya basah, mata gadis itu sembab, entah kenapa mendengar Arzan berada di sini, dia merasa senang sekaligus sakit hati.
Bagaimana dia bisa menghadapi Arzan sementara dia baru saja menerima kenyataan pahit dari masa lalu cowok itu. Bagaimana ia bisa bersikap biasa-biasa saja pada cowok itu?
"Non... non Harin tidur ya?!"
Harin beranjak dari kasur, gadis itu berjalan membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Bi?" tanya Harin membuat Bibi tertergun dengan kedua mata membulat.
Wanita itu kaget melihat Harin yang keluar dengan kondisi yang bisa di bilang sangat kacau.
Pakaian kusut, rambut acak-acakan, terlebih lagi kedua matanya sembab.
"Non?" Bibi mendekati harin, "Kenapa nangis?"
Bibi tiba-tiba merasa khawatir melihat majikannya yang berdiri dengan pipi basah karena air matanya.
Harin masih mengenakan Dress yang ia kenakan saat bertemu Gilang siang tadi. Harin bahkan membiarkan rambutnya berantakan. Kondisinya persis orang gila yang putus asa.
"Non gapapa?" bibi mendekati harin menyentuh pipi gadis itu. "Cerita sama bibi atuh non."
Harin mengulas senyum tipis seraya menurunkan tangan bibi dati pipinya, perih rasanya, dia butuh bahu untuk bersandar, dia butuh pelukan hangat, harin benar-benar butuh, karena seutuhnya hati harin rapuh.
"Gapapa bibi, harin baik-baik aja."
"Gak baik-baik atuh non, orang nangis gitu."
Harin menggeleng, sembari tersenyum lemah. "I'm okey bi, tenang aja."
Bibi menggeleng tak tega, jelas-jelas Harin menangis, dan sebagai asisten rumah tangga, bibi punya sedikit rasa tanggung jawab untuk tau kondisi anak majikannya yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
"Bibi ikut sedih cantik." ucap bibi cemas. Dia memang selalu memanggil Harin dengan sebutan cantik.
Harin hanya tersenyum kecil, "Bibi... bilang ke Arzan ya tunggu Harin sebentar, Harin mau mandi, abis itu Harin turun temuin dia." kata Harin dengan suara lemah.
Bibi memasang ekspresi cemas, dia ingin memeluk Harin dan meminta gadis itu menceritakan keluh kesahnya. Tapi Harin mengatakan dia baik-baik saja.
"Bi, Harin gapapa, jangan bilang ke Arzan kalau aku nangis, kasih tau dia tunggu aku sebentar, aku mau mandi dulu." ucap Harin lagi mengulas senyum tipis.
"Non beneran gapapa? tadi nyonya nelpon bibi, katanya non Harin gak ngangkat telpon, nyonya jadi khawatir non."
"Iya bi, nanti Harin telpon balik." Harin tersenyum lembut. "Bibi tolong kasih tau Arzan ya."
"Iya non, kalo gitu bibi ke bawah sekarang, sekalian siapin makan malam juga untuk non san den Arzan."
"Iya bi," balas Harin mengangguk kecil.
Setelah itu bibi pergi, bersamaan dengan pintu kamar Harin yang tertutup.
Malam itu Harin menyegarkan dirinya, memakai pakaian sederhana. Mengeringkan rambutnya yang basah, dan sedikit merias diri di deoan cermin.
Dia akan berusaha baik-baik saja di depan Arzan. Cowok itu tidak boleh tau kalau dirinya sedang dilanda keresahan. Perihal masa lalu yang harin sudah ketahui itu penyebab hubungannya tak pernah jelas selama ini.
****
20 menit berlalu...
Bunyi sandal yang bersentuhan dengan lantai membuat kepala Arzan tertoleh ke belakang, tatapannya langsung menangkap sosok Harin yang turun dari tangga.
