Semua yang diutarakan oleh Dion langsung diterima oleh Keysa, tak ada kata penolakan sama sekali yang keluar dari mulut perempuan itu.
Karena memang benar, tetapi rasanya jika ia harus merubah apa yang diutarakan oleh Dion, tentu saja tidaklah mudah.
Hati yang dimiliki oleh Keysa selalu saja bercabang, sangat sulit sekali untuk setia. Jika saja ada satu laki-laki yang memberinya perhatian lebih, maka ada kemungkinan untuk Keysa jatuh cinta.
Namun, hal itu tidak berlaku sama sekali bagi Rama. Karena Keysa sudah tahu jika laki-laki tersebut memang tidak suka dengan perempuan.
Jadi, Rama akan merasa malu dan tidak percaya diri ketika bertemu dengan laki-laki yang lain, tetapi berbeda halnya jika ia bertemu dengan perempuan. Maka, keakraban itu akan langsung terjalin.
"Intinya gini, jadi benar apa yang menjadi dugaan saya selama ini? Kamu itu masih suka sama laki-laki tersebut?" tanya Dion lagi, ini adalah sebagai kepastian.
"Sekarang udah enggak lagi kok," jawab Keysa langsung, yang membuat Dion langsung mengernyitkan dahi.
"Apa alasannya bisa kek gitu?" tanya Dion lagi.
"Jangan bilang, kalau laki-laki itu justru udah punya kekasih?" tebak Dion, yang kembali mengandung kebenaran dan membuat Keysa tak dapat menjawab apa-apa lagi.
Melihat Keysa yang hanya diam, membuat Dion langsung menghembuskan napasnya kasar.
'Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Kalau orang yang saya cintai, sepertinya tidak memiliki rasa cinta untuk saya?' tanya Dion di dalam hati.
Rasanya sangat sakit, rasa iri langsung hadir di dalam hati Dion. Seberuntung itu, kah laki-laki yang dicintai oleh Keysa?
"Gini aja, saya mau nanya sama kamu. Kalau kamu emang enggak ada rasa sama sekali ke saya, tolong jangan lanjutin hubungan ini lagi, ya!" ujar Dion, membuat Keysa langsung membulatkan mata dengan sangat sempurna.
"Bukan, jangan seperti itu!" sahut Keysa, yang berhasil membuat Dion kembali merasa heran.
"Gini, Key, saya memang merasakan sakit tentang hal ini. Namun, saya akan lebih merasa sakit sekali jika harus berada di samping perempuan, yang enggak ada rasa sama sekali ke saya," jelas Dion.
Keysa langsung menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Aku emang tadinya itu masih suka sama Delon, tapi aku juga sayang sama kamu."
"Seperti apa yang waktu tadi aku ucapin, aku enggak akan pernah bisa punya rasa dengan satu orang laki-laki saja."
"Waktu kamu enggak ada di samping aku, rasa rindu dan juga takut kehilangan itu langsung hadir di dalam hati. Aku yakin banget, kalau itu adalah salah satu ciri orang yang tengah jatuh cinta," tutur Keysa cukup panjang.
Mendengar penuturan Keysa yang seperti itu, membuat Dion langsung menghembuskan napas dan memejamkan mata sebentar.
Semua penjelasan langsung berputar di kepala. Bagaimana opini yang ia punya, dengan apa yang diutarakan oleh Keysa.
"Key, saya enggak mau sama sekali, kalau kamu itu bakalan nyesel setelah kamu memutuskan sesuatu," ucap Dion, seraya menatap wajah perempuan di depannya itu.
"Enggak, Mas. Kamu kenapa sih kok ngomongnya gitu? Kan aku udah jelasin semuanya ke kamu, bahkan sangat jelas banget apa yang aku ucapin itu."
"Mas, percaya sama aku ya, dan aku juga minta maaf sekali sama kamu, kalau aku udah ngelakuin hal yang kek gitu," ujar Keysa, penuh dengan nada penyesalan.
