Pagi hari tiba, Dion langsung meraih ponsel yang berada tak jauh dari posisinya saat ini. Berharap jika akan ada notifikasi dari sang kekasih, entah memberi pesan atau menanyakan kabar.
Namun, sayangnya tidak ada notifikasi apa pun yang masuk ke dalam ponsel miliknya, dan tentu saja ia langsung menelan kekecewaan yang sangat.
"Huft! Jangan galau, hari yang cerah dimulai dengan perasaan yang tentu saja happy," gumam Dion, menyemangati dirinya sendiri.
Mulai turun dari atas tempat tidur, membuka gorden kamar terlebih dulu, lalu melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Sebelum ia benar-benar membersihkan tubuh, Dion terlebih dulu ke arah lemari.
Memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk pagi hari ini, setelah mendapat pakaian yang memang sudah sangat tepat. Kini saatnya untuk Dion masuk ke dalam kamar mandi.
Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan kegiatan tersebut, pada tahap akhir adalah menyemprotkan parfum yang sangat ia suka baunya. Khas laki-laki dan juga tercium sangat kalem sekali.
Sebelum benar-benar melakukan perjalanan menuju ke kota tempat tinggal Keysa, Dion terlebih dulu menelepon bagian kantor yang dapat memegang kepercayaan.
Tentu saja itu dilakukan oleh Dion, supaya dirinya dapat dengan tenang meninggalkan perusahaan itu.
"Huft! Oke, saatnya memasuki masa percobaan," gumam Dion, dengan kedua kaki yang langsung berjalan keluar dari dalam kamar.
Laki-laki itu tak menemukan orang tuanya sama sekali, dan rumah tersebut langsung terasa sangat sepi, karena memang sudah mulai untuk fokus pada pekerjaan masing-masing.
Bukan hal yang aneh bagi Dion, jika rumahnya itu sangat sepi, karena memang sudah dari dulu sekali ia tak berdampingan hidup dengan mereka.
Justru Dion akan sangat merasa heran, jika mendapati kedua orang tuanya di dalam rumah. Pemandangan yang sangat langka sekali.
Sesampainya di koa yang menjadi tempat tinggal Keysa dulu, Dion langsung mencari tempat yang digunakan untuk penginapan.
Hal yang sangat tak terduga sekali datang, saat Dion baru saja menghentikan kendaraan roda empatnya di salah satu hotel.
Ponsel milik Dion berdering, membuat laki-laki itu mau tak mau harus meraih ponsel tersebut dari dalam saku jas yang dikenakan.
Kedua bola matanya langsung membulat dengan sangat sempurna, kala dirinya melihat nama perempuan yang sangat ia sayangi di layar ponsel.
Namun, rasa senangnya itu langsung dinetralkan kembali, jangan sampai Keysa tahu jika dirinya memang sangat bahagia.
"Halo? Kamu enggak jemput aku?" tanya Keysa, dengan nada suara yang terdengar tengah kesal.
"Bukannya saya itu bukan siapa-siapa buat kamu? Bukannya kamu udah enggak mau buat liat wajah saya lagi?" sahut Dion, membuat Keysa langsung menggigit jari tangannya.
"Dan, saya mau memberitahu ke kamu, kalau saya itu ada keperluan ke luar kota," ujar Dion lagi.
Beberapa detik tidak ada sahutan sama sekali dari Keysa. Karena perempuan itu memang tengah merasa bingung dan juga sangat merasa bersalah.
"Ke luar kota? Sama siapa, dan juga berapa lama?" tanya Keysa pada akhirnya.
"Kamu itu udah bilang ke saya, kalau tidak akan pernah mendengar penjelasan yang saya berikan ke kamu, jadi mungkin saya akan mengingatkan hal itu ke kamu lagi," jawab Dion, langsung membuat Keysa kembali merasa sangat bersalah.
Terdengar hembusan napas di ponsel milik Dion, tetapi sebisa mungkin laki-laki itu tidak paham dan juga sama sekali tidak peduli.
"Kamu marah sama aku gara-gara yang kemarin?" tanya Keysa, dengan hembusan napas yang kembali terdengar.
"Enggak, saya enggak marah sama sekali. Saya justru sadar, kalau saya itu bukan siapa-siapa buat kamu. Dan sekarang, saya juga sadar, kamu lebih memilih buat bersama laki-laki yang kemarin, kan?"
