"Oh, ini toh kekasih dari anak kita, Keysa?" tanya Galang, setelah diberitahukan oleh sang istri. Jika ada tamu yang sedang menunggu dirinya itu.
"Halo, Om," sapa Dion, lalu ia bangkit dari posisi duduknya tersebut. Tentu saja untuk mencium punggung tangan calon mertua.
"Bagaimana? Apa ada masalah dengan anak kami?" tanya Galang bertanya sesuka hati.
Dion pun langsung menggelengkan kepalanya, karena memang bukan seperti itu tujuannya ia datang menemui kedua orang tua dari Keysa, sang kekasih.
"Jadi gini, Om, saya itu memiliki rencana untuk merenovasi rumah ini. Itu juga saya harap tidak ada kesalahpahaman, yang akan terjadi nanti," ujar Dion, dengan sangat hati-hati.
Dahi Gilang langsung berkerut detik itu juga, mendengar apa yang diutarakan oleh Dion membuatnya langsung seperti direndahkan sekali.
"Maksud dari kamu tentang hal itu, apa?" tanya Gilang, sebenarnya membuat Dion sedikit takut.
Namun, karena mengingat tujuan yang ia utarakan itu tidak memiliki arti negatif, maka sisi keberanian dari Dion pun kembali muncul.
"Keysa, anak Om itu merasa minder dengan keadaan rumah, dan saya tidak suka dengan hal itu. Saya enggak suka, jika orang yang saya cintai itu tidak memiliki rasa percaya diri," jelas Dion, tegas.
"Apa yang saya utarakan ini, tidak ada hal yang negatif sama sekali kok, Om. Semua ini murni dari dalam hati saya, dan saya juga tidak ingin hal ini diketahui oleh Keysa," ujar Dion lagi.
"Bagaimana ucapan anak saya memang?" tanya Galang, dengan raut wajah yang menunjukkan jika dirinya itu memang benar-benar heran.
Saat mendengar pertanyaan yang seperti itu keluar dari mulut calon mertua, membuat Dion langsung merasa sedikit takut untuk menjawab, tetapi jika bukan sekarang ia utarakan. Maka kapan lagi?
"Begini, Om. Setelah kemarin saya itu ke sini untuk mengantarkan Keysa yang kangen dengan keluarga. Nah, saat pulang dari rumahnya itu, Keysa sempat berucap kalau dia itu minder dengan keadaan keluarganya saat ini."
"Saya berpikir, demi kelangsungan hubungan saya dan juga Keysa, saya ingin membangun rumah ini menjadi apa yang diinginkan oleh Keysa," jelas Dion, dengan sangat lengkap sekali.
"Ini, diminum aja dulu. Biar suasananya itu enggak terlalu tegang," ucap Nisa, seraya menata dua gelas di atas meja.
Dion mengangguk, lalu menjawab, "Terima kasih banyak, Tante." Lalu tangan kanan laki-laki itu langsung meraih satu gelas dan meminum air yang sudah disediakan.
"Bagaimana, Yah?" tanya Nisa, seraya melihat ke arah suaminya, yang justru membuat Galang mengernyitkan dahi.
"Loh, memangnya belum dikasih tahu, Nak?" tanya Nisa, yang langsung menoleh ke arah Dion.
"Tadi udah kok, Tante. Dion juga sangat berharap, kalau permintaan Dion yang itu bakalan diterima sama Om dan juga Tante," jawab Dion, lalu ia sebisa mungkin untuk mengulas senyum.
Pada hasil akhirnya, tetap saja keluarga Keysa menerima apa yang ditawarkan oleh Dion. Hal itu tentu saja membuat suatu kebahagiaan tersendiri untuk laki-laki itu.
Dan detik itu juga, ia langsung memesan semua bahan bangunan yang memang diperlukan. Bahkan, Dion pun memanggil seorang arsitek untuk merancang bentuk yang cocok untuk rumah sang kekasih.
Banyak sekali memang yang harus dipersiapkan untuk membangun rumah, tetapi hal itu tidak membuat Dion pusing atau lelah. Namun, justru merasa sangat senang.
