Haiiiiii!!!!!!
Salam semuanya!!??author balik lagi nih, sorry banget yah, author kelamaan hibernasi diperkampungan hehhe becanda ? maklum yak author masih labil gini hehehe. Harin sama Arzan apa kabar yak??
Hmm....
Sebelum baca jgn lupa putar mulmetnya yakk!! Video d atas author yakin bikin baper.
Di dunia ini hanya ada dua alasan seseorang menikah. Pertama, karena saling mencintai dan kedua karena perjodohan.
Lantas? Posisi manakah yang di tempati Arzan dan Harin? Disaat keduanya masih bingung mengapa mengambil tindakan untuk menikah. Arzan tau setengah dari hatinya belum siap untuk menikah dengan harin, tentang mencintai gadis itu tentu saja dia mencintai harin, namun ada garis merah yang mencoret keinginannya itu. Siapa yang tahu Masa lalu dengan seorang perempuan lah yang menjadi alasannya.
Begitupun dengan Harin, bukan mengenai sebesar apa ia mencintai Arzan? tapi kenyataannya ia memiliki Keraguan besar, apakah Arzan benar-benar ingin menikahinya? Atau lelaki itu hanya terpaksa demi menyenangkan dirinya?
Sangat banyak spekulasi yang memenuhi pikiran mereka tapi keduanya lebih memilih memendamnya masing-masing. Melihat raut gelisah Harin, gadis itu sepertinya tidak tahan lagi untuk bertnya.
"Kita udah sampai sayang, " kata pria di samping Harin seusai mematikan mesin mobil.
Harin menoleh pada Arzan, "Arzan, sepertinya kita harus omongin ini baik-baik deh, " Harin melirik cowoknya, "Aku mau kita terbuka satu sama lain. "
Arzan bergerak menyamping, mentap sebentar gadis itu kemudian tangan kirinya meraih tangan Harin,lalu digenggamnya erat.
"Ini kan yang kita mau?" tanya arzan bersuara lembut berusaha tersenyum.
Tapi sepertinya Harin menginginkan Arzan berkata jujur malam ini.
"Aku tau zan, dan aku mau banget nikah sama kamu. tapi,-" harin takut untuk melanjutkan ucapannya.
Harin tau ini bukan situasi yang tepat untuk membicarakan masalah mereka. Berada di dalam mobil dalam keadaan tengah malam, Harin rasa sangat dingin dan gemetaran.
"Kamu gak percaya sama aku?" tanya Arzan kali ini dengan tatapan dingin, "Atau jangan-jangan kamu mikir kalau aku main-main?"
"Bukan gitu, "
"Trus kenapa? Lamaran gue aneh ya? Cara gue gak romantis?"
Harin menatap arzan kesal. "Bukan masalah romantisnya zan. "
Arzan menatap mata Harin yang mulai berkaca-kaca, "Apa perlu aku nyiapin kejutan buat kamu? Atau ngelamar kamu di depan semua orang agar kamu percaya?"
Harin menggeleng, bukan itu maksudnya. Harin memang suka hal romantis tapi dia tidak se-alay itu menyuruh Arzan melamarnya di depan semua orang.
Membayangkannya saja Harin sangat geli. Harin hanya tidak mengerti mengapa Arzan selalu menutupi sesuatu darinya dan disaat Harin ingin tau kebenanrannya lelaki itu sesalalu saja mencari alasan pembenaran.
"Zan... Bukannya waktu itu kamu bilang ke aku gak mau nikah?" harin memosisikan dirinya menyamping, membuat meraka saling berhadapan.
Arzan mengangguk santai.
"Trus kenapa kamu tiba-tiba cerita sama papa, kalau kamu mau nikahin aku?" tanya harin mengeluarkan unek-unek.
"Kejutan!" seru lelaki ganteng itu dengan cengiran.
Harin langsung menampar punggung tangan Arzan, "Aku lagi gak bercanda Zan, " cibirnya.
Arzan memcebikkan bibir, "Kamu maunya apa si sayang?" Arzan mulai serius takut gadisnya marah lagi.
"Ok bilang sama aku apa yang pengen kamu tanyain," Arzan mencium tangan harin sebagai bentuk rasa sayangnya ke gadis ini.
Melihat arzan mencium tangannya, Harin seperti merasakan ketenanangan, "Aku emang senang zan, kamu akhirnya mutusin mau nikah sama aku, tapi yang buat aku bingung kenapa tiba-tiba, kemarin kamu kelihatannya gak sudi dengar pernikahan, " ucap harin panjang lebar. Sementara Arzan lekat-lekat memandang gadisnya yang begitu lucu saat cemberut itu.
