Ben menyetir dengan pandangan fokus ke depan. Saat ini Olivia duduk di sampingnya sambil memilih lagu dari ponselnya yang tersambung ke audio mobil. Wanita itu memilih duduk di depan bersamanya dan Ben diam tak berkomentar. Lagi pula ia tak berhak mengatur dimana Olivia akan duduk bukan?
Lagu She’s Grazy milik JT Coldfire mengalun diantarta keduanya mengisi senyap karena meraka belum bersuara. Petikan gitar dari musik Blues tersebut membuat Ben mau tidak mau melirik sekilas bosnya yang tampak sangat menikmati lagu pilihannya, terlihat dari ketukan jari Olivia di atas pahanya yang ramping yang dibalut celana berwarna hitam. Ben bisa menebak jika Olivia penyuka lagu jenis Blues, melihat pilihan lagunya sejak ia menjemputnya dari Bandara.
Setelah kejadian ciuman mereka tadi malam, Ben bersumpah hal itu tidak akan terjadi lagi. Ia tidak akan mau minum bersama wanita yang tampak tenang di sampingnya itu. Melupakan dan menganggap tidak terjadi apa-apa adalah cara paling bijaksana. Sekarang Ben harus fokus terhadap ancaman yang mulai menghampiri Olivia dan juga mencari pembunuh istrinya. Ben harus kembali mengingat apa tujuan utamanya menerima pekerjaan ini.
Sekarang mereka menuju kantor ayah Olivia sesuai dengan intruksi wanita itu. Sejujurnya Olivia sedikit gemetar menginjakkan kakinya di perusahaan ayahnya tersebut. Ia belum pernah mengemban sebuah tanggung jawab besar. Setelah lulus kuliah ia tetap bertahan tinggal di luar bekerja di sana sembari menjalani profesinya sebagai seorang model. Jonan juga belum pernah meminta Olivia untuk bergabung di perusahaannya dan putrinya menyimpulkan jika ayahnya sepertinya tidak ingin putrinya terlibat dalam bisnisnya. Terlebih setelah Olivia mengetahui sebuah rahasia ayahnya yang ia simpan rapat hingga sekarang. Bahkan ia yakin kalau Jonan pun tidak tahu kalau Olivia mengetahui rahasia tersebut.
Olivia memperhatikan Ben dengan saksama setelah melihat jambang Ben yang tampak lebih rapi. Aroma after shave pria itu menusuk hidung Olivia membuat tubuhnya sedikit menggeleyar efek dari aroma tersebut.
“Kau terlihat tampan dan segar setelah merapikan jambangmu itu.” Olivia berkata terus terang mencoba kembali bermain api dengan ucapannya yang tersirat. Ia juga tidak mengerti mengapa bersama Ben sikapnya berubah. Mudah gugup, resah dan perhatian pada pria itu. Padahal sebelumnya ia tidak peduli pada laki-laki di sekitarnya, bahkan terhadap kekasih-kekasihnya terdahulu.
“Tadi malam Anda meminta saya untuk merapikannya,” sahut Ben singkat.
Olivia sedikit tersanjung karena Ben mengikuti perkataan yang sebenarnya ia jua sudah lupa kalau tidak diingatkan pria itu barusan. Namun ia langsung tersadar, supaya jangan mudah terpengaruh oleh ucapan Ben barusan, karena bisa saja pria itu mengikuti perkataannya karena ia bosnya.
“Kalau aku memintamu memotong rambutmu?” pancing Olivia penasaran.
Ben kembali menatapnya sekilas. “Saya tidak akan memotong rambut saya, Nona.”
Tentu saja ia menolak hal itu.Penyamaran Ben akan terbongkar kalau ia kembali seperti dirinya yang dulu. “Kata Jack, Anda tidak mengharuskan pengawal pribadi Anda memiliki penampilan dengan kriteria tertentu. Apa sekarang Anda berubah pikiran dan Anda ingin mengubah penampilan saya?” Ben menatap mata Olivia sedikit lebih lama sambil mengemudikan modil dengan terampil.
Wanita seketika resah karena ditatap oleh Ben. Belum lagi jarak mereka yang sangat dekat membuat kegelisahan Olivia semakin meningkat. Olivia memperhatikan lengan Ben yang tampak kuat dan berotot sedang mengemudiakan mobil. Rambut Ben masih tampak sedikit lembab dan dibiarkan tergerai dengan aroma mint yang membuat tangan wanita sangat ingin menyentuh rambut ikal Ben.
Salahkan hormonnya yang tidak tahu malu dan tak terkendali sejak bertemu dengan pria itu. Bahkan ia sengaja memilih duduk di depan supaya bisa dekat dengan pengawal pribadinya tersebut. Olivia berdoa semoga euforia yang ia rasakan terhadap pria ini hanya rasa sesaat. Ia yakin beberapa hari ke depan ia tidak akan terpengaruh lagi dengan kehadiran Ben di sekitarnya.
“Aku tidak keberatan dengan penampilanmu. Justru kalau kau memakai setelan jas seperti Bodyguard di film-film itu malah akan membuatku tidak nyaman.” Olivia mencoba bersikap tenang seperti seorang Lady abad pertengahan yang harus bisa menguasai diri.
Ben mengangguk singkat.
“Ngomong-ngomong hubunganmu dengan Jack sepertinya baik ya? Kalian pasti sepupu yang sangat akrab.”
Ben sangat ingin mendengus dan tertawa mengingat hubungan sepupu palsu antara dirinya dan Jack.
“Jack sepupu yang lumayan pengertian,” jawab Ben sekenanya.
“Jadi kau tinggal di mana selama ini, Ben?”
Ben menyadari jika Olivia ingin membangun komunikasi akrab diantara mereka berdua. Ia sendiri tidak ingin akrab dengan bosnya itu. Yang ia perlukan adalah hubungan profesional, tidak lebih. Tapi Ben menyadari jika Olivia akan berusaha mendapatkan apa yang ia mau. Dan wanita itu mau supaya mereka lebih akrab. Ben akan membangun tembok pemisah yang kokoh diantara mereka.
“Di suatu tempat.” Kembali Ben menjawab singkat dan seadanya.
Olivia tahu jika laki-laki dingin di sampingnya tersebut tidak suka jika ia bertanya tentang kehidupan pribadi pria itu. Tapi ia tidak akan peduli, Olivia akan mencari tahu sebanyak mungkin mengenai pria ini. Karena ia memiliki rencana untuk mereka berdua.
“Kau sudah lama bekerja sebagai pengawal?”
“Lumayan.”
“Apa ada sekolah khusus untuk pekerjaan seperti itu?” Olivia berusaha terus mencari topik supaya mereka tidak saling diam.
“Ya.”
“Boleh aku bertanya dengan jujur, Ben?” Pria itu langsung melirik Olivia. “Apa kau tidak suka bekerja padaku? Karena kulihat sepertinya kau kurang tertarik berbincang denganku dan mengabaikan pertanyaan penting yang aku ajukan.” Wajah wanita itu tampak tersinggung karena sikap pengawalnya yang acuh.
Baiklah. Walaupun Ben menghabiskan waktu selama dua belas tahun di dalam penjara dengan hidup selibat dan tidak memiliki hubungan asmara, tapi ia tidak lupa, wanita dengan drama yang mereka ciptakan. Dan saat ini Olivia mulai memainkan trik kuno tersebut.
“Maaf kalau saya terkesan tidak sopan, Nona. Saya tidak bermaksud mengabaikan atau pun bersikap buruk pada Anda. Hanya saja, pekerjaan saya adalah untuk menjaga Anda, Nona. Bukan berbincang.” Ben berdoa dalam hati semoga ucapannya barusan tidak menjadi boomerang baginya.
Olivia mendesah bosan dan menyibak rambutnya ke belakang. Ia melipat tangannya di dàda sehingga membuat payudaranya sedikit naik dibalik blouse sutra lembut yang membungkus tubuhnya. Ben langsung waspada melihat reaksi bosnya yang sepertinya masih akan melanjutkan pendapatnya mengenai Ben atau pun menyampaikan rasa tidak puas hati bosnya terhadap dirinya.
“Hari ini aku berencana akan menemui sepupuku.”
Puji Tuhan! Teriak Ben dalam hati. Akhirnya Olivia tidak lagi membahas tentang sikapnya yang menyinggung perasaan wanita itu.
Olivia berhenti sejenak sambil memperhatikan jari-jari tangan dan kukunya yang terawat. Ben melirik wanita cantik yang sebenarnya masih sulit ia tebak.
“Namanya Eric. Aku dan Eric tidak pernah bertegur sapa. Menurutmu apa tidak aneh kalau aku tiba-tiba menemuinya?” Olivia menatap Ben meminta pendapatnya.
Saat Olivia menyebut nama Eric, pria itu langsung melihat kesempatannya untuk mendekati Raditya Malik mulai terbuka. Benar ucapan Jack, bahwa wanita ini adalah jalan untuknya mencari tahu pembunuh istrinya.
“Saya rasa tidak ada yang salah jika ingin menyapa keluarga sendiri, Nona.”
“Begitu ya.” Olivia kembali tampak merenung.
Ben mengerti satu hal jika hubungan Olivia da Eric tidak harmonis.
“Ben … tadi malam aku menelepon Jack untuk bertanya mengenai dirimu, katanya kau mengerti bisnis dan kau lulusan mahasiswa terbaik untuk jurusan bisnis.”
Ben menunggu arah pembicaraan wanita ini, karena Olivia mengubah topik secara acak. Dan ia pesaran kenapa Jack memberitahu hal tersebut pada Olivia.
“Eric adalah anak laki-laki, kakak kandung ayahku. Hubungan ayahku dan kakak laki-lakinya itu tidak baik, sehingga membuat hubunganku dan Eric tidak akrab.”
Ben masih diam menunggu sambil mengemudikan mobil.
“Ayahku selalu menganggap kakaknya adalah saingannya, begitu juga sebaliknya. Pamanku meninggal tiga tahun yang lalu, dan perusahaannya sekarang diambil alih oleh putranya, yaitu Eric. Dan sejak Eric yang memimpin perusahaan ayahnya, perusahaan itu semakin maju, dan mengalahkan ayahku, hal itu membuat hubungannya dengan keponakannya itu semakin buruk.”
Olivia meremas tangannya sejenak dan kembali melanjutkan, “Apakah Jack sudah mengatakan kepadamu kalau aku mencurigai Eric sebagai dalang dibalik kematian ayahku?” Olivia menatapnya lekat.
“Sudah, Nona.“
Ben menunggu dengan tegang. Walaupun sebenarnya ia tahu bahwa masalah keluarga wanita ini tidak ada hubungannya dengannya, tetapi pada akhirnya ia juga penasaran.
“Ayahku memiliki sesuatu yang diincar oleh pamanku selama ini, dan aku yakin dia belum mendapatkan hal itu sampai saat kematiannya. Aku tidak tahu apakah Eric mengetahui hal tersebut dan menginginkannya. Tapi jika Eric juga mengejar hal tersebut, maka kecurigaanku padanya sangat beralasan.”
Bagi Ben, semua ucapan Olivia barusan bagai benang kusut yang membuat penasaran untuk menemukan ujung benang. Ia mempertimbangkan apakah dirinya pantas menayakan apa yang diincar oleh paman dan sepupu, Olivia.
“Ben–“
“Nona–“
“Anda duluan …. “
“Tadi malam aku berkata kalau aku membutuhkan pengawal tidak ada hubungannya dengan kematian ayahku bukan?”
Ben mengangguk.
Olivia menatapnya lekat dan berkata, “Ben, hingga saat ini tidak ada satu orang pun yang bisa kupercaya, dan melihat situasiku sekarang, aku menyadari kalau aku memerlukan seseorang yang bisa kupercayai.”
“Maksud Anda?”
Olivia menimbang dengan gamang apakah ia sudah mengambil keputusan yang tepat mengenai pria yang baru saja ia kenal ini. Ia hanya berharap semoga keputusannya ini bukan sebuah keputusan impulsif. Namun … bukankah selama ini ia selalu bertindak dengan hati-hati dan penuh perhitungan, tetapi tetap saja hal buruk menimpa dirinya?
Sekali lagi ia menatap pria itu lekat. “Aku tahu kalau kau bukan sepupu Jack Bameswara.” Ben menatap Olivia terkejut. Wanita itu menatapnya tajam.
Keheningan mencekam diantara keduanya. Ben menunggu apakah ia akan dipecat oleh wanita itu. Olivia melihat gedung perkantoran ayahnya yang sudah dekat dan ia menggantung ucapannya, membiarkan Ben dalam rasa penasaran.