Arzan tersenyum, cowok itu berdiri dari sofa ruang tamu, membalikkan badan, seraya menunggu gadis itu menghampirinya. Dia tidak sabar Harin memeluknya seperti biasa ketika ia datang.
Tapi...senyum Arzan perlahan sirna, ketika menyadari ekspresi Harin yang nampak tak bersemangat, biasanya mata cantik gadis itu selalu berbinar ketika melihat dirinya. Tapi kenapa malah tatapan datar yang ia temukan di kedua mata gadis itu.
"Sini sayang." pinta Arzan.
Arzan sudah merentangkan kedua tangannya ketika Harin berdiri tepat selangkah di depannya. Gadis itu terdiam selama berapa detik memandangi wajah Arzan, ada rasa rindu yang harin rasakan saat melihat wajah cowok itu di depannya. Tanpa menunggu lama lagi, Harin masuk ke pelukan cowok itu.
"Ehmm." Arzan tersenyum, ketika menyentuh kulit punggung Harin yang begitu lembut.
Harin mengenakan setelan Dress lucu berwarna baby pink, atasanya sangat cantik, dengan aksen pita di depan d**a. Model lengan sabrina membuat bagian d**a dan punggunya tertampang jelas. Bawahan dia mengenakan rok putih berbahan satin sebatas paha.

Arzan merengkuh tubuh Harin yang begitu wangi, menghirup aroma bunga dari rambut cewek itu, seakan menyalurkan rasa sayangnya ke gadis itu. Harin bahkan bisa mendengar kecupan Arzan berkali-kali di puncak kepalanya. Membuat matanya terpejam.
"Aku kangen kamu Rin," ucap cowok itu mengeratkan pelukannya, mengelus kepala gadisnya dengan lembut. "Kamu kenapa gak angkat telpon aku?"
Hati Harin perih, ada rasa penyesalan karena membuat pacarnya cemas setengah mati.
"Aku khawatir, aku selesai kuliah langsung nyariin kamu, tapi kata Gwen kamu udah pulang."
Gadis itu belum juga menjawab, dia terdiam. Entah merasa marah atau dirinya merasa nyaman dengan posisinya di peluk hangat oleh Arzan yang membalut tubuhnya dengan denim jaket berwarna coklat tua.
"Rin?" panggil Arzan dengan lembut, dagunya menancap di puncak kepala harin. Cowok itu memejamkan mata menikmati harum rambut gadis itu.
"Kamu kok diam aja?"
Detik berikutnya Arzan merasakan lengan harin yang memeluk pinggangnya semakin erat.
Postur tubuh Arzan yang lebih tinggi membuat posisi kepala Harin hanya sebatas d**a cowok itu, Harin selalu nyaman jika dipeluk arzan. Wangi cowok itu juga yang membuat betah berada di pelukan cowok itu.
"Sayangnya Arzan gak mau ngomong nih? atau mau di peluk aja?" Arzan bertanya dengan nada manja.
Gadis itu menggelang di pelukan Arzan.
Arzan merenggakan pelukan, merengkuh kedua pipi gadisnya, mengangkatnya sedikit agar tatapannya bertemu. Harin masih terdiam, dengan kedua mata memandang sedih.
"Kamu kenapa?" tanya Arzan menangkap raut kesedihan cewek itu.
Harin tersenyum kecil. Tapi pahit.
"Aku gak kenapa-napa." jawab cewek itu.
Detik selanjutnya, Arzan menurunkan kepalanya, mengecup lembut bibir Harin.
Kecupan itu begitu singkat, tapi mampu membuat kupu-kupu beterbangan di perut Harin, ditambah lagi suara Arzan yang begith berat dan dalam.
"Aku selalu takut liat kamu sedih." ucap Arzan usai membuat jantung Harin nyaris berhenti.
Elusan tangan Arzan di pipi Harin membuatnya nyaman, Harin tidak bisa marah dengan cowok ini. Perlakuannya yang telalu manis membuat Harin seakan di kuasai.
"Cerita sayang, kamu kenapa?"
Entah berapa banyak dia mendengar Arzan memanggilnya dengan kata Sayang. Biasanya tidak seperti ini. Perlakuan Arzan berubah sangat lembut.
"Aku baik-baik aja Zan, aku cuma mau di peluk kamu sebentar." pinta gadis itu, karena Arzan terus menatapnya begitu sendu.
"Baiklah."
Arzan menuruti permintaan gadisnya, kembali cowok itu menarik kepala Harin, mengelus kepala cewek itu dengan lembut. Memberikan kehangatan tiada tara. Arzan tau gadis ini menyembunyikan sesuatu.Tapi ia enggan bertanya takut menambah kegelisahan gadisnya.
"Kamu udah makan?" tanya Arzan masih dengan posisi mereka yang berpeluk di ruang tamu.
Untunglah rumah ini sangat sepi. Hanya ada bibi yang memasak di dapur dan satpam yang berjaga di pos depan. Jadi tidak akan ada yang menjadi pengganggu di antara mereka.
Harin menggeleng, "Belum, aku gak selera makan."
"Kenapa?" tanya cowok itu tak lepas menggerakkan tanganya menyentuh rambut panjang gadis itu.
"Gak tau kenapa, aku malas aja."
"Kamu harus jaga kesehatan Rin, makan yang teratur, karena setelah nikah, aku mau kita langsung punya anak."
Ucapan Arzan membuat Harin melepaskan pelukannya, menatap Arzan dengan kedua mata membulat. Arzan terkekeh mendapati raut kebingungan Harin.
"Kamu mau punya anak secepat itu?" tanya Harin.
Arzan mengangguk, dia tidak main-main dengan ucapannya, Arzan bukan cowok yang langsung memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang. Pasti cowok itu sudah memikirkan jauh sebelum bicara dengan gadisnya.
"Kamu kan yang mau punya baby?" tanya Arzan.
Iya Arzan benar, Harin pernah berdebat soal kehamilan bohongan, dia memang ingin punya baby, tapi apa tidak terlalu cepat?
Ada banyak hal yang harus dipikirkan setelah menikah, tapi kenapa Arzan memilih untuk segera punya anak.
"Kamu gak mau punya baby?" tanya Arzan mengulangi.
"Mau." jawab Harin dengan cepat.
Arzan tersenyum lembut, dan dengan gerakan cepat mengecup bibir Harin dengan mesra.
Kaget? tentu saja, biasanya cowok itu meminta sebelum menciumnya. Tapi sekarang Arzan tak tanggung-tanggung langsung menciumnya.
Menyadari keterkejutan cewek itu, Arzan lantas terkekeh sambil mencubiti pipi kenyal gadisnya.
"Cium kamu, gak langsung bikin kamu punya baby kok, jadi gak usah takut." Arzan mengerlingkan matanya. Lalu menjauhkan tubuhnya.
"Bukan gitu ish!" Harin mencubit perut Arzan hingga cowok itu mengaduh. "Kamu main nyosor, aku kaget, jantungku rasanya mau copot."
Arzan tertawa geli, sambil memegangi perutnya yang sedikit perih karena cubitan Harin. Dia maju sedikit, menipiskan jarak mereka, hingga bibirnyanya nyaris bertemu. Arzan sengaja menggoda Harin dengan memiringkan kepalanya, kedua bola mata mereka saling menyatu, menyiratkan sesuatu. Pipi Harin langsung bersemu bersamaan dengan detak jantungnya yang kian bertambah.
"Kamu deg-degan ya dekat aku?" Arzan menggodanya. "Kamu mah, gitu, padahal kita dah sering ciuman, gak sekali loh."
Lantas Harin mendorong pelan d**a bidang Arzan sambil tertawa kecil.
"Aku malu tau, namanya juga cewek, normal punya perasaan apalagi sama orang yang dia sayang, pasti tiap detik Zan."
"Apanya?" tanya cowok itu menegapkan tubuh, kedua tangannya di pinggang.
Harin mendekat, lalu meloloskan kedua tangannya meraup wajah tampan kekasihnya. Dengan lembut Harin menerik kepala Arzan hingga tubuh cowok itu merunduk hingga hanya sejengkal saja dari wajah harin.
"Tiap Detik aku selalu jatuh cinta sama kamu," ucap Harin setelah itu melepaskan kukungannya, gadis itu sedikit mundur, senyumnya belum hilang. Buat Arzan deg-degan setengah mati.
"Makan yuk!" ajar Harin sudah akan berbalik namun gerakan Arzan selanjutnya membuat Harin nyaris terjatuh.
Dengan cepat cowok itu menarik pinggang Harin dan dalam hitungan detik, tubuh mereka saling menempel. Kedua mata gadis itu membulat bersamaan dnegan bibirnya yang sedikit membuka.
"Gue boleh cium lo lagi gak?" tanya Arzan tak lagi mengatakam aku-kamu, entah dia lupa atau malah memang sengaja biar Harin semakin jantungan. Apalagi suara cowok itu yang begitu dalam.
Harin menunjukkan segaris senyuman di bibir, dia begitu cantik di mata Arzan malam ini. Ralat, Harin gadis tercantik yang pernah Arzan temui, Harin selalu cantik apapun yang ia kenakan, Harin memiliki hati yang lembut, sikapnya yang polos kadang buat Arzan gemas dan ingin selalu memeluknya seperti boneka.
"Kamu mau?" tanya Harin memberikan tatapan yang langsung dimengerti Arzan.
Tatapan menantang dari gadisnya.
"Jelas, mau banget."
Harin melepaskan tangan besar Arzan di pinggangnya, gadis itu lalu berbisik di telinga cowok itu.
"Catch me if you can."
Setelah memgatakan itu, Arzan tersenyum meiring, Harin mundur berapa langkah, menjauhi Arzan. Detik berikutnya Arzan mendekati Harin yang sudah berlari memutark Sofa ruang tamu.
"Awas ya kalau aku tangkap, kamu gak bakalan lolos!" Arzan berusaha mendekati Harin yang terus menghindar, gadis itu berlari, saat Arzan mencoba meraih tangannya. Gadis itu berlari sambik tertawa, sambil sesekali berbalik meminta Arzan berhenti karena dia sudah kelelahan.
Di kesempatan yang tepat, Arzan meraih perut gadis itu dari belakang, memeluk Harin hingga gadis itu tidak bisa bergerak sedikitpun. Lantas Arzan mencium pipi dan leher Harin hingga gadis itu cekikikan karena geli.
"Arzan udah, geli hihihi!"
"Suapa suruh mancing." Arzan menurunkan tangannya menggelitik perut Harin hingga gadis itu terbungkuk kedepan dengan suara tawa makin keras.
"Iya tapi__Ah Geli, hahah udah ih!" harin bergerak-gerak, hingga tak sengaja menyikut perut cowok itu.
Setelah lolos, Harin langsung berlari menuju Aula dan Arzan kembali mengejarnya, mereka lari-larian di dalam rumah luas itu. Hingga permainan akhirnya berhenti karena suara bibi dari dapur memanggil mereka.
"Non Harin! Makanan sudah siap!"
Arzan mendekati Harin yang lagi ngos-ngosan sama seperti dirinya yang juga lelah lari-larian. Cowok itu menarik tangan calon istrinya,mengajaknya ke ruang makan
"Ayo! calon ibu dari anak-anak Arzan Leonardo harus makan yang banyak."
Harin tersenyum mendengar itu, dia sedikit merasa lega, amarhanya hilang seketika karena Arzan berada di sisinya.