Arzan meraih dagu gadisnya, mengangkatnya agar ia bisa menatap jelas wajah cantik Harin prianda, "Semua orang bisa brubah pikiran Rin, " katanya dengan lembut. "Aku sadar selama ini selalu buat kamu bingung, kamu juga berniat berhenti kan?" tanya Arzan dengan suara pelan.
Harin menggeleng cepat, "Enggak! siapa bilang?" sangkalnya, "Kamu tuh yang ngomong gitu."
"Buktinya kemarin minta putus, " tudingnya.
Harin diam. Lagi-lagi Arzan membuatnya seperti ini, terjebak dalam situasi. Jujur saja, Harin tipe gadis yang sulit berkata-kata jika sudah di tuding karena bahwasanya apa yang di katakan Arzan selalu benar tapi alasan itu juga mampu membuatnya bertanya kembali.
"Ok aku ngaku salah soal itu, tapi sikap kamu yang selalu nutupin semuanya dari aku, bikin aku capek Zan, " terang Harin dengan ekspresi lelahnya.
Arsan mengehela nafas, "Coba aku tanya sama kamu, Apa yang aku sembunyiin?"
Harin menggerakkan matanya ke bawah "Tentang masalalu kamu," lirih harin jujur.
Arzan mendengus kasar. "Kamu udah janji sama aku buat gak nanyain itu kan Rin? masa kamu gak bisa buat komitmen se simple itu sama aku Rin. "
Harin tersentak mendengar itu, ia mendongak menatap tajam Arzan. simple katanya? Mana ada hal seperti masa lalu dikatakan simple. Sadar! Ini menyangkut hubungan antar pasangan. Jika salah satunya merahasiakan sesuatu yang penting, sedangkan satunya merasa terbebani dengan itu, apa itu masih bisa dikatakan sesuatu yang simple?
"Buat apa dua orang menjalin hubungan jika salah satunya saja gak mau terbuka sama pasangannya, " pungkas Harin kesal.
Arzan mendengus. "Kita gak harus omongin ini Rin."
Dengan kesal Harin Menarik tanganya yang digenggam Arzan, "Ini yang aku gak suka sama kamu Zan, kamu selalu sembunyiin masa lalu kamu ke aku. "
"Harin!" bentak Arzan memicingkan mata.
Jika sudah menyangkut masa lalu Arzan selalu terpancing emosinya. Cowok berjaket jins itu kembali menarik tangan Harin. "Dengerin aku. "
Mata Harin sudah berkaca-kaca, "Aku gak tau siapa masa lalu kamu, aku juga gak peduli dia perempuan atau laki-laki, tapi apa orang itu sangat special dihidup kamu zan? Sampe-sampe kamu gak mau cerita sama pacar kamu sendiri. " Entah mengapa mengucapkan kalimat itu saja membuat hatinya seperti di tekan sesuatu yang keras. ini adalah dimana tingkat keras kepala harin muncul. Dan pada akhirnya Harinlah yang memulai pertengkaran.
"Kasih aku waktu buat cerita semuanya," mohon Arzan, "Aku cuma gak mau kamu kecewa sama Aku dan yang paling aku gak mau, kamu ninggalin aku Rin." terangnya penuh
Kedua tangan gadis itu sudah berada digenggamannya. Ia bisa merasakan tangan Harin yang dingin. "Plissss...," mohon Arzan sekali lagi, berharap perempuan ini mengerti dirinya.
Jika ditanya apa Arzan menyesal berpacaran dengan Harin maka arzan menjawab iya. Arzan begitu menyesal mengenal gadis ini. Arzan marah pada dirinya sendiri kenapa ia harus jatuh cinta pada gadis ini, Kenapa ia harus bertemu gadis baik ini di pesta Papanya malam itu. Kenapa disaat Arzan berjanji untuk mencintai satu wanita saja dihidupnya, Harin malah datang membuatnya jatuh cinta.
Selama 1 menit mereka saling bertatapan mencari kejujurna di mata masing-masing, menyalurkan rasa paling percaya bahwa mereka bisa melewati itu semua. Bahkan udara yang masuk melalu jendela mobil tak lagi membuat mereka kedinginan.
"Kasih aku waktu ya, ya sayang?" pinta Cowok itu dengan wajah memelas.
Harin mengangguk pelan, untuk keberkian kalianya ia pasrah, Harin akhirnya mengerti bahwa tidak baik mebesar-besarkan masalah. Tidak ada gunanya, karena ia tau Arzan tidak akan mencerikan masa lalunya itu. Mungkin benar, pria itu belum siap menceritakan semuanya pada dirinya. Jujur Harin sebenarnya takut mendengar siapa yang membuat Arzan temggelam dengan masa lalunya itu.
