, .
┄
Blok 11 tidak pernah tidur, seperti luka terbuka yang terus bernanah. Lampu neon berkedip dari bar-bar ilegal, suara tawa keras bercampur teriakan, dan aroma tajam alkohol serta besi memenuhi udara. Drefsha dan Tysh berjalan di bawah atap sempit yang meneteskan air hujan lama, melintasi g**g belakang toko suku cadang bekas. Sesekali, mata-mata Zerr Syndicate mengamati dari jendela pecah dan lorong gelap, mengenali sosok Drefsha dari potongan rambut dan caranya berjalan penuh percaya diri dan tanpa rasa takut.
“Zerr ada di ujung g**g itu. Gudang tua,” bisik Tysh. “Kalau kita masuk tanpa negosiasi, bisa jadi pembantaian.”
Drefsha menoleh sekilas. “Kalau mereka mulai duluan, kita akhiri lebih cepat.”
Namun, sebelum itu, Drefsha berhenti sejenak di depan warung kecil semi permanen yang menjual mi instan panas dan teh fermentasi. Ia menyodorkan uang ke ibu tua penjaga warung.
“Satu porsi,” katanya pelan.
Tysh menatap heran. “Kau… lapar?”
Drefsha tak menjawab. Ia duduk di bangku kayu reyot di depan warung, menunggu dengan kepala tertunduk. Dalam bayangan uap dari mangkuk yang akhirnya datang, wajah Valen muncul lagi. Saat mereka masih kecil, mereka biasa menyelinap ke warung serupa, mencuri sisa makanan dari meja pelanggan yang belum dibersihkan.
“Dulu, kami makan mi seperti ini… tiap malam hujan,” gumamnya. Tysh tidak berkata apa-apa. Hanya duduk diam di sebelahnya, membiarkan kenangan itu menggantung di udara.
Setelah selesai makan, mereka melangkah ke gudang Zerr. Penjaga bersenjata otomatis menghentikan mereka.
“Kami datang untuk beli, bukan cari ribut,” ujar Tysh.
Salah satu penjaga mengenali Drefsha. “Kau… D’Cenv?”
Drefsha menatap tajam. “Kalau aku iya, kau akan buka jalan, atau kita bicara dengan cara lain?”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di ruang tengah gudang. s*****a berbagai jenis tergantung di dinding: granat tangan, peluncur roket rakitan, s*****a api custom. Seorang pria bertubuh tambun dengan setelan rompi kulit duduk di sofa besar. “D’Cenv. Legenda yang katanya hilang,” katanya sambil menghisap cerutu. “Apa yang membawamu kemari?”
“Perang,” jawab Drefsha pendek. “Aku butuh s*****a. Banyak.”
“Dan kau pikir kau bisa bayar semuanya?”
Drefsha membuka saku jaket dan meletakkan chip data di meja. “Daftar lokasi dan jadwal patroli markas Sarka. Termasuk nama-nama yang mereka lindungi.”
Si tambun tertawa kecil. “Informasi mahal… Tapi aku tahu, kalau datang dari kau, itu bukan omong kosong.”
Kesepakatan terjadi. Drefsha mendapatkan persenjataan dan akses jalur penyelundupan ke dekat markas Sarka. Tapi sebelum mereka pergi, pria tambun itu bicara lagi.
“Kau tahu kan, D’Cenv… kalau kau mulai lagi, dunia bawah tanah akan bergerak. Banyak yang belum lupa rasa takut saat dengar namamu.”
Drefsha hanya tersenyum miring. “Bagus. Biar mereka bersiap.”
---
Malam hari, di apartemennya yang gelap, Drefsha membuka jaket, menggantungnya di dinding, lalu duduk di lantai. Ia membuka kotak medis dan mulai mengobati luka kecil di bahunya. Tidak parah, tapi cukup mengganggu.
Setelah itu, ia duduk di balkon sempit lantai dua, memandangi kota yang redup. Rokok menyala di tangannya, dan dari bawah terdengar suara anak-anak bermain kejar-kejaran, suara langka di distrik kelam seperti Blok 7.
“Lucu ya… Mereka masih bisa tertawa,” pikirnya. “Mungkin mereka belum tahu dunia ini seperti apa sebenarnya.”
