Dan ternyata, harapan Keysa terlaksana juga, wajah perempuan itu langsung ditahan oleh kedua tangan Dion.
"Kamu itu mau apa sih, Key? kok kek gitu banget? Apalagi liat wajah kamu yang ...." Dion tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya itu, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kamu tau? Kalau kamu aja bisa menguji aku, kenapa aku enggak bisa menguji kamu. Iya, kan?" sahut Keysa, lalu mengulas senyum.
"Wuih, ternyata kamu itu enggak bisa diremehkan sama sekali ya! Aku kira, kamu itu enggak bakalan punya pikiran yang kek gitu, tetapi kamu juga punya pikiran kek gitu," ucap Dion.
Menggerakkan tangan kanannya untuk mengusap pelan kepala perempuan itu, tak lupa dan tak ketinggalan juga tentang senyuman yang memang harus terus terukir di bibir.
"Terus, penilaian kamu buat aku itu apa?" tanya Dion, dengan tatapan yang penuh tanya pada Keysa.
"Eum ... apa ya?" Keysa menunjukkan raut wajah yang sebisa mungkin dibuat bingung.
"Apa, Key?" tanya Dion, sangat tidak sabar sekali.
Keysa pun langsung mengulas senyum dan menjawab, "Sesuai apa yang kamu nilai ke aku. Cakep!"
"Ya iyalah, aku itu emang calon suami idaman tau!" sahut Dion, dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi sekali.
Membuat Keysa hanya dapat mengusap dadanya dengan lembut. Memang ada-ada saja sesuatu yang membuat Keysa harus bersikap sabar.
"Kalau kamu emang idaman, berarti aku juga idaman. Iya, kan?" jawab Keysa, dengan wajah yang sangat senang sekali.
"Eum ... kamu itu emang udah idaman banget buat aku, jadi enggak usah nanya kek gitu lagi juga kamu emang udah idaman kok," ucap Dion, yang membuat Keysa langsung merasa sangat malu.
"Ah! Udah jangan bilang yang manis-manis terus, sekarang kita ke mana atau ke mana aja, yuk!" ajak Keysa, yang kini perempuan itu sudah berdiri dari posisinya yang tadi.
"Eh, aku itu dari tadi enggak ada bilang manis-manis kok. Cuma bilang biasa aja, sesuai sama kenyataan." Tangan kanan Dion lagi-lagi mencekal pergelangan tangan milik keysa.
Apa yang diutarakan oleh Dion tadi, tentu saja membuat harus menahan rasa ingin senyum yang sangat lebar. Sehingga, ia pun memutuskan untuk menarik pelan tangan milik Dion itu.
"Ayo, bangun!" titah Keysa, saat Dion masih saja ingin stay di atas tempat tidur.
Sebenarnya, Keysa juga ingin jika dirinya saja yang pergi ke rooftop, tetapi masalahnya itu di sini. Pergelangan tangan kanan, dicekal oleh Dion.
"Kita itu mau ke mana lagi, sih? Atau kamu mau aku antar buat pulang lagi ke kosan? Udah, kamu tinggal di sini aja!" tanya Dion, tetapi mulut laki-laki itu justru berlanjut untuk memberi saran dan juga usulan.
"Sembarangan aja! Aku boleh dan juga mau banget kalau tinggal di sini, tetapi tentu aja ada waktu tersendiri dong!" jelas Keysa, seraya menyentil pelan dahi kekasihnya itu.
"Loh, memangnya kenapa kalau kamu ada di rumah aku sekarang?" tanya Dion. Memilih untuk berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Keysa tadi.
Lelah jika ia harus terus berdiri, kini Keysa memutuskan untuk kembali duduk di samping Dion, lalu berucap, "Aku yakin banget nih ya, kalau kamu itu bukan orang yang bodoh, Mas!"
"Dan aku juga yakin banget, kalau apa yang aku ucapin tadi itu udah langsung dapat dipahami sama kamu," sambung Keysa, yang langsung mendapat cengiran dari Dion.