Harin menghela pasrah. "Oke aku kasih kamu waktu, dan aku harap itu gak lama. Setidaknya aku mau dengar semuanya sebelum pernikahan kita terjadi. "
Harin melepas setbelt segera keluar dari mobil, semntara Arzan mendesah berat. Yang tadi itu benar-benar tekanan kiat hingga ia sadar sejak tadi ia berkeringat dingin. Lelaki itumenurunkan kaca mobil. Melihat harin sudah masuk ke dalam gerbang besi itu di ikuti satpam rumah keluarga Prianda yang baru saja menutup gerbang.
-------
Arzan memutar mobilnya lalu meninggalkan kediaman keluarga prianda dengan hati yang kacau. Pria itu sampai memukul stir keras-keras hingga bunyi klakson ikut memekik keras di jalan raya, membuat pengendara yang lain terkejut. Arzan menginjak dalam gas mobilnya, seketika mobil avanza hitam itu melaju sangat kencang, membelah jalanan yang cukup sepi malam itu.
"AAAAAARRRRHHH!!!! BODOH! BRRENGSEK! "
Arzan seperti meluapkan semuanya pria itu sampai berteriak keras, hingga berapa kali cowok itu hampir saja menabrak kendaraan yang sedang berlalu lalang. Dari arah belakang suara sirine polisi memberi peringatan keras agar cowok itu menghentikan mobilnya.
Arzan melihat ke arah spion tersadar polisi mengejarnya.
"SIAL!" pekik Arzan dengn penuh tekanan, cowok itu sampai berkeringat dingin karena emosinya yang meluap-luap.
Mobil polisi itu masih berusaha mengejar Arzan, sampai di persimpangn jalan Arzan membelokkan mobilnya dengan cepat menyalip dua kendaraan mitir dan mobil di depannya, sontak orang yang mengendarai motor menyingkir dan memaki Arzan dengn sumpah serapah
"Kambing! Kecelakaan tau rasa lo!"
Arzan tidak ingin berurusan dengn polisi malam ini, lelaki itu lelah dengan masalahnya dan ia tidak ingin menambah masalah dan berakhir di kantor polisi jadi ia putuskan saja untuk melarikan diri. Tanpa pikir panjang dan memikirkan resiko pria itu semakin melajukan mobilnya, menginjak gas menambah kecepatan mobilnya hingga masuk ke area jalan tol.
"Bisa mati konyol gue kalo begini, " ucapnya menggigit bibir, tapi kakinya malah menginjak gas.
Tak mau kalah, polisi tersebut mengejar kemana mobil Arzan pergi, terjadilah aksi balapan di jalan tol malam itu.
"Hah! Huuuh! Berhenti ngejar gue njing!" Arzan merasakan tubuhnya gemetar, ini pertama kalinya Arzan balapan mobil. Mengingat cowok itu lebih suka memakai motor daripada mobil.
Arzan menambah kecepatnnya saat merasa mobil polisi itu semakin dekat dengn ekor mobilnya, tak lupa dengan makian yang keluar dari mulutnya. Untunglah ia berhasil menjauh.
Arzan menoleh ke belakang, ia cukup lega, polisi itu sudah tidak mengejarnya namun saat menoleh ke depan, sebuah mobil melaju sangat kencang, membuat Arzan kehilangan keseimbangan.
"AAAAAAAAHHHHHHH!!! "
Belum sempat ia membanting stir, mobil sedan putih itu sudah menabrak bagian bodi mobil Arzan. Dan...
Kecelakaan itu terjadi, semesta seolah merekam lambat kejadian itu, mobil yang bagaikan punya kekuatan terangkat di udara, terputar hingga akhirnya jatuh menghantam kerasnya aspal. bunyi benturan keras itu berakhir dengn suara ledakan yang saling bersahut-sahutan
Tabrakan itu cukup keras, hingga dua mobil itu terbalik dan terlempar merusak pembatas jalan tol. Hancur! Mobil Arzan terseret di tengah jalan dengan keadaan terbalik. Entah seperti apa nasib pria di dalam mobil itu. Jika di lihat dengan kondisi mobil itu hancur bagian depan dan belakang. percikan api yang mulanya kecil tiba-tiba meledak seperti bom dan membakar habis mobil itu.
Mungkin tuhan sudah merencanakan semua ini dan Arzan hidupnya berakhir samapi disini.
Mobil polisi dan beberapa kendaraan kini memenuhi jalan tol untuk menyaksikan kejadian itu. Begitu banyak polisi yang berhamburan untuk mengevakuasi korban dan tak membiarkan orang seenaknya melewati garis polisi.
