“Ku takut bertambah parah … bila ku bercinta lagi …sakitnya … sakitnya sakitnya hatiku
hoooo …. belum kering luka hati ini …. " Stephen mengeringkan rambutnya yang basah dan melemparkan handuk berwarna putih itu ke kursi di kamarnya. "Tenda bi–"
Stephen menatap kesal ponselnya yang tiba-tiba berdering dan berhenti menyanyikan lagu favoritnya yang dinyanyikan Neneng Anjarwati tersebut.
“Halo!”
"Bang Tepen! Datang kau dulu ke sini, Bang. Kakak ini mau jumpa katanya sama Abang!"
Stephen menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan orang di sebrang ponselnya.
"Kalau ngomong itu nggak usah ngegas, Cok. Santai ... gue nggak ngerti maksud lu apaan."
"Orang yang ngontrak rumah, Abang, tiba-tiba pindah terus dikasih sama kakak ini, Bang. Dan Kakak ini udah kasih panjar pula sama yang pengontrak lama. Udah kubilang sama kakak ini, Bang Tepen, nggak ada peraturan di perjanjian kontrak kayak gitu. Gak terima pula kakak ini, Bang."
Stephen memijat keningnya mendengar suara Ucok yang cepat dan menggelegar.
"Kerjaan gue banyak, Ucok. Elu udah gue tugasin ngurus semua rumah kontrakan. Hal sepele gini, masa gue harus turun kaki?"
"Bang ... cewek ini lain sikit, Bang. Susah kali urusannya. Udah aku suruh pergi, kukembalikan panjar sewa yang dia kasih sama pengontrak lama, tapi nggak mau dia. Pokoknya dia harus jumpa katanya sama, Abang!"
Stephen bisa mendengar suara frustasi si Ucok top markotop.
"Kalau gue nggak mau?"
"Kata kakak ini, dia akan bikin pengumuman di kawasan sini kalau dia ini istri Abang yang udah lama Abang terlantarkan. Kayaknya kakak ini nekat orangnya, Bang."
"Bodat!" umpat Stephen kesal.
"Aku Abang bilang bodat?! Abang lah yang bodat!" balas Ucok marah dari seberang ponsel.
"Bukan elu, Ucok!"
"Jadi Abang bilang kakak ini yang bodat? Ngeri kali kau Bang! Tega kali Abang bilang monyet sama perempuan."
"Diam lu! Hari ini gue nggak bisa, besok deh gue ke sana."
"Jadi kek mana ini, Bang? Aku biarkan aja kakak ini tinggal di sini?"
“Iya, biarin aja. Besok gue ke sana.”
“Oke, Bang!”
Stephen mengambil kaos dari lemarinya dan memakainya. Sekarang pria itu tinggal di belakang restoran miliknya yang berada di lantai dua. Selain restoran, Cafe dan Coffee shop, Stephen juga membuka usaha rumah kontrakan, mulai dari yang eksklusif hingga yang murah.
Ia berjalan ke dapur restorannya untuk memasak karena hari ini ia memiliki janji dengan seeorang wanita yang ia kenal minggu lalu di Club malam sewaktu Jack menyuruh menyelidiki sebuah kasus dan Stephen ingin memasak langsung makan siangnya dengan wanita cantik itu.
Anak buah Stephen menatap heran bos yang sedang memasak siang itu sambil mendengarkan lagu dangdut favoritnya melalui mini speaker yang selalu dibawa Stephen sejak dulu.
"Bos jatuh cinta nih kayaknya. Katanya dia masak untuk orang spesial siang ini," celetuk Flo salah satu koki di restoran Stephen kepada rekannya Badung.
"Tau dari mana lu?"
"Laki-laki kalau mau memasak siang begini pasti untuk orang spesial. Dan pasti wanita. Kagak mungkin si bos masak untuk kita para butiran debu ini, Dung," ucap wanita bertato yang pintar memasak masakan jepang tersebut.
Orang dapur yang mendengar bisik-bisik Flo dan Badung mengangguk setuju.
"Kasian mbak Erfin," sahut salah satu dari mereka dengan suara pelan dan simpati.
Flo mengangguk setuju. "Si bos menganggap mbak Erfina hanya sebagai adik kayaknya. Walaupun bos memperlakukan dia spesial diantara kita semua, tapi si bos nggak ada tuh nunjukkin perasaan untuk mbak Erfin."
"Padahal mbak Erfina itu ibarat bengkoang yang baru dikupas ya? Bersih, putih dan segar. Sayang beribu sayang, bang Tip kagak mau menikmatinya," sahut Badung sambil menghela nafasnya sambil menatap punggung Stephen yang bergoyang mengikuti irama lagu dangdut.
