"Kamu itu kebiasaan ya! Selalu aja meneliti orang itu sampai akar!" canda Dion, disusul dengan tawa yang langsung keluar dari mulutnya itu.
Sama halnya dengan Dela yang melakukan itu. "Lebih tepatnya sih aku itu bukan meneliti, tetapi ya emang cincin itu keliatan di mata aku, Dion."
"Aku juga bercanda kali," sahut Dion, lalu memutuskan untuk memasukkan satu sendok, kali ini adalah suapan yang terakhir.
"Ketemu sama kamu lagi itu kek mimpi tau," ujar Dela, membuat Dion langsung menghentikan gerakan mengunyah sebentar, tetapi setelah itu ia kembali mengunyah lagi.
"Kamu enggak tanya ke aku kenapa?" tanya Dela, dengan raut wajah yang terlihat sedih, tetapi bercampur dengan rasa heran.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu, membuat Dion langsung menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Aku kira, kamu itu mau lanjut ngomong lagi. Makanya aku lebih milih buat diem dan nunggu kamu ngomong."
"Ya udah, sekarang aku nanya, nih! Memangnya kenapa, sih?" ucap Dion, yang langsung dilanjut dengan memberi pertanyaan.
"Enggak ah, udah males duluan buat jelasin ke kamu," sahut Dela, dan Dion hanya menganggukkan kepalanya saja. Tidak ada tanggapan yang lainnya.
"Ish! Kamu itu kenapa enggak membujuk aku sih, Dion? Kenapa enggak kek dulu coba?" protes Dela, membuat Dion langsung mengerutkan dahi.
"Dulu? Sekarang dengan yang dulu itu udah bener-bener beda. Kamu enggak akan pernah bisa buat kedua hal itu jadi sama," ujar Dion menjelaskan.
Namun, ucapan Dion yang seperti itu justru membuat Dela langsung menunjukkan raut wajah yang sangat sedih.
Sedari tadi sudah ia tahan, supaya rasa sedih itu tak ditampilkan, tetapi pada akhirnya tetap saja harus ditunjukkan.
"Jangan bersedih, lebih baik kamu juga harus mencari seseorang yang lain lagi. Bahkan, saya aja enggak percaya kalau kamu bilang, kamu itu belum punya seseorang di hati," ucap Dion, disambung dengan opini yang ia miliki.
"Seseorang itu emang ada, tapi rasanya enggak sama kek waktu aku sama kamu, Dion," jawab Dela, tetapi perempuan itu masih sempat untuk meminum minuman yang sudah ia pesan itu.
"Kamu tahu, Dela? Setiap orang itu pasti punya cara masing-masing untuk mencintai. Dan sama halnya dengan seseorang yang kamu maksud, saya yakin kalau dia pasti cara tersendiri bagaimana memperlakukan kamu."
"Jangan terus saja mengingat orang yang berada di masa lalu, karena belum tentu orang yang kamu ingat bakalan melakukan hal yang sebaliknya," ujar Dion lagi.
Apa yang sedari tadi diutarakan oleh Dion langsung masuk semua ke dalam pikiran Dela. Perempuan tersebut langsung berpikir untuk mengingat bagaimana cara ia diperlakukan dengan seseorang yang berada di dalam hati.
"Udah, jangan mikirin hal itu terus, ya! Percaya sama aku, jalani hidup kamu yang sewajarnya. Dan untuk diskon penginapan, itu jadi, kan?" ujar Dion, yang langsung disambut dengan canda.
"Ya ampun, Dion! Kamu mah masih sempet aja buat bercanda!" protes Dela, dengan bibir yang langsung dikerucutkan.
"Hidup itu jangan dibuat serius, dong! Sekali-kali dihiasi sama bercanda, soalnya enggak bakalan enak kalau hidup terlalu serius," sahut Dion, dan disambung dengan mengutarakan opini yang ia punya.
Beberapa menit mereka sama-sama diam, bahkan kini Dela tengah fokus dengan ponsel yang ia punya itu. Membalas beberapa pesan yang masuk ke dalam ponsel tersebut.
