"Kita sudah putus!!! ngapain Lagi kesini!?"
Harin sengaja mengeraskan suaranya agar cowok yang sedang duduk di ruang tamu itu dengar.
Arzan mengangkat kepala ketika mendengar suara teriakan Harin yang menggema, ia melihat perempuan itu turun dari tangga dengan muka super jutek yang arzan pastikan karena cewek itu sedang marah besar padanya, arzan yang duduk di sofa langsung berdiri dan menatap kaget, cowok itu bergerak cepat menghampiri gadis itu kemudian meraih kedua tangan Harin, tapi sayang, harin langsung memberikan penolakan hingga kedua tangan arzan terlepas dari tangannya.
"kamu... Masih marah ya?" tanyanya sembari menatap mata harin yang memerah dan arzan yakin gadisnya ini habis menangis.
Harin tetap memasang wajah malas besedekap didepan cowok itu, "iya aku marah kenapa?" kantanya pongah.
Arzan tersenyum kecut, "ya sudah aku pulang dulu, nanti kalau marahnya udah reda aku jemput, " katanya membuat arin mengerutkan keningnya.
Arzan akan berbalik meninggalkan gadis itu berusaha menghindari agar gadisnya tenang namun suara harin yang tercekat membuat hatinya tiba-tiba runtuh seketika. Arsan langsung berbalik dengan tatapan terkrjutnya. Terkejut karena harin tiba-tiba menangis didepannya.
"Kamu jahat banget sih sama aku zan. Kamu gak pernah peduli lagi sama aku, " lirihnya pada Arzan.
cowok itu terkejut karenaelihat air mata Arin yang menetes.
Arin menatap arzan yang diam saja, cowok itu sedang mengepal kedua tangannya.
"Kamu jahat hiks. Aku lagi marah dan kamu langsung pergi gitu aja, aku sakit zan diginiin, " ucapnya.
membuat Arzan luluh dengan tatapan sendunya cowok itu mengulurkan tangan menghapus setiap buliran yang keluar dari kelopak mata gadis itu.
Ya tentu saja Arin langsung menangis melihat sikap dan perubahan cowoknya itu. Bagaimana tidak? Arzan main pergi begitu saja sementara dia lagi uring-uringan sendiri dengan sikap Arzan yang selalu mengabaikannya.
Harin memaklumi Arzan yang sibuk dengan kuliahnya, Arin paham batasannya sebagai pacar tapi untuk hari ini harin muak dengan Arzan yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Seolah semuanya baik-baik saja.
"Kamu sudah gak sayang lagi ya, kamu udah bosan ya. Hiks jahat, "
Mendengar rengekan itu Arzan lalu menarik pergelangan Arin, membuat Arin berakhir dipelukannya. Arzan memberikan kehangatan yang seketika membuat harin nyaman. Lalu berucap dengan lembutnya, "aku gak pergi sayang, aku cuma gak mau kita bertengkar. "
Harin sudah sesegukan ketika tangan besar Arzan mengelus rambutnya dan mencium puncak kepalanya dengan sayang "jangan marah lagi yah. Aku kesini ngajakin kamu makan malam sama keluarga, " kata Arzan masih mengelus kepala gadisnya.
Arin merenggangkan pelukannya sesaat mengangkat kepala dan mendapat tatapan hangat Arzan "Mama sama papa kamu datang?" tanyanya sembari menghapus jejak air matanya.
Arzan tersenyum sembari mengangguk, tangannya kembali mengelus kepala gadis itu dengan sayangnya " Iya sayang. Mama minta aku jemput calon mantunya, " katanya diakhiri tawa kecil.
Adakah respon yang lain untuk Harin setelah arzan menyebut kata 'menantu'. Mendengar itu saja sudah membuat Harin spechless dan memeluk kembali cowok berjaket jins itu. Tak mau melepas jika bukan Arzan yang bersuara dan memintanya untuk bersiap-siap.
"Aku tunggu disini? Atau ikut kamu ganti baju?" tanya Arzan tersenyum jahil dan sukses membuat Arin tertwa dengan cantiknya. Arzan mengacak rambutnya.
