Usai makan malam, Arzan masih betah di rumah pacarnya. Cowok itu enggan meninggalkan Harin, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.20 malam. Yang itu artinya sudah terlalu larut untuk seorang Arzan bertamu di rumah sang pacar.
Mereka duduk berdua di ruang tv, dengan posisi Harin yang memangku kepala Arzan. Cowok itu begitu nyaman berbaring di paha gadisnya dengan kaki selonjoran di sofa.
Setelah menit-menit terlewat, hanya suara tv yang terdengar, kesnyuian malam membuat keduanya santai-santai saja. Tanpa peduli di luar sana sedang hujan lebat.
Ketahuilah, itu salah satu alasan Arzan memilih tinggal lebih lama dengan sang pacar, akal-akalan cowok iti sebenarnya, padahal dia datang memakai mobil, gak bakal kebasahan juga. Dia hanya ingin berlama-lama dengan sang pacar.
Arzan mengatakan masih cemas dengan Harin, padahal gadis itu sudah berkali-kali mengatakan dia baik-baik saja.
Saat ini mereka sedang menonton serial drama korea kesukaan Harin, sebenarnya hanya Harin yang menonton, karena sejak tadi Arzan memperhatikan wajah pacarnya. Memandanginya tanpa bosan. Baginya cantiknya Harin itu kelewatan.
Harin menyondongkan tubuhnya ke depan, yang otomatis kepala Arzan terjepit perut Harin, lelaki itu dengan cepat memalingkan kepala ke arah tv. Harin berusaha meraih bungkus keripik di atas meja. Karena susah, Arzan mengulurkan tangan mengambilkan itu untuk sang pacar.
"Makasih Zan," senyum Harin seraya menundukkan kepalanya, sebelah tangannya mengelus pipi Arzan yang sangat hangat.
"Arzano," goda Harin.
"Arzan aja, itu nama adek gue, Arfano." ralatnya.
Harin terkikik, gadis itu mengabaikan ucapan Arzan, ia langsung membuka bungkus keripik Kusuka, lalu memakannya dan kedua matanya kembali fokus menonton drama yang menampilkan adegan romantis. Sebelah tangannya masih betah mengelus pipi Arzan hingga cowok itu merasakan kelembutan dari jemari Harin.
Arzan terus memperhatikan Harin yang sedang mengunyah keripik
"Masih Lapar ya?" tanyanya.
Aktivitas Harin yang mengunyah keripik berhenti, gadis itu menunduk, membuat tatapannya langsung bertemu dengan kedua bola mata Arzan.
"Gak laper," jawab Harin memasukkan keripik yang sempat tertahan di bibir karena Arzan bertanya. "Aku suka nyemil."
"Tapi keliatannya Laper banget?" Arzan tersenyum, berniat menggoda Harin.
"Enggak." gadis itu menggeleng.
"Iya tapi rakus." Canda Arzan membuat bibir Harin mengerucut.
Arzan sengaja membuat Harin kesal, mencoba mencari topik pembicaraan,dia rindu mendengar suara Harin, apalagi kalau sedang merajuk. Arzan sangat suka.
"Issh gak jadi makan!"
Harin melempar bungkusan keripik di atas meja, lantas menyandarkan bahunya di sofa.
"Becanda sayang," Arzan tertawa,menarik pipi harin dengan satu tangan "Kamu lucu kalau lagi ngambek."
Harin berdecak penuh sesal, "Becanda atau ngatain?"
"Becanda..." tutur Arzan sangat lembut.
"Nyebelin banget sih!" ketus Harin memalingkan mukanya ke samping.
Lagi-lagi Arzan tertawa dia sedikit bangkit, mengambil bungkusan di meja, lalu kembali menjatuhkan kepalanya di atas paha harin. "Ya udah, kamu makan lagi, nih."
Arzan menyodorkan bungkusan keripik milik sanga pacar tapi harin menggeleng.
"Gak mau." tolak Harin.
"Dih kok gak mau?"
"Kamu gituuu... Mood aku jadi ilang." Harin semakin menekuk wajahnya.
Benar kata orang cowok itu kadang-kadang nyebelin. Bikin mood hancur tiba-tiba.
"Kalau mood ilang di cari dong sayang." celutuk Arzan tertawa, sampai deretan gigi putihnya kelihatan.
"Huuu, becandanya gak lucu." ledek Harin menjulurkan lidah.
"Biarin tapi kamu lucu," balas Arzan memainkan rambut Harin. Tanpa sedetik melepas pandangannya pada Harin "Cantik lagi."
Bodohnya Harin tersenyum malu, pipinya langsung merah di puji cantik apalagi sama pacar sendiri.
