Ben sekarang duduk bersama Olivia di meja makan sambil menikmati makan malam mereka dalam kesunyian. Tidak ada yang berbicara diantara keduanya. Hal itu membuat Olivia semakin tegang. Bahkan istirahat sepanjang hari ini tetap tidak bisa membuatnya merasa santai.
Tadi setelah selesai makan siang, Olivia langsung masuk ke kamarnya, memikirkan bagaimana hubungannya dengan Ben sabagai pengawal dan ia yang dikawal. Ia tidak bisa merasa santai setiap mengingat Ben atau pun jika pria itu ada di dekatnya seperti sekarang ini yang hanya terpisah oleh meja.
"Apa kau mau kopi, Ben?" tanya Olivia memecah kesunyian diantara mereka.
"Anda mau kopi? Biar saya buatkan." Ben menatapnya sigap.
"Entahlah, aku rasa, aku butuh anggur sepertinya, karena ada hal penting yang ingin kubicarakan untuk keberlangsungan hubungan kita." Olovia ingin menggigit lidahnya sendiri karena mengucapkan sesuatu yang memberi kesan kalau mereka memiliki hubungan khusus. Lalu ia kembali melanjutkan sambil berdehem. "Maksudku hubungan kerja kita."
"Saya mengerti, Nona," sahut pria itu tenang. Melihat ekspresi Ben yang biasa saja, wanita itu yakin jika pria dihadapannya itu tidak terpengaruh dengan ucapanya yang berlebihan.
"Kau bisa mengambil anggur di lemari minuman dan aku akan membereskan piring-piring ini. Kita bicara di sini saja."
Pria itu pun pergi ke arah lemari dan memilih minuman anggur terbaik dan membawanya ke meja makan.
Ben memperhatikan Olivia yang sedang mengambil gelas. Wanita itu mengenakan kaos putih yang tampaknya sudah lama dengan sablon band rock Led Zepllin. Mau tidak mau ia sedikit penasaran dengan kepribadian wanita yang akan dijaganya ini.
Olivia bukanlah tipe wanita yang memiliki bentuk tubuh yang sedang tren saat ini yang mirip seperti jam pasir. Namun bentuk tubuhnya proposional. Payudaranya tampak kencang dibalik kaos tipis tersebut, sedangkan bibir itu benar-benar sangat mengundang.
Meskipun Ben tidak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun, tapi ia masih bisa menilai seorang wanita. Dan perempuan di hadapannya ini cukup menarik, bahkan bisa dikatakan, wanita ini sangat menggoda.
Rambut yang diikat asal-asalan tersebut membingkai wajah Olivia yang tampak rapuh. Tapi mata wanita itu memancarkan tekat sejak Ben pertama melihatnya. Dan matanya juga sangat indah. Hanya saja ia masih belum bisa memastikan apakah Olivia tipe perempuan agresif, pemalu, keras kepala, angkuh atau pemaksa. Karena pertemuan mereka bahkan belum sampai dua puluh empat jam.
Wanita itu berjalan ke arah meja, membawa dua gelas dan meletakannya di meja. Ben pun menuang anggur pada masing-masing gelas mereka. Pria itu masih diam menunggu pembicaraan yang dimaksud Olivia.
"Informasi apa yang kau dapatkan dari Jack mengenai aku?" tanya Olivia setelah meminum satu teguk anggur merahnya.
"Jack mengatakan kalau Anda membutuhkan pengawal karena kematian ayah Anda. Tapi sejauh ini Anda belum pernah melaporkan sedang mendapatkan ancaman."
Olivia mengangguk.
"Aku memang tidak menceritakan apa pun pada Jack mengenai ancaman yang berhubungan dengan ayahku. Karena memang tidak ada hubungannya dengan kematian ayahku."
Ben berusaha memahami arah pembicaraan dari wanita dengan aroma mawar ini. “Maksud Anda?”
Olivia diam sejenak menatap pria seksi dihadapannya itu. Jantungnya langsung berdebar saat matanya bertemu dengan mata Ben. Lalu ia kembali melanjutkan. "Aku pernah menjadi model pakaian dalam waktu aku kuliah di Swiss," ucap Olivia dengan wajah memerah.
Ben sedikit terkejut mendengar ucapan wanita itu, dan ia langsung bisa membayangkan Olivia dalam pakaian dalam seksi yang mengundang hasrat. Dan demi neraka yang sudah banyak dilalui Ben, pertemuannya dengan Olivia Soemitro baru beberapa jam, tapi wanita ini memberikan pengaruh untuknya. Dan pria itu masih bersikukuh, bahwa ia akan tetap setia selamanya pada Sania istrinya.
"Tidak ada yang tahu kalau aku pernah menjadi model pakaian dalam. Itu hanya untuk pakaian dalam edisi terbatas." Olivia menjelaskan dengan sedikit gugup melihat Ben yang menatapnya lekat.