"Nah, kan! Bukannya jawab, malah nyengir? Aku itu tahu gimana kamu, Mas!" ujar Keysa lagi.
"Enggak semua yang tentang aku itu kamu ketahui loh, Sayang," ucap Dion, dengan kedua alis yang sengaja dinaik turunkan.
Namun, Keysa memilih untuk menulikan pendengaran dan kembali berdiri dari posisinya yang tadi.
Dion yang melihat pergerakan dari sang kekasih, tentu saja membuat Dion mau tak mau harus langsung mengikuti langkah kaki dari Keysa.
"Eh, Sayang! Tungguin dulu dong! Aku juga mau ikut," seru Dion, dan berusaha untuk segera dapat menyamai langkah kaki Keysa.
"Eh, kita ke rooftop lagi, nih? Seriusan?" tanya Dion, dengan wajah yang menampakkan jika dirinya itu bingung.
"Kenapa memangnya? Di sini itu, aku berharap kalau kamu ditiup angin dan--"
"Dan aku masuk ke dalam pelukan kamu. Fiuh! Romantis banget, kan?" sambung Dion, lebih tepatnya adalah menyerobot ucapan yang akan keluar dari Keysa tadi.
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Dion, Keysa langsung menyentil pelan dahi laki-laki yang saat ini berada di sampingnya itu.
"Kalau ngomong itu ya! Terserah sendiri aja!" ucap Keysa, selepas ia puas menyentil dahi Dion.
Sebelum tangan milik Keysa turun dan juga terlepas dari dahi, Dion justru terlebih dulu meraih telapak tangan Keysa dan mencium pelan.
"Aku sayang tau sama kamu," ungkap Dion, membuat Keysa sama sekali tak bisa berkedip.
"Kenapa? Kok enggak ada sahutan sama sekali, sih?" tanya Dion, dengan satu alis yang terangkat.
"Enggak nyangka aja gitu, bisa denger ungkapan sayang lagi dari kamu," sahut Keysa, lalu mengulas senyum.
Dion menggelengkan kepala, menggerakkan tangan kanan untuk mengusap pelan kepala Keysa. Mencium dengan sangat lembut puncak kepala tersebut.
"Percaya deh, meskipun aku itu enggak pernah atau lebih tepatnya itu jarang ngungkapin tentang perasaan yang aku punya, tetapi aku itu benar-benar punya rasa sayang sama kamu," ucap Dion, dengan kedua mata yang menunjukkan ungkapan tulus dari dalam hati.
"Kenapa enggak dijadwal aja, Mas? Misalnya satu minggu satu kali gitu?" usul Keysa, yang langsung diikuti dengan tawa.
"Gimana kalau satu hari 24 jam bicara kek gitu?" tanya Dion, lebih absurd lagi.
"Kamu mah ngaco! Orang aku itu ngomongnya serius kok," sahut Keysa, dengan raut wajah yang berpura-pura menunjukkan rasa kecewa.
Tangan kanan Dion kini beralih untuk merangkul pundak perempuan itu. "Ututu, Sayang. Masa gitu aja langsung cemberut, sih?"
"Enggak kok, aku lagi senyum. Nih," sahut Keysa, bibirnya langsung membentuk lengkungan senyum yang dimaksud.
"Cantik," ungkap Dion, jujur.
"Kamu ganteng," sahut Keysa, yang juga tulus.
"Anginnya enak, Mas, tapi enggak tahu mau ngapain," ucap Keysa, lalu membalikkan tubuhnya. Sehingga tangan Dion yang tadinya berada di pundak pun akhirnya terlepas.
Melihat Keysa dengan posisi yang seperti itu terlihat enak dan juga asik, membuat Dion juga memutuskan untuk mengubah posisi dirinya. Tentu saja menjadi seperti apa yang dilakukan oleh Keysa.
"Kita ngobrol biasa aja kek gini, apalagi sambil liat wajah cantik kamu itu. Udah dapat dipastikan aku enggak bakal lapar," jawab Dion, lalu melirik ke arah Keysa.
Dan langsung mendapat sambutan, berupa tangan kanan perempuan itu yang tepat di wajah Dion.