Kalian pasti Jarang kan di puji cantik sama pacar? kesian kita sama ??
"Cieee senyum." celetuk Arzan.
Harin semakin malu, gadis itu menutup kedua matanya dengan telapak tangan, suaranya mirip anak kucing. Gadis itu meleleh bagaikan lilin yang kepanasan.
"Aaaa kamu ihh! ngegoda mulu!" teriak harin geregetan.
Arzan terkekeh, cowok itu berbalik, menaruh bungkusan kripik, karena ia yakin Harin tak lagi mau memakannya. Arzan kembali fokus pada Harin, tangannya terangkat menarik kedua telapak tangan yang menutupi muka gadisnya. Tepat saat itu juga wajah cantik Harin muncul sambil senyum.
"Harin Prianda." sebut Arzan.
Berapa saat kemudian Harin membeku di tempat. "A—apa?"
Arzan bangun detik itu juga, dengan waktu yang sama Harin menyerong tubuhnya menghadap Arzan, lantas cowok itu mengelus pelan kepala gadisnya, lalu tangannya turun menyelip rambut Harin ke telinga, hingga pipi merah gadis itu terlihat.
Entah apa yang akan dilakukan cowok itu, yang jelas jantung Harin berdegup kencang saat ini.
"Rin, entah kenapa... semakin gue natap lo, semakin gue jatuh dalam perangkap yang lo buat." ucap Arzan dengan suara dalam.
"Maksud kamu?"
Harin tidak mengerti.
"Lo ngejerat gue kan." tutur cowok itu membuat kerutan di dahi Harin kentara. Jelas-jelas gadis itu tidak paham dengan apa yang dikatakan Arzan. Harin dibuat resah dengan ucapan cowok ini. Detakan jantungnya bahkan pertambah lebih cepat.
"Kecantikan lo, kebaikan hati lo, perhatian lo, rasa sayang lo ke gue, itu keterlaluan." ucap Arzan menatap dingin. "lo ngejerat gue pake itu, dan cara lo keterlakuan." Arzan memperjelas.
keterlaluan?
Pipi Harin rasanya makin panas, dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya, entah kenapa ucapan Arzan membuatnya senang atau malah membuatnya ingin marah.
Arzan sendiri diam menatap setiap lekuk Harin, mulai dari mata, hidung, hingga turun ke bibir. Arzan bohong kalau dia gugup saat ini.
"Zan aku gak ngerti maksud kamu."
"Gue bingung Rin," sanggah Arzan, seolah mengalihkan perhatian Harin yang dari tadi mencoba menghindari tatapannya.
"Entah gue harus terima kasih sama tuhan atau balik marah, karena dia udah ngirim malaikat ke gue."
Malaikat?
Makasud Arzan apa sih? Malaikat maut.
Harin merasakan tubuhnya panas-dingin mendengar ucapan Arzan, Jarak kepala meraka sangat dekat, cowok itu memiringkan kepalanya, menambah rasa gugup di hati gadis itu.
"Zan...kamu gak suk__"
"Gue suka, tapi lo keterlaluan." akuh Arzan menciptakan petir di hati Harin.
Mata Harin langsung berkaca-kaca, dia tidak sanggup di tatap dingin seperti itu, hatinya mudah sakit hanya dengan kata-kata. Tanpa ucapan lagi, gadis itu berniat membalikkan tubuhnya, namun ucapan Arzan membuatnya menatap lekat cowok itu.
"Lo keterlaluan banget sampai buat gue jatuh cinta sedalam ini sama lo."
Harin sudah akan menjatuhkan air mata, tapi dengan cepat Arzan menarik Harin ke pelukannya, mendekap gadisnya itu seerat mungkin.
"Kamu beneran cinta sama aku Zan?"
Arzan mengangguk, kepalanya bersembunyi di lekukan leher gadisnya. Arzan begitu nyaman memeluk Harin dengan posisi seperti itu. "Aku cinta banget sama kamu, Rin."
Harin tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Gadis itu membalas pelukan Arzan, seraya menyandarkan kepalanya di bahu pacarnya. Isakan kecil-kecil mulai terdengar, bersamaan dengan bahu gadis itu gemetaran. Yah... Harin menangis.
"Udah jangan nangis."
Dengan cepat Arzan mengusap punggung gadisnya, Rasanya Arzan tidak pernah sanggup untuk menyakiti gadis ini. Dia tau semua tentang Harin, bagaimana Harin jika sedang sedih, maka dari itu dia selalu berusaha menenangkan Harin dengan cara apapun. "Kok malah nagis sih? padahal aku cuma ngegoda kamu tadi."
