"Assalamualaikum mah!" Kamila berbalik seketika ada suara yang memanggilnya.
Ia sedikit terkejut menyadari Harin dan arzan sudah bearada di depannya. Tak menunggu lama lagi wanita itu langsung menghampiri harin dan memeluk tubuh ramping gadis cantik itu.
"Eh Harin! Tante kangen banget sama kamu, " kata Kamila tak sungkan mencium pipi harin yang lembut.
Harin hanya menyambutnya dengan tatapan hangat,serta senyum kecil yang membuat lekung di sekitar pipinya terangkat. Memperlihatkan sederet gigi putihny yang rapi.
"Cantiknya, " seperkian detik membuat Kamila mengagumi kecantikan alami yang di miliki harin apa lagi mata abu-abu gadis itu, mengingatkannya pada ibu harin.
"Makasih Tante, " Harin merasakan pipinya panas saat wanita di depannya terus menatap wajahnya.
"Sejak kapan kalian sampai? Kok mamah gak dengar suara mobil kamu?" tanya Mila mengalihkan tatapannya pada Arzan.
Sebenarnya Kamila sedari tadi menunggu kehadiran Harin karena iya hanya punya malam ini untuk menghabiskan waktu bersama gadis cantik didepannya.
"15 menit yang lalu, mampir dulu di ruang tamu," jawab Arzan dengan tampang malasnya. Lagi pula menanyakan suara mobl itu kemungkinan di luar pemikirannya. Mana bisa mamanya ini mendengar suara mobil jika Garasi saja berada jauh dari letak dapur rumahny yang terbilang cukap besar.
Kamila menyentuh kedua lengan harin, "Ya sudah kalau begitu Harin tetap disini bantuin Mama masak, "putus kamila dengan senyuman.
"Itu emang tujuan Harin tante, " terang harin tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Kalo gitu aku ke kamar ya sayang, " ucap arzan pada harin
Harin menoleh menatap Arzan dan segera mengiyakan. Mereka bertatapan Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya Arzan mengacak puncak kepalanya dengan sayang.
"Mah, aku ke kamar dulu, " pamit arzan pada mamanya.
"Iya nanti mama panggil kalo makan malamnya udah siap, "
Arzan berpamitan setelah melihat Harin ikut bergabung dengan Mamanya yang akan menyiapkan semua makan malam ini. Ia cukup bahagia melihat kekasihnya bisa tersenyum setelah membuatnya menangis beberapa jam yang lalu. Entahlah setiap melihat gadisnya menangis, itu seperti membuat Arzan merasakan pilu di hatinya.
Arzan baru saja akan keluar dari dapur jika saja ekor matanya tidak menangkap sosok remaja yang duduk sambil memainkan psp di tangannya. Anak itu duduk di meja makan dengan earphone putih bergaris hitam yang menggantung di lehernya. Tunggu dulu Earphone?
"Anak ini benar-benar! "
Arzan seketika berbalik kembali menghampiri meja makan, lalu sebelah kakinya menendang kaki kursi membuat siapa saja sontak terkejut karena decitan kursi dengan lantai cukup keras.
"ARZAN!!! " teriak Mamanya. Sedangkan harin hanya diam dengan mata terangnya.
Arfan mengelus d**a terkejut, "Kaget b*****t!"
Serapahan itu keluar dari mulut Arfan, cowok yang tingginya sebahu dengan Arzan itu hampir saja melempar psp yang di pegangny ke muka Arzan. Untung saja Arfan masih bisa mengontrol dirinya dengan mengucapkan Astagfirullah misalnya.
"Ngapain sih kunyuk!" sergah arfan mengontrol nafasnya yang masih belum normal.
"Tau kesalahan lo apa?" kecam Arzan dengan tatapan tajam.
Kini kedua tangannya berada di atas meja, berada tepat di hadapan Arfan. Tubuhnya membungkuk mendekati muka arfan, memberikan tatapan mematikan yang seolah akan membunuh Arfan sedetik itu juga. Sementara arfan sendiri hanya mendengus, bersikap sangat santai.
"Mana gue tau, gue aja sibuk ngegame dari tadi, " Arfan menjawab malas. Seperti orang yang siap-siap saja jika ada badai yang datang menghantap mukanya.
"Lepasin apa yang lo pake sebelum gue motong leher lo!" tekan Arzan dengan tatapan mengerikan, tapi sukses membuat arfan memelas malu.
Arfan meringis, ternyata apa yang membuat Arzan murka adalah earphone yang di pakainya. Sebenarnya tadi arfan hanya meminjamnya sebentar, namun entah menagapa rasa malasnya membuatnya lupa mengembalikan barang kesayangan Arzan ini.
"Oo.. Oh ini.., " Arfan menyentuh earphone di lehernya, "Cuma gue pinjem bentar kok, lagian lu juga jarang make kan, " tutur arfan dengn cengiran yang menghiasi wajah tampannya. Detik berikutnya Arfan berdiri pelan-pelan dari kursi.