Dion kembali menghembuskan napas lagi, lalu ia pun berucap, "Saya bakalan terima keputusan kamu itu, dan saya bakalan lihat ke depannya bakalan kek gimana."
"Oh iya, ada sesuatu yang harus kamu tahu. Kalau seorang laki-laki juga memiliki rasa cemburu pada kekasihnya. Tidak hanya perempuan saja yang memiliki perasaan seperti itu," ujar Dion.
"Eum ... berarti, kamu itu tadi emang lagi cemburu, Mas?" tanya Keysa, mencoba untuk mencairkan suasana lagi.
"Ya iyalah! Siapa juga, sih, orang kalau melihat pasangannya itu bersamaan dengan laki-laki lain? Mungkin, hanya aku yang bisa memaafkan kesalahan kamu itu. Belum tentu kalau kamu ngelakuin ini ke laki-laki lain, dan kamu bakalan dapet permintaan maaf."
Apa yang diucapkan oleh Dion, membuat Keysa langsung diam dan mencerna semua perkataan itu.
"Mas, sekali lagi aku minta maaf ya, aku enggak bakalan ngulangin hal yang kek gitu lagi kok," ucap Keysa, tetapi justru langsung dijawab gelengan kepala oleh Dion.
"Saya enggak bakalan nerima ucapan kamu itu, karena saya mau liat apa yang bakalan kamu lakuin setelah ini," jelas Dion, lu laki-laki itu pun berdiri tanpa ucapan apa pun.
"Eh, mau ke mana?" cegah Keysa, yang kini sudah ikut berdiri, lalu menunduk kembali untuk meraih tas yang berada di bawah meja.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dion, tetapi tangan kanan milik Dion langung menggandeng pergelangan tangan perempuan tersebut.
"Udah makan siang atau belum? Kita nyari makan dulu, yuk!" tanya Dion, tetapi sebelum Keysa menjawab pertanyaan dari Dion, ia terlebih dulu menawarkan apa yang memang ingin ia lakukan.
"Ish! Belum juga aku jawab, kok main mutusin sesuatu aja!" protes Keysa, seraya mencubit pelan pinggang milik Dion.
Detik itu juga Dion langsung memindahkan tangan kanan yang tadinya itu berada di pergelangan tangan, berganti menjadi ada di kepala dan mencium puncak kepala tersebut pelan.
"Kamu tau, kenapa aku ngelakuin hal yang kek gitu?" tanya Dion, memberi tebak-tebakan pada sang kekasih.
Keysa langsung menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak tau, memangnya kenapa sih?"
"Karena, apa yang udah menjadi keputusan saya, bakalan jadi keputusan kamu juga. Atau lebih tepatnya adalah, kamu itu harus mau menerima apa yang memang udah jadi keputusan saya," jawab Dion.
"Memangnya kita itu mau pergi ke mana?" tanya Keysa, seraya menatap wajah Dion dari arah samping.
Meskipun tidak ada balasan tatapan yang ditunjukkan dari Dion. Namun, percayalah hal itu saja mampu membuat Keysa cukup senang.
Setidaknya, ia itu dapat menuntaskan rasa rindu yang selama ini ia pendam, karena memang tidak ada kabar sama sekali dari Dion.
"Aku itu kangen banget tau sama kamu," ujar Keysa terlebih dulu.
Sontak Dion langsung melihat ke arah Keysa, lalu mengulas senyum dan menjawab, "Kamu tau? Selama ini saya juga kangen banget sama kamu."
"Tapi, karena ada salah satu hal yang memang harus dicapai, makanya saya itu lebih milih buat pura-pura enggak kangen sama sekali."
"Dan kamu tau? Bertahan buat enggak ngasih kabar ke kamu itu juga sangat susah sekali, loh! Di saat hari biasanya saya selalu ngasih tahu ke kamu, tiba-tiba aja kek gitu," tutur Dion, banyak sekali.
Dan Keysa di sini hanya memainkan peran sebagai pendengar yang sangat setia. Menyahut jika emang ada yang butuh untuk ditanggapi.