Geleyar aneh kembali muncul di perutnya.
Apakah Ben sedang membayangkan aku dalam pakaian-pakaian dalam seksi itu? Pikir Olivia.
Diamnya Ben dan cara pria itu menatapnya membuat Olivia semakin gelisah."Dan aku punya penggemar."
Ben berusaha tidak mendengus untuk menutupi sensasi dari bayangan liar yang sejenak terlintas di pikirannya tentang wanita itu.
"Tentu saja banyak yang menyukai wanita dalam pakaian dalam, apa lagi untuk edisi terbatas. Sudah pasti itu sangat eksklusif bukan?" ucap Ben penuh sarkas.
Olivia tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran untuknya. Namun ia kembali melanjutkan "Dan diantara penggemarku itu, aku yakin ada yang masih terus mengikuti perkembangan hidupku walaupun aku sudah keluar dari dunia modeling. Aku merasa hingga saat ini seperti ada yang mengawasiku."
Pria itu diam, tapi ekspresinya tetap terjaga dan waspada. "Dan apa yang membuat Anda begitu yakin akan hal itu?"
"Karena aku bisa merasakannya." Melihat ekspresi Ben yang masih dingin sejak tadi, Olivia yakin pria itu tak percaya, sama halnya dengan polisi-polisi di Swiss dulu saat ia melaporkan jika apartemennya dimasuki seseorang dan menggunting semua pakaian dalamnya.
"Si penguntit ini merusak semua pakaian dalamku, saat aku masih tinggal di Swiss. Aku melapor pada pihak berwajib, tetapi menurut polisi kalau aku hanya gadis pencari sensasi karena mereka tidak menemukan jejak apa pun yang menunjukkan bahwa seseorang memasuki apartemenku atau pun kamarku. Bahkan di CCTV tidak menunujukkan bukti apa pun." Ketegangan menyelimutinya. Olivia bergidik setiap mengingat kejadian itu.
"Merusak pakaian dalam Anda?" Sekarang Ben mencondongkan tubuhnya kedepan karena penasaran.
"Bra dan celana dalam," bisik Olivia malu.
Ben menelan ludahnya dengan sangat hati-hati. Dia khawatir wanita itu mengetahui bayangan yang muncul di pikrannya. "Kapan kejadian itu, Nona?"
"Tiga tahun lalu. Dan setelah aku melaporkan kepada polisi tidak pernah lagi ada gangguan atau teror untukku. Tetapi tiga bulan yang lalu, aku menemukan pakain dalamku dirusak, dan foto-fotoku saat menjadi model digunting kecil-kecil dan potongannya itu ditabur di atas pakaian dalamku."
Keduanya diam sejenak. Tiba-tiba ruangan tempat mereka berbincang terasa tegang.
Olivia meraih gelasnya dan meminum anggurnya dengan tangan sedikit gemetar. Sekarang Ben sedikit tahu wanita seperti apa Olivia ini. Ia adalah wanita pemalu yang berusaha tampil percaya diri. Ben yakin jika wanita di hadapannya ini mengalami sebuah trauma.
Itukah sebabnya ia minum anggur? Supaya Olivia memiliki keberanian menceritakan masalahnya? tanya Ben dalam hati.
"Dan itu terjadi di apartemenku ini." Tambah wanita itu.
Ben tampak terkejut. Olivia meraih ponselnya lalu menunjukkan foto yang diambil wanita itu saat mendapati pakaian dalamnya berserak di atas tempat tidur.
"Aku tak menyangka jika si penguntit ini masih ingat padaku dan mengejarku ke Indonesia," ujar Olivia muram.
Ben mengamati dengan seksama foto-foto di layar ponsel tersebut. "Anda bilang tadi kenalan Anda di sini tidak ada yang tahu profesi modeling Anda?"
Olivia mengangguk. "Sejujurnya aku tidak memiliki banyak sahabat di sini, dan keluargaku, aku sangat yakin mereka tidak tahu, karena jika mereka tahu, ayahku pasti sudah bicara padaku mengenai hal itu."
"Kenalan atau mantan pacar mungkin?"
Olivia menggeleng. "Aku memang punya mantan pacar di sini, tapi aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan dia. Karena hubungan kami sudah sangat lama berakhir dan dia sudah menikah."
"Apa saya boleh tahu siapa mantan tunangan Anda ini?"
Wanita itu tampak ragu sejenak. "Namanya Raditya Malik, dia sahabat sepupuku."
Ben pun langsung tampak menegang, dan Olivia menyadari hal itu.
"Mengapa Anda tidak mengatakan hal ini pada Jack?" tanya Ben.
"Karena aku tidak mau orang-orang tahu profesiku dulu." Olivia tampak tersipu.
