Setelah banyak sekali ucapan dan juga perbincangan yang mereka berdua lalui, kini saatnya untuk Keysa pulang ke rumah, karena memang tubuh perempuan itu sudah terlalu lelah dan juga letih.
Bahkan, Dion saja menyuruh sang kekasih untuk tidur di rumahnya. Lebih tepatnya adalah di kamar yang tadi ditempati oleh Keysa.
Namun, tentu saja Keysa tak menginginkan hal itu dan juga tak ada ikatan apa pun yang disahkan secara agama. Sehingga, Keysa takut untuk menerima ajakan tersebut.
"Kenapa enggak mau istirahat di kamar yang tadi aja?" tanya Dion, kembali membuka pertanyaan untuk sang kekasihnya itu.
"Enggak mau, kalau yang namanya setan itu enggak ada yang tahu kapan munculnya," jawab Keysa, membuat Dion langsung mengernyitkan dahi.
"Kenapa? Enggak percaya?" tanya Keysa, sambil menatap wajah laki-laki di sampingnya itu.
Dion menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Bukannya enggak percaya, tapi karena emang ngerasa aneh aja gitu dengernya."
"Aneh dari mana coba? Kan segitu jelas kok apa yang aku ucapin tadi," sahut Keysa, dengan kedua alis yang langsung ia angkat.
Dion hanya mengulas senyum saja, tak mengeluarkan perkataan apa pun. Ia juga sebenarnya sudah paham dengan apa yang menjadi jawaban Keysa tadi.
"Kamu tahu, kan keadaan keluarga aku? Kita itu berasal dari keluarga yang enggak setara sama kamu, apa kamu enggak malu, Mas?" tanya Keysa tiba-tiba, setelah beberapa menit yang lalu mereka saling diam.
"Enggak ada yang salah sama sekali tentang kehidupan seseorang. Apalagi kekayaan yang menjadi tolak ukur sebuah perasaan," jawab Dion, dengan sangat tegas.
"Perlu kamu tahu ya, Sayang, kalau perasaan yang aku punya itu murni dari dalam hati," ucap Dion lagi.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Dion, mampu membuat Keysa langsung merasa terharu, bercampur dengan senang.
Keysa sama sekali tak menyangka jika keinginannya dari dulu itu menjadi kenyataan, bukan tentang dirinya yang mendapat kekasih dari kalangan yang kaya.
Melainkan, mencintai Keysa tanpa melihat perbedaan harta, karena memang sudah berkali-kali juga Keysa mendapatkan pengalaman yang seperti itu.
"Hey! Kok malah melamun, sih? Kenapa enggak dijawab coba?" tanya Dion, dengan tangan kanan yang langsung dilambaikan di depan wajah perempuan tersebut.
Meras ada yang mengganggu penglihatan, membuat Keysa langsung mengerjapkan kedua matanya itu dan mengulas senyum, saat tahu siapa yang melakukan itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Keysa, tanpa dosa sama sekali.
"Ya ampun, jadi dari tadi kamu itu melamun, Sayang? Enggak dengerin pa yang aku ungkapin tadi?" tanya Dion, sembari menghela napas kesal.
"Eh, sembarangan! Aku denger itu semua kok, dan aku tadi melamun juga lagi mikirin kehidupan aku," jawab Keysa menjelaskan.
Namun, jawaban Keysa yang seperti itu membuat Dion tak langsung paham. "Maksudnya gimana sih? Memang kehidupan kamu itu gimana?"
"Aku itu enggak nyangka banget, kalau ternyata ada orang yang bakalan suka sama aku yang kek gini," ucap Keysa, sendu.
"Loh, kok malah bilangnya gitu sih, Sayang?" tanya Dion, dengan dahi yang langsung berkerut.
"Apa yang aku omongin sekarang itu emang beneran kok, aku sama sekali enggak nyangka kalau pada akhirnya bakalan ada orang yang suka dan juga sayang sama aku dengan sungguh-sungguh."
"Terlepas dari pengalaman aku yang pahit banget, bahkan enggak ada rasa manis sama sekali," sambung Keysa.
Dion hanya bisa mengulas senyum mendengar apa yang diucapkan oleh Keysa, karena ia sama sekali tak menyangka.
Jika hanya karena tentang rasa saja ternyata bisa membuat orang lain bahagia, kalau memang seperti itu, maka di dalam hati Dion bertekad untuk selalu membuat Keysa bahagia.
"Kamu jangan khawatir, Sayang, karena aku enggak akan pernah menyakiti hati kamu. Dan aku bukanlah masa lalu kamu itu," ujar Dion, yang mampu membuat Keysa langsung mengulas senyum dengan sangat sempurna.
"Eum ... tapi, aku itu lebih suka sama orang yang enggak terlalu banyak ngomong ya, karena biasanya bakalan lebih banyak bohong daripada yang sungguhan," sahut Keysa.
Tangan kiri Dion langsung terulur untuk mengusap pelan kepala sang kekasih, lalu kembali berucap, "Ya udah kalau enggak percaya. Seiring berjalannya waktu aja ya."