"Kenapa? Gimana dengan acara kamu sama Keysa?" tanya Reta, setelah mereka tengah kumpul di ruang televisi.
Tentu saja saat ini ada Prawira yang berada di antara mereka berdua. "Iya, bagaimana kelanjutannya, tuh? Sampai-sampai keliatannya aja udah ribet banget ya, Ma?"
Dan Reta langsung menanggapi dengan anggukan kepala, namanya juga suami istri, pasti tetap satu jalan dan juga tujuan.
"Ujung-ujungnya kita itu ke kampung Keysa, Ma, ya meskipun cuma sebentar banget sih," jawab Dion, sembari mengulas senyum, karena ia teringat lagi bagaimana cara keluarga Keysa menyambut, dan juga apa yang terjadi di sana.
Prawira yang mendengar jawaban Dion langsung menggelengkan kepala, lalu langsung bertanya, "Wuih! Nekat banget langsung ke rumah calon mertua! Ngapain aja tus di sana?"
"Eum ... Dion mau nanya sama Ayah, dan juga Mama," ucap Dion, meminta persetujuan terlebih dulu.
"Mau nanya apaan? Kenapa enggak langsung nanya aja, sih, tumben banget minta jawaban dulu?" sahut Prawira, dengan tangan yang bergerak untuk meraih gelas di atas meja.
"Ini tentang Keysa, Yah. Dion takut kalau apa yang Dion tanya nanti enggak selaras sama kalian," tutur Dion, dengan raut wajah yang cukup sulit untuk ditebak.
Prawira dan juga Reta langsung dengan sangat kompak saling menatap, dan juga alis yang terangkat. "Kenapa memangnya dengan Keysa?" tanya Reta.
Dion tak langsung menjawab, laki-laki itu terlebih dulu menghembuskan napas pelan. Ia benar-benar sangat takut, jika kedua orang tuanya itu akan menarik restu. Setelah Dion menceritakan jika Keysa adalah orang yang tak punya.
"Dion, Mama nanya kok enggak cepetan dijawab, sih?" tegur Reta, yang langsung membuat Dion menganggukkan kepala.
"Keysa bukan orang yang berada kek kita, Ma. Dion takut Ayah sama Mama nanti bakal batalin restu buat hubungan kita berdua," tutur Dion, dengan kedua mata yang menatap wajah orang tuanya itu bergantian.
Lagi-lagi Prawira dan juga Reta sangat kompak untuk saling bertatapan, lalu mengeluarkan tawa dengan sangat lepas.
"Dion, atas dasar apa kita harus batalin restu buat kalian berdua? Tentang ekonomi Keysa yang rendah? Itu enggak masalah sama sekali," ucap Prawira, masih dengan sedikit tawa yang mengikuti.
"kamu mah jadi laki-laki kok kek gampang takut banget," cibir Reta, membuat Dion langsung merasa sangat malu.
"Bukan gitu, Ma--"
"Kamu itu seorang pengusaha yang udah sukses, apa salahnya kalau bantu keuangan kekasih kamu itu?" potong Prawira, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Reta.
Dion memilih untuk diam, ia juga ingin sekali mendengarkan apa lanjutan yang akan dikeluarkan oleh kedua orang tuanya itu.
"Mama juga setuju, kamu kan tahu kalau Keysa itu masih kuliah dan juga ngejar cita-cita. Sedangkan kamu, laki-laki yang menjadi kekasih Keysa, jadi enggak ad salah sama sekali buat bantu," timpal Reta, dengan rasa semangat yang langsung membara.
"Dion juga tadinya ada niatan kek gitu, tapi ternyata Keysa enggak mau sama sekali," sahut Dion, yang membuat Reta langsung mengernyitkan dahinya.
"Haduh, Dion! kamu ngomong langsung sama Keysa tentang hal ini?" tanya Reta, sangat penasaran.
Dan jawaban dari Dion tentu saja menganggukkan kepala, karena memang seperti itu yang ia lakukan tadi.
"Kan kata Dion, sih, supaya kita itu terbuka gitu, Ma. Lagi pula, rumah yang akan Dion renovasi itu punya Keysa. Jadi enggak mungkin banget kalau mainnya rahasia," tutur Dion.