"Abisnya kamu gitu hiks." lirih harin dengan nada sesegukan.
Hal itu membuat Arzan sedikit tertawa, elusan di kepala Harin makin lembut, dia merasa nyaman di pelukan Arzan.
"Maaf, akhir-akhir ini bikin kamu nangis." ucap Arzan.
Mendengar itu Harin melepaskan pelukan Arzan seraya menghapus air matanya. Harin Menatap lelakinya dengan dalam.
"Kamu kok tau aku nangis berapa hari ini?" tanya Harin sesegukan, pipi gadis itu basah.
Arzan tersenyum, lantas tangannya terulur untuk menyeka air mata Harin. "Aku punya banyak mata-mata."
"Cih," Harin menundukkan kepalanya, dia sudah tau siapa mata-mata yang dimaksud Arzan. "Pasti bibi." lirih Harin.
Arzan lagi-lagi tersenyum, dia tau beberapa hari ini Harin mengurung diri di kamar. Sampai dia juga tau tadi siang gadisnya bertemu siapa.
"Bibi mata-mata yang baik." Arzan tertawa kecil. Aksinya itu membauta Harin cemberut.
Arzan bergeser lebih dekat ke gadisnya. Posisinya duduk bersila, mereka saling menatap mesra.
"Harin..."
"Iya Zan..." balas harin.
"Hug me." pinta cowok itu sambil tersenyum.
Detik selanjutnya Harin perlahan mendekat lalu naik kepangkuan Arzan. Arzan membuka tangannya lebar-lebar menyambut Harin ke dalam pelukannya.
"Rin..." lagi-lagi Arzan memanggilnya setelah menit-menit terlewat mereka saling menatap.
Harin gugup, seperti ada sengatan listrik yang mengalir disekujur tubuhnya, ketika Arzan mulai menatapnya begitu lekat, cowok itu perlahan menghapus jarak, sontak kedua tangannya meremas bahu Arzan, Harin sudah menutup mata menyambut bibir Arzan.
Detik demi detik Harin menunggu pergerakan Arzan, tapi tiba-tiba bunyi ponsel menghancurkan momen indah itu dalam sekejap.
Arzan yang tadinya menutup mata meringis, merasakan ponsel disaku jaketnya bergetar, Harin tertawa sambil turun dari cowok itu, Harin merubah posisi, kali ini dia yang berbaring di sofa, dengan kepala dipangku Arzan. Harin meraih jemaro Arzan menaruhnya di atas perut.
Sementara Arzan mengangkat telfon, dan Harin mendengar saja pacarnya yang sedang bercakap.
"Halo tante?"
Kalian pasti tau siapa yang menelfon Arzan.
"Zan, kamu udah di rumah?"
"Iya tante, Arzan dari tadi di sini."
Tante?
Secepat mungkin Harin menepuk tangan Arzan di atas perutnya.
"Mama aku?" tanya Harin dengan suara berbisik.
Arzan mengangguk, lalu kembali serius mendengar suara di telpon.
"Harin gak ngangkat telpon tante dari tadi, dia ada sama kamu kan nak? Dia baik-baik aja kan? tante khawatir banget, soalnya bibi tadi bilang, kalau Harin nangis. Apa karena capek kuliah? akhir-akhir ini dia ngeluh karena tugas. Arzan... tolong jagain anak tante ya."
Arzan bahkan belum menjawab satupun dari pertanyaan dari wanita itu, tapi mama Harin lebih dulu melanjutkan ucapannya.
"Tante mungkin balik indonesia beberapa bulan lagi, tante usahakan seminggu sebelum acara pernikahan kalian, papa Harin masih sibuk ngurusin perusahaan di sini. Jadi tante minta tolong perhatiin Harin ya, jangan sampai dia gak makan. Takut tante kalau dia sampai sakit."
"Tante tenang aja, Harin baik-baik aja sama Arzan. Arzan pasti jagain Harin tante."
"Kenapa ya dia gak ngangkat telpon tante? Dia marah sama tante atau gimana?"
"Ponsel kamu di mana sayang?" tanya Arzan menunduk.
Harin yang sedang sibuk memainkan jari-jari Arzan itu tersadar. Lantas gadis itu mendongak.
"Aku taruh di kamar." jawab Harin sembari senyum.
"Kamu kenapa gak ngangkat telpon mama kamu?" tanya Arzan lagi.
"Oh iya aku lupa Zan, maaf." jawab Harin.
"Zan tante mau bicara sebentar sama Harin, tolong kamu kasih ke dia."
"Baik tante," Arzan menuruti segera saja ia memberikan ponselnya pada Harin. "Nih, mama kamu mau ngomong."