"Kamu di sini aja. Masa mau liat aku ganti baju, " kata Arin pura-pura polos.
"Hahaha becanda sayang. Cepat sana ganti baju, yang cantik ya, " pesannya mengulurkan tangan menyentuh pipi harin
Harin mengangguk lagi, membuat arzan tersenyum. Arin kemudian berbalik meninggalkan Arzan di ruang tamu.
Selagi menunggu Harin selesai mengganti baju Arzan menikmati kopi buatan asisten rumah tangga keluarga Harin sambil memainkan ponsel. Mama papa harin memang tak ada di rumah, bukan karena alasan lain, tapi memang mereka sudah brangkat ke USA tadi siang. Dan lagi-lagi putri cantiknya ditinggal sendiri di rumah.
iseng-iseng Arzan membuka IG. Cukup gugup si, Jika diingat-ingat sudah lama ia tidak membuka apalikasi itu. Arzan membuka akun nya menapilkan room postingannya yang sudah 3 tahun tak pernah ia buka. Terakhir kali ia memosting fotonya yang berada di dalam mobil. Dan itu terakhir kalinya ia memainkan aplikasi itu. Takut Harin mengetahui, selama ini Arzan selalu bohong jika di tanya apakah ia memiliki akun ig. Cowok itu akan mudah menutupinya bahwa ia paling tidak suka bermain sosmed. Main dengan mbak 'Google' lebih menarik katanya.
Arzan mengscroll ketas layar ponselnya, Tak ada yang menarik. semua foto dirinya yang menenteng gitar. Ada juga foto dengan adik kandungnya Arfan Leonardo. Foto itu diambil ketika mereka sedang bermain ps jam 2 pagi dan ayahnya tidak sengaja memergoki mereka berdua. Alhasil sang ayah memotret mereka dan ketika pagi Arzan dan Arfan mendapat hukuman membersikan halaman yang penuh dengan rumput berduri. Ayah Arzan memang anti jika putra-putranya bermain game apalagi di temgah malam, makanya jika sang Ayah sudah berada di rumah Arzan dan Arfan selalu kompak bermain game saat semua sudah tertidur.
Arzan mengscroll layar ponselnya melihat foto apa saja yang pernah ia posting di akunnya itu. Sebanyak 500 postingan berisi gambarnya dan ada juga beberapa gambar berisi puisi milik seseorang yang sengaja Arzan posting Arzan tersenyum pahit saat melihat satu foto yang selama ini membuatnya tidak bisa berpaling. Perasaan itu kembali lagi saat menatap betapa bersalahnya ia dulu. Betapa brengseknya Arzan dengn gadis itu. Samapi sekarang arzan belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Gimana kabar lo?" tanyany ke foto itu. Foto seorang gadis memakai pakaian SMA berdiri di depan loker gadis itu tersenyum menoleh kesamping seolah ada seseorang yang memotretnya. Dan tentu saja Arzanlah yang mengambil gambar gadis itu.
Arzan kemudian membaca caption.
'Living my heart and you forever'
#sweety&princess
3256 likes.
1234 coment.
Arzan memandang foto satu-satunya yang ia miliki itu. Tanpa sadar ia menegtikan sesuatu di kolom komentra membalas komentar terakhir dari @indahrzxl_ yang mengatakan "Zan masih ingat sama sahabat gue?"
Membalas komentar itu Arzan hanya mengetikan sebuah emotikon ❤?.
Love artinya cinta dan senyum berarti iya.
Tau-taunya @indahrzxl_ membalas pesan itu.
'Wahh hebat zan kemana aja lo selama ini? Gw kaget pas lo balas comen gw'
Arzan terdiam cukup lama. Kemuadian detik berikutnya Arzan buru-buru log out akun dan mematikan layar ponselnya. Arzan samapai gemetaran memegang ponselnya sendiri setelah bertahun-tahun foto itu kembali membuat arzan merasa resah dan seketika masa lalu itu memenuhi pikirannya. Ia teringat komentar indah tadi. Sebenarnya arzan masih ingin membalas. Tapi ia terlalu b******k untuk itu.
Selang berapa lama ia menunggu gadisnya. Lamunan Arzan langsung buyar saat melihat Harin turun dengan penampilan sangat cantik. Gaun navi selutut. Rambut yang tergulung keatas dan memakai flatshoes yang senanda dan tas kecilnya.
"Makan malam sama Mama mertua harus cantik hehehe," harin terkekeh ketika Arzan bengong menatapnya dari atas sampai bawah.
"Aku berlebihan ya?" tanya saat tak menemukan respon yang memuji dirinya.
Arzan yang melihat Arin mulai cembertu langsung menarik telapak tangan arin "kamu cantik banget, ayo Mama pasti udah nunggu. " ajaknya membawa Harin keluar dari rumah mewah itu.
Sampai di depan gerbang Arin sudah melihat mobil hitam yang terparkir di jalan. Arzan membawanya kedalam mobil. Setelah harin masuk ke mobil, Arzan langsung memutari mobil dan buru-buru masuk ke kursi kemudi. Tidak. Lama mobil hitam itu sudah melaju dan meninggalkan rumah besar milik keluarga Prianda itu.
Di dalam mobil Harin terdiam menatap keliar jendela. Menatap kendaraan yang berlalu lalang mendahului mobil Arzan yang berjalan pelan. Berhenti di lampu merah Arzan menoleh menatap Arin yang terdiam sejak tadi. Ia mengulurkan sebelah tangannya menyentuh kepala Arin sementara sebelah tangannya memegang stir mobil.
Arin terkejut saat tangan Arzan sudah mengelus kepalanya. arin menoleh dan mendapati Arzan tersenyum, "Kamu diam aja dari tadi kenapa hmm?". Tanya Arzan masih mengelus kepala pacarnya itu namun Arin hanya membalas dengan gelengan kepala yang artinya dia baik-baik saja.
Arzan menarik tangannya kembali saat melihat lampu merah sudah berganti jadi hijau Arzan kembali menjalankan mobil. Kembali hening hanya suara alunan musik dari tape yang mengisi ruang atmosfer. Arin entah apa yang ia pikirkan sedari tadi namun ada perasaan yang mengatakan Arzan berubah akhir-akhir ini.
Mulai dari jarang menelfonnya. Terkadang cowok itu hanya membaca pesan-pesan Arin di line tanpa membalasnya. Terlebih lagi Arzan sangat susah untuk diajak keluar alasannya ia membantu temannya di caffe.
Arin jadi bingung apakah cowok itu lupa punya pacar cantik seperti dirinya. Arin merasa terabaikan.
"Tadi pulang sama Gwen ya, " tebak Arzan sok tau. Arin yang tadinya melamun langsung melirik arzan.
"Sama galih. " jawabnya singkat setelah itu ia kembali diam.
Arzan melirik Arin dari spion di depannya "Siapa galih? Aku gak pernah dengar?" tanya arzan mulai curiga. Bagaimana tidak curiga gadis itu baru kali ini menyebutkan nama cowok selain dirinya.
"Dia temen kelasku, tadi gak sengaja ketemu pas diparkiran. Dan dia nawarin tumpangan, jadi mumpung gratis aku ikut, " jelas arin dengan tampang biasa-biasa saja. Sedang arzan menahan geraman hatinya sudah beku merasa terhantam.
"Lain kali pulang naik taxi aja!" ucap Arzan terdengar dingin. Pria tampan itu Melempar tatapannya ke jalan raya, matanya yang dingin tak lagi menatap Harin.
Harin kembali melirik Arzan, cowok itu berubah dingin. kentara saat tangannya membanting stir mobil dan menekan klason sangat kencang ketika ada sebuah mobil yang mencoba menghalangi jalannya.