"Perumpamaannya elu nggak ada selain buah bengkoang apa?" Flo mendelik jengkel pada Badung yang disambut tawa oleh rekan-rekan mereka.
"Wahhh ... rame nih. Ada apa?" tanya Erfina yang baru masuk ke dapur dan melihat Stephen yang sedang masak dengan sedikit terkejut. “Dia masak?” bisik Erfina pada rekan kerjanya.
Mereka mengangguk tak tega menatap Erfina yang heran melihat mereka. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu menghampiri Stephen ingin menyampaikan perihal kerja pada bosnya itu.
"Mas Stephen … jangan lupa siang ini bertemu sama orang majalah yang ingin meliput restoran kita," beritahu Erfina yang sekarang menjadi manajer di restoran miliknya. Gadis yang dulu pernah ia tolong ketika perempuan itu akan dijual dan mereka kembali bertemu di rumah sakit ketika ia bekerja di gerai kopi rumah sakit tersebut.
Gadis cantik dan lembut itu awalnya direkrut Stephen sebagai Barista di coffee shop miliknya sampai akhirnya Stephen mempercayakan gadis itu sebagai manajer untuk restoran miliknya, sedangkan untuk mengawasi secara keseluruhan usahanya, Stephen yang sendiri turun tangan.
“Elu aja ya, Fin, yang ngurus mereka, sekalian sama Youtuber yang mau liput restoran kita besok. Gue ada urusan penting hari ini dan besok."
"Tapi mereka mau bertemu langsung dengan Mas Stephen." Erfina menatapnya kecewa.
"Elu urus aja deh, Fin. Gue serahin ke elu. Kan elu jago urus yang begituan." Stephen tersenyum lebar padanya.
"Iya, Mas." Mau tidak mau Erfina harus menuruti Stephen yang jadwalnya memang tidak pernah jelas. Bisa dikatakan, tanpa Erfina, semua usahanya mungkin tidak akan berjalan karena ia tidak punya banyak waktu mengurus usaha-usahanya.
"By the way … Revan kirim salam sama elu, Fin. Gimana? Salam balik nggak?" Stephen tersenyum jahil pada gadis bermata indah itu. Revan adalah Manajer di coffee shop miliknya. Tetapi Erfina malah membalikkan badannya dengan wajah cemberut sambil berjalan keluar.
"Peka dong, Bang Tip! Peka!" teriak Badung yang kebetulan lewat membawa lobster raksasa dan mengarahkan capit lobster tersebut ke arah Stephen.
"Apaan sih lu, Dung?!" bentak Stephen terkejut kepada kokinya itu.
"Au ah … Gelap! Kasian bener deh mbak Erfina," gerutu pemuda itu sambil berjalan meninggalkan Stephen yang menatapnya jengkel.
“Fin!” panggil Stephen pada Erfina yang hendak keluar dan wanita iut berbalik menatapnya. “Tolong lu siapin ya satu ruangan untuk gue dan tamu gue siang ini.”
“Oke, Mas,” sahut singkat.
Flo, Badung dan karyawan lain menatap Erfina dengan penuh simpati. Sedangkan gadis itu tersenyum menatap mereka dan berbalik keluar dari dapur menyiapkan ruangan sesuai permintaan Stephen.
"Kayaknya teman spesial nih, Bang. Cewek ya, Bang Tip?" celetuk Badung.
"Yoiiii ... cewek cantik." Stephen menatap mereka semua sambil tersenyum bahagia. Dan Erfina masih sempat mendengar ucapan Stephen.
Prang!!!
Badung tiba-tiba memukul kuali sangat kuat menggunakan sendok, membuat semua orang di dapur restoran tersebut terkejut termasuk Stephen.
"Sialan lu, Dung! Bikin kaget aja lu!" bentak Stephen.
"Peka dong! Pekaaaa!!" teriak Badung sambil mengambil parang pemotong daging dan berjalan ke lemari es tempat penyimpanan daging.
Stephen melotot jengkel dan melanjutkan masakannya.
Siangh itu semua karyawan Stephen diam-diam memperhatikan seorang wanita memasuki restoran dari balik kaca dapur yang bisa melihat langsung keluar. Baru kali ini bos mereka mengundang seorang wanita secara pribadi ke dalam restorannya.
Wanita itu terlihat cantik dan seksi dalam balutan dress ketat melewati lutut berwarna nude. Tubuhnya tampak sempurna dalam balutan dress tersebut. Pinggul besar wanita itu disangga perut yang sangat langsing bak gitar Spanyol. Juga p******a yang kencang membuat mata siapa pun sulit mengalihkan pandangan dari wanita itu.
Flo menatap dadanya yang kecil dibungkus kaos hitam longgar bertuliskan Geek. Flo menggeleng pasrah menerima dirinya apa adanya.
"Ternyata beneran ada ya mata secantik rusa. Bodynya juga aduhai ..., " celetuk Flo melihat wanita yang disambut gembira oleh Stephen dengan senyuman sumringah.
Rekan Flo di dapur yang bernama Dodit mengangguk setuju.
"Yoi ... Body-nya kayak gitar Spanyol yang baru dicat pakai pilok Samurai vernis clear. Berkilau dan indah." Wajah m***m Dodit langsung tampak bahagia.
Flo dan rekan-rekannya memandang Dodit dengan tatapan bingung.
"Samurai vernis clear itu apaan?" tanya Flo penasaran.
"Buka aja Google," jawab Dodit sambil memandangi b****g tamu Stephen yang seksi saat berjalan bersama bos mereka menuju ruangan khusus yang telah di siapkan Erfina.
"Ini mah jelas kalah lah si Erfina. Ini cewek bodynya full di bagian yang tepat. Jiwa XXX ku meronta-ronta lihat model beginian, Flo. Apa lagi si bos ya," gumam Dodit sambil mengusap dadanya.
"Setau gue, bang Tip nggak sangean deh kayak elu, Dit," balas Flo jengkel melihat ekspresi Dodit.
"Dibelakang kita emang elu tau gimana si bos?" Dodit melirik Flo meremehkan.
Flo mengangguk-angguk. "Iya juga sih. Eh, itu mbak Erfina dipanggil bang Tip!"
Mereka memperhatikan Erfina yang diinstruksi oleh Stephen, ditemani si perempuan seksi yang berdiri di samping pria itu.
"Kalau gue jadi Erfina gue cari jalan terbaik deh." Dodit tiba-tiba merasa iba melihat Erfina yang jauh berbeda dengan tamu Stephen yang seksi berbanding jauh, lurus dan terbalik dengan tubuh Erfina yang tampak biasa saja dan tidak menarik di balik seragam kerjanya yang kaku tersebut.
"Apa jalan terbaiknya?" tanya Flo.
"Lupain si bos dan cari laki-laki lain," sahut Dodit.
"Mbak Erfina nggak pernah kok secara gamblang bilang dia naksir bang Tip. Ini kan terkaannya kita aja," ucap Flo.
"Dan terkaan kita tepat loh, Flo. Mungkin ini caranya si bos kasih tau Erfina kalau dia nggak tertarik sama Erfina. Karena kami, laki-laki, menjaga perasaan wanita, Flo. Nolaknya secara halus," ucap Dodit sok bijak.
"Woiiii ... !! Elu berdua kalau terus ngegosip di situ, muka kalian yang gue vernis pakai pilok Samurai!" teriak Badung.
"Nyantai dong, Dung ... emosi bener sih lu," ujar Flo terkikik geli.
"Gua mah curiga sama gondrong bàngsat ini, Flo... kayaknya dia naksir sama Erfina deh." Dodit menatapnya curiga.
"Tunggu ya, Dit! Gue pesan itu cat vernis dari online shop, habis itu gue semprot ke mulut elu yang suka gosip." Badung menatapnya murka.
"Ngaku aja deh lu, Dung ... nggak usah ngeles!" Dodit semakin memancing kemarahan Badung.
Badung melotot marah pada Dodit yang tertawa melihat ekspresi wajah Badung.
Stephen menikmati makan siangnya sambil berbincang santai dengan wanita yang memiliki tubuh seperti Sophia Loren tersebut.
“Jadi kau belum memutuskan untuk berpisah dari Raditya Malik?” pancing Stephen dengan wajah yang menunjukkan kalau ia jatuh cinta setengah mati pada wanita tersebut.
“Tidak mudah lepas dari Raditya. Lagi pula, apa kau benar-benar serius menjalin hubungan denganku? Aku ini seorang wanita simpanan, Stephen.” Wanita itu menatap Stephen mencari kesungguhan di wajah pria berusia tiga puluh tahun tersebut.
“Aubry … aku tidak pernah menilai latar belakang seseorang. Aku juga pendosa sama sepertimu.” Stephen tersenyum sambil mengunyah makanannya. “Tapi, kali ini aku ingin memulai hidup baru bersamamu jika kau bersedia menghabiskan sisa umurmu bersamaku. Aku pasti laki-laki paling beruntung di abad ini.” Stephen meraih tangan Aubry dan meremasnya lembut.
Jack yang mendengar percakapan Stephen dan Aubry melalui earphonenya tidak bisa menahan dengusannya. Ia juga sekarang berada di restoran Stephen di ruangan lain menunggu kedatangan Ben yang meminta bertemu dengannya siang ini.
Pintu ruangan VIP tempat Jack menunggu Ben terbuka dan pria tinggi besar itu masuk sambil membawa tas kertas di tangannya.
“Olivia tahu kalau kita bukan sepupu,” ucap Ben tanpa basa basi begitu ia duduk di hadapan Jack dan meletak tas kertas tersebut di atas meja.
Jack melepaskan earphone di telinganya dan mematikannya. Ia terkekeh menatap Ben yang memandangnya datar.
“Aku kan sudah bilang kalau kau akan menjaga wanita cantik dan cerdas.”
Ben mendengus.
‘Apa lagi yang dikatakannya?”
“Hanya itu. Ia mengatakan hal itu saat kami sudah tiba di kantor ayahnya. Setelah itu dia tidak mengatakan apa pun lagi. Olivia membuatku menebak-nebak seperti orang bodoh.”
Jack tertawa menikmati kekesalan Ben.
“Tapi bisa saja itu cara Olivia memancingmu, Ben. Itu adalah trik untuk mencari tahu kebenaran mengenai informasi kehidupan pribadi seseorang. Membuat terkaan untuk melihat reaksimu atau pun mendengar pembelaan dirimu. Dan bagaimana kau menanggapi pancingannya?”
“Aku diam tak menanggapi.”
Jack mengangguk. “Kebersamaan kalian belum sampai 48 jam. Aku yakin Olivia tidak mengetahui rahasimu ataupun mencurigaimu.”
“Dia menyimpan sebuah rahasia, Jack. Wanita ini tidak semudah yang kau pikirkan.”
“Rahasia?” Jack mengerutkan keningnya.
“Olivia berbicara secara acak. Memancingku, memberiku clue untuk melihat responku. Sejujurnya aku penasaran setengah mati saat dia mengatakan ada sesuatu yang diincar oleh paman atau pun sepupunya dari Jonan Soemitro. Dan kata Olivia, ayahnya tidak tahu kalau dia mengetahui rahasia Jonan tersebut.”
“Jonan?” Jack diam sejenak sambil meneguk kopinya.
“Sebenarnya ada apa Jack? Jangan membuatku seperti orang bodoh jika kau memang sudah melibatkan aku dan semua Iblis dalam misimu.” Ben menatapnya tajam.
“Apa lagi yang dikatakan Olivia?”
“Pukul dua nanti, aku akan mengantarnya menemui Eric Soemitro. Sepupu yang katanya tidak pernah bertegur sapa dengannya.”
Jack tampak gusar.
“Aku harap Olivia tidak bertindak gegabah.”
“Maksudmu? Jangan memberitahuku hal koyol kalau Olivia adalah agen rahasia atau sejenisnya.”
“Tidak. Olivia bukan agen rahasia. Hanya saja, naluri bisa membuat kita bertindak diluar kemauan kita.”
Ben membuka tas kertas yang ia bawa dan meletakkan plastik berisi potongan pakaian dalam Olivia juga menyerahkan poselnya pada Jack yang berisi foto yang ia ambil di kamar wanita itu tadi pagi.
“Olivia memintaku merahasiakan ini darimu, tapi tidak mungkin hal ini aku sembunyikan darimu.”
‘Apa ini?” Jack memperhatikan potongan pakaian dalam tersebut dan foto-foto di ponsel Ben.
“Alasan Olivia meminta pengawal karena ada yang menguntitnya. Katanya tidak ada hubungannya dengan kematian Jonan.”
“Aku tidak mengerti.” Jack menatap Ben penasaran. Lalu Ben pun menceritakan profesi model yang diam-diam Olivia jalani dulu dan cerita Ben tersebut membuatnya sedikit terkejut.
“Tapi … kalau mendengar dari cerita yang tadi Olivia katakan mengenai rahasia ayahnya, aku yakin, ia menyadari bukan hanya bahaya dari si penguntit ini yang mengikutinya,” ucap Ben pada Jack yang tampak berpikir mencerna semua informasi darinya.
“Sebenarnya apa yang kau cari Jack Bameswara? Dan apa hubungan Olivia Soemitro dan keluarganya dalam pencarianmu?”
Jack menatap Ben lekat.
Di sini lah sekarang Ben menunggu Olivia di ruang tunggu gedung perkantoran milik Eric Soemitro. Cerita Jack di restoran tadi membuatnya terkejut dan ternyata ia masuk ke dalam sebuah masalah yang mengerikan. Ia bahkan berusaha menguasai dirinya agar tidak sering melirik Olivia yang juga diam sepenjang perjalanan menuju kantor Eric.
Olivia menatap sepupunya dengan tenang saat Eric memandangnya dengan rasa tak sabar menanti jawaban tujuan kedatangan dirinya menemui pria itu.