"Anda ini seorang model, Nona Olivia, kalau saya cari di internet wajah anda pasti akan terpampang di sana. Jadi sangat tidak masuk akal jika anda menutupi hal ini dari publik,” tukas Ben tajam.
"Oh ... aku memakai nama samaran, dan setiap melakukan pemotretan aku memakai topeng, jadi wajahku memang tidak dikenali." Olivia meneguk kembali anggurnya.
Ben kembali membayangkan Olivia dalam balutan pakaian dalam yang seksi dan topeng yang menutupi wajahnya yang cantik. Hal seperti itu memancing rasa penasaran pria sekaligus membangkit gairah. Ben langsung meraih gelasnya dan meneguk anggur hingga tandas. Ia perlu fokus pada masalah bosnya tersebut, bukan pada bayangan Olivia yang muncul di pikirannya.
"Jadi si penguntit ini tahu jika model itu Anda?"
Olivia mengangguk. "Awalnya aku pikir fotografer atau staf yang terlibat dalam pemotretan tapi setelah dilakukan penyelidikan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau mereka pelakunya."
Ben mengangguk mengerti. Ia menatap gelas yang sudah kosong. Pria itu merasa satu gelas sudah cukup, karena anggur sering memberikan efek tidak baik pada akhirnya.
"Saya pikir pengejaran dari Swiss ke Indonesia itu agak berlebihan. Jadi ... ." Ben tampak berpikir sejenak.
"Menurutmu si penguntit bukan warga di Swiss?" Olivia menatapnya dengan mata terbelalak.
"Saya belum bisa memastikan, Nona. Tapi kita akan selidiki."
"Caranya?"
"Akan saya pikirkan."
Olivia mengangguk setuju. "Jangan katakan pada siapa pun rahasiaku ini,"
"Bahkan pada Jack?" Ben mengangkat sebelah alisnya.
"Ya." Olivia meneguk anggurnya. Ia menyadari ia sekarang meminum gelas kedua.
"Di jaman sekarang menjadi model pakaian dalam bukanlah hal yang memalukan, Nona. Malah banyak yang merasa bangga."
"Itu..," Olivia berdehem. Entah mengapa ia bisa percaya pada Ben yang baru saja dikenalnya. "Ehem ... itu sangat seksi. Sebenarnya saat itu aku hanya ingin menantang diriku sendiri, dan aku mau punya satu rahasia kecil yang ingin aku simpan seumur hidup, tapi ternyata tidak berjalan seperti harapanku."
Wajah Olivia mulai tampak memerah. Ben tahu jika wanita ini tidak terbiasa minum anggur. Ben mendengus pelan lalu menarik botol anggur dan menyingkirkannya dari depan wanita itu.
"Jadi ... kenapa Anda mau menceritakan rahasia kecil Anda ini padaku, Nona Olivia?" pancing Ben.
"Karena kupikir kau bisa melindungiku." Mata Olivia memandangnya penuh keyakinan.
"Bagaimana jika sibaliknya?" tanya Ben tajam.
"Naluriku tidak pernah salah," ucap Olivia sambil menatap Ben lekat dan tajam.
Olivia mulai merasa sedikit pening karena efek anggur yang ia minum.
"sampai di sini dulu aku memberi tahu tentang diriku padamu, Ben. Dan jika memang benar si penguntit ternyata tidak tinggal di Swiss, maka kau memang harus tinggal bersamaku sampai si penguntit ditemukan. "
"Itu memang tugasku, Nona Olivia, menjaga Anda,” tukas Ben tenang.
Olivia sangat ingin mengatakan agar Ben tidak memanggilnya dengan sebutan nona, tapi Olivia rasa tidak ada alasan saat ini untuk mereka saling memanggil nama supaya terlihat akrab.
"Baiklah ... aku mau tidur, besok pagi aku akan ke kantor ayahku." Lalu Olivia bangkit berdiri dari kursinya sambil memegang tepi meja karena pandangannya mulai berkunang.
Ben langsung dengan sigap menghampirinya dan menangkap tubuh wanita itu.
"Aku memang tidak pernah lulus minum anggur lebih dari satu gelas," ucap Olivia terkikik.
Ben diam tak menjawab sambil menuntun wanita yang mulai goyah itu. Untuk pertama kalinya ia menyentuh Olivia, dan kulit wanita itu sangat lembut dan hangat.
"Aku bisa sendiri, Ben, aku tidak sepayah itu." Olivia menatapnya dengan senyum malu-malu.
"Saya akan mengantar Anda sampai ke depan pintu kamar Anda, Nona." Ben berusaha menahan geram. Seharusnya ia tahu jika wanita ini tidak terbiasa meneguk minuman beralkohol.