Kadang, di malam tertentu, Drefsha berjalan ke bengkel tua milik Garm, seorang pria buta yang ahli dalam merakit s*****a dan alat pelacak. Ia tidak banyak bicara, dan itu membuatnya cocok dengan Drefsha. Di bengkel itu, Drefsha memperbaiki sarung tangan logamnya, mengencangkan plat baja ringan dan memasang sirkuit baru untuk peningkatan daya hantam.
Siang harinya, Drefsha sering keluar dengan hoodie gelap menutupi wajah. Ia memasuki pasar bawah tanah di Blok 3, membeli bahan makanan, suku cadang, dan kadang informasi dari tukang gosip yang dikenal hanya sebagai “Nenek Taring.”
Drefsha bahkan sesekali duduk di kedai teh kecil milik pasangan lansia yang tak pernah menanyakan nama. Di sana ia bisa duduk diam, mendengarkan musik tua dari radio rusak, berpura-pura sejenak bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Bukan mesin tempur. Bukan subjek eksperimen.
Namun dunia tak memberi waktu lama untuk tenang.
Saat matahari mulai tenggelam ke balik bangunan kusam, Tysh kembali ke apartemen membawa kabar baru.
“Ada sesuatu yang besar. Sarka sedang mengirim konvoi lewat terowongan barat. Aku yakin Valen dibawa lewat sana.”
Drefsha berdiri. “Kapan?”
“Besok malam.”
Ia mengepalkan tangan. Ini kesempatan.
“Kalau begitu, kita mulai besok. Siapkan semuanya.”
Tysh mengangguk. Tapi saat hendak pergi, ia berhenti di ambang pintu.
“Drefsha… aku tahu kau mungkin tak percaya pada siapapun. Tapi kali ini, jangan bertarung sendirian.”
Drefsha menatap lurus ke arahnya. Tidak menjawab. Tapi matanya tak sekeras sebelumnya.
Setelah Tysh pergi, Drefsha kembali ke balkon. Di tangannya, foto lama ia keluarkan dari balik jaket. Foto itu sedikit rusak karena basah, tapi masih terlihat dua anak kecil dengan mata berbinar.
“Aku akan datang, Valen… Kali ini aku tidak akan lari lagi.”
Dan kota, sekali lagi, menjadi latar bagi perang yang belum selesai.
---
Malam semakin dalam. Hujan mulai turun tipis, memukul pelan seng-seng tua dan genteng bocor kota yang seakan malas mati. Drefsha masih di balkon, masih dengan rokok di tangan, meski bara merahnya mulai memendek. Udara dingin merambat ke pori-pori, tapi tak satu pun membuatnya ingin masuk.
Di bawah sana, lampu jalan berkedip, lalu mati sepenuhnya. Seketika, seluruh blok larut dalam bayangan. Hanya siluet-siluet samar dari kendaraan yang melintas, sesekali terdengar raungan mesin modifikasi dan letusan kecil yang entah ledakan atau sekadar knalpot rusak.
Namun Drefsha tetap diam. Mendengarkan. Mengingat. Memutar ulang dalam kepalanya setiap wajah, setiap darah, setiap janji yang dulu ia buat dan ia khianati.
. . .
Di dalam kamar, ia menyimpan satu koper tua yang selalu terkunci rapat. Malam itu, ia membukanya.
Isinya: sepasang sarung tangan tempur generasi lama, satu pisau pendek dengan ukiran nama “Valen” di gagang kayu, dan satu foto lama ayah mereka pria bermata tajam, tubuh penuh luka, tapi dengan senyum yang tulus memeluk dua anak kecil di pangkuannya.
Drefsha menyentuh pisau itu, membaliknya perlahan.
“Waktunya pulang,” bisiknya.
Lalu ia berdiri, mengambil sarung tangan tempur, mengenakannya kembali untuk pertama kali dalam bertahun-tahun. Lampu indikator kecil di pergelangan menyala hijau.
Ia menutup koper perlahan, lalu meraih jaketnya. Langkahnya berat tapi pasti. Di kejauhan, suara sirene meraung seperti pertanda. Tak ada lagi ruang untuk keraguan.
, . , . , : , gumamnya dalam hati.
Di luar, angin membawa bau logam, hujan menyusup lewat celah jendela. Drefsha menarik napas dalam, menatap langit gelap yang mengintip dari balik awan.
, ? tanyanya dalam hati, pelan, seperti bisikan yang ditelan malam.
Tak ada yang menjawab. Tapi ia tahu, esok akan menjadi awal dari sesuatu yang takkan bisa ia hentikan lagi.