Wajah cemberut Santanael bikin ilfil kepala pelayan. Bagaimana tidak dirinya nyaris terpergok melakukan sesuatu terhadap ibunya. "Apa yang ayah lakukan di kamar ibu?" tanyanya dengan mata sipit dan tangan bersedekap. "Apa mau mu?" tanya balik Kepala pelayan berusaha mengalihkan perhatian putri kecilnya yang mirip setan. Ada perasaan malu tapi mau bagaimana lagi terpaksa.
Kepala pelayan memanggil putrinya dengan setan kecil karena suka melakukan hal-hal yang diluar nalar dengan wajah tak berdosa miliknya. Santanael tak suka dengan panggilan itu.
"Scramble egg" jawab Santanael memberikan senyum terbaiknya berharap berhasil merebut perhatian ayahnya. Helaan nafas terdengar kesal tapi anggukan kepala itu cukup membuat senyum di wajah Santanael bertambah lebar.
"Pergilah ke ruang makan. Ayah bersihkan diri dulu". Kepala pelayan mengusir cepat Santanael, tak mungkin bukan ia turun dari tempat tidur tidak mengenakan apa-apa dibalik selimut tebal.
"Awas kalau bohong" ancam Santanael sambil menghentak kakinya di lantai lapis karpet. Santanael bergegas ke ruang makan untuk menunggu ayahnya.
Sepeninggal setan kecil. Kepala pelayan mencium lembut pelipis sang ibu yang masih setia dalam tidurnya. Tak ingin setan kecil bikin keributan lagi, buru-buru ia mandi.
Mata terbuka perlahan-lahan sang ibu. Ia menoleh kearah samping tempat tidurnya. "Jika jatuh cinta semudah membalikkan telapak tangan maka akan kulakukan tapi sayangnya tidak dan itu menyakiti hatiku" gumamnya lirih.
Didalam kamar mandi, kepala pelayan berhenti mandi mendengar suara lirihnya. Hatinya bagai ditusuk pisau tak terlihat. Ia sadar telah memaksakan keinginannya. Namun, dari awal sang ibu memang miliknya lalu mengapa baru sekarang ia menyadari kalau mereka tak pernah ada kata cinta selain seks.
Sang ibu menutup kembali matanya. Ia terlalu lelah dan tak ingin mendengar apapun berkaitan dengan kepala pelayan keluarga Van de BLU.
Tangan kepala pelayan terkepal erat menahan gejolak marah yang muncul tiba-tiba dari dalam dirinya.
"Kamu tak bisa menyalahkan wanita itu karena memang caramu salah" ucap seseorang di kanannya. Kepala pelayan menoleh dan terkejut bukan main. Sosok iblis di depannya bukan sembarang iblis. Black mengerutkan keningnya, matanya meneliti penampilan kepala pelayan yang hanya mengunakan handuk di pinggulnya. Terlihat seksi dan mengiurkan tapi sayangnya ia tak tertarik.
"Tak bisakah kamu datang ke rumah ini layaknya tamu gitu" keluhnya. Berbalik menghadap Black dengan tatapan malas. "nope" katanya menghilang begitu saja tanpa bekas. Helaan nafas dikeluarkan olehnya karena kesal.
Kepala pelayan meraih lemari, didalamnya sudah tersedia pakaian miliknya. Senyum mengembang senang. Tak ada yang tahu, lemari sang ibu terhubung dengan lemari di rumah keluarga Van de BLU. Cepat-cepat memakai pakaian santai lalu berjalan menuju dapur.
Santanael asyik meminum s**u dan biskuit. "Maaf menunggu lama" ujarnya meraih pintu kulkas. "Ayah, siapa tadi yang datang ke rumah?" tanya Santanael melihat ke arah ayahnya. Kepala pelayan terdiam sejenak, ia memutuskan akan menyiapkan makanan yang enak untuk sang ibu. Tak ada salahnya. Ia batal membuatnya. Ditutup pintu kulkas, meraih ponselnya.
"Bisakah kamu siapkan sarapan pagi ke rumah istriku?" tanyanya untuk seseorang diluar sana tepatnya di rumah keluarga Van de BLU. Kepala pelayan mengangguk mengerti lalu ditutupnya.
"Ayah mana scramble egg punyaku?" keluh Santanael cemberut. Menunggu lama tak juga ada.