"Dela, minumnya dihabisin dulu, gih! Terus balik, atau kamu mau di sini aja dulu?" tanya Dion, yang sudah mengeluarkan dompet dari saku celana yang ia kenakan.
"Loh, kok buru-buru banget, sih? Baru aja beberapa menit," tanya Dela, dan langsung memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas.
Mendengar pertanyaan Dela yang seperti itu, membuat Dion langsung merasa sangat heran, lalu menjawab, "Haduh! Orang kita itu udah lama banget kok, bahkan bukan beberapa menit, tapi udah hampir dua jam."
"Masa sih? Kok kek rasanya itu cuma sebentar ya?" tanya Dela, yang langsung melihat ponsel yang tadi sudah ia masukkan ke dalam tas.
Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Dion, karena laki-laki itu memang tengah sibuk dengan kegiatan membayar makanan yang ia pesan. Tentu saja, sekaligus dengan minuman milik Dela.
"Eh, minuman punya aku berapa, Dion?" tanya Dela, yang baru menyadari akan hal itu, saat ponsel miliknya sudah kembali ditaruh di dalam tas.
"Udah, jangan mikirin hal yang itu! Yuk keluar, aku udah buru-buru mau nyari angin lagi!" sahut Dion, dan kini laki-laki itu sudah berdiri terlebih dulu.
Melangkahkan kaki meninggalkan Dela yang tengah merapikan pakaian, sikap dari Dion memang cerminan dari hatinya itu. Karena di mana-mana, jika seseorang merasakan cinta, maka sifat perhatian pasti akan langsung muncul.
"Ish! Tungguin bentar aja tuh, enggak bisa banget apa?" protes Dela, yang kini sudah berhasil menyamai langkah kaki dari Dion.
"Kan kita itu beda mobil, jadi ya enggak wajib juga buat nungguin kamu," jawab Dion, sebenarnya memang sangat benar sekali.
"Iya, sih! Tapi kan nunggu juga enggak masalah banget kali, Dion!" ujar Dela lagi.
Dion tak menanggapi ucapan perempuan tersebut, kedua kakinya terus saja melangkah. Tentu saja itu memiliki tujuan, supaya ia dapat segera sampai dan juga dekat dengan mobil yang sudah terparkir rapi.
"Mobil saya udah keliatan, sedangkan mobil kamu ada di sini. Jadi, silahkan berkendara dengan hati-hati dan juga jaga konsentrasi, ya!" ujar Dion, seraya mengulas senyum.
Dela hanya dapat menganggukkan kepala saja, tanpa ada kata apa pun yang keluar dari mulut perempuan itu. Memang rasanya sangat aneh, tetapi memang seperti itu pada kenyataannya.
Sedari dulu, apa yang diutarakan oleh Dion, selalu saja membuat Dela langsung menurut dan tidak membantah sama sekali. Setelah tubuh Dion hilang dari pandangan, pada detik itu juga Dela langsung melangkahkan kaki mendekat ke arah mobil miliknya.
Masuk ke dalam mobil dan memperhatikan kendaraan Dion, yang mungkin saja sebentar lagi akan melintas, benar saja tebakan dari Dela.
Saat mobil Dion melintas, laki-laki itu dengan sangat sengaja membunyikan klakson. Hal yang seperti itu saja, mampu membuat Dela langsung mengulas senyum.
"Aku sadar siapa kita sekarang ini, aku juga udah enggak punya harapan buat kamu lagi. Hanya saja, melihat wajah kamu yang teduh itu, memang sangat menenangkan sekali," gumam Dela, lalu menggelengkan kepala dan mulai menggerakkan kendaraan roda empatnya tersebut.
Sedangkan Dion, laki-laki itu memang masih ingin mengelilingi kota, sampai akhirnya nanti sore hari tiba. Meluapkan rasa kesal dan juga bingung yang selalu saja menghampiri pikiran, ketika ia tengah sendiri.
"Huft! Kita enggak akan pernah berpisah kok, Sayang. Kalau aku sekarang bersikap cuek kek gini juga, enggak akan ada akibatnya buat hubungan kita," ucap Dion lagi, lalu ia langsung mengulas senyum dengan sangat sempurna.