"Kamu salah, Nak! Bukan hanya laki-laki aja yang malu kalau dikasih sesuatu sama pasangannya, tetapi perempuan juga punya rasa malu. Apalagi, kamu yang berniat memberi sebanyak itu," papar Reta menjelaskan.
"Ayah setuju, kamu itu kalau niat buat ngasih sesuatu sama Keysa jangan bilang-bilang dulu. Oke?" timpal Prawira memberi saran.
Reta melihat ke arah sang suami, lalu pada detik berikutnya ia pun berucap, "Pantes, kalau apa-apa selalu aja ngagetin! Ternyata emang punya pikiran kek gitu?"
"Iya dong, Ma. Ayah itu paham gimana perasaan Mama nantinya, jadi masih mending enggak ngasih tahu sama sekali. Eum, tapi kalau jadi surprise jauh lebih romantis, kan?" sahut Prawira, seraya memeluk tubuh sang istri.
"Duh, kalau kek gini mah Dion jadi panas," celetuk Dion, dengan kedua tangan yang langsung bergerak menyerupai bentuk kipas.
Berharap jika apa yang tengah dilakukannya itu, akan membuahkan hasil menjadi tidak gerah. Karena apa yang ia lihat saat ini, membuat dirinya menjadi rindu dengan Keysa.
"Haha! Makanya juga cepetan nikah dong!" sahut Reta, lebih tepatnya jika itu adalah sebuah ledekan.
Tangan kanan Dion kini turun menjadi mengusap d**a, pertanda jika dirinya itu tengah menahan rasa kesal. "Kalau aja Keysa mau hari ini buat nikah, pasti Dion langsung gas buat nyiapin semuanya."
"Heh, kamu itu! Keysa juga punya kehidupan sendiri kali, apalagi dia itu mau mengejar cita-cita menjadi seorang designer baju," protes Reta, yang langsung disahuti dengan cengiran oleh Dion.
"Tenang aja, Ma, Dion juga enggak bakalan jahat kek gitu kok. Oh iya, Mama kok tau sih cita-cita drai Keysa apaan?"
Pertanyaan Dion yang seperti itu, membuat Reta langsung menaikkan kedua alis secara bersamaan. "Loh, memangnya kamu itu enggak tahu apa cita-cita Keysa?"
"Dion tadi nanya loh, Ma. Kok malah jadinya Mama nanya balik ke Dion?" protes Dion, karena ia memang tidak terlalu tahu menahu tentang apa yang akan dicapai oleh sang kekasih.
"Kamu tau? Keysa sama Mama itu udah deket banget. Semua hal tentang Keysa juga Mama udah tahu kok, makanya tadi kamu bilang kek gitu Mama enggak kaget sama sekali," ujar Reta, yang membuat Dion langsung menunjukkan raut wajah yang cukup terkejut.
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh reta, kini pandangan Dion beralih untuk melihat ke arah Prawira. "Jangan-jangan, Ayah juga udah tahu tentang itu?" tanya Dion, penuh selidik.
Prawira melirik ke arah istrinya dan menganggukkan kepala, lalu menjawab, "Iya, Ayah juga udah tahu dari Mama."
"Lagian, kamu yang jadi kekasihnya kok bisa enggak tahu apa-apa, sih?" protes Reta, wajahnya terlihat sangat sebal sekali.
"Kita kalau ngobrol itu enggak tentang masalah pribadi, Ma," ujar Dion memberitahu.
Namun, reta langsung menggelengkan kepala. "Lagi-lagi kamu itu salah lagi! Di mana-mana, yang namanya sebuah hubungan selalu aja ada titik di mana saling mencari informasi."
"Kita mencari tahu tentang pasangan kita, bagaimana kehidupan yang sebenarnya dan juga lainnya. Enggak melulu tentang perasaan dan juga hati yang dibahas," jelas Reta, yang langsung diacungi dua jempol oleh Prawira.
"Apa sih? Tiba-tiba kek gitu aja!" tegur Reta, lalu tangan kanannya langsung bergerak untuk mencubit perut suaminya itu.
Meskipun Prawira terkadang menyebalkan, tetapi Reta tetap saja memiliki rasa sayang yang teramat dalam.