"Halo, Nak Dion, ada apa?" tanya Nisa, dengan raut wajah yang menunjukkan jika dirinya itu tengah heran.
"Begini, Tante, ada satu hal yang mau saya lakukan, tetapi ini adalah rahasia. Jangan sampai Keysa tahu tentang ini ya," jawab Dion hati-hati.
"Maksudnya? Mau melakukan apa memangnya?" tanya Nisa, dan juga menatap anak terakhirnya itu.
Sulis yang tidak tahu menahu, hanya mengedikkan kedua bahunya saja. Bingung juga harus menjawab apa.
"Sebelumnya saya mau minta maaf dulu sama Tante, karena saya itu punya rencana untuk merenovasi rumah Tante itu," ujar Dion, dengan suara yang ragu.
Karena memang ia takut jika tanggapan yang dikeluarkan oleh calon mertuanya itu, akan sama dengan apa yang dilakukan oleh Keysa.
"Renovasi? Mengapa tiba-tiba seperti itu?" tanya Nisa.
"Saya mau merealisasikan impian Keysa yang belum terwujud itu, karena tadi juga sempat berbincang-bincang dengan anak Tante," jelas Dion, dengan kedua mata yang melihat-lihat ke arah sekitar.
"Dan saya juga berniat untuk memberi kejutan seperti itu pada Keysa, makanya saya bilang jangan memberi tahu terlebih dulu," ujar Dion lagi.
Nisa hanya menatap wajah anak terakhirnya itu dengan tatapan bertanya-tanya, ia sendiri juga bingung dengan apa yang akan dijawab.
Sebenarnya, perihal rumah yang direnovasi adalah keinginan dirinya dan juga sang suami sejak lama. Namun, jika semuanya diberi oleh orang lain, seperti tidak afdal sekali.
"Eum ... gini, Nak, bagaimana jika nanti kamu bicara aja sendiri sama suami Tante?" sahut Nisa pada akhirnya, setelah cukup lama Dion menunggu.
"Baik, tante, saya akan langsung bicara dengan suami Tante. Nanti besok saya akan ke rumah Tante. Apa nanti ada?" ucap Dion, dan dilanjut dengan memberi pertanyaan.
"Ayah Keysa itu ada di rumah jika sudah sore hari," jawab Nisa, dan kini perempuan itu memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia.
Dion diam sebentar, ia mempertimbangkan keberangkatan hingga tiba di rumah sang kekasih.
"Baik Tante, nanti saya pastikan akan sampai di situ saat sore hari," ucap Dion, dan beberapa percakapan lain yang akhirnya menjadi penutup.
Saat Dion berpikir, laki-laki itu langsung menemui jalan keluar, yaitu dengan cara menyewa tempat penginapan. Lagian, ia juga sudah terlebih dulu memberitahu Keysa jika dirinya akan ke luar kota.
Dan setelah memikirkan hal itu, kini Dion pun mulai memakan makanan yang sudah tersedia di atas meja.
Menata perjalanan yang akan ia lalui nanti, dan juga bagaimana hati yang jauh dari sang kekasih.
Itu selalu dipikirkan oleh Dion, meskipun keadaan laki-laki itu tengah melahap makanan. Cinta memang membuat manusia menjadi aneh.
"Ma, Dion nanti mau ke luar kota ya," ucap Dion, pada Reta yang kebetulan akhir-akhir ini tidak memiliki jadwal yang padat.
"Ke kota yang ditempati Keysa, eum ... lebih tepatnya sih mau ke rumah Keysa lagi," sambung Dion lagi.
Dan pada akhirnya membuat Reta yang tadi tengah fokus dengan televisi, kini menoleh ke arah anak semata wayangnya itu.
"Mau ngapain ke rumah Keysa lagi? Ngelaksanain rencana kamu yang itu?" tanya Reta, dengan tatapan yang penuh selidik.
Dion menganggukkan kepala dengan sangat semangat, lalu menjawab, "Iya, Ma, dan sesuai sama apa yang dikasih tahu Mama sama Ayah, Dion kali ini enggak bakalan ngasih tau ke Keysa."
