"Maksud kedatanganku ke sini hanya untuk menyapamu. Karena bagaimana pun, tinggal kau satu-satunya keluargaku." Olivia tersenyum manis pada Eric. Ia bisa melihat sepupunya yang tampan menatap penuh curiga padanya.
Eric bangkit berdiri dari kursinya dan menuangkan minuman untuk dirinya sendiri lalu kembali duduk di hadapan Olivia yang memperhatikannya seperti serigala yang mengawasi domba.
"Aku sangat tersanjung dengan niat baikmu untuk menyapa diriku, Sepupu. Bagaimana pun kita harus mengeratkan kembali hubungan keluarga kita yang sudah lama renggang." Eric meneguk whiskey dinginnya dengan tenang, sambil mengikuti alur yang sedang dibuat oleh Olivia.
Olivia mengangguk masih dengan wajah tersenyum. "Melihat kedua ayah kita tidak berniat kembali menjalin hubungan yang akrab hingga kematian mereka. Jadi aku memutuskan untuk memulai memperbaiki hubungan keluarga kita ini. Dan hanya keluarga lah yang akan selalu ada untuk menolong kita."
"Sepertinya hal itu terdengar sangat menyenangkan." Eric terkekeh.
"Aku pikir kau tidak akan merasa keberatan, jika sesekali aku akan meminta bantuanmu, bukan?" Olivia menyandarkan tubuhnya di kursi menunggu respon Eric selanjutnya.
Eric memutar gelas minumannya perlahan sambil menilai Olivia yang terlihat sangat tenang.
"Aku tidak keberatan sama sekali."
"Ayahku tercinta meninggalkan banyak tanggung jawab untuk seorang perempuan tak berpengalam sepertiku. Kalau bukan padamu, pada siapa lagi aku bisa belajar dunia bisnis yang masih baru untukku ini?"
Eric hampir mendengus sinis. Namun ia berusaha bersikap sopan. Ia tidak akan tertipu pada sepupu perempuannya tersebut. "Dengan senang hati aku akan membantumu. Kapan saja kau meminta bantuanku, aku selalu siap."
Baik Olivia mau pun Eric mengetahui jika keramah tamahan mereka ini hanyalah kepalsuan.
"Ngomong-ngomong ... sewaktu ayahku mati ditembak di kamarnya, kabar yang kudengar, ternyata kau adalah orang pertama yang menemukan ayahku yang sudah tak bernyawa."
Eric mengangkat sebelah alis matanya, sambil menatap Olivia.
Olivia langsung terkekeh. "Bukannya aku menuduhmu, Sepupu, hanya saja aku sedikit penasaran."
"Penasaran?"
Olivia mengangkat bahunya seolah-olah tak terlalu peduli. "Kau tidak akrab dengan ayahku, atau bisa dikatakan kalian jarang bertegur sapa bukan?" Eric diam tak menjawab. "Dan tiba-tiba kau mengunjungi ayahku. Tapi pasti sangat sial bagimu, karena kunjungan pertamamu, kau justru harus menemukan ayahku dalam keadaan tak bernyawa."
Eric bisa merasakan sindiran wanita itu. Ia harus bersikap tenang dan tidak boleh terpancing dengan ucapan Olivia yang sarat sarkasme.
"Karena kunjunganku itulah yang membuat aku banyak dicurigai berbagai pihak, bahwa aku terlibat dalam kematian ayahmu."
"Sepertinya aku butuh minuman. Kau tidak keberatan kan kalau aku mengambil minumanku sendiri?" Olivia menatap Eric menunggu persetujuan pria itu.
"Kau adalah keluarga, jadi kau bebas melakukan apa saja di ruangan ini," sahut Eric ramah seperti yang Olivia lakukan padanya.
Olivia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah lemari minuman lalu menuangkan minuman yang sama seperti yang diminum Eric.
Sekarang ia mengerti, kenapa sepupunya itu menolak saat tadi ia menawarinya minuman. Sepertinya Olivia takut jika ia meracuninya.
Eric terkesan dengan sikap hati-hati Olivia. Wanita itu kembali duduk sambil memegang gelas yang berisi minuman berwarna keemasan tersebut.
Pria itu memperhatikan Olivia yang tampak tenang. Ben tahu kalau ketenangan Olivia seperti sebuah peringatan sebelum badai datang.
"Kau sendiri ... bagaimana menanggapi isu yang beredar mengenai keterlibatanku, Olivia?" Untuk pertama kalinya Eric menyebut nama sepupunya tersebut.
Olivia meneguk minumannya. Wanita itu tampak sedikit menyerngit ketika menelan cairan keemasan itu. Eric tahu jika sepupunya itu tidak terbiasa menenggak minuman beralkohol.
"Tapi tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa kau lah pelakunya. Aku tidak ingin mencurigai siapa pun tanpa adanya bukti."
