"Assalamualaikum," ucap Dion, saat kaki kanannya sudah menginjak lantai rumah yang ia tempati sejak dulu itu.
Namun, sayangnya ini adalah siang hari. Jadi, sangat mustahil sekali jika ada orangtuanya di dalam rumah.
Karena memang kedua orangtuanya itu tengah sibuk untuk mencari uang, atau lebih tepatnya adalah mengelola perusahaan.
Keadaan rumah yang sepi, itu membuat keinginan Dion untuk mengistirahatkan tubuh tentu saja terlaksana. Tidak ada hal yang diributkan sama sekali.
Namun, saat laki-laki itu sebentar lagi akan memejamkan mata, justru hatinya terasa sangat tidak tenang sekali. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk membuka kedua matanya lagi.
Sebenarnya hanya satu yang menjadi penyebab dirinya itu tidak dapat tenang, yaitu ia belum bertemu dengan sang kekasih.
Dion ingin tahu bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh Keysa, saat melihat penampilan dirinya yang mungkin banyak sekali perubahan.
Apalagi, dengan tumbuhnya bulu-bulu yang cukup lebat di area bawah dagu. Itu tentu saja ada harapan jika Keysa tidak mengenali dirinya.
"Huft! Aku datang, Sayang!" seru Dion, lalu ia pun memutuskan untuk berdiri dari posisi duduknya itu untuk menuju ke kamar mandi.
Setiap orang yang akan bertemu dengan seseorang, tentu saja akan menyiapkan penampilan semenarik mungkin. Apalagi, orang tersebut sangat berarti sekali di dalam hati.
Sama halnya dengan Dion, laki-laki itu juga tengah bersiap-siap untuk pertemuan dirinya dan juga sang kekasih. Setelah cukup lama sekali mereka tidak saling bertegur sapa.
Baik dalam dunia nyata, atau melalui alat komunikasi yang sebenarnya dapat mereka lakukan. Bahkan, Dion melaksanakan kegiatan mandi tidak seperti biasanya.
Waktu yang dibutuhkan oleh Dion untuk mandi, justru lebih lama dari biasanya. Karena ia memang ingin penampilannya kali ini sangat perfect sekali.
Sebelum benar-benar mengendarai kendaraan roda empatnya menuju ke kantor pusat yang ia miliki, Dion terlebih dulu menghubungi Keysa. Tentu saja itu ada kaitannya dengan keberadaan Keysa saat ini.
Satu kali panggilan yang dilakukan oleh Dion, tidak langsung diterima oleh Keysa, tetapi seperti biasa Dion sama sekali tidak memiliki rasa putus asa dan juga langsung menyerah.
Ia kembali menghubungi sang kekasih, sampai akhirnya dengan sangat terpaksa sekali Keysa mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Sayang! Akhirnya diangkat juga teleponnya, lagi ada di mana, sih?" tanya Dion, dengan nada yang penuh semangat.
Hanya mendengar suara dari orang yang ia rindu saja, itu sudah cukup membuat Dion langsung dapat menghembuskan napasnya sangat lega.
"Ngapain nelpon aku lagi? Ke mana selama tiga bulan ini? Udah enggak penting sama sekali, kan di hidup kamu?" tanya Keysa, dengan nada bicara yang sangat ketus sekali.
"Nah! Itu yang mau aku kasih tau ke kamu, ke mana aja aku selama tiga bulan tadi," ujar Dion, masih dengan nada yang sangat semangat. Tidak ada rasa curiga sama sekali.
"Apa emangnya? Ngapain aja kamu selama tiga bulan?" sahut Keysa, dengan malas.
"Kalau emang enggak penting banget, mending telepon ini langsung ditutup aja. Keknya enggak penting banget, deh, kalau ngomongin soal ini!" ujar Keysa, yang membuat Dion langsung merasa aneh dan menemukan kejanggalan.
"Tunggu! Kamu sekarang lagi ada di mana?" tanya Dion pada akhirnya.
Keysa langsung menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Enggak usah tau aku di mana! Terus, jangan cari tau juga keberadaan aku sekarang!"