"Nak, kamu memang sungguh-sungguh untuk hal ini? Karena kami belum ada uang untuk membayar pelaksanaan ini semua," tanya Galang, dengan suara yang terdengar sangat khawatir sekali.
"Iya, Om, Dion emang beneran. Dan nanti Dion sendiri yang akan mengontrol ini semua," jawab laki-laki itu, dengan seulas senyum yang langsung tampil di wajah.
"Eh, sebentar. Ada telepon masuk, Om," ujar Dion, lalu meraih ponsel yang berada di dalam saku celana.
Seulas senyum langsung tampil di wajah, kala yang ia lihat adalah nama sang kekasih. Tentu saja dengan perasaan yang sangat senang, Dion mengangkat telepon tersebut.
"Mas, kamu ada di mana, sih? Jangan bercanda, aku enggak mau di sini sendirian!" tanya Keysa, terdengar sekali jika nada suaranya itu menyiratkan akan kesedihan.
"Bukannya udah dibilang? Kalau aku itu lagi ada di luar kota, dan enggak akan mungkin banget kalau harus kembali lagi ke Jakarta," jawab Dion, dengan tangan kanan yang ia masukkan ke dalam saku celana.
Menunggu jawaban selanjutnya yang akan keluar dari mulut sang kekasih. Namun, panggilan tersebut justru langsung diputuskan begitu saja oleh perempuan tersebut.
"Loh, kok malah langsung dimatiin gitu aja, sih?" gumam Dion, tetapi ia memilih untuk bodo amat dan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
Namun, saat ia akan melanjutkan obrolan dengan calon mertua. Galang justru sudah tidak ada di tempat.
Hal itu membuat Dion memutuskan untuk membalikkan tubuhnya dan berniat menuju ke salah satu tempat yang pernah ia gadang-gadangkan untuk membuka cabang restoran.
Waktu kemarin, ia tidak sengaja bertemu dengan tempat tersebut. Di saat ia memiliki pikiran, tidak akan pernah bisa membangun cabang usaha di sini, tetapi justru dipertemukan beberapa menit kemudian.
Menelpon orang yang memiliki tempat tersebut, berbincang-bincang hingga pada akhirnya bertemu. Dion berniat untuk membeli, bukan hanya menyewa saja.
Karena jika dipikir-pikir, yang namanya menyewa itu akan mengeluarkan uang yang lebih banyak lagi. Maka dari itu, Dion memutuskan untuk membeli tempat tersebut.
Tempat yang dipilih oleh Dion memang tidak main-main, berada di tempat yang sangat strategis dan juga luas. Sehingga untuk harganya pun tidak main-main.
Setelah deal dan semua persyaratan diurus, kini tanah itu sudah resmi menjadi milik Dion. Tujuan laki-laki itu datang ke kota tersebut memang banyak sekali.
Dan sekarang, pekerjaan yang tengah ia lakukan adalah dua. Antara membangun kembali rumah sang kekasih, dan juga membangun cabang baru untuk usahanya.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk Dion menyelesaikan semua pekerjaan tersebut, dan selama itu ia lost contacts dengan sang kekasih--Keysa.
Itu bukanlah keinginan dirinya, tetapi mau bagaimana lagi? Jika Dion tak melakukan hal yang seperti itu, maka perlahan di mana dirinya berada akan diketahui oleh Keysa, dan Dion tidak menginginkan hal itu sama sekali.
Sepertinya Dion sudah sangat nyaman tinggal di kota Cirebon itu, tetapi masalahnya adalah sang kekasih masih berada di kota Jakarta. Selama enam bulan mereka sama sekali tidak berkabar.
Hal itu membuat hati Dion sangat merasa rindu, dan hari ini dirinya sudah berencana untuk kembali ke kota Jakarta.
Menuntaskan rasa rindu yang sudah sangat lama ia tahan dan juga dipendam, dan mungkin keesokan harinya baru ia akan mengajak sang kekasih untuk menjumpai rumah miliknya yang sudah selesai direnovasi.