Harin dengan cepat menoleh kesamping menghindari tatapan Arzan yang sedang amukan kemudian dengan meremas-remas di gaunnya Harin berkata lirih "Lain kali aku pulang sendiri. "
Hanya itu jawaban yang sanggup ia keluarkan karena jika ini dibuat panjang maka hubungan dengan Arzan bisa saja makin buruk. Harin tak ingin bertengkar kali ini. Kali ini Harin menyerah. Menyerah menerima kenyataan bahwa pacarnya sering mengantar teman ceweknya pulang. Harin mengalah dan menuruti mau arzan. Harin kembali sabar karena Cinta terlalu membuat Harin bertekuk lutut.
"Terserah!"
Harin baru kali ini melihat cowoknya sedingin itu dan alasannya tak lain karena harin terlibat dengn laki-laki lain.
15 menit perjalanan mereka terdiam satu sama lain hingga mobil audi hitam itu memasuki sebuah pekarangan rumah yang luas.
"Kita sudah sampai, Rin?" suara Arzan keluar setelah mogok bicara dan mengabaikan harin. Mobilnya sudah terparkir di depan rumah.
"Harin prianda bangun, "Tak mendapat respon dari kekasihnya Arzan menoleh perlahan.
Sadar saja Arzan meremas wajahnya seketika, Harin tertidur dengn air mata masih membekas di pipi mulusnya.
"DAMN IT?! " Arzan mengumpat keras menyesali perbuatannya, Arzan lalu mendekatkan perlahan tubuhnya meneyentuh lengan gadis itu dengan kepalanya. "Maafin aku, " lirihnya bekum mendapat pergerakan dari caewek itu.
Arzan menyenderkan dahinya di bahu gadis itu, membuat Harin menggeliat "Aku minta maaf. " lirihnya sekali lagi menciptakan pergerakan Harin. Kelopak mata gadis itu perlahan membuka. Bibir mungilnya mengeluarkan erangan kecil khas bangun tidur, "Nghh, kita sudah sampai ya?". Tanya gadis itu sesaat dengan nafas arzan yang menyentuh kulit lehernya.
Ia kemudian menyadari posisi arzan yang memeluk pinggangnya sementara kepala cowok itu sudah bersender di bahunya. "Zan? " tegurnya sontak memebuat Arsan mengangkat kepala.
"Kamu sudah bangun. Kita sudah sampai sayang, " katanya menjauhkan tubuhnya.
"Turun yuk, " ajak Harin setelah melepas setbelt dan membuka pintu mobil. Arzan diam selama beberapa detik sebelum keluar dengan hati yang bertanya-tanya mengapa harin akhir-akhir ini terlihat berubah. Apa gadis itu masih memikirkan penolakannya menikahi gadis itu. Pikiran yang bodoh.
Harin memasuki rumah besar itu menemukan seorang lelaki masih memakai pakaian kantor itu duduk di sofa ruang tengah sambil memangku laptop. Lelaki setengah baya itu belum menyadari harin yang berdiri di sisi sofa tepat di sampingnya.
"Assalamualakum ayah, "
Mendengar itu pria setengah baya itu menurunkan kaca matanya, pandangnnya fokus kedepan di tatapnya sosok perempuan cantik yang tengah berdiri di depannya bergaun navi selutut. Rambut yang di gulung keatas terlihat seperti seorang putri. "I'ts so beatifull, " pujinya kembali memasang kacamatanya dan melanjutkan pekerjaannya menekan-nekan keyboard laptop.
Harin mengerutkan dahinya, apa ayah arzan buta sampai tidak mengenalinya atau calon mertuanya ini terlalu lama tinggal di negara orang harin geleng-geleng kemudian mendekat pria itu. Tanpa persetujuan harin mengambil tangan kanan Ayah dan menciumnya.
Sontak terkejut, tapi kemudian pria berkumis tipis itu melongo, "Loh? Nak Harin?" katanya menatap jelas wajah cantik harin. Jelas
Harin tesenyum "Iya ayah ini harin masa gak kenal sih, " harin pura-pura kesal, kemudian tanpa peduli gadis itu langsung duduk di samping ayah arzan.
"Zazannya mana?"tanya ayah pada gadis disampingnya. Kelihatnnya saja bertanya tapi mata dan tangannya fokus bekerja di depan laptop. Harin menengok kepintu utama, benar saja arzan belum masuk rumah "lagi masukin mobil ke garasi yah, " jawabnya tanpa dosa.
