Suara air mengucur dalam kamar mandi mengunggah minat kepala pelayan untuk beranjak dari duduknya di sofa ruang keluarga untuk bergabung. Matanya dapat melihat bagaimana lekuk tubuh sang ibu diguyur air, sangat menggoda. Kaki hendak turun dari sofa ketika suara melengking dari lantai dua terdengar, tepatnya kamar setan kecil.
"Ayah" panggil Santanael kencang. Kepala pelayan langsung pusing tujuh keliling mendengar panggilan setengah teriak yang dilakukan Santanael.
Setan kecil berlari dari lantai dua, meloncat ke atas sofa dengan cepat dan mendarat di pangkuan kepala pelayan dengan wajah polosnya.
bruk....
"Santana!" geram kepala pelayan karena mengenai bagian yang sakral bagi pria. benar-benar setan kecil. "Apa?" tanya Santanael tak mengerti dengan suara geram kepala pelayan, ayahnya. Helaan nafas untuk mengusir rasa nyeri terpaksa dilakukan daripada menjawab wajah polos Santanael. "Mengapa teriak-teriak, hmm?" tanya kepala pelayan membetulkan letak duduk Santanael sedikit menyamping di pangkuannya. "Ibu lama sekali" ujar Santana cemberut, seharian menunggu tak juga keluar.
Belum sempat menjawab mereka berdua mencium bau shampoo dan sabun. Serentak menoleh kearah atas.
Sang ibu turun dari lantai dua rumahnya dengan penampilan segar. Menghentikan langkahnya di depan Santanael dan kepala pelayan.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku?" tanyanya tak senang. Sepanjang hari bercinta dengannya tanpa tahu malu bahkan nyaris menghabiskan seluruh tenaganya dan sekarang melihat anaknya dengan santai di pangkuan kepala pelayan. Mendadak rasa tak suka timbul melihatnya.
Kepala pelayan cengengesan mendengar kalimat sang ibu. Santanael melihat keduanya bergantian. "Mengapa ibu marah dengan ayah? Ibu... ibu, ayah bisa sulap" kata Santanael cepat menarik ibunya agar duduk di samping kepala pelayan.
"Benarkah?" tanya sang ibu tetap tajam melihatnya. Tangan kepala pelayan diam-diam melingkari pinggang sang ibu, tersentak kaget dan mata melotot. Tentunya hal sepele tak bikin kepala pelayan melepaskan. Kapan lagi bisa bersama-sama duduk di satu tempat sebagai satu keluarga.
"Ya ibu" Santanael mengoceh mengenai makanan yang muncul dihadapannya dan teman kepala pelayan. Ia tak memperhatikan bagaimana ayah dan ibunya bersitegang di belakangnya.
"Kau!" ucapnya tanpa suara saat kepala pelayan santai saja mengecup bibirnya. Kepala pelayan sangat bahagia. Ini keinginannya sejak lama, walau terlambat tak masalah. Kehidupan keluarga dengan orang yang dicintainya.
"Ayah ibu, apa yang kalian lakukan dibelakang Santana, hah!"
Mata melotot, tangan di pinggang, mulut cemberut. Sang ibu dan kepala pelayan menoleh kearah Santanael. Sejak kapan Santanael turun dari pangkuan kepala pelayan. Sang ibu menghela nafas lalu melihat kearah kepala pelayan minta penjelasan juga.
"Dengar Santanael. Kamu ingin punya adik tidak. Adik bisa diajak bermain dan menemanimu tidur."
Ucapan yang sangat ingin di tutup cepat oleh sang ibu tapi keburu kepala pelayan menarik Santanael untuk duduk di pangkuannya lagi.
"Adik?" Wajah Santanael berubah mendengar kalimat itu. "Ya. Kamu mau? nanti ayah dan ibu bikin, gimana" tawar kepala pelayan yang langsung dihadiahi cubitan di pinggang.
"Aduh... aduh... kok cubit sih" protesnya sedikit kesal tapi mata mengedip. Sang ibu mendelik kearahnya bermaksud ingin mencubit lagi tapi tertahan ketika Santanael menyipitkan mata kepadanya.
"Ibu. Mengapa dicubit? ayah tidak salah. Ayah mau beri Santana adik buat teman Santana. Teman-teman Santana banyak yang punya adik" protes panjang Santanael menghentikan sang ibu. "Bukan begitu Santana" kata sang ibu berusaha memberikan pengertian tapi Santanael beranjak dari pangkuan kepala pelayan menuju kamarnya di lantai dua.
"Ibu selalu seperti itu. Tiap kali Santana menginginkan sesuatu pasti bilang bukan begitu. Ibu tidak adil" Santanael kesal kepada sang ibu.
"Eh, Santana" teriak sang ibu mengikuti langkah Santanael. Kepala pelayan senyum-senyum tidak jelas melihat interaksi depan mata.
Tiba-tiba senyumnya memudar.
"Ah, tidak seru paman. Aku juga mau lihat keponakan" ujarnya setengah cemberut. "Mau apa kemari?" tanya kepala pelayan malas. Victoria anak pertama Black dari keturunan iblis dan manusia memiliki hubungan darah dengan kepala pelayan.
"Kata paman Bayu, paman sudah memiliki anak. Tentunya ingin lihat" jawabnya cepat. "Tidak usah" cetusnya cepat. "Astaga paman. Kita keluarga. Mana boleh tidak saling melihat" bantahnya cepat-cepat sebelum ada yang ikut menegur.
"Keluarga? yang benar saja" sanggahnya cepat. "Paman. Nyonya besar tadi sore memanggil, apa paman akan diam saja mengacuhkannya?" tanyanya halus.
Helaan nafas kasar tak terima terdengar jelas ditelinga. Black muncul di depannya, kepala pelayan bertambah gusar. "Apa kamu akan disini terus? ingat waktu perjanjian belumlah genap" tegur Black pelan dengan tatapan menusuk jantung, bikin gerah siapa saja yang mendengar.
"Paman ayo, jangan sampai ayah mengamuk" bujuknya. Wajah cantik dengan rambut semampai ditambah penampilan glamor bikin salfok. "Tak bisakah kalian pergi dulu, aku harus bertemu dengannya" elak kepala pelayan enggan.
"Ehm.... maaf kalian siapa?" Mata sang ibu meneliti satu persatu wajah dihadapannya. Tak menduga ada tamu saat turun bersama Santanael di dalam gendongan.
"Kenalkan saya Black keluarga dari pria tengil ini" mata mendelik panggilan tengil kepadanya tak dihiraukan sama sekali malah sang ibu menerima uluran tangan. Sementara Santanael cekikikan, ayahnya dipanggil sangat jelek.
"Aku Victoria, putri Black dan aku keponakannya" katanya. Sang ibu bengong melihat kecantikan Victoria. "Apa kamu keponakan aku?" tanyanya lembut ke arah Santanael. "Ya, bolehkah aku panggil ibu peri, Tante" tanyanya dengan mata berbinar. "Tentu saja" jawab Victoria mengibaskan rambutnya ketika berjalan mendekat ke Santanael.
Tangan kecil Santanael menggapai meminta di gedong. Walau enggan sang ibu memberikan kepada Victoria.
Kepala pelayan mendengus kesal melihat tingkah semuanya. "Kamu masih tidak pergi? Jangan khawatir istrimu akan baik-baik saja" kata Black datar malah membuat kepala pelayan curiga. "Tidak. Aku tetap disini. Jika, aku pergi kamu juga ikut" tolak kepala pelayan menarik sang ibu melekat padanya.
Black dan Victoria menarik nafasnya pelan. Mereka berdua bukan tak tahu apa maksud dari kepala pelayan, hanya saja kali ini tak ada waktu untuk berdebat.
"Ayah? ibu jangan diambil sendiri. Malam ini Santana berjanji untuk tidur bersama ibu" protes Santanael dengan mulut mengerucut. Victoria tertawa terkekeh-kekeh, terpaksa memuji keponakannya memiliki akal bulus seperti dirinya di waktu kecil. "Mana boleh begitu. Malam ini ayah tidak akan kemana-mana, katakan itu pada nyonya besar" perintahnya pada Black.
"Kamu memerintah aku? Kamu tahu posisi mu!" bentak Black mulai kesal. Victoria mengelengkan kepala sambil menyerahkan Santanael kepada sang ibu yang kebingungan kemudian menarik tangan pamannya kepala pelayan.
"Jangan bodoh paman" ucapnya sambil mengibaskan tangannya. Dalam sekejap mata, mereka berdua menghilang. Sang ibu syok. Santanael terkesima. "Victoria!" teriak Black kencang.
Habis itu, tak tampak siapapun di ruang tamunya. Sang ibu jatuh terduduk gemetaran, sebenarnya ia berurusan dengan siapa.