Keesokan paginya, suara jeritan dari kamar Olivia membangunkan Ben dan ia bergegas lari ke kamar wanita itu. Didapatinya Olivia yang berdiri dengan tubuh gemetar memandang lantai kamarnya dimana terdapat pakain dalam yaitu bra dan celana dalam dalam dengan potongan kecil berserak di lantai. Dan dikaca rias wanita itu terdapat tulisan,
Kali ini aku tidak akan melepaskanmu.
"Nona Olivia ..., " panggil Ben hati-hati berusaha tidak mengejutkan Olivia yang saat ini nampak terguncang.
Olivia langsung mengalihkan pandangannya pada Ben dari lantai tersebut. Wajahnya sangat pucat. Perlahan Ben menghampiri wanita itu lalu mengulurkan tangannya dan menangkap pergelangan tangan Olivia dengan sangat hati-hati.
"Saya di sini, Nona, Anda akan baik-baik saja." Ben manarik Olivia yang masih berdiri mematung dan membawa wanita itu ke tepi tempat tidur dan mendudukkannya di sana.
Ben berjongkok dan memeriksa potongan-potongan pakaian dalam tersebut tanpa menyentuhnya, lalu matanya memandang cermin yang telah di tulis dengan pesan ancaman. Lalu Ben berdiri dan berjalan ke arah balkon kamar Olivia. Ia mengumpat karena sebelumnya ia tidak mengetahui jika kamar wanita itu mempunyai balkon.
Ia memeriksa sekitar area luar dan Ben tahu tidak terlalu sulit untuk masuk ke dalam kamar Olivia dengan adanya balkon tersebut. Ia kembali masuk dan menutup pintu pembatas yang terbuat dari kaca tersebut.
"Saya minta maaf, Nona atas masuknya penyusup ke kamar Anda, seharusnya saya memeriksa keadaan kamar ini sebelumnya sehingga saya bisa mengantisipasi masuknya pencuri atau penyusup." Ben memandang Olivia dengan tatapan rasa bersalah sekaligus marah pada dirinya sendiri.
Olivia yang sangat terguncang menggigit bibirnya berusaha menahan tangis, ia sudah bersumpah takkan melakukannya di hadapan siapa pun. Tapi entah kenapa saat ini Olivia sangat ingin menangis melihat tatapan Ben padanya. Namun ia tahu jika rasa bersalah pria sekedar rasa bersalah sebatas pekerjaan.
Ia berdehem berusaha menenangkan dirinya dan mengendalikan sisi melankolisnya saat ini. Jika seumur hidupnya ia bisa berdiri melewati setiap masalah dan tantangan, hari ini Olivia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri bereaksi seperti wanita tak berdaya di hadapan pria yang jelas-jelas menjaga jarak darinya.
"Seharusnya aku mendengar jika penyusup masuk ke kamar ini. Pintu balkon selalu terkunci dan jarang kubuka. Aku juga selalunya sensitif terhadap suara sekecil apa pun di malam hari. Aku belum pernah disusupi saat tidur," ungkap Olivia.
"Itu karena penerbangan yang panjang sehingga membuat Anda sangat lelah dan terlelap Nona. Saya saja yang terjaga hingga menjelang subuh tadi tidak mendengar apa pun, artinya saya yang teledor di sini." Lalu pria itu kembali memandang cermin rias. "Sepertinya dugaan saya benar. Penguntit Anda bukan warga Swiss melihat dari pesan yang ditulis di cermin itu menggunakan bahasa Indonesia."
Olivia ikut menatap cermin tersebut. "Bagaimana mungkin," ujarnya lirih.
"Bisa jadi orang ini adalah penggemar model-model pakaian dalam, atau penggemar Anda dan kemungkinan terbesar adalah seseorang yang dekat dengan Anda di masa lalu, melihat dari yang Anda ceritakan pada saya, kalau si penguntit ini sudah mengikuti Anda selama bertahun-tahun." Ben menyampaikan kesimpulannya yang sebenarnya ia juga belum yakin.
