Mulut Santanael mengomel tiada henti di setiap loncatan kakinya. Tiga hari sudah ayahnya tak muncul. Kalau tahu ternyata paman dan Tante yang menjemput ayahnya tidak mengembalikan, mana mau Santanael ditinggalkan. Harusnya ia ikut. "awas kalau ketemu nanti" sungut Santanael kesal, kakinya menendang ke segala arah.
Gospar menatap anak kecil di depannya yang bergerak-gerak tak ada habisnya. Kepalanya bingung dan hatinya bimbang ketika menyetujui anak kecil didepannya sebagai istri masa depannya. Gara-gara itu, ia menjaga perjaka miliknya demi anak yang menyebalkan. Entah berapa kali ia digoda dan tergoda untuk melepaskan tapi ujungnya tak pernah berhasil bergerak.
Anehnya hanya melihatnya ia bisa b*******h bahkan barang miliknya menggeliat bangun bagai ular melingkar di dalamnya hingga sesak. Apakah ini karma? Sejak kapan ia menjadi p*****l.
Lihat, anak kecil itu terdengar terengah-engah malah bikin tubuhnya panas dingin tak karuan.
"Maaf Pak. Hari ini ada rapat dengan perusahaan Carede. Apakah anda akan hadir?" tanya sekretarisnya. Jam makan siang dihabiskan di taman setiap hari dan memandangi anak kecil di depannya, apakah bosnya sudah frustasi atau bagaimana. Wanita cantik berbagai model tak juga memilih. Jangan-jangan bosnya ternyata gay, astaga.
"Kamu pergi dulu. Aku disini. Rapat hari ini dibatalkan saja" ucapnya tak berminat lagi dengan semua rapat. Di kepala ingin merekam semua tingkah laku Santanael.
"Tapi pak" protes sekretarisnya cepat mengingat rapat kali ini melibatkan uang yang tak sedikit. "Tak apa beritahu saja Baron Carede, jika aku sedang melihat calon istri masa depan" katanya berniat ingin mendekati Santanael.
Sekretarisnya melongo mendengar kalimat melihat calon istri masa depan. Anak kecil dengan mata kelayapan tidak jelas ternyata disukai bosnya, astaga dunia benar-benar terbalik sudah. Tak ingin menganggu, ia pergi cepat dari situ.
Gospar terpaksa menelan kekecewaan saat dari jauh sang ibu sudah menjemput. Tak ingin kehilangan momen, ia buru-buru masuk kedalam mobilnya untuk mengikuti dari belakang mobil sang ibu.
Jalanan sangat padat sehingga Gospar lagi-lagi harus kecewa saat kehilangan jejak mobil sang ibu. Perlahan diarahkan mobilnya menuju apartemen pribadinya.
**
"Apa ini, calon istri masa depan yang disebutkan Gospar?" tanya Rafael tak suka. Mereka semua bisa memiliki tujuan di belakangnya sedangkan dirinya terjebak di rumah tua bersama nyonya besar, sangat tak bisa diterima olehnya.
Foto-foto bertebaran di atas meja kerjanya. Laki-laki di depannya tersenyum menghampiri ke sampingnya. "Jangan terlalu dipikirkan tuan, dia hanya anak kecil" katanya lembut mengusap sedikit tangan Rafael.
"Kamu benar. Tapi aku tak suka. Kamu punya ide untuk menyingkirkan segera anak itu?" tanyanya memindahkan tangan laki-laki tersebut ke area yang diinginkannya.
Laki-laki tersebut sangat mengerti apa maksud Rafael jadi sengaja ia mengusap lebih dalam.
"Saat ini belum ada tuan. Bagaimana kalau kita olahraga lebih dulu?" Sebuah tawaran yang biasa diberikan olehnya supaya perhatian Rafael teralihkan dari foto-foto itu.
"Apa saran mu?" tanya Rafael penuh minat. Ia bukan tak tahu tapi dinding rumahnya bisa mendengar dan melakukan diluar rencana. "Ini" jawabnya menaiki diri di pangkuan Rafael. Mengetahui itu, hati Rafael gundah.
"Tuan, nyonya besar mulai bergerak mencari. Bukankah tuan sudah seharusnya lebih berhati-hati bertindak. Terakhir kali tuan bertindak terlalu terburu-buru akibatnya semua menjadi masalah" bisiknya pelan di telinga Rafael.