"Rasanya ruangan ini semakin berputar. Astaga! aku ini norak sekali ya." Olivia kembali terkikik. Ia bisa merasakan aroma cengkeh dari tubuh Ben.
Saat hampir mencapai pintu kamar, Olivia tiba-tiba berbalik menghadap Ben, lalu menatap pria itu lekat.
"Apa kau merokok?"
"Tidak, Nona," jawab Ben waspada. Tepatnya ia waspada pada dirinya sendiri agar tidak lepas kendali pada wanita setengah mabuk di hadapannya sekarang.
Olivia tampak polos dan murni. Tidak ada lagi tameng yang terpasang sejak pertemuan mereka di bandara siang tadi.
Inikah dirinya yang sebenarnya? tanya Ben dalam hati.
Olivia tiba-tiba memegang kedua lengan Ben dan merapatkan tubuhnya. Dirinya belum sepenuhnya mabuk untuk menyadari tindakan beraninya ini. Tapi pikiran dan tubuhnya tidak sejalan, dan ia mengikuti keinginan dagingnya.
Olivia mendogakkan wajahnya, menyentuh janggut Ben dan membelai rahang pria itu. "Besok pagi kau harus merapikan janggutmu, Ben. Menurutku ini terlalu panjang."
Bibir Olivia terlalu dekat. Ben bisa mencium aroma wanita itu dengan sangat baik. Harum mawar yang menggoda dan anggur dari nafas wanita itu.
Ben tidak bergerak. Ia memaki dirinya dalam hati karena tidak mendorong wanita itu menjauh dan memaksa Olivia masuk ke kamar. Tapi di sini lah ia berdiri bergeming sambil menatap mata sayup wanita itu.
"Aku tidak percaya kau tidak punya kekasih, Ben." Olivia menatapnya dan berbisik lembut.
Ben harus memberikan apresiasi untuk dirinya karena tidak berlaku barbar dan melakukan hal yang ia sesali pada Olivia.
"Silahkan masuk ke kamar Anda untuk beristirahat. Nona." Ben berusaha mengendalikan suaranya yang mulai serak.
Olivia tertawa kecil. Sejujurnya dia sedikit kecewa karena Ben tampak tidak terpengaruh sedikit pun padanya.
"Baiklah, Ben." Olivia menjauhkan tubuhnya dari Ben dan berbalik ke pintu kamarnya. Tapi langkah kakinya yang goyah membuatnya hampir jatuh dan langsung ditangkap oleh Ben dan sekarang Olivia berada dalam dekapannya.
Tanpa berpikir panjang dan mungkin karena pengaruh minuman, Olivia merenggut mulut pria itu dan mencium tanpa rasa malu. Dan Ben langsung menyambut ciuman Olivia.
Ciuman Ben tidak lah lemah lembut dan pelan-pelan. Karena ia tidak pernah menjadi pria semacam itu. Ben tahu, sekarang ia bukan tipe yang lembut. Ia sekarang sosok pria yang kerasa yang telah berjuang untuk melewati hari-hari kelam di dalam penjara.
Lidahnya didorong ke dalam mulut Olivia yang sangat bersedia. Dan rasa mulut wanita itu bahkan lebih manis daripada aromanya. Bibirnya lembut dan memabukkan, dan Olivia membalas ciumannya sama kuatnya.
Sebuah erangan pelan naik ke tenggorokan Ben dan wanita itu. Lidah keduanya menyelusuri mulut dan bibir masing-masing. Dekapan mereka semakin erat. p******a Olivia menempel di d**a Ben yang keras dan kuat.
Ben semakin menggila, begitu pun denganOlivia. Mereka saling membelai membuat tubuh keduanya bergerak liar. Ben memindahkan mulutnya dari bibir Olivia ke leher wanita itu.
Mata Olivia mengerjap nikmt lalu tertutup sayu merasakan bibir dan lidah Ben di leher dan dàdanya. Jari jemari Olivia masuk ke dalam rambut Ben yang beraroma segar dan meremas rambut pria itu lembut.
Nafas keduanya memburu, geraman dan erangan menyatu, sampai saat Ben memanggil dirinya dengan suara serak dan dalam.
"Sania ... Sayang …. "
Mata Olivia langsung terbelalak.
Ternyata ia belum sangat mabuk untuk menyadari saat pria itu memanggil nama wanita lain.
Olivia mendorong Ben yang masih dikuasai gairah. Dan pria itu langsung sadar saat tubuh mereka menjauh.
"Namaku Olivia, bukan Sania," ucap Olivia marah. Tiba-tiba kecemburuan menyeruak di dalam hatinya. "Siapa Sania?"
Ben terbelalak sejenak dan menyadari kesalahannya. Pria itu langsung berbalik dan meninggalkan Olivia yang menatap kepergiannya dengan tubuh gemetar.