Kepala pelayan duduk di depannya. "Sabar sebentar. Kita tunggu orang datang" jawabnya sambil mengelus rambut Santanael ringan. "Santana lapar ayah" kata Santanael menunjukkan perut kecilnya. "Sebentar lagi" bujuk kepala pelayan.
"Ayah pertanyaan Santana belum dijawab" ucap Santanael menatap kepala pelayan dengan mata bulatnya. "Yang mana?" tanya kepala pelayan lembut. "Itu lho, orang yang datang ke rumah. Tadi sempat lihat Santana disini tapi Santana cuek saja" jawab Santanael panjang lebar.
"Oh itu teman ayah. Hanya menjenguk dan mengingatkan saja. Lain kali ayah perkenalkan dengan bibi" katanya datar. "Siapa bibi?" tanyanya cepat ingin tahu.
ting...
"Setan kecil singkirkan dulu gelas mu" perintahnya cepat. Kepala pelayan menyambar toples berisi biskuit. Tiba-tiba bermunculan makanan bergizi berbagai macam. Mata Santanael terbelalak lebar.
"Ayah hebat" teriak senang Santanael kencang. Sosok manusia muncul di dekat mereka. "Siapa ayah hebat, huh! ini semua masakanku" ucapnya kesal ikut duduk disamping. Santanael hanya bisa memberikan jempolnya karena mulutnya langsung penuh dengan makanan kesukaannya.
"Putrimu? calon istri Gospar?" tanyanya meminum kopi. "Ya putriku dan calon istri Gospar" jawabnya santai memperhatikan Santanael tak terusik sama sekali kejadian tadi.
Mereka berusaha menjadi manusia normal tapi demi menghemat waktu terpaksa melakukan hal-hal diluar pikiran manusia.
"Aku akan melihat istriku" kata kepala pelayan mulai khawatir dengan sang ibu yang tak juga bangun.
Kepala pelayan berjalan cepat menuju kamar, matanya melihat sang ibu duduk di ranjang ditutup selimut diam membisu. Melangkah masuk dan duduk di pinggir ranjang.
"Ada apa?" tanyanya pelan berusaha mengusik lamunan sang ibu entah apa itu dan ia cemburu karenanya. Tak ada respon, kepala pelayan mengecup bibirnya. Mata kesal terlihat jelas di mata sang ibu.
"Kamu! apa mau mu? tak bisakah kamu pergi saja" katanya kesal. "Tidak. Aku lama mencari sekarang kamu mengusir semudah itu. Tidak bisa" Kepala pelayan naik keatas ranjang tepat dihadapan sang ibu.
"Aku mencintaimu. Maaf terpaksa begini tapi jangan salahkan aku, kamu juga menyukainya. Bisakah kita bersama-sama demi anak kita atau mungkin akan ada anak kedua" katanya pelan mendekat.
"Dasar m***m. Tidak ada anak kedua, aku tak mungkin hamil" Sang ibu berusaha menjauhkan badan kepala pelayan yang semakin condong. "Akan ada" katanya mantap. "Tidak mungkin". Sang ibu kesal karena kepala pelayan bertambah dekat kearahnya. "Oya akan ada kedua" katanya pelan lebih dekat menghilangkan jarak diantara mereka. Posisi sang ibu sudah berubah di bawahnya, tak bisa berkutik. "Kata siapa?" bisik sang ibu berusaha berontak untuk melepaskan diri dari tindihan kepala pelayan.
Sang ibu benar-benar kesal sejak kapan berbaring dan ditindih. Bahkan ia mulai merasakan tangan kepala pelayan merabanya lembut untuk membangkitkan kembali gairah yang semalam terkuras.
"Lepaskan aku" bisiknya tak sanggup lagi menahan gairah itu. "Tak bisa. Terlambat" bisik balik Kepala pelayan memasuki gerbang surga milik sang ibu. Tangan mencengkeram seprai sekali lagi. Terasa penuh dan merusak kewarasannya sekali lagi. "Biarkan aku memberikan hak mu. Aku tak akan membuat kamu bersedih lagi" katanya menarik sang ibu berpindah ke atas dirinya.
Kepala pelayan adalah seorang iblis jadi mudah baginya untuk membuat sang ibu mengikuti keinginan terbesarnya. Namun, ia lupa sekali lagi jika hati memerlukan proses. Tak ada yang instan dalam hal cinta. Kekuatan untuk memaksakan keinginan hanya akan melukai kedua belah pihak kecuali diijinkan langit terjadi.