Tak seorangpun tahu, Rafael mengunakan alasan gay untuk bisa mengecoh perhatian nyonya besar alias ibunya.
"Benarkah? kalau begitu kita diam dulu" katanya santai meremas p****t laki-laki dipangkuan.
Terdengar suara kaki menjauhi pintu ruang kerjanya. Rafael melepaskan laki-laki dipangkuan untuk berdiri. "Pergilah, awasi lebih lanjut dan beri aku laporan segera" tangannya mengibas cepat, laki-laki tersebut menganguk saja lalu keluar kamar.
**
Nyonya besar diam mendengarkan laporan anak buahnya. Hatinya sedih mengetahui putra kesayangannya berubah menjadi seperti ini, padahal ia hanya meminta penerus kekuasaan miliknya.
Kucing hitam melingkar di kaki gemuknya. Tangannya berhenti mengelus ketika sebuah foto terpampang jelas dihadapan mata. "Jadi, ini anak dari kepala pelayan. Menantuku tampak sangat baik kondisinya. Apa kamu nyakin anak kecil ini bukan cucuku?" tanyanya lembut mengembalikan foto ke tangan anak buahnya. "Saya nyakin nyonya" jawabnya tenang.
"Baiklah, awasi lagi" perintahnya mengakhiri pertemuan ini yang sering kali menguras hatinya. Kucing hitam menggesek badannya di tangan nyonya besar.
Perlahan-lahan berubah menjadi sosok pria tua di depannya. "Apa anak kita bikin ulah lagi, sayang?" tanyanya pelan memeluk wanita kesayangannya. "James. Kamu mengagetkan aku!" teriaknya manja. "Benarkah? kemari baby girl, aku merindukanmu" ujarnya bersikap nakal. Nyonya besar malu-malu mendekat.
Rumah tua itu perlahan-lahan tertutup awan gelap. Angin berubah sangat dingin. Tak ada matahari diatasnya. Hanya awan hitam menggantung.
Penduduk desa sudah terbiasa melihat fenomena alam yang sering berubah di wilayah Van de BLU. Hidup disini harus siap dengan badai alam yang terjadi sewaktu waktu.
Kepala pelayan melihat kearah langit. Rasa tak suka muncul dihati. Harusnya ia masih bersama sang ibu dan setan kecil tapi malah terjebak dengan birokrasi yang tak ada habisnya.
"Apa kamu tahu mereka sudah menemukan dimana rumah sang ibu dan Santanael" kata Black pelan.
Kepala pelayan berbalik menghadap Black dengan mulut terkesan kesal. "Aku tahu. Apa rencanamu" tanyanya duduk di depannya.
"Pindahkan" perintahnya cepat. "Tapi" protes kepala pelayan, memindahkan mereka berdua berarti memulai dari awal.
"Aku tahu tapi ini darurat. James sudah memperingatkan kita. Dia calon istrimu dimasa depan, kematiannya sudah ditulis hanya membuat sedikit tambahan waktu tak ada salahnya" celoteh black panjang lebar.
Helaan nafas panjang dari kepala pelayan cukup memberitahu jika perintahnya sudah berjalan diluar sana.
"Iblis dan manusia sulit bersatu. Kamu nyakin ia akan menerimamu sebagai suamimu? sampai detik ini, wanita itu hanya tahu kalau menikah dengan Rafael" ungkapnya malas.
Black tak habis pikir dengan adiknya. Keinginan bersama manusia begitu kuat tapi alam tak pernah bersahabat dengan kaumnya. Terlalu naif dan munafik dalam hidup hanya akan mendatangkan penyesalan.
"Aku akan memberitahu ceyoat atau lambat. Kamu juga menikah dengan manusia. Mengapa kamu bertanya begitu padaku?" protesnya kesal, jelas-jelas black lebih dulu yang menikahi manusia tapi malah melarangnya.
"Istriku terikat janji denganku. Kamu! terikat janji siapa. Aku hanya tak ingin kamu menyesal" katanya santai sebelum menghilang dari mata kepala pelayan.
"Aku jatuh cinta bahkan punya anak dengannya. Dimana letak salahnya. Aku ingin bahagia, kali ini tak akan aku biarkan calon istri masa depan lepas lagi dari tanganku" gumamnya singkat.
Alam mendengar seruan kecilnya hingga melontarkan protes dengan petir menyambar kearah rumah tua itu, sejenak rumah tua tergoncang dengan suaranya yang memekakkan telinga.