Jawaban dari Rama, membuat Dion langsung mengernyitkan dahi, pertanda jika laki-laki itu memnag tengah merasa sangat heran.
"Yakin? Yakin kalau kalian itu cuma ada hubungan persahabatan?" tanya Dion, untuk memastikan.
Laki-laki tersebut juga sangat takut sekali, jika suatu saat nanti kepercayaan yang ia kasih akan dikhianati, karena memang pengalaman yang seperti itu bukan hanya satu kali saja.
Berkali-kali sudah Dion merasakan hal itu. Rasanya seperti apa? Tentu saja jangan pernah ditanyakan, sakit hati karena seperti itu tidak akan ada obatnya sama sekali.
Namun, raut wajah Rama justru meyakinkan sekali jika dirinya itu tidak berbohong sama sekali.
"Apa yang saya katakan itu benar kok, saya dan juga Keysa tidak memiliki hubungan apa pun," jelas Rama, dengan kedua mata yang menyempatkan untuk melihat ke arah Keysa.
"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin dilakukan oleh Keysa tentang ini semua, dan saya juga tahu siapa kamu. Kamu adalah kekasih hati dari sahabat saya, kan?" ujar Rama lagi, yang justru membuat Dion semakin merasa sangat heran.
Sedangkan Keysa, perempuan itu sudah memilih untuk memejamkan mata, dengan tangan kanan yang bergerak untuk memijat pelipisnya itu. Karena memang bukan seperti ini yang ia inginkan dan juga ia rencanakan sebelumnya.
Namun, Rama justru melanggar semua rencana yang sudah ia susun sampai lelah. Jika saja laki-laki itu sampai mengutarakan semuanya, maka Keysa akan merasa sangat malu sekali.
"Maafin saya ya, Key, tapi saya yakin banget kalau ini emang yang terbaik, bukan apa yang kamu rencanain itu," ujar Rama terlebih dulu, sebelum ia akan mengutarakan apa yaang harus ia katakan pada Dion.
Dan tak ada ucapan apa pun yang dikeluarkan oleh Dion, laki-laki itu lebih memilih untuk menunggu apa yang akan diutarakan oleh Rama.
"Memangnya apa sih yang Keysa rencanain?" tanya Dion pada akhirnya, karena ia memang sudah sangat tidak sabar sekali.
Mengembuskan napas terlebih dulu, lalu perlahan Rama pun berucap, "Jadi, Keysa itu tadi ngasih instruksi ke saya. Supaya saya itu jadi kekasihnya dia."
"Tapi itu bukan sungguhan, hanya settingan saja. Supaya kamu itu merasa kesal, sama kek apa yang Keysa rasakan selama tiga bulan terakhir," tutur Rama, yang langsung membuat Dion menatap Keysa penuh tanya.
"Boleh saya berbicara dengan kekasih saya, secara empat mata?" tanya Dion, seraya menatap wajah Rama, yang ternyata laki-laki itu langsung menganggukkan kepalanya.
Tanpa menguapkan apa pun, Rama memutuskan untuk langsung meraih tas yang berada di bawah meja, lalu berdiri dan melangkahkan kaki menjauh dari sepasang kekasih itu.
"Sayang, benar apa yang dikatakan sama Rama tadi?" tanya Dion untuk memastikan, rasanya tidak afdal sekali. Jika ia belum mendengar apa yang sebenarnya dari sang kekasih.
Ternyata Keysa pun langsung menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya, aku emang kek gitu."
"Tapi, Rama itu adalah sahabat yang paling nyebelin di sepanjang hidup aku!" geram Keysa, dengan mengelapkan kedua tangan. Sebagai pertanda, jika dirinya itu tengah menahan rasa kesal.
Namun, apa yang dirasakan oleh Dion justru bukan seperti itu. "Rama itu baik loh sama kamu."
"Hah? Baik dari mananya coba? Memang benar ya, yang namanya laki-laki itu emang sama semua!" tanya Keysa, dan dilanjut dengan mengeluarkan opini yang ia miliki.