"Kalau gitu, silahkan lanjut lagi, saya tidak akan pernah memaksa kamu untuk selalu bersama saya, karena hal itu tidak baik," sambung Dion.
Kini napas laki-laki itu naik turun, rasa sakit itu kembali merajalela di dalam hati. Sangat sakit sekali, apalagi kini kekasihnya seakan tidak memiliki salah sama sekali.
"Loh, Mas, bukan maksud aku kek gitu," ucap Keysa, mencoba untuk membujuk Dion.
Sebenarnya, apa yang dilakukan Keysa memang benar adanya, tetapi ada alasan mengapa perempuan itu bersikap manis.
Karena setelah ditelisik, Delon sudah memiliki kekasih, dan itu membuat Keysa langsung mematahkan rasa yang ada di dalam hati.
Pada dasarnya, setiap manusia memang seringkali memiliki akar di dalam hatinya. Tidak cukup hanya ada satu orang yang mendiami di dalam hati.
Namun, jika akar itu dibiarkan terus menjalar, maka bisa-bisa akar tersebut membelit seseorang yang memilikinya.
"Udah, enggak usah mengelak. Semua yang kamu katakan kemarin, itu sudah cukup membuat saya paham banget kok," ujar Dion, masih dengan keadaan menahan rasa sakit di dalam hati.
"A-aku ...." Keysa tak mampu untuk melanjutkan perkataannya itu, karena memang dirinya yang salah dalam hal ini.
"Enggak apa-apa, seperti apa yang kamu ucapin ke saya, maka saya juga mau bilang kalau saya sama sekali enggak butuh penjelasan dari kamu," ujar Dion.
"Eum ... kita harus ketemu dulu, Dion," ucap Keysa, yang mulai meras sangat khawatir.
Mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh Keysa, membuat Dion langsung menghembuskan napas, lalu menjawab, "Sudah berapa kali juga, sih, saya itu harus bilang? Kalau sekarang, saya lagi ada di luar kota."
"Lagian, kan kamu juga enggak peduli tentang saya. Kamu lebih milih buat laki-laki yang itu, kan? Saya terima kok," sambung Dion.
Mengatur napas sejenak, baru laki-laki itu kembali berucap, "Ya udah, kalau memang udah enggak ada urusan yang lain lagi, atau bahkan lebih penting. Saya mau lanjutin kerjaan!"
Dan tanpa menunggu jawaban dari Keysa sama sekali, laki-laki itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Ya ampun! Ini kenapa jadi lebih runyam? Saya bener-bener enggak bisa nahan perasaan saya. Kalau saya itu sakit dan juga cemburu," gumam Dion, lalu menyenderkan kepala pada kursi, dengan kedua mata yang terpejam.
Menikmati rasa sesak yang menghampiri di dalam hati, dan juga napas yang masih naik turun, menahan rasa kesal yang tidak semuanya diluapkan.
Setelah semua kembali normal, Dion pun segera memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kaki menuju ke pintu utama.
Supaya, ia bisa segera mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah, karena melakukan perjalanan tanpa istirahat sama sekali.
"Huft! Kenapa kisah cinta saya dengan Keysa, justru semakin runyam seperti ini?" tanya Dion pada dirinya sendiri, saat ia sudah mendapatkan kamar dan kini posisinya itu terlentang di atas tempat tidur.
Kedua tangannya bergerak untuk menjambak kasar rambut yang ia punya, itu bertujuan supaya dapat mengurangi rasa sakit dan juga pusing. Akibat masalah percintaan yang rumit.
"Saya itu sayang sama kamu, Key, saya juga enggak mau sama sekali kalau kita harus berpisah."
"Tapi, apa mungkin kamu juga punya perasaan yang sama kek saya untuk kamu? Sepertinya enggak. Rasa yang kamu punya, itu hanya untuk laki-laki tadi," gumam Dion, sendu.
"Saya sangat berharap sekali, kalau kisah cinta kita itu akan mulus. Seperti apa yang saya bayangkan dan juga sudah saya susun di kepala," sambung Dion lagi, tetapi kali ini dengan tangan kanan yang melihat ke arah ponsel di genggaman.