Ponselnya yang langsung di ambil alih oleh Harin.
"Halo sayang?"
"Halo mah." sahut harin.
"Sayang...mama khawatir banget, kamu mama telpon berkali-kali kok gak diangkat?" tanya wanita itu, kedengarannya sangat cemas. "Kamu kenapa sayang? kamu baik-baik aja kan?"
"Enggak mah, tadi itu Harin ketiduran jadinya aku gak dengar hpku bunyi."
"Kata bibi kamu nangis lagi, kenapa sayang, capek ngerjain tugas?"
"Iya mah, dosennya jahat, Harin hampir tiap hari dapat tugas," cemberut Harin, padahal sebenarnya dia berbohong. Belakangan ini tidak ada tugas dari Dosen.
"Sabar ya anak mama..."
"Harin capek mah, berasa jadi mahasiswa kuput-kuput."
Ucapan itu membuat Arzan yang sedari tadi memperhatikannya, jadi terkekeh. Cowok itu menekan-nekan pipi Harin dengan satu tangan.
"Masiswa kuput-kuput?" tanya sang mama.
"Iya, mahsiswa kuliah—pulang—tugas." jawab Harin.
Suara tawa Mama Harin terdengar, begitupun Arzan yang makin gemas dengan pacarnya. Cowok itu mencubit pelan hidung mancung harin seraya berucap. "Bisa aja sayangnya Arzan."
Harin hanya terkekeh, lalu kembali ngobrol dengan mamanya.
"Mah, kapan pulang?"
"Kamu maunya kapan? biar mama langsung terbang ke sana, atau mama pinjam pintu ajaib doraemon deh, nanti mama langsung ada di kamar kamu gimana?"
"Ish mama, Harin serius, Harin kangen sama mama."
"Sebulan lagi ya sayang, mama sama papa masih sibuk, dan benar-benar gak bisa ditinggalin pekerjaannya, tapi mama usahakan, seminggu sebelum pernikahan kamu, mama—papa pasti datang. Mama juga udah ngomong kok sama orang tua Arzan, mereka yang bakal urus semua nikahan kalian, mama tinggal transfer uang keperluan aja."
"Yah, masih lama dong, padahal Harin kangen di peluk mama—papa," keluh gadis itu, masih setia memainkan jemari pacarnya.
"Kan ada bibi sayang, ada Arzan juga, kamu bisa main ke rumahnya kalau bosan, atau enggak kamu ajakin Gwen sama Jessica nginap." usul sang mama.
"Mereka pasti gak mau, Jessica sama Gwen sibuk mah."
"Sibuk apa?"
"Sibuk cari pacar." jawab Harin tertawa sendiri.
"Hm...mentang-mentang punya pacar,temannya di ledekin."
"Hehehe." Harin terkekeh sembari menatap Arzan, cowok itu hanya tersenyum.
Dia dari tadi hanya terduduk, dengan posisi menyandar di sofa dan membiarkan tangannya dipegang sang pacar.
Cukup lama Harin mengobrol dengan sang mama, mereka membahas pernikahan yang akan di segerakan beberapa bulan ke depan.
"Kamu baik-baik di sana sayang, jaga diri, kalau ada masalah cerita ya, kan kamu udah ada Arzan dan dia sebentar lagi jadi suami kamu, jadi kamu harus lebih terbuka ke dia, ya sayang?"
"Iya mah, mama—papa juga, jaga kesehatan. cepat pulang, harin udha kangen sama kalian."
"Iya mama sama papa, udah rencana datangnya itu seminggu sebelum kmu nikah, jadi selagi nunggu tanggal nikahan kalian mama-papa selesaikan pekerjaan dulu di sini." jelas sang mama.
"Okey." lirih Harin.
"Gapapa kan sayang?"
"Iya mah, gapapa Harin udah biasa kok sendirian, dari kecil udah sering di tinggal mama papa keluar negri, harin udah biasa." ucap gadis itu berusaha terlihat tegar padahal hatinya terluka.
"Mama minta maaf ya sayang, mama selalu ninggalin kamu. Mama terpaksa karena papa butyh mama, kalau gak ikut papa, nanti papa siapa yang jagain?"
"Iya mah, makanya harin bilang Gapapa mah, kalau udah nikah, Harin kan udah punya suami, Harin punya keluarga baru, harin gak bakal sepi lagi."
"Tapi Harin marah gak sama mama?"
"Gak marah ih mama."
"Bener?"
"Iya mama sayang..."
"Ya udah kalau gitu, kasih ponselnya ke Zazan, mama mau bicara."
Harin memberikan ponsel itu lagi ke Arzan, beberapa detik Arzan terdiam, sebelum akhirnya mengambil benda pipih itu dari tangan Harin.
"Halo tante."
"Titip Harin ya nak, jagain dia, jangan di buat nangis anak tante."
"Siap tante, Arzan sedia 24 jam untuk anak tante." kekeh Arzan.
"Ya udah kalau gitu tante tutup telponnya ya."
"Iya tente."
Mama akhirnya memutuskan sambungan telpon setelah melepas rindu dengan sang anak.
Arzan memasukkan bendah pipih itu ke saku jaketnya sementara Harin beranjak dari sofa.
"Udah larut banget, kamu gak pulang?" tanya gadisnya berdiri di depan Arzan. Gadis itu menangkup kedua pipi Arzan.
Beberapa detik Arzan tertegun menatap kecantikan Harin. Cowok itu menarik pinggang gadisnya, membuat Harin refleks terduduk di pangkuannya.
Arzan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik sang pacar. Sementara Harin otomatis mengalungkan tangan di leher Arzan.
Mereka menatap penuh perhatian,sampai arzan kembali mengecup pipinya dengan mesra.
"Zan... Gue—"
"Boleh aku nginap?" tanya Arzan.
Harin terdiam menatap mata Arzan, degub jantungnya bertambah cepat. Mendadak ia merasa gugup, sampai-sampai rasanya ia kehilangan pasokan oksigen. Ucapan Arzan barusan penuh arti.
"Boleh? kalau gak mau aku bisa pulang sekarang." ulang cowok itu lagi dengan suara berbisik.
Dan harin tidak mampu berpikir lagi, rasa gugup dan pikirannya mulai kemana-mana, gadis itu tanpa sadar menjawab.
"Boleh."
"Yes!" senang Arzan.
Cowok itu langsung memeluknya, menghirup kuat-kuat aroma manis gadis itu.
****
1 jam kemudian....
Sudah lewat tengah malam, hujan sudah berhenti, Arzan benar-benar menginap malam ini di rumah Harin, cowok itu sudah mendapat izin dari sang empunya rumah. Gadis itu bahkan sudah tertidur dalam dekapan hangat Arzan Leonardo.
Posisi mereka sudah berubah, dari duduk kini mereka sama-sama berbaring di atas sofa. Arzan tepat di belakang memeluk Harin di depannya.
Ruangan itu temaram, suasananya sangat sunyi, hanya cahaya tv yang menerangi mereka. Pelukan hangat Arzan membuat Harin tertidur sejak 5 menit yang lalu.
Arzan sendiri masih terjaga, matanya menonton tv, sambil sesekali mencium pipi Harin. Sebelah tangan Arzan menelusup ke baju Harin, mengelus pelan perut rata sang pacar. Arzan tidak berpikir untuk berbuat macam-macam, hanya saja sebelum tidur Harin berpesan agar Arzan mngelus bagian perutnya karena merasa nyeri di bagian perut bawah.
Dan Arzan hanya menuruti permintaan gadisnya.
Perut harin sangat hangat, tangan Arzan jadi betah bermain-main di atasnya, Arzan tiba-tiba membayangkan jika nanti perut rata sang pacar akan besar karena seorang bayi darinya. Arzan tersenyum membayangkan itu, dia kembali merunduk mencium bibir Harin yang terlelap.
"Cup."
Tak sampai di situ Arzan membisikkan sesuatu di telinga calon istrinya.
"Aku beruntung bisa ketemu kamu rin, dalam sekejap kamu hilangin rasa sayang aku ke orang itu. Dan kamu hebat bisa rebut aku dari dia."
Harin yang merasa tergnggu, langsung bergerak, gadis itu berbalik, memeluk Arzan, tubuh mereka saling menempel, tak ada jarak sedikit pun, Harin menenggelamkan kepalanya di d**a Arzan, Arzan pun dengan setia mengelus punggung gadisnya.
"I love you Rin..." bisik Arzan yang sama sekali tak terdengar oleh Harin.
Tak lama kemudian ponsel di saku jaketnya kembali bergetar, sofa yang sempit membuatnya sulit bergerak, apalagi sebelah tangannya menjadi bantalan kepala harin.
Cowok itu menggunakan satu tangan yang terbebas untuk mengecek ponsel .Ketika dia menyalakan layarnya dan dahinya langsung mengerut melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tak di kenal.
Dada Arzan seperti di pukul keras, ketika membaca pesan itu.
+6285******
Gue indah.
Kapan lo ada waktu? gue mau ketemu.
Ini soal sahabat gue.
Lo bakal nyesal kalau lo gak ketemu gue.