"Dia pasti psikopat, dan aku tidak pernah memiliki kenalan orang gila," sahut Olivia ketus.
Ben menatap wanita itu dengan seksama lalu berkata, "Sekarang ini sangat sulit membedakan orang waras dengan orang yang memiliki gangguan jiwa."
Olivia memeluk tubuhnya sendiri dan membenarkan ucapan pria di hadapannya ini dalam hati. "Jangan libatkan polisi dalam hal ini, Ben, aku akan menjadi santapan besar untuk media."
"Baik, Nona. Saya mengerti."
Ben tahu untuk sekarang ia akan menangani ini bersama Jack, tetapi pada akhirnya hukum harus tetap terlibat.
Tiba-tiba wanita itu tersadar jika ia hanya memakai baju tidur santin dengan tali spageti yang dipadankan dengan celana tidur pendek dari warna dan bahan yang sama. Olivia tidak memakai bra dibalik baju itu dan hal itu membuatnya seketika terhenyak.
Ben menatap Olivia yang tampak canggung dalam balutan baju tidur seksi berwarna nude tersebut. Dan ia bisa melihat dangan jelas jika p******a wanita itu tegang dan tercetak jelas. Olivia meraih kimono baju tidurnya dengan gugup, sedangkan Ben yang tampak tenang sebenarnya juga merasakan kegugupan yang sama.
"Sekarang sudah lewat pukul enam pagi, Nona, saya akan membuatkan sarapan, tetapi sebelumnya saya harus membereskan semua bukti-bukti ini." Saat Ben selesai berbicara, disaat yang bersamaan Olivia juga selesai mengikat tali kimononya dengan kuat.
Ben kembali berjalan ke arah pintu balkon memastikan pintu sudah tertutup dengan baik, sedangkan kunci pintu yang sudah rusak itu nanti akan Ben perbaiki.
Ia keluar dari kamar olivia untuk mengambil ponselnya. Tidak lama kemudian ia masuk membawa kain basah untuk membersihkan cermin dan juga plastik. Setelah Ben beberapa mengambil gambar melalui ponselnya, dia pun memasukkan potongan pakaian dalam tersebut ke dalam plastik dan membersihkan cermin rias. Ben pun beranjak dari kamar Olivia dan diikuti oleh wanita itu dari belakang.
Olivia bisa melihat punggung Ben yang lebar dan pinggangnya yang berotot dari kaos tipis yang dipakai pria itu yang dipadu dengan celana panjang dari bahan katun. Ia mencubit lengannya yang masih sempat memikirkan betapa seksinya pria yang menciumnya tadi malam.
Setelah kejadian ciuman itu, Olivia yang sedikit mabuk tidak bisa tidur. Ia memikirkan bagaimana interaksinya bersama Ben kedepannya jika mereka hanya tinggal berdua di apartemennya.
Wanita itu menghela nafasnya sambil memikirkan rencana selanjutnya. Olivia menepis jika ia cemburu karena Ben menyebut nama wanita lain ketika menciumnya.
"Yang benar saja Olivia, ciuman tadi terjadi karena efek minuman," gumamnya pada dirinya sendiri dan akhirnya dia jatuh tertidur dan tak menyadari jika ada orang masuk ke dalam kamarnya melakukan hal yang mengerikan.
Tanpa Olivia sadari, ia berdecak dan mengumpat marah sehingga membuat Ben berbalik menatapnya.
"Ada apa, Nona?" tanya Ben.
"Tidak." Olivia tersenyum kikuk, "Tidak ada apa-apa," ucapnya sambil memperhatikan rambut panjang Ben yang tampak berantakan. Dan ia langsung menelan ludahnya gugup dan berjalan cepat ke pantry meninggalkan Ben yang memandangnya heran.
Ben pergi ke kamarnya mengambil ikat rambut dan mengikatnya, lalu menyusul Olivia.
"Ben, aku rasa kau perlu merapikan janggutmu kalau kau tidak mau mencukurnya. Itu sangat panjang." Olivia langgsung meringis menyadari ucapannya yang terlalu terus terang.
"Jangan salah paham, Ben, aku suka pria berjambang, dan itu sangat seksi, tapi kau harus sedikit merapikannya." Lanjutnya. Bagaimana pun ia sudah menyinggung perihal jambang pria itu, jadi menurutnya lebih baik mengatakan semuanya.
Ben menatapnya lekat sehingga membuat Olivia kembali gugup. Lalu pria itu berbalik menghadap ke kompor, mengambil wajan dan mengoleskan mentega yang sudah meleleh ke seluruh dasar wajan, lalu menuangkan telur ke dalamnya.
Olivia menatapnya heran, lalu berkata, "Seingatku tidak ada bahan makanan di kulkas."
"Tadi malam saya turun membeli semua ini " sahut Ben.
"Kau belanja?" Olivia masih menatap Ben yang memunggunginya sambil membalikkan telur yang ia masak. "Kau suka memasak ya?"
"Bahan makanan harus ada di rumah, siapa tahu diantara kita berdua tiba-tiba ada yang kelaparan, terbukti sekarang, persiapan ini sangat berguna," tukas pria itu dengan serius.
Ia memasukkan dua iris roti ke pemanggang roti yang Ben yakin sangat jarang dipakai atau mungkin tidak pernah dipakai wanita itu. Lalu mengambil piring dari lemari, menyendok dan meletakkan telur yang sudah masak ke piring. Roti panggang melompat ke atas seolah tahu saat yang tepat. Ben meletakkan masing-masing dua iris roti di piring, juga garpu,dan membawa semuanya ke meja.
Olivia memperhatikan pria yang terlihat tangkas di dapur itu. Ben mengambil saus, tiga macam jenis selai dan juga madu yang ia beli tadi malam dan meletakkan di meja.
"Anda mau kopi atau teh?" Ben menatap Olivia yang masih tampak terpukau.
"Teh saja," jawab Olivia malu karena ketahuan memperhatikan pria itu.
Ben membuat satu gelas teh untuk Olivia dan satu gelas kopi hitam untuknya. Mereka duduk menikmati sarapan pagi itu. Ben mengamati wanita itu saat Olivia memilih selai strawberry dibanding selai kacang, cokelat atau pun mentega. Wanita itu memakan rotinya dengan lahap.
"Anda tidak memakan telurnya?" tanya Ben.
Wanita itu menggeleng. "Habiskan saja."
Setelah selesai sarapan, keduanya pun berbicara serius.
"Besok aku akan pindah ke rumah ayahku," ungkap Olivia.
"Apakah karena kejadian tadi membuat Anda takut tinggal di sini?"
"Bukan karena itu. Pengacara ayahku memintaku harus tinggal di rumah ayahku sebelum aku pulang ke sini. Dan setelah kupertimbangkan, mungkin lebih baik aku pindah ke sana. Kau juga belum membawa semua pakaianmu ke sini kan? "
"Belum,"
"Bagus. Besok kita pindah ke rumah ayahku," ucap wanita itu sambil merenung.
Ben memperhatikan Olivia lekat. "Tampaknya Anda tidak yakin, Nona."
Olivia mengangkat bahunya. "Aku memang tidak yakin pada apa pun sekarang ini. Tapi hidup harus berlanjut bukan?" Wanita itu tersenyum tawar.
"Baiklah, Ben, aku akan bersiap untuk berangkat ke kantor ayahku. Dan kita lihat kejutan apa yang akan menungguku di sana." Lalu Olivia bangkit berdiri, berjalan menuju kamarnya.
Ben menghubungi Jack dan mencerita kan kejadian pagi ini, dan keduanya sepakat, kalau mereka akan bertemu siang ini.