Satu hari ini, Dion menghabiskan waktunya untuk mengelilingi kota yang saat ini ia kunjungi.
Namanya juga seorang pengusaha, maka apa pun yang terjadi saat ini. Adalah bisa menjadi sebuah peluang untuk dirinya sendiri. Dion juga seperti itu, ia mencari tempat yang strategis supaya dirinya dapat membuka cabang baru.
Ada tujuan tambahan juga, mengapa Dion bisa memutuskan untuk mencari tempat tersebut, karena supaya ia juga dapat tinggal bersama dengan sang kekasihnya nanti.
"Tidak ada orang, yang ketika sedang jatuh cinta, bisa membenci orang yang disayangi tersebut," gumam Dion, saat laki-laki itu tengah mengendarai mobil.
Dari hotel yang ia tempati, Dion berniat untuk menuju ke salah satu restoran. Tentu saja setelah ia sudah mengelilingi seluk beluk kota tersebut.
"Loh, Dion, Apa kabar? Udah lama banget kita enggak ketemu," sapa Dela--perempuan yang berperan sebagai masa lalu dari Dion.
Mendapat kata sapa yang dikeluarkan oleh perempuan di depannya saat ini, membuat Dion langsung mengernyitkan dahi. Mengingat wajah, yang terasa sangat familier sekali.
"Eum ... Dela. Iya, kan?" tanya Dion, yang menebak dengan ingatan yang terus saja berusaha berpikir.
"Iya, aku Dela. Kamu apa kabar? Kita udah lama banget enggak ketemu!" jawab Dela, dengan semangat yang langsung menghampiri.
"Aku baik kok, sehat-sehat aja. Kamu sendiri bagaimana?" jawab Dion, dan berlanjut untuk memberi pertanyaan pada perempuan masa lalunya itu.
Dela langsung mengulas senyum, lalu menganggukkan kepala. "Aku juga baik-baik aja kok."
"Kamu mau makan di restoran ini?" tanya Dela, seraya menunjuk ke arah restoran yang baru saja ia datangi itu.
Dion mengangguk, lalu menjawab, "Kamu juga udah makan di restoran itu?"
"Iya, nih! Baru aja selesai, kamu sih selalu aja telat datangnya," sahut Dela, dan langsung dibalas senyuman tipis oleh Dion.
"Mau masuk ke dalam lagi? Temani saya makan, sekalian ngobrol-ngobrol sebentar aja," tawar Dion, sebenarnya ia berharap jika perempuan tersebut idak menerima tawaran yang ia berikan.
Namun, harapan dari Dion justru tidak terealisasi. Perempuan itu langsung menjawab, "Boleh, deh! Yuk masuk lagi! Udah lama juga kita enggak ngobrol bareng."
"Ya udah, yuk kita jalan lagi!" Dion mempersilahkan, tetapi tetap saja ia yang terlebih dulu melangkah
Ada rasa bersalah yang langsung menghampiri Dion, tetapi saat ia teringat bagaiman kelakuan kekasihnya itu waktu hari kemarin.
Maka Dion langsung menepis dan juga membuang rasa tersebut jauh-jauh, lagipula sekarang tidak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan Dela.
"Kamu jadi tinggal di sini, atau bagaimana?"" tanya Dion, karena ia hanya tahu jika perempuan yang menjadi mantan kekasihnya itu tinggal di kota Jakarta.
"Aku tinggal di sini, kalau enggak salah itu udah dua tahun lebih. Atau lebih tepatnya sih setelah hubungan kita itu selesai," jawab Dela, tetapi raut wajah perempuan itu masih datar. Tidak ada kesedihan sama sekali.
Begitu juga dengan Dion yang tak tertarik untuk membahas perihal hubungan masa lalu, sehingga ia memilih untuk kembali bertanya, "Sekarang, kamu kerja di mana?"
"Aku enggak kerja, tapi punya usaha kecil-kecilan aja," jawab Dela, dengan senyum yang langsung tampil di wajah.
Dulu, perempuan yang menjadi masa lalu Dion adalah karyawan yang berada di perusahaan miliknya, dan setelah hubungan mereka putus Dela juga memilih untuk resign.