"Berani-beraninya lu make pemberian cewek gue!"
Arfan cengengesan, "Minjam bentar kok Zan, pelit amat sih."
"Itu bukan minjem, tapi lu nyolong tanpa sepengetahuan gue!" Arzan tak terima, karena ini sudah yg ketiga kalinya arfan memakai earphone kesayangan pemberian harin
"Siniin sebelum gue murka, " kata arzan menurunkan suaranya lebih lembut.
Arfan bergeming sesaat, sebelum tangannya dengan cepat merai psp dia atas meja dan berlari secepat kilat.
Arzan menggeram, sebelum akhirnya mengejar anak nakal itu.
"Arfano!! Balikin Gak! "
Kaum hawa yang menyaksikan kedua cowok itu hanya bisa menggeleng. Biasanya jika sudah seperti itu akan berakhir dengan arfan yang menangis dan mengadu di depan ayahnya.
Harin tertawa kecil sembari membenarkan gulungan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Harin harus ngapain nih tante? " bingung harin sejak tadi hanya melihat kamila memotong beberapa sayuran seperti wortel dan kentang.
"Kamu bantu bi Haja saja mencuci daging ayamnya, nanti tante yang ngasih bumbu, " kata Kamila tersenyum kecil pada harin.
Harin lalu mendekati bi Haja yang tengah sibuk mencuci potongan daging ayam di wastafel.
"Bb-iar harin aja yang bersihin bi, " harin mengambil alih wadah berisi potongan daging yang masih berlumuran darah dengan canggung. Lalu mengisi wadah itu dengan air yang mengalir di keran.
"Kalau gitu bibi menata piring dulu di meja. Non lanjutin bersihin daging ayamnya, " kata bi haja menyerahkan pekerjaannya.
"Iya bi, " harin lalu tersenyum.
Sebelumnya harin tidak pernah menyentuh dapur, Harin tidak pernah di izinkan memasak oleh Mamanya, karena alasan Mama harin trauma dengan insiden tangan Harin hampir saja terluka karena terkena tumpahan air panas.
Harin mencuci daging ayam dengan telaten, meminfahkannya potongan yang sudah di cucinya ke dalam panci yang di berikan bi Haja barusan. Setelah mencuci daging, harin membantu memotong sayuran untuk sup dan kare.
Harin begitu serius memperhatikan Kamila memasak apalagi yang membuatnya kagum saat Kamila memotong bawang bombay dengan licah dan sangat rapi persis koki yang sangat handal.
"Wah Tante hebat motongnya, " seru harin bahagia. Membuat kamila menoleh pada harin.
"Mau coba? " tanya kamila menggeser talenan berisi bawang bombay yang masih utuh.
"Boleh. " harin mengambil alih pisau di tangan kamila, Tak mau berfikir lama harin segera memotong bawang mencoba mengikuti kamila, namun tak selang beberapa detik harin langsung meringis dan memegangi matanya.
"Aduhh! Perih!" pekik harin membuat kamila panim dan langsung mengambil kedua tangan harin, membantunya mencuci tangannya terlebih dahulu.
Harib mentup matanya, memahan perih sementara kamila selesai membersihkan tangan Harin.
"Kamu ini, " kamila terkekeh. " makanya jangan di liatin bawangnya, "
Harin mengucek matanya,untunglah perihnya sudah hilang. "Trus harin liatin apa dong?" ucapny polos.
Kamila menoleh, "Liatin pisaunya, " kamila menunjuk pisau yang menancap pada bawang bombay yang masih utuh.
Harin seketika bengong, "Kan sama aja tante, mata harin tetap ke bawah." kata harin melihat kamila yang sibuk mengaduk kare ayam di dalam panci.
Kamila tersenyum mendengarkan mata wanita itu menyipit,membuat lekungan di pipinya terlihat. Ia tersenyum mendekati wajah Harin "Bawangnya pemarah. Gak suka di liatin, " bisik Kamila.
Harin langsung menutup mulutnya, menahan suara tawanya, "Tante, kok bisa receh gini sih. "
"Hahaha. " kamila hanya bisa tertawa, sebelah tangannya menepuk puncak kepala Harin. "Tante suka aja klo liat kamu. Kamu itu masih polos banget ya, omongan receh gini aja serius sekali, "
Harin tersenyum dengan pemikiran singkat Sepolos inikah dirinya? Memgapa dengan mudah ia tertipu dengan lelucon Kamila tadi, tapi entahlah Harin tidak pernah memikirkan seperti apa dirinya di depan orang lain. Harin hanya menjadi dirinya sendiri, itu saja.
"Semuanya sudah siap, kamu duduk di sini Tante panggil anggota keluarga, "
Harin hanya mengangguk kemufian duduk di kursi mana sjaa yang fia mau sembati menunggu semua keluarga Zazan disini.
