Setelah percakapan tadi, tak ada pembicaraan lagi yang keluar dari mulut mereka berdua, karena Keysa dan juga Dion memang telah sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Mau langsung pulang ke kosan?" tanya Dion, melihat ke arah Keysa sebentar, dan kembali fokus pada lalu lintas.
"Kalau enggak langsung pulang ke kosan, terus kamu mau ngantar aku di mana, Mas?" jawab Keysa, sembari diberi pertanyaan sedikit di akhir kalimatnya itu.
Namun, pertanyaan tersebut tak mendapat jawaban dari Dion, karena laki-laki itu memang memilih untuk mengulas senyum.
Dan tak membutuhkan waktu yang sangat lama lagi, kini kendaraan roda empat yang dikendalikan Dion pun berhenti. Tepat di depan indekos Keysa.
"Mau turun dulu? Ngobrol bentar, atau apa gitu?" tanya Keysa, sebelum dirinya membuka pintu mobil tersebut.
"Eum ... boleh, deh! Lagian, di rumah juga enggak ada siapa-siapa juga," jawab Dion, lalu tangan kanannya pun bergerak untuk melepas sabuk pengaman yang masih menempel di tubuhnya.
Keysa juga melakukan hal yang sama seperti apa yang tadi dilakukan oleh Dion, melepas sealt belt tersebut, lalu keluar dari dalam mobil milik Dion.
"Sayang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Dion, seraya meraih pergelangan tangan kanan milik Keysa.
Sedangkan, perempuan tersebut langsung mengangkat satu alisnya dan bertanya, "Mau ngomong apaan, Mas? Tinggal bilang aja."
"Kita duduk di sini aja dulu, yuk!" ajak Keysa, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Dion.
Mulut Dion tak langsung mengeluarkan kata, tetapi laki-laki itu justru menatap wajah sang kekasih tanpa berkedip sama sekali.
"Mas? Katanya ada yang mau omongin ke aku, memangnya tentang apa?" tanya Keysa, seraya melambaikan tangan kanannya itu tepat di depan wajah Dion.
"Jadi gini, aku itu tadi punya rencana di pikiran, tentang rumah kamu yang kata kamu itu kurang. Bahkan, perbedaannya jauh sama rumah aku, kan?" ucap Dion, yang membuat Keysa langsung mengernyitkan dahinya heran.
"Maksud kamu itu apa sih, Mas?" tanya Keysa langsung.
Dion menganggukkan kepala terlebih dulu, paham dengan apa yang tadi ditanyakan oleh sang kekasih.
Karena Dion juga mengerti bagaimana perasaan seseorang yang mendengar hal tadi, apalagi orang yang mengucapkan itu adalah kekasihnya sendiri.
"Aku, sebagai kekasih kamu itu punya niat buat merenovasi rumah kamu. Seperti apa yang kamu ingin, maksudnya desain rumah tersebut sesuai dengan apa yang kamu mau," jelas Dion, dengan sangat hati-hati.
Laki-laki itu memang sangat hati-hati sekali untuk menyaring ucapan, tidak ada yang tahu perihal tentang perasaan.
Belum ada kata-kata apa pun yang keluar dari mulut Keysa, perempuan itu masih tetap pada keadaan tadi. Yaitu, menatap wajah Dion.
Tangan kanan Dion langsung bergerak untuk mengusap pelan pipi milik Keysa. "Sayang, kenapa diem aja? Aku lagi ngomong loh!"
"Aku ngerasa kek sebagai anak yang enggak berguna banget, harusnya aku itu enggak ngelanjutin kuliah lagi, ya," jawab Keysa, sendu.
Hal yang ditakutkan oleh Dion pada akhirnya terjadi, perempuan itu merasa seperti direndahkan. Padahal, itu bukanlah keinginan dari Dion.
"Sayang, maksud aku bukan kek gitu. Bahkan, aku enggak ada pikiran sama sekali buat kek gitu. Percayalah," ujar Dion, seraya mencium punggung tangan kanan Keysa sekilas.
"Kamu enggak ada salah apa pun kok, Mas. Aku cuma kek ngerasa gagal aja kalau pada akhirnya seperti ini."
"Oh iya, apa aku berhenti buat kuliah aja kali ya, Mas? Kan biar enak juga, dan lebih fokus ke kerja buat nyari uang," usul Keysa, menurut dirinya hal itu memang ide brilian.
Namun, tentu saja tidak bagi Dion. Laki-laki itu langsung menggelengkan kepala dan menjawab, "Jangan, aku sama sekali enggak setuju kalau kamu sampai berhenti buat kuliah."
"Kenapa memangnya? Jangan bilang kalau kamu itu nanti bakalan malu punya pasangan kek aku?" tanya Keysa, tatapannya itu penuh dengan curiga.
"Ya ampun, Sayang! Aku sama sekali enggak punya pikiran buat hal yang tadi, aku sayang sama masa depan kamu. Kalau enggak lanjut kuliah itu bakalan jadi apa?" jelas Dion meluruskan.
Saat ini yang berada di dalam hati Keysa memang bukanlah hal yang positif, semuanya itu tentang perasaan dirinya yang insecure.
Baik pada dirinya sendiri, atau dengan Dion yang lebih sukses dibandingkan dengannya.
"Kalau kamu memang keberatan tentang apa yang aku omongin tadi, lupain aja semua yang aku ngomongin tadi," ucap Dion, lalu mengulas senyum.
Tidak ada sahutan sama sekali yang keluar dari mulut Keysa, lagi pula apa yang diucapkan oleh Dion tidaklah sungguh-sungguh.
Tidak mungkin sekali jika laki-laki yang sudah mengucapkan sesuatu hal, lalu tidak dilaksanakan. Sama seperti apa yang dialami oleh Dion saat ini.
Hanya saja, Dion berucap seperti itu supaya Keysa tenang dan juga menghilangkan rasa ketidakpercayaan di dalam diri perempuan tersebut.
Entah nanti ke depannya akan seperti apa, hanya takdir dan juga waktu yang mengetahui. Namun, di dalam pikiran Dion adalah akan melakukan semuanya secara rahasia.
"Ya udah, kamu masuk, gih! Istirahat, katanya capek, kan?" titah Dion, sembari mengusap puncak kepala Keysa, dan setelah itu ia pun mengecup dahi Keysa dengan sangat lembut.
'Maafin aku, Sayang, kalau karena ucapan aku tadi ngebuat kamu jadi insecure,' ucap Dion di dalam hati.
Setelah Dion selesai melakukan aktivitas tadi, Keysa pun menganggukkan kepalanya, lalu mengulas senyum.
"Kalau gitu, aku masuk ke dalam kosan, dan kamu langsung pulang ya, Mas," ucap Keysa.
"Iya, Sayang. Silahkan masuk, langsung istirahat aja ya!" jawab Dion, dengan seulas senyum yang langsung ditampilkan di wajah.
Setelah mendapat jawaban yang seperti itu dari Dion, kini Keysa pun berdiri dari posisi duduknya dan melangkahkan kaki menuju pintu masuk indekos tersebut.
Saat Keysa sudah benar-benar masuk ke dalam indekosnya, Dion juga kini berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah mobil.
Persetan dengan perasaan yang meliputi tentang Keysa, kekasihnya itu memang gampang sekali untuk terbawa dengan perasaan.
Sebelum melajukan kendaraan roda empatnya itu, Dion terlebih dulu meraih ponsel dan mengirimi pesan pada Keysa.
Tentu saja berisi tentang apa yang harus dilakukan oleh Keysa, dan juga supaya jangan terlalu dipikirkan perihal ucapannya yang tadi.
Karena ia takut jika sang kekasih akan memiliki pemikiran yang lain lagi, tidak seperti apa yang ia pikirkan. Dan untuk semua ini, maka Dion membutuhkan orang tua.
Selesai mengirim pesan pada Keysa, kini Dion mulai untuk mencari nama kontak orang tuanya itu. Segera menghubungi dan juga berharap di dalam hati, supaya Reta akan mengangkat telepon tersebut.
Namun, harapan tersebut hanya sebatas hayalan saja. Karena pada kenyataannya, tidak seperti itu.