"Kalau boleh tau, usaha yang bergerak di bidang apa?" tanya Dion lagi.
"Di bidang pelayanan jasa, Dion. Aku bangun hotel sederhana aja kok, belum banyak pengunjung yang menggunakan jasa usaha hotel punya aku itu," jawab Dela.
Dan yang membuat Dion langsung sangat terkejut adalah, hotel yang ditempati oleh Dion, ternyata hotel milik mantan kekasih.
"Seriusan? Ya udah kalau sama kamu mah, aku kasih harga yang langsung naik dua kali lipat, haha!" sahut Dela, disusul dengan tawa yang ia miliki. Tentu saja setelah Dion mengutarakan hal yang sebenarnya.
"Haish! Jahat banget malah bilangnya kek gitu, aku kira kamu bakalan ngasih harga yang spesial," protes Dion, yang juga disusul tawa renyah.
"Iya, santai aja. Nanti saya bilang sama karyawan saya, supaya kamu itu mendapat diskon penginapan," sahut Dela, dengan tawa yang juga langsung pecah.
Dan seketika tawa itu terhenti, kala waiters yang membawa pesanan makanan sudah melangkahkan kaki mendekat ke arah meja.
Apalagi, Dion sekarang tengah fokus dengan makanan yang berada di atas meja, sedangkan Dela memilih untuk hanya memesan minum. Karena sangat tidak mungkin sekali, jika dirinya hanya melihat Dion yang melahap makanan.
"Gimana sekarang? Kamu lagi sama siapa, Dion?" tanya Dela, kembali mengawali pembicaraan.
"Eh, kenapa jadi malah bahas hal yang kek gitu?" tanya Dion balik, lalu tangan kanannya meraih gelas yang berisi dengan air minum.
"Loh, kan aku cuma nanya. Memangnya kenapa, sih? ENggak boleh, kah?"
Dion menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Sekarang saya itu sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang berasal dari kota ini."
"Dan dia juga lagi sibuk dengan kegiatan kuliah," sambung Dion, ia langsung tersenyum saat mengingat bagaimana wajah sang kekasih.
"Kamu sayang banget ya sama dia? Keliatan banget dari raut wajah kamu itu," tanya Dela, mencoba untuk menebak dan hal itu justru membuat Dion langsung mengulas senyum lebih lebar.
"Udah, kalau kamu enggak mau jawab juga enggak apa-apa kok, tapi masalahnya itu satu. Tante Reta gimana, tanggapannya? Setuju atau enggak?" tanya Dela.
Perempuan yang saat ini tengah berada di depan Dion memang salah satu korban tidak setujunya Reta, bagaimana selektifnya Reta pada pasangan yang dipilih oleh Dion.
"Enggak, aku juga enggak bakalan nyangka kalau sama dia, mama justru sangat setuju banget," jawab Dion, penuh semangat.
"Hah? Seriusan Tante Reta setuju?" tanya Dela, dengan raut wajah yang sama sekali tak percaya.
"Iya, Dela, mama aku bahkan setuju banget. Sampai-sampai aku juga jadinya jatuh cinta di titik yang paling dalam," jawab Dion, bangga.
"Kalau memang apa yang kamu omongin itu bener, aku jadi penasaran sama orangnya, deh! Gimana sih kriteria dari Tante Reta," ujar Dela, dengan otak yang terus saja berpikir.
Dion memilih untuk tak menyahuti ucapan perempuan tersebut, kembali memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulut. Lagi pula, Dela juga tengah sibuk dengan minuman yang tengah diaduk-aduk.
"Tenang aja, kamu pasti bakalan tau siapa dia, tapi nanti. Kalau kita itu udah nikah!" ucap Dion, lalu mengulas senyum bahagia.
Jika membicarakan tentang hal itu, tentu saja ia sangat merasa senang. Tidak ada satu orang pun yang tidak merasa bahagia, jika dihadapkan dengan persoalan cinta seperti itu.
"Memangnya kapan kalian akan nikah? Oh! Atau jangan-jangan, cincin yang kamu pake itu cincin tunangan?" tanya Dela, yang tentu saja langsung dijawab anggukan kepala mantap oleh Dion.