Harin tersenyum bahagia saat semuanya berkumpul di satu neja makan, ada ayah Arzan, Tante Mila, Arfan, dan lelaki yang sangat dicintainya kini duduk di sampingnya. Bahkan sekarang pria itu mencari kesempatan meraba tangan Arin yang berada di bawa meja.
"Apa sih! " bisik Harin menepis tangan Arzan. Untung saja semuanya terlihat sibuk mengambil makanan, jadi tak akan melihat dua sejoli yang sedang adu tatapan jengkel.
"Jangan senyum-senyum gitu, kamu cantik, " kata Arzan mendapat pukulan di lengannya, masih saja pria itu menggodanya di tengah- tengah kelurga mereka.
"Argghssst. Sakit juga pukulannya, " lirih Arzan pura-pura mengusap lengannya.
"Hei ada apa dengan kalian berdua?" Kamila melihat Arzan dan Harin menciptakan sedikit kegaduhan dengan arzan yang mencubit gemas pipi Harin, sementara yang di cubit kesal sendiri dan balik mencubit lengan Arzan. Membuat pria itu meringis dan mengusap lengannya.
"Arzan cubit pipi harin tante, " adu harin jengkel kerena cowok di sampingnya hanya cengengesan menatapnya.
"Kamu ini Zan! " omel kamila sembari menyendokkan nasi ke piring suaminya.
Arzan mengalihkan pandangannya kr Mama, "Gemmes sih mah, "
Lagi Arzan kekeh menatap Harin dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Marah-marah mulu dari tadi makanya aku cubit, " sambung zazan kini mencolek dagu gadis itu.
Harin melirik tajam zazan disampingnya,"gimana gak mara, kalo kamu nyuri kesempatan megang-mengang tangan aku, mana di cubit lagi pipi aku. Sakit tau!" kesal harin membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Siapa yang megang? "
"Kamu! " Harin menatap tajam zazan
"Enggak bukan aku, " bohong arzan dengan ekspresi tengilnya
"Kamu lah! masa Arfan! " Harin menunjuk Arfan di depannya, sekita membuat cowok itu tersentak
"Kok jadi aku kak? " tanya cowok itu sungguh tidak mengerti kenapa tiba-tiba namanya terlibat.
Harin menurunkan tangannya, kini ia sangat malu, karena ulah Arzan. Gadis itu memberi isyarat dengan tatapan 'kamu sih!'. sementara Arzan hanya mengangkat bahu dengan bibir tersinggung manis.
"Kalau sudah begini lebih baik kalian menikah, "
Suara itu berasal dari lelaki paru bayah yang duduk di atara mereka, saling bersebrangan. Lelaki itu menautkan kedua jemarinya diatas meja, Bagai seorang raja yang memimpin perjamuan kecil malam ini. Ayah Arzan mengucapkan itu dua detik lalu dan berhasil membungkam semua orang, terkecuali Arzan yang menatap Harin deng. Senyuman seilah sudah tau semuanya.
"Arzan sama papa sudah berbicara soal ini, dan papa setuju." kata papa mendongak menatap istrinya yang masih berdiri di dekatnya.
"Kok papa gak bicarain ini sama mama, "
"Karena papa yakin mama pasti setuju, " Kamila menatap dalam mata suaminya, lalu perlahan bibirnya menyinggungkan senyum. Kamila memegang bahu suaminya, mengusapnya dengan lembut. Tiba-tiba hatinya bergetar mendengar berita ini. Kamila sudah menantikan momen ini. Dari dulu Kamila tidak sabar melihat salah satu outranya menikah, dan malam ini benar terwujud.
"Mama setuju kan? kita sudah menjodohkan mereka jauh sebelum mereka ketemu, dan ini sudah waktunya mereka menikah, "
Kamila tersenyum lebar, Tak ada lagi yang bisa menetralisir kebahagiannya. Kamila setuju,bahkan sangat setuju dengan keputusan suami dan putra sulungnya, kamila terlalu senang, hingga ia memutari meja makan dan memeluk putranya, kemuadian beganti memeluk calon menantunya ini.
"Akhirnya keinginan mama terwujud, terimah kasih sayang, "
Harin menatap Arzan tidak percaya, lelaki itu tersenyum, seperti tak ada masalah, sedangkan dirinya masih terkejut dengan apa yang barusan terjadi.
Menikah? kenapa tiba-tiba pria itu ingin menikahinya setelah berkata ia masih ingin mencapai cita-citanya dan masa depannya yang lebih cerah. Harin masih ingat Arzan mengatakan itu dengan jelas di depannya. Saat itu Harin bersikeras untuk membujuk Arzan menikahinya, dan harin liat benar bagaimana reaksi Arzan yang todak ingin menikahinya.
Semua ini berjalan begitu saja, tanpa kehendak seperti air yang jatuh terjun bebas menghantam tanah. Dan sekali lagi Arzan menutupi sesuatu, tanpa meminta persetujuan darinya. Walupun begitu harin tetap tersentum walaupun sangat susah.
"Ayok kita lanjut makan lagi, "