Jawaban Olivia terdengar ambigu di telinga Eric. Tentu saja ia tidak mempercayai ucapannya sepupunya tersebut. Olivia tidak mungkin datang menemuinya jika wanita itu tidak ingin mencari sesuatu dari dirinya. Ia juga tidak mengenal seperti apa sebenarnya sepupunya itu. Jadi Eric harus bersikap waspada dan hati-hati.
Seperti yang selalu dikatakan oleh ayahnya kepadanya. Troya hancur hanya karena seorang wanita. Jadi kau harus tahu kalau perempuan adalah mahluk berbahaya yang tanpa kau sadari tiba-tiba sudah menghancurkanmu ketika kau lengah.
Dan Olivia adalah sosok yang harus ia waspadai.
"Hingga saat ini, pembunuh ayahku belum ditemukan. Perkembangan penyelidikan kasusnya sangat lambat. Aku berencana meminta agen rahasia swasta yang menyelidiki kematian ayahku."
Olivia diam sejenak memperhatikan Eric yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Bagaimana menurutmu rencanaku ini, Eric?"
Pria itu terkejut karena Olivia meminta pendapatnya. Tadi Olivia juga meminta bantuannya—sesekali katanya—dan Eric menunggu, apa selanjutnya yang akan diminta wanita ini darinya.
"Menurutku, meminta agen rahasia swasta menyelidiki kasus ayahmu merupakan tu ide yang sangat bagus, Olivia," sahut Eric tenang. "Jika pembunuh sebenarnya terungkap, bukankah hal itu juga akan membersihkan namaku yang belakangan ini sering disangkut pautkan?"
Olivia mengangguk. Ia meletakkan gelasnya yang sejak tadi ia pegang ke atas meja. Olivia bertanya-tanya, kemana kah serangan-serangan halus mereka ini akan bermuara.
"Aku rasa, mulai sekarang kita harus lebih banyak menghabiskan waktu sesering mungkin, Eric. Menunjukkan kepada publik kalau hubungan keluarga kita baik-baik saja. "
"Dan pasti kau memiliki tujuan dibalik keakraban yang akan kita pamerkan ini. Bukankah begitu, Olivia? "
Olivia langsung tertawa. Ia bisa merasakan kekesalan Eric dari ucapan ketus pria itu.
"Kalau kau ingin tahu jawabannya, kita harus bertemu lagi, Eric." Olivia bangkit berdiri, dan diikuti oleh pria itu. "Aku akan menghubungimu untuk pertemuan kita selanjutnya, dan pertemuan kita berikutnya harus kita pamerkan seperti yang kau katakan, Sepupu." Olivia tersenyum sumringah.
"Aku tidak sabar menunggu pertemuan kita selanjutnya." kata Eric sambil mengantar Olivia sampai ke pintu. "Senang bertemu denganmu, Olivia."
"Aku juga. Sampai jumpa."
Eric menutup pintu setelah Olivia melangkah pergi. Ia duduk di kursinya dengan perasaan gusar.
"Aku tidak boleh lengah lagi," gumamnya pelan.
Olivia keluar dari lift dengan tubuh sedikit menggigil. Pertemuannya dengan Eric barusan menguras emosi dan keberaniannya.
Jika benar kalau sepupunya itu yang membunuh ayahnya, maka ia harus bersiap menghadapi konsekuensi karena sudah berani memantik api peperangan pada Eric.
Alasan Olivia memberanikan diri menemui Eric adalah untuk menguji dirinya sendiri. Dan ia masih merasakan ketakutan yang sama seperti lima belas tahun yang lalu.
Olivia menarik nafasnya dalam, menenangkan dirinya sambil berjalan menemui Ben yang sedang duduk menunggunya. Pria itu tampak serius memperhatikan ponselnya. Namun ia langsung mengangkat wajahnya ketika merasakan kehadiran Olivia yang menghampirinya.
Ben bisa melihat jika wanita itu sedikit terguncang dibalik penampilannya yang meyakinkan. Ia pun melangkah menghampiri Olivia.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
"Y-ya ... kita langsung pulang ke apartemenku."
Olivia menyahut dengan cepat menutupi kegugupannya. Ben tidak banyak berkomentar, ia mengiringi langkah Olivia yang terburu-buru.
Namun, tiba-tiba langkah wanita itu terhenti, ketika melihat seorang pria berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan sedikit terkejut. Dengan cepat Olivia meraih tangan Ben dan mencengkeramnya kuat.
"Livie ... kejutan yang sangat menyenangkan! Sudah lama kita tidak bertemu," sapa pria itu ramah.
Bukan hanya Olivia yang merasakan ketegangan karena keberadaan pria tersebut. Ben juga merasakan waktu seperti berhenti sejenak. Sekelebat bayangan masa lalu muncul di matanya.
Raditya Malik menatap Olivia dengan senyum lebar, lalu tatapannya beralih pada Ben. Ia menatap Ben sekilas seperti kotoran yang tak berarti.
"Sepertinya kau membawa anjíng penjaga, Livie .... "