"Jika takdir ingin menakutiku, ia datang terlalu pagi—aku bahkan belum selesai sarapan."
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku terbangun dengan kepala terasa berat, seolah seseorang menjejalkan kabut ke dalam pikiranku semalaman.
Langit-langit kayu yang kusam menyambut mataku. Retakannya membentuk garis-garis aneh, seperti peta yang tak pernah selesai digambar. Aku berkedip beberapa kali, menunggu dunia berhenti berputar. Tidak berhenti. Justru perutku melilit lebih dulu.
“Lapar…” gumamku pelan.
Tenggorokanku juga kering. Setiap tarikan napas terasa seret, dan lenganku seperti bukan milikku—ringan, tapi tak punya tenaga. Aku mencoba bangun, lalu langsung duduk kembali di tepi ranjang karena kepalaku kembali pening.
Kenapa aku bisa selemah ini…?
Aku menggosok mata, berusaha mengingat. Tidurku terasa panjang… tapi anehnya juga pendek. Seperti tidur siang yang terlalu nyenyak.
Tidak ada mimpi. Tidak ada bayangan waktu yang lewat.
Saat akhirnya berdiri, kakiku goyah. Aku berjalan perlahan menyusuri ruangan kecil itu—rumah kayu sederhana, sunyi, dan dingin. Tidak ada suara selain langkah kakiku sendiri.
Lalu aku melihatnya.
Sebuah lukisan tergantung di dinding yang paling terkena cahaya pagi. Bingkainya sederhana, sudah sedikit lapuk. Lukisannya… seorang anak perempuan.
Rambutnya hitam, matanya besar, wajahnya bulat. Pendek. Mungil.
Sangat… mirip denganku.
Aku mendekat tanpa sadar.
Di bawah lukisan itu, tertulis sebuah nama dengan huruf yang rapi namun sudah pudar :
Nozomi Hoshiko
“Oh… ini aku.”
Aku tersenyum kecil. Rasanya aneh, tapi juga hangat. Jadi namaku Nozomi Hoshiko. Entah kenapa, aku merasa nama itu sudah lama tidak kupikirkan, seperti benda yang pernah sering kugenggam lalu lupa keberadaannya.
Kenapa aku melupakan namaku sendiri, ya?
Aku mengangkat bahu kecil. Pikiranku terlalu pusing untuk hal rumit. Yang penting sekarang… makan.
Aku mencoba mengangkat ember air di sudut ruangan. Ember itu tidak besar—bahkan terlihat ringan. Tapi begitu kuangkat…
“Eh?”
Tanganku gemetar. Ember itu terangkat sedikit, lalu jatuh kembali ke lantai dengan bunyi duk pelan.
“…berat.”
Aku menatap tanganku sendiri dengan kesal. Kenapa aku selemah ini? Aku bahkan harus duduk sebentar setelahnya. Tubuhku pendek, kurus, dan rasanya seperti ditiup angin pun bisa jatuh.
Mungkin aku sakit.
Atau mungkin… aku memang begini.
Aku mengambil keranjang buah yang tergantung di dekat pintu. Kosong. Benar-benar kosong. Aku menghela napas panjang.
“Baiklah. Kita cari makan.”
Di luar, udara pagi dingin dan segar. Hutan membentang luas, sunyi, dan hijau. Jalan setapak kecil mengarah ke dalam, seolah mengundangku masuk. Aku sudah sering ke sana—entah kenapa kakiku melangkah tanpa ragu.
Aku berjalan pelan, berhati-hati. Mandi dulu di sungai kecil yang mengalir jernih. Airnya dingin, membuat tubuhku menggigil, tapi terasa menyegarkan. Aku mencuci wajah dan rambutku, lalu duduk di batu besar, membiarkan kakiku terendam.
“Dingin…” gumamku, tapi aku tersenyum.
Setelah itu, aku mulai mencari buah. Aku menemukan beberapa beri liar dan buah kecil berwarna merah. Tidak banyak, tapi cukup.
Saat itulah aku melihatnya.
Seekor kelinci putih muncul dari balik semak. Matanya bulat, telinganya panjang, dan ia menatapku… menatap balik, tepatnya.
“Ah!” Aku berjongkok. “Halo.”
Kelinci itu tidak lari. Justru mendekat sedikit. Aku terkikik pelan.
“Kamu lucu sekali. Kamu sendirian juga?”
Aku lupa lapar sejenak. Aku mengulurkan tangan, dan kelinci itu mendekat. Aku menepuk kepalanya dengan hati-hati.
“Hehe… kalau aku juga kelinci, kita bisa main bareng tiap hari.”
Kami bermain sebentar. Aku mengejarnya pelan, ia melompat-lompat. Aku tertawa. Rasanya menyenangkan. Sudah lama rasanya aku tidak tertawa seperti ini—atau mungkin baru saja? Aku tidak yakin.
Perutku tiba-tiba berbunyi keras.
“…oh.”
Aku menatap kelinci itu. Ia menatapku balik.
Aku terdiam.
“…kamu… daging, ya?”
Kelinci itu berkedip.
Aku menunduk. “Maaf.”
Beberapa waktu kemudian, aku duduk di dekat api kecil. Tangan gemetar, gerakanku canggung. Membuat sate ternyata susah. Aku berkali-kali hampir menjatuhkan tusukannya.
Aku menggigit buah sambil menunggu daging matang. Rasanya manis dan asam. Hangat dari api membuat tubuhku sedikit lebih baik.
Saat akhirnya aku makan, aku menutup mata.
“Enak…” bisikku tulus.
Aku mengunyah pelan, menikmati setiap gigitan. Dunia terasa sederhana saat ini. Hutan. Api. Makanan. Aku.
Lalu—
BOOOM
Dentuman keras mengguncang udara.
Burung-burung beterbangan panik. Daun-daun bergetar. Suara itu datang dari kejauhan—dari arah pemukiman manusia.
Aku berdiri refleks, jantungku berdegup kencang.
Lalu… suara teriakan.
Teriakan minta tolong.
Banyak.
Aku mematung, sate kelinci masih di tanganku. Api kecil berderak pelan, kontras dengan suara kacau di kejauