Tanpa ada perkataan apa pun lagi, Keysa langsung berdiri dari posisi duduknya itu berniat untuk segera keluar dari rumah ini.
Dan, mungkin saja Keysa akan langsung memutuskan hubungannya dengan laki-laki yang kurang ajar seperti Dion tadi.
"Loh, mau ke mana, Sayang? Kok malah turun sih?" tanya Dion, dengan raut wajah yang merasa sangat heran sekali.
Sedangkan Keysa yang sebenarnya mendengar dirinya diberi pertanyaan seperti itu, memilih untuk masa bodoh dan juga menulikan pendengaran.
Terus saja menggerakkan kedua kaki untuk turun dari rooftop tersebut, dengan sesekali menengok ke belakang. Takut jika Dion akan mengejar dirinya.
"Memang ya, saya itu enggak salah pilih pasangan, dan mama juga selalu benar kalau memutuskan sesuatu," gumam Dion.
Menggelengkan kepalanya terlebih dulu, baru setelah itu laki-laki tersebut pun segera berdiri dan mengejar sang kekasih.
Tebakan yang ada di kepala Dion adalah, Keysa masih berada di dalam kamar yang perempuan itu tempati.
"Sayang! Kamu kenapa, sih? Kok tiba-tiba kek gitu aja?" tanya Dion, dengan tangan yang bergerak untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tebakan Dion memang benar, Keysa masih berada di dalam kamar tersebut. Namun, perempuan itu memutuskan untuk tak mengeluarkan sama sekali.
Lagi pula, kedua tangannya itu tengah sibuk untuk membereskan semua baju yang ia bawa dari indekos.
"Key, aku mau jelasin sesuatu sama kamu! Bukain pintunya dulu ya!" pinta Dion, masih belum putus asa sama sekali.
Karena memang gara-gara pertanyaannya yang itu, maka hubungan dirinya dengan Keysa ada kemungkinan untuk kandas hari ini juga.
"Saya enggak mau denger penjelasan dari kamu! Saya mau pulang dari rumah ini, dan saya minta jangan kamu tunjukkan wajah kamu di depan wajah saya!" sahut Keysa, dengan suara yang sangat sengaja sekali ia tinggikan.
Dugaan Dion kembali benar, kekasihnya itu sudah merasa kesal dengan apa yang diucapkannya tadi. Sehingga, Dion memang benar-benar harus menjelaskan semuanya.
"Key, kamu lupa kalau rumah ini rumah siapa?" tanya Dion, yang terdengar sangat seram di telinga Keysa.
Pikiran perempuan itu langsung berkelana, dan memiliki statement jika Dion akan melakukan hal yang tidak-tidak pada dirinya.
"Okey, kalau kamu emang enggak mau buka pintu kamar ini, aku bakalan nyari kunci cadangan dari kamar ini," ucap Dion, bernada seperti ancaman.
Namun, pada kenyataannya memang seperti itu. Dion akhirnya melangkahkan kaki menuju ke tempat yang berisi deretan kunci. Baik cadangan atau asli.
Semua kunci tersebut sudah diberi keterangan. Sehingga dengan sangat mudah Dion menemukan kunci mana yang akan ia pakai.
Segera melangkahkan kaki menuju ke kamar yang tengah ditempati oleh Keysa. Memasukkan kunci tersebut, sehingga pintu kamar itu pun dapat terbuka.
Menampilkan Keysa yang tengah menutup wajahnya dengan kedua tangan, terdengar suara sesenggukan. Hal itu tentu saja membuat Dion langsung merasa sangat khawatir sekali.
"Key, Sayang kamu enggak apa-apa? Kenapa kok nangis, sih?" tanya Dion, dan langsung duduk tepat di sebelah Keysa.
"Jangan sentuh saya, dan saya juga mau keluar dari rumah ini!" sentak Keysa, lalu tangan kanannya langsung meraih tas berisi semua peralatan yang ia bawa dari indekos.
Namun, Dion lebih cepat lagi untuk menahan pergelangan tangan perempuan tersebut. "Ada satu hal yang harus aku jelaskan sama kamu, dan aku juga berharap kamu paham."
"Saya tidak akan pernah mau mendengar penjelasan itu, izinkan saya untuk pergi dari sini. Permisi!" sahut Keysa keras kepala.
Dan untuk mengatasi hal yang seperti itu, Dion memutuskan untuk berdiri tepat di depan tubuh Keysa.
"Aku hanya menguji kamu, hal yang tadi bukanlah sungguh-sungguh keinginan saya," ucap Dion langsung, tanpa basa-basi sama sekali.
"Ya, apa yang tadi saya katakan di rooftop itu hanya ujian untuk kamu. Betapa banyak sekali perempuan di luaran sana, yang mudah sekali untuk melakukan hal itu, tetapi tidak dengan kamu."
"Kamu tau? Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan kamu, bahkan aku masih tidak percaya sama sekali, mengapa feeling mama begitu kuat."
"Sampai-sampai, beliau tahu mana perempuan baik untuk aku, dan juga mana perempuan yang sama sekali tak baik," jelas Dion panjang.
Sebenarnya, Keysa juga sudah ada pandangan mengenai apa yang diucapkan oleh Dion, tetapi jika diingat lagi bagaimana cara penyampaian Dion tadi.
Rasanya sangat tidak mungkin sekali, jika itu semua adalah hanya ujian saja untuk dirinya itu.
"Kenapa? masih enggak percaya, kalau apa yang aku omongin itu emang bener kenyataannya?" tanya Dion, karena melihat raut wajah Keysa yang terlihat masih tidak percaya sama sekali.
"Kita duduk dulu, jangan pernah ada suuzon di dalam hati kamu. Makanya, saya itu bilang ke kamu kalau aku mau ngejelasin sesuatu."
Tak disangka sama sekali, ajakan Dion langsung diterima oleh Keysa dengan sangat mudah.
Sepasang kekasih itu kini sudah duduk berdampingan di atas tempat tidur. Namun, berbeda posisi, jika Dion yang menghadap ke arah Keysa, tetapi perempuan itu justru menatap lurus ke arah dinding.
"Mama pernah ngomong sesuatu ke aku, saat aku masih belum percaya, kalau kamu itu bener-bener langsung diterima sama mama," ujar Dion.
Tak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan oleh Keysa, tetapi percayalah jika perempuan itu tengah memasang telinga, dan juga menajamkan pendengaran.
Keysa ingin tahu bagaimana kelanjutan dari ucapan Dion tadi, tetapi untuk menyahuti ucapan laki-laki itu sepertinya terlalu malu dan juga gengsi.
"Kata mama, kalau aku mau liat bagaimana perempuan itu cocok atau enggak sama aku, dan juga termasuk ke golongan perempuan baik-baik atau enggak. Maka, diuji," tutur Dion.
Keysa terdiam, dan mendengarkan baik-baik apa yang diutarakan oleh Dion. Memang ada benar dan juga masuk akal, tentang semua yang diucapkan oleh Dion.
Sudah bukan hal yang asing lagi, jika banyak sekali perempuan yang terlebih dulu hamil, sebelum waktunya, dan memang itu yang membuat Reta sangat selektif.
"Sayang, semua yang aku ucapin tadi itu paham, kan?" tanya Dion, dengan tangan yan dilambaikan tepat di depan wajah Keysa.
"Hah?" Keysa langsung mengerjapkan kedua matanya itu.
"Kamu paham, kan? Enggak ada hal yang negatif sama sekali, percaya deh sama aku," ucap Dion lagi.
Keysa tak langsung menyahuti perkataan dari Dion. Perempuan itu memilih untuk melihat wajah kekasihnya terlebih dulu.
Jika memang apa yang dikatakan oleh Dion benar, maka kemungkinan apa yang akan Keysa coba juga tidak akan diterima oleh Dion.
Dan secara perlahan, Keysa memajukan wajahnya itu. Kedua bola mata Keysa sengaja melihat ke arah bibir.
Semakin dekat, meskipun takut jika nanti Dion akan menerima perlakuan Keysa yang sepeti itu, tetapi untuk mencoba tidak ada yang salah bukan?