*****
"ARZAN!!!!"
Harin terbangun dari mimpi buruknya. Itu terasa nyata, ia melihat Arzan mengenakan pakaian serba putih, pria itu pergi setelah memeluknya dan mengucapkan perpisahan terakhir. Harin tidak tau kenapa ia sampai bermimpi sekonyol itu, hampir mirip sinetron-simetron yang hampir tiap hari di tontonya.
Harin mengusap keringat di dahi fan juga lehernya. "Cuma mimpi." harin menghela nafas.
Mungkin karena sebelum tidur harin memikirkan pria itu sampai terbawa kedalam mimpinya sendiri. Banyak yang bilang mimpi itu hanya bunga-bunga tidur. Harin juga menganggap mimpinya tadi hanya bunga-bunga tidur.
Harin turun dari ranjangnya, mencari letak ponselnya terakhir kali, karena tidak menemukannya, gadis itu memutuskan untuk ke kamar mandi saja. Sepertinya ia akan mandi karena setelah sampai di dalam kamarnya gadis itu langsung merebahkan tubuhnya dan tidak sadar malah tertidur dengan dress navi yang dikenakannya pas makan malan di rumah Arzan tadi.
Setelah mandi dan merasa segar gadis itu berjalan keluar kamar dan berniat turun ke dapur namun belum sampai di bawah, Harin melihat Bi imah yang sedag menelfon menggunakan telfon rumah letaknya berada di ujung sebelah tangga.
"Ada apa bi?" tanya Harin mendekati Bi imah.
"Non Arin... " kata bi imah cemas, sambil memberikan telfon.
Harin meraihnya, belum sempat menempelkannya di telinga, bi imah lebih dulu memeluk gadis itu sambil menangis.
"Yang tabah ya non, " kata bi imah melihat ekspersi Harin yang berubah.
"GAK MUNGKIN!" Bentak harin ke pada orang di sebrang telfon.
"Kamu jangan main-main sama saya!" bentar hatin dengn ekspresi tenang namun kegugupanya lebih mendominasi, terlihat sekarang dirinya gemetaran.
"Bi, dia bohong bi, masa dia bilang Arzan kecelakan trus meninggal, dia mau bikin prank kah!" omel harin masih dengan ekspresi kesalya, harin mendekatkan kembali telfon di telinganya. "Sudah yah, kalo mau prank gak usah malam-malam, basi tau. Pasti ini teman Arzan kan? Bilangin ke Arzan, aku gak mau ngomong sama dia!" tutup harin, meletakkan keras telfon itu di tempatnya.
"Bibi kenapa sih? dia itu mau ngeprank aku, masa bibi mau di bohongin sama penipu, " teang harin semakin kesal, harin berjalan menuju dapur meninggalkan bi imah yang termenung dengan air mata.
"Non Arinn.... " lirih bi Imah sangat prihatin
Sampainya di dapur tiba-tiba kaki Harin terasa lemas, wajahnya pucat. Nafasnya sesak, Gadis mengenakan kemeja kebesaran itu akhirnya menjatuhkan dirinya terduduk di lantai. Air mata tiba-tiba membanjiri pipinya.
"ARZAN!!! KAMU BOHONG! KAMU TUKANG BOHONG HIKSS KAMU GAK MUNGKIN MATI KAMU GAK MUNGKIN NINGGALIN AKU ZAN!!! "
mendengar raungan Harin bi imah segera berlari ke dalam dapur, dan melihat Harin yang meringkuk di kaki meja makan. Gadis itu menangis sekencang-kencangnya.
"Non... "
Harin tidak peduli sekacau apa dirinya sekarang, ia menangis tersedu-sedu, Bi Imah yang menyaksikan itu tak berani mendekat wanita paru baya itu hanya bisa berdiri di depan pintu dengn air mata yang bercucuran.
"Harin gak mau dengar apapun lagi Harin benci yang namanya ARZAN!"
sesungguhnya yang membuatnya menerima kenyataan itu adalah mayat Arzan di temukan dengan mengenaskan. Harin mendengar itu langsung dari polisi, polisi itu menjelaskan data-data diri kekasihnya itu tapi Harin pura-pura menyangkalnya.
Bi imah mendekati Harin. "Ayo non, kita ke rumah sakit. " meraih tangan Harin dan membantunya berdiri. "Mari saya bantu non, "
Harin menepis tangan Bi imah. "Enggak Bi! Arin gak mau kemana-mana. " menghapus air matanya, lalu bangkit, gadis itu berdiri namun belum sempurnah berdiri, gadis itu merasakan seisi ruangan berputar dan akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.
"NON ARIN!!"