"Ya udah, bagus dong! Kapan berangkat ke sananya?" tanya Reta lagi. Ia tak memiliki rasa khawatir sama sekali, toh anaknya itu sudah dewasa. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan lagi.
"Keknya nanti besok deh, Ma, tapi Dion bakalan nyari penginapan di sana."
"Loh, kenapa? Di sananya bakalan lama banget?" tanya Reta, yang kini tengah menatap anak semata wayangnya itu.
Dion menganggukkan kepala, lalu menjawab, "Iya, Ma. Soalnya Dion udah bilang ke Keysa kalau beberapa hari ini bakalan ke luar kota."
"Terus, udah ketemu juga tempat penginapannya?" tanya Reta, dengan tatapan yang sangat serius sekali.
"Belum, Ma, gampang nanti aja. Dion bisa nyari kalau udah sampai di kota itu. Ya udah, Ma, Dion mau masuk ke kamar dulu." Dan tanpa menunggu persetujuan sama sekali, ia langsung melangkahkan kaki menuju ke tempat kamarnya berada.
Lagipula, tak ada sahutan sama sekali yang keluar dari mulut Reta. Orang tua Dion itu memang tengah fokus pada layar televisi, yang tengah menampilkan acara kesukaannya.
Masuk ke dalam kamar, Dion langsung merebahkan tubuhnya itu di atas tempat tidur, membuka ponsel yang masih berada di genggaman tangan. Memilih untuk membuka galeri dan juga langsung melihat-lihat foto.
Tujuan utama foto yang ia lihat, yaitu tentang foto kebersamaan dirinya dan juga sang kekasih. Baru beberapa jam tak bersama saja sudah sangat gelisah, apalagi jika sampai berpisah.
Dion sama sekali tak bisa membayangkan hal itu, hatinya langsung merasa nyeri setelah memikirkan itu.
"Maafin aku, kalau emang kamu marah sama aku enggak masalah sama sekali, tetapi aku harap kemarahan kamu itu bisa segera padam," gumam Dion, lalu bergerak untuk mencium foto tersebut.
Memejamkan mata beberapa detik, sampai akhirnya ia sadar, jika apa yang dilakukan itu memang sangat lucu sekali. Laki-laki tersebut langsung bangkit dari posisi tersebut, mengulas senyum miris, dan mengeluarkan tawa kecil.
"Kenapa sih, saya itu harus sampai seperti ini!" seru Dion, lalu melempar ponsel di atas tempat tidur.
Karena kini laki-laki itu berniat untuk segera menuju ke kamar mandi. Membersihkan seluruh tubuh dari keringat yang menempel pada pakaian, dan juga persiapan besok akan melakukan perjalanan.
Tak ada yang dilakukan oleh Dion, kecuali kembali berbaring di atas tempat tidur. Mengistirahatkan semua anggota tubuhnya. Termasuk juga dengan hati, yang harus diberi vitamin, supaya tidak terlalu sakit.
"Eh, tapi bener juga sih saya ngelakuin ha yang kek gini, supaya saya juga tahu kalau Keysa itu beneran sayang sama saya atau enggak," gumam Dion, yang langsung kembali mendapatkan semangat.
"Eum, tapi kalau Keysa justru enggak sayang sama saya. Gimana?" tanya Dion lagi, raut wajahnya langsung berubah menjadi sendu lagi.
"Argh! Enggak tau, kenapa saya jadi kek anak remaja, sih!" teriak Dion, frustrasi dan langsung kembali menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur.
"Dion! jangan teriak-teriak enggak jelas terus! Kaya orang yang lagi putus cinta aja!" seru Reta, dari luar kamar Dion, karena memang tengah lewat di depan kamar anak semata wayangnya itu.
Dion hanya diam, lalu dengan lirih ia pun menjawab, "Amit-amit, jangan sampai putus juga dong, Ma! Dion cuma lagi galau aja kok."
Tangan kanan Dion kembali meraih ponsel miliknya, lalu memainkannya sebentar saja. Benar-benar tidak ada mood untuk melakukan semua itu.