"Masukin? Bahasamu itu sayang, "
"Trus yang bener apa yah?"
"Markir, " jawab ayah singkat diakhiri deheman yang membuat haring mengerut hidung. Memangya salah? bahasanya salah? Harin memutar bola matanya.
"Ayah bakal lama kan disini?" tanya Harin membuat pria berkaca mata itu melirik Harin di balik kaca matanya itu.
"Mungkin sampai Arfan terima
rapor, ".
Harin mengangguk, "kapan yah? Oh iya, aku boleh ikut kan?,"
"Besok sayang, "
"Hee???"
Apa harin tidak salah dengar orag tua Arzan hanya datang untuk penerimaan rapor putra bungsunya, dan itu esok hari. Yang gila saja! Itu artinya kedua orang tua Zazan hanya semalam di rumahnya.
Ayah Zazan sudah senyum-senyum. Melihat harin yang memasang muka cengo.
"Assalamu alaikum, "
"Walaikum salam, " jawab Harin dan ayah zazan bersamaan melihat cowok tampan itu memasuki rumah.
"Lagi ngomongin apa sih?, " tanya Arzan dengn tampang seriusnya. Harin melirik Arzan yang sudah duduk di sofa depan mereka.
"Zazan kepo tuh yah, " ucap arin mengerling jahil.
Lelaki yang sudah beruban itu menatap zazan didepannya.
"Kepo ya? Kepo kamu? Kasian..." dan dengan bebasnya lelaki berstatus ayah zazan itu kembali dengn aktifitasnya yang bekerja. Sedang zazan sudah meremas sofa dengn tatapan pura-pura marah.
"Punya ayah bobrok, ya gini nih suka banget becandain anak gantengnya," kata zaza dengan kepedean tingkat dewanya.
"Ya siapa suruh kepo kayak netizen, "
Zazan sudah memutar bola matanya, sedangkan Harin sangat geli memegangi perutnya, ia benar-benar tak bisa menahan tawanya.
"Ya apa salahnya bertanya. Lagian bertanya itu bukan suatu yang dilarang kan, " ketus zazan. Sedang harin sudah cekikikan disamping calon mertuanya ini.
"Ya salah kamu bertanya dengan saya, "
Arzan mengelus d**a pasrah! Sementara Harin mengeluarkan tawa yang tak bisa lagi ia tahan.
Entah mengapa jika bertemu dengan ayah zazan Harin selalu tertawa. Menurutnya ayah zazan pantas menjadi seorang pelawak yahh, Meskipun terlihat cuek, sebenarnya ayah zazan ini punya sisi dimana keahlian melawak mendominasi dirinya jauh dari sisi tegas dan rupawan seorang pengusaha.
"Sayang jangan ketawa, " ancam zazan membuat harin terdiam seketika.
"Ketawain aja nak gak papa, " celetuk ayahnya lagi-lagi membuat arzan ingimpat di depannya orang tua ini. Untung ayahny kalau bukan Arzan sudah memaki habis-habisan.
"Sayang ke dapur yuk mending kamu bantui mama masak, dari pada di sini. Nanti ketularan gila, "
"Eh berani ya kamu ngomong gitu sama orang tua, "
Arzan meringis menyesali ucapannya. Cowok itu segera berdiri berdiri dan menarik tangan harin pergi dari ruang tamu.
Harin memasuki dapur dengan langkah hati-hati. Zazan tak mengikutonya lagi karena sebelum membawa arin kedapur cowok itu pamit ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Arin meringis ketika bunyi dentingan piring serta tutup belanga yang terjatuh, perlahan ia membuka gorden pintu dan memperlihatkan seisi dapur. Seorang wanita bercelemek hitam terlihat sibuk dengan irisan bawangnya. Sementara satu wanita memakai daster merah tengah mencuci danging ayam di wastafel. Tak sampai disitu arin juga melihat seorang anak cowok tengah duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum, mah?"