"Keysa, kamu itu masih kekasih aku. Jadi, wajar dong, kalau aku itu mau tau kamu ada di mana sekarang?" ucap Dion, dengan raut wajah yang sangat heran sekali.
Maksudnya apa? Keysa tadi berbicara apa? Dan yang langsung hinggap di pikiran Dion, adalah tentang perselingkuhan.
Tidak ada hal yang lain lagi, kecuali memang sudah ada seseorang yang lain. Apalagi, apa yang diutarakan oleh Keysa memang sangat kentara sekali, jika tidak ada keinginan untuk bertemu dengan dirinya.
"Key, kamu jawab atau aku yang bakalan cari tau sendiri?" tanya Dion, berharap akan ada jawaban yang keluar dari mulut sang kekasih.
"Keysa! Lagi telepon sama siapa, sih? Ini makanannya diabisin dulu, kalau dingin itu enggak enak, loh!" panggil seseorang laki-laki yang langsung terdengar sangat jelas di telinga Dion.
Tangan kanan Dion pun langsung mengepal. Ternyata ada seorang laki-laki lain, yang berperan di dalam hidup Keysa saat ini.
"Masih enggak mau jawab? Okey, sekarang juga saya bakalan temuin kamu!" ucap Dion, yang tak main-main sama sekali.
Laki-laki itu langsung memutuskan sambungan telepon, lalu memerintahkan seseorang yang paham dengan apa yang saat ini ia butuhkan.
Dan tak memerlukan waktu lama lagi, kini Dion sudah mengetahui di mana letak kekasihnya itu. Dengan napas yang memburu, karena menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja datang.
Bagaimana tidak, jelas-jelas Dion sudah mendengar suara laki-laki dari seberang telepon. Cinta yang dimiliki oleh Dion itu sangatlah tulus, tetapi malah seperti ini pada akhirnya?
Memarkirkan dengan sangat benar di tempat parkir yang sudah disediakan, lalu ia pun segera menggerakkan kaki untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
Dion mengetahui tempat itu, tentu saja dari seseorang yang tadi ia suruh tersebut. Dan Dion harus mengucapkan banyak-banyak terima kasih, karena dia dirinya itu bisa menemukan di mana Keysa berada.
Masuk ke dalam sebuah restoran yang cukup mewah, lalu kedua mata laki-laki tersebut langsung bertugas untuk mencari keberadaan Keysa di mana.
Tak membutuhkan waktu yang sangat lama, ia sudah melihat di mana Keysa berada. Perempuan itu tengah berada di salah satu meja. Terletak di ujung ruangan tersebut, dengan seorang laki-laki yang wajahnya itu membelakangi Dion.
"Ternyata kamu itu beneran selingkuh ya, Key," gumam Dion, seraya menahan rasa sakit yang langsung berada di dalam hati.
Meskipun seorang laki-laki, tetapi tetap saja Dion adalah manusia yang memiliki hati, ia akan merasakan sakit jika dihadapkan dengan situasi yang seperti itu.
Berjalan dengan penuh wibawa, terus menahan rasa nyeri yang menjadi-jadi. Mengulas senyum, lalu langsung duduk di salah satu kursi, tanpa meminta izin sama sekali.
"Loh?" Keysa tidak dapat melanjutkan ucapannya itu, karena memang ia sudah cukup terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Halo, saya Dion. Kalau boleh tau, kamu siapanya Keysa?" sapa Dion, seraya mengulurkan tangan ke arah laki-laki tersebut, dan langsung melontarkan pertanyaan.
Dion hanya melirik sekilas ke arah Keysa, tetapi ia sama sekali tak mengeluarkan pertanyaan untuk perempuan tersebut. Rasanya sudah sangat sakit sekali, bahkan hanya melihat sang kekasih berduaan dengan laki-laki lain.
"Oh, halo! Saya Rama, tenang aja. Saya hanya sahabat Keysa kok," sahut laki-laki bernama Rama itu, seraya membalas uluran tangan dari ion, lalu mengulas senyum.