"Baik banget dia, tuh! Coba aja bayangin, kalau sampai Rama enggak ngasih tau ke aku yang sebenarnya. Ada kemungkinan kamu bakal kehilangan laki-laki yang sangat mencintai kamu," jelas Dion, sangat percaya diri.
Keysa langsung menarik napasnya dalam-dalam, ia sama sekali tak menyangka jika seperti itu jawaban dari kekasihnya. Lebih tepatnya adalah kekasih, yang sangat menyebalkan sekali.
"Kamu? Sangat cinta sama aku, enggak ada yang salah, tuh?" tanya Keysa, dengan kedua alis yang langsung ia naikkan.
Tentu saja Dion langsung menganggukkan kepala dengan sangat semangat, lalu menjawab, "Iya, aku memang orang yang sangat mencintai kamu. Tentunya setelah keluarga kamu."
"Kalau emang kamu cinta sama aku, terus kenapa kalau aku nelpon kamu. Malah enggak diangkat sama sekali?" tanya Keysa, dengan penuh nada kecurigaan.
"Kalau kamu bahas kek gitu, aku juga mau bahas tentang sifat kamu yang waktu itu," tuntut Dion, tetapi dengan nada bicara yang santai sekali.
Namun, nada bicara Dion yang seperti itu justru membuat Keysa langsung sedikit takut, apalagi ditambah dengan pandangan kedua mata Dion yang mengintimidasi.
Tak ada tanggapan apa pun yang dikeluarkan oleh Keysa, karena pada kenyatannya yang salah pertama kali adalah Keysa. Sehingga, ia sudah tidak berani sama sekali untuk menatap wajah Dion.
"Maaf banget, kalau memang aku harus membahas hal ini lagi, tapi karena hal ini juga kau jadi males sama kamu," ucap Dion, yang kembali memulai sebuah pembicaraan.
Sebelum dilanjut, Dion terlebih dulu menarik napas. Berharap sekali jika semua rasa sesak yang berada di hatinya itu akan segera menghilang.
"Kamu tau, Sayang? Bagaimana rasanya, kalau orang yang kita sayang, kalau orang yang kita cintai itu malah milih laki-laki lain. Bahkan, di depan mata kita sendiri?" tanya Dion, dengan kedua mata yang menatap fokus wajah Keysa.
"Gini, deh! Aku mau nanya, kenapa kamu ngelakuin hal yang kek gitu? Malu, karena punya kekasih yang umurnya itu lebih tua dari kamu?" tebak Dion, karena sampai saat ini belum ada sahutan sama sekali yang keluar dari mulut Keysa.
"Eum ... atau kamu itu memang belum ada rasa sama sekali? Dan kamu itu lebih punya rasa ke laki-laki yang itu?" tebak Dion lagi.
Keysa langsung menatap wajah Dion, kini ada perbedaan. Yaitu, dengan kedua mata Keysa yang sudah memerah dan juga di pelupuk matanya itu terdapat air.
"Mengapa seperti itu? Kamu mau nangis? Untuk apa, Key?" tanya Dion, sinis.
"Aku salah waktu itu, kamu tau? Di saat usia aku yang seperti ini, banyak sekali orang-orang yang menyebutnya labil, dan waktu itu aku memang merasakannya," jawab Keysa.
Perlahan perempuan itu mau mengutarakan pendapatnya tentang hal itu. Dion juga sangat berharap sekali, jika apa yang berada di pikiran Keysa itu akan terus diceritakan pada dirinya.
"Sebenarnya, tidak ada sama sekali hal yang kek gitu. Kalau ada, itu bukan yang sesungguhnya, hanya saja pola pikir orang yang seperti itu, coba saja kalau pola pikirnya itu dirubah!" sahut Dion.
Seraya laki-laki itu juga memberikan opini yang ia punya. Bahwasannya memang benar, sebuah pola pikir itu dapat merubah semuanya.
Dan apa yang diutarakan oleh Dion adalah benar adanya, laki-laki itu tidak ingin sama sekali jika Keysa akan terjebak pada pola pikir yang salah.