Eric menatap hole dengan seksama sebelum memukul bola golf dengan hati-hati. Dan dengan ketepatan yang tajam, bola kecil tersebut bergulir dan masuk ke dalam lubang. Pria itu tersenyum kecil. Ia selalu bisa menembak sasaran yang ia inginkan. Eric Soemitro adalah pria tampan, praktis dan ambisius. Di usianya yang telah menginjak tiga puluh lima tahun, ia masih hidup sendiri. Ia adalah sosok yang misterius. Senyum ramah yang selalu ia berikan kepada orang-orang adalah kamuflase yang sulit orang tebak. Tubuhnya yang tinggi dan berotot sering mengintimidasi orang di sekitarnya, tetapi senyum malaikat atau –Iblis mungkin–mampu menutupi kekejaman yang terpancar dari dirinya.
Ia bukanlah pria yang religius walau hidup dalam keluarga religius yang taat pada agama, adat istiadat dan tata krama yang membuatnya muak. Hubungan ayahnya, Patrick Soemitro dan pamannya Jonan Soemitro tidak pernah harmonis. Persaingan kental diantara kedua kakak-beradik itu sering menimbulkan perang dingin. Kakeknya mewariskan pendidikan dan ambisi pada ayahnya dan pamannya sehingga membuat Soemitro bersaudara itu hidup dalam pertandingan. Memiliki istri cantik yang bisa dibawa ke dalam setiap acara seperti piala yang dipamerkan, memiliki anak laki-laki sebagai penerus nama keluarga membuat pencapaian kedua Soemitro bersaudara tersebut semakin lengkap. Namun, malang bagi Jonan yang hanya memiliki anak perempuan, membuatnya seperti pencundang dan kalah dari kakak laki-lakinya.
Seingat Eric, pamannya tersebut tidak pernah bersikap ramah padanya. Pertemuan terakhir mereka dalam keluarga ketika kematian kakeknya yang biasa ia dan sepupunya panggil dengan sebutan Eyang. Hubungan Eric dan sepupunya Olivia juga tidak dekat atau bisa dikatakan mereka tidak pernah berinteraksi. Menurutnya, sepupu perempuannya yang cantik itu adalah gadis paling kaku yang pernah ia jumpai. Ibunya pernah bercerita kalau Jonan sangat keras pada putrinya. Dan Jonan memang terkenal keras kepala juga keras hati. Hal itu terbukti bagaimana pria itu tidak hadir dalam upacara pemakaman ayahnya, Patrick Soemitro, kakak kandung Jonan sendiri tiga tahun lalu.
Dalam usia tiga puluh dua tahun, mau tidak mau, siap tidak siap, Eric harus memimpin perusahaan ayahnya. Perusahaan Patrick adalah perusahaan di bidang otomotif dan berkembang ke bidang properti yang mereka kerjakan di negara-negara Asia. Eric ingat, setiap ia bertemu dengan Jonan dalam pertemuan bisnis, Jonan mengabaikan keberadaannya. Bersikap dingin padanya dan menganggapnya musuh. Nama mereka sama-sama Soemitro dan mempunya hubungan darah, tetapi kenyataannya mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal.
Eric sering ingin memulai pembicaran dengan pamannya tetapi Jonan langsung membangun tembok tinggi, yang Eric yakini bahkan Iblis pun tak mampu merobohkan pertahanan Jonan darinya.
Ketukan pintu di ruang kantornya membunyarkan konsentrasinya yang sedang menikmati permainan bola golf yang ia buat di dalam ruangannya jika sedang bosan.
“Masuk!” perintahnya kepada sekretarisnya.
“Maaf, Pak Eric, karena mengganggu Anda. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak.” Sekretarisnya dalam balutan busana kolot dan kaca mata frame tebal itu menatapnya serius.
Eric sering heran melihat Karina Kartadibrata yang pintar dan lulusan Columbia University tersebut memiliki selera fashion yang menyedihkan. Wanita itu memilki postur tubuh yang tinggi dan dibalut dengan Blazer yang kebesaran menyembutikan apa pun dibalik pakaian membosankan tersebut. Eric ingat bahwa blazer Karina hanya ada tiga warna, yaitu hitam, abu-abu dan cokelat. Roknya selalu melewati lutur dengan warna senada seperti blazernya dan Eric yakin, bahkan Yati, pembantu di rumah ibunya yang fashionable tidak akan sudi memakai semua pakaian Karina. Tapi Eric harus akui jika wanita kuno, kaku dan dingin di hadapannya sekarang memiliki otak encer. Karina menguasai lima bahasa asing yaitu Jepang, Rusia, Jerman, Prancis, dan Spayol, sehingga membuat Eric sangat mudah berurusan dengan kolega-kolega bisnisnya yang memang kebayakan dari Eropa.
“Siapa?” Eric kembali memperhatikan bola golfnya dan mengabaikan Karina yang berdiri seperti lalat yang mengganggu di atas meja makan.
“Namanya Olivia Soemitro. Katanya, dia sepupu Anda, Pak.”
Eric langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap mata Karina yang tertutupi kaca mata tebal. Pupil mata wanita itu hitam pekat dan besar. Ekspresi Karina tetap setenang laut mati dan membalas tatapan bosnya yang mengintimidasi.
“Olivia Soemitro?” ulang Eric seperti orang bodoh.
Tentu saja jika benar sepupunya mengunjunginya, ini adalah peristiwa sejarah yang perlu ia catat dengan tinta emas. Eric dan Olivia tidak pernah saling bertegur sapa sekali pun.
“Benar, Pak. Olivia Soemitro. Sepupu Anda.” Karina menatapnya seperti guru SD yang memandang murid lamban yang perlu menjelaskan mata pelajaran secara berulang-ulang. Dan hal itu membuat Eric jengkel setengah mati.
“Suruh dia masuk,” perintah Eric.
“Baik, Pak.” Karina meninggalkan ruangannya dengan aroma mawar dengan campuran yang Eric tak mengerti yang sering membuatnya bergàirah seketika, dan membayangkan jika ia menelanjangi Karina si kuno di atas mejanya.
“Siàlan!” desisnya marah pada dirinya sendiri. Hanya karena parfum sialan si sekretaris kunonya ia berkhayal seperti pemuda kutu buku ketika melihat foto Pamela Anderson!
Suara ketukan kembali terdengar dan ia yakin bahwa sepupunya sudah berdiri dibalik pintu tersebut.
“Masuk!” Eric kembali memberi perintah.
Seperti pembuka film horor yang menegangkan, begitulah perasaan Eric ketika melihat sepupunya yang cantik dan spektakuler melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Stiletto Salvatore Ferragamo berwarna hitam yang seksi membungkus kaki jenjang Olivia. Blouse sutra berwarna putih dari Versace dengan monokrom warna emas jatuh dengan lembut di tubuh Olivia.Celana hitam Givenchy membalut kaki langsingnya yang indah. Dan wanita itu menyatukan dua negara yaitu Italia dan Prancis dalam tubuhnya.
Tiba-tiba Eric membayangkan kalau Karina dalam balutan busana seperti sepupunya tersebut, dan ia penasaran apakah si wanita kuno tersebut akan secantik sepupunya ini?
Siàl! umpatnya dalam hati karena sempat-sempatnya mengingat Karina yang selalu bersikap dingin padanya.
Tatapan kedua Soemitro tersebut bertemu. Tidak ada haru atau kasih sayang di dalam mata mereka. Olivia dan Eric sama-sama saling menilai, menimbang dan memutuskan apa yang harus mereka lakukan saat pembicaraan akan dimulai.
Eric belum mempersilahkan wanita itu duduk. Mata besar Olivia masih menilainya. Polesan lipstick nude di bibir penuh sepupunya semakin mempertegas mulut Olivia yang tegang.
“Kejutan sekali, kau datang menemuiku, Sepupu.” Eric menekan kata-kata sepupu seperti sebuah ejekan. Tidak ada keakraban dalam panggilan tersebut.
“Mengingat kedua ayah kita sudah tidak ada, bukankah alangkah baiknya jika kita berdua saling bertegur sapa, Sepupu?” balas Olivia sama datarnya.
Eric tersenyum sedikit sinis. Ia tahu mengapa Olivia datang menemuinya.
“Apakah kau juga mencurigai bahwa aku adalah dalang dibalik kematian pamanku tercinta?” sindir Eric telak.
Olivia tersenyum miring dan mengangkat sedikit dagunya. “Seingatku, aku belum ada menyinggung tentang kematian ayahku tercinta dan juga menuduh hal keji seperti itu padamu, Sepupu?”
Eric mendengus kecil dan tersenyum meringis. Ia lupa, kalau sedang berhadapan dengan seorang Soemitro seperti dirinya.
“Walaupun sepatumu mahal, pasti kau merasa lebih nyaman kalau duduk bukan?” Eric melirik ke arah stiletto Olivia.
“Sepatu ini dipesan khusus, mengikuti struktur tubuhku, tinggi dan berat badan, sehingga membuatku nyaman berdiri selama berjam-jam,” sahut Olivia tenang.
“Sepertinya gen angkuh Soemitro mengalir deras dalam darahmu, Sepupu?” ejek Eric.
“Dan sepertinnya lebih kental dalam darahmu, Sepupu,” balas Olivia tidak mau kalah.
“Baiklah, silahkan duduk, Olivia.” Eric akhirnya membuat keputusan bijaksana dengan mengalah pada sepupunya yang keras kepala.
“Terima kasih, Eric.”
“Kau suka minuman seperti apa? Teh, kopi, brandy? Atau–“
“Aku tidak ingin minum, Sepupu.” Tolak Olivia sambil tersenyum. Senyum yang membuat Eric jengkel.
“Baiklah kalau begitu. Jadi apa yang membuat seorang Olivia Soemitro datang menemuiku?” Eric menatapnya tajam.