Ben menatap Raditya Malik sambil menguasai dirinya dari amarah dan dendam terhadap pria itu. Raditya Malik masih sama angkuhnya seperti dulu, yang memandang rendah orang lain.
Radit ... begitu lah biasa ia dipanggil, adalah putra dari seorang pengusaha pemilik perusahaan kapal pesiar yang beroperasi di dalam dan luar negeri.
Ia adalah anak satu-satunya dari Ignatius Malik yang berasal dari Maroko dan menikah dengan perempuan Indonesia keturunan Tionghoa dan Jawa.
Ignatius Malik dulunya adalah sahabat dekat dari Bernard Theodorius yaitu ayah Ben. Persahabatan mereka hanya terjalin antara mereka berdua saja, tidak sampai melibatkan anak dan istri keduanya.
Hingga pada satu waktu, ketika usia Ben dan Radit sama-sama menginjak umur dua belas tahun, Ignatius mengundang Bernard beserta istrinya, Athena dan Ben untuk merayakan natal bersama. Dan Natal tahun itu juga adalah natal terakhir untuk kedua orang Ben sebelum mengalami kecelakaan sewaktu melakukan perjalanan keliling Eropa.
Persahabatan antara Ben dan Radit pun terjalin sejak malam natal itu. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama seperti umumnya anak-anak pra remaja.
Radit selalu ada untuk menemani Ben ketika orang tua sahabatnya itu meninggal. Ia sering menginap di rumah Ben agar sahabatnya itu tidak kesepian. Nenek Ben juga sudah menganggap Radit seperti cucunya sendiri. Waktu terus berlalu, dan terasa persahabatan mereka sudah berjalan selama empat tahun.
Saat mereka duduk dibangku kelas dua sekolah menengah atas, ayah dan ibu Radit membawa seorang gadis berusia empat belas tahun ke rumahnya dan memperkenalkan kalau gadis itu pada putra mereka. Orang tua Radit ingin menyekolahkan gadis remaja itu hingga ke jenjang pendidikan sekolah tinggi.
Nama gadis itu Sania. Ia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan milik keluarga Malik. Sania ditemukan oleh penjaga panti di depan gerbang panti tersebut ketika ia masih bayi.
Suatu sore, ketika Ben yang sedang mengunjungi Radit dan asik bermain video game, tiba-tiba matanya melihat gadis yang usianya tiga tahun dibawahnya tersebut. Sania yang mengantar minuman dan cemilan untuknya dan Radit, membuat jantung Ben langsung berdegup kencang. Rasa jatuh cinta masa remaja saat itu langsung membuncah di hatinya.
Ia terpesona pada mata besar dengan pupil cokelat dan jernih itu. Rambut hitam legam Sania melewati bahu dengan bando berwarna merah di kepalanya.
Seketika Ben melupakan permainan video gamenya, bahkan ia tak menyadari jika Radit sudah mengalahkannya. Teriakan gembira Radit tak dihiraukannya, karena ia fokus menatap Sania yang menunduk malu dan buru-buru kembali ke dapur untuk membantu pekerja rumah tangga keluarga Malik.
"Dit ... yang tadi itu siapa?"
"Siapa?"
Radit yang fokus pada layar televisi menikmati permainan video gamenya, tak mengerti siapa yang dimaksud sahabatnya itu.
"Cewek, barusan mengantar minuman kitA."
"Oh ... itu Sania. Papa dan mama membawa dia dari panti. Sekarang dia tinggal bersama kami."
"Cantik ya ...."
Radit langsung menghentikan permainannya dan menatap Ben dengan mata terbelalak tak percaya.
"Kau bilang cantik barusan?"
Ben mengangguk. "Cewek yang namanya Sania itu cantik."
Radit langsung memutar badannya menghadap Ben dan memandang sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau kenapa sih?"
"Kau bilang Sania cantik. Ben ... untuk pertama kalinya kau mengatakan cantik untuk seorang cewek!"
"Karena dia memang cantik." Ben menyahut dengan santai.
Radit tercengang antara terkejut dan bahagia. Ia tak menyangka jika sahabatnya yang pernah menolak perasaan gadis paling populer di sekolah mereka itu ternyata bisa tertarik pada Sania yang di mata Radit tampak biasa saja.
Banyak gadis-gadis yang naksir pada Ben, tetapi ia tidak pernah membalas perasaan mereka. Ia akan menolak dengan sopan, menghindar ketika gadis-gadis itu terus mengejarnya.
Baik gadis-gadis populer di sekolah mereka, atau teman les mereka di luar sekolah bahkan gadis-gadis dalam komunitas-komunitas remaja yang mereka ikuti banyak yang menyukai Ben, remaja itu tak pernah sekali pun menanggapi perasaan mereka.
Radit yang tampan, kaya dan sedikit nakal juga sangat populer, tetapi Ben yang terkenal sebagai pemuda baik-baik, pintar dan juga tampan selalu menjadi incaran nomor satu.
Radit tidak pernah sekali pun iri pada kepopuleran sahabatnya tersebut karena ia memiliki kriteria sendiri untuk gadis yang ia taksir.
Ben sedikit salah tingkah ketika Radit memperhatikannya seperti spesies langka.
"Sania itu masih anak-anak, Ben. Dia itu masih kelas dua SMP. Masih banyak cewek yang lebih cantik dari dia yang bisa kau jadikan pacar."
"Aku kan hanya bilang kalau dia itu cantik. Apa hubungannya dengan pacar? " Ben menatap sahabatnya geli.
"Ya, Tuhan ... aku lupa sedang berhadapan dengan Uskup Agung."
Ejekan Radit padanya membuat Ben tertawa. Sahabatnya itu selalu mengejeknya dengan sebutan Romo, Uskup Agung, Pastor, Biarawan karena Ben yang selalu menjalani hidupnya dengan baik.
Ben rajin ke gereja dan mengikuti Misa. Tidak merokok seperti Radit yang sembunyi-sembunyi dari orang tuanya. Ben tidak menonton film porno seperti Radit yang diam-diam meminjam kaset bajakan dari teman sekolahnya. Dan Ben belum pernah pacaran dan mengatakan pujian cantik untuk seorang gadis hingga beberapa menit yang lalu ia mengucapkan pujian skaral itu.
Jadi tidak salah kalau Radit mengira temannya itu akan menjadi seorang biarawan bahkan ia sangat yakin kalau Ben akan pergi ke Vatikan suatu hari nanti dan melayani umat Tuhan seumur hidupnya.
Radit sering bertanya mengenai hal tersebut dan Ben biasanya menanggapi dengan senyuman atau tawa kecil yang Radit artikan bahwa tebakannya benar!
Tapi sore ini, Radit meragukan pemikirannya selama ini mengenai masa depan sahabatnya itu, karena Ben terlihat berbeda kali ini. Dan sebagai seorang playboy terkenal, Radit menyakini jika sahabatnya itu menyukai Sania, gadis yang disekolahkan oleh orang tuanya itu.
"Ben ... aku melihat ada harapan untukmu kawan. Aku pikir kau akan memutuskan untuk tidak pacaran dan menikah karena memilih untuk menjadi biarawan."
"Kau berlebihan, Dit." Ben semakin tertawa geli menatap sahabatnya itu.
"Berlebihan bagaimana? Kau tidak pernah menunjukkan rasa tertarik pada cewek, bahkan kau menolak mereka! Jadi jangan salahkan kalau banyak asumsi muncul di kepalaku mengenai dirimu."
"Kita masih sekolah, Dit, fokus kita belajar, bukan pacaran."
Radit langsung mencibir sahabatnya itu dan mengajak Ben melanjutkan permainan video game mereka.
Ketika mereka berdua naik ke kelas tiga SMA, ayah Radit memindahkannya ke Amerika katena Ignatius ingin putranya kuliah di sana. Untuk sementara waktu, Ben dan Radit berpisah. Ben tetap sekolah di Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di Indonesia.
Radit yang meninggalkannya untuk beberapa tahun ke depan, membuat Ben m mencari teman baru selama kepergian Radit yang jauh. Ben akhirnya berteman dengan Sania. Lambat laut pertemanan berubah menjadi persahabatan.
Ben yang lebih tua dari Sania selalu membantu gadis itu dalam urusan belajar. Ben tetap rajin mengunjungi keluarga Malik yang selalu menyambutnya dengan gembira. Kedua orang tua Radit merasa senang dengan kedatangannya yang sering karena mereka tidak terlalu merasa kesepian ketika puta mereka jauh di luar negeri. Ben sudah mereka anggap seperti anak sendiri.
Waktu berlalu, Sania yang sudah duduk dibangku SMA tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Ben yang sempat kuliah dua tahun di Jakarta, akhirnya menjalin hubungan percintaan dengan Sania. Persahabatan mereka berubah menjadi sepasang kekasih.
Ben pindah kuliah ke Inggris selama dua tahun dan tetap berkomunikasi dengan pujaan hatinya.
Sampai ketika Radit yang sudah empat tahun tidak pulang ke Indonesia, akhirnya pulang berlibur dan bertemu dengan Sania yang sudah jauh berubah dari terakhir kali ia meninggalkan rumahnya.
Selama empat tahun, ia memang memutuskan tidak ingin pulang hingga pendidikannya selesai, oleh karena itu, orang tuanya lah yang sering datang mengunjunginya.
Radit mengetahui hubungan antara Sania dan Ben, karena sahabatnya itu memberitahunya.
Ia akui ketika melihat Sania yang cantik, Radit hampir meneteskan air liurnya karena pesona Sania yang memikat. Tapi ia tidak akan merusak persahabatan mereka hanya karena seorang gadis.
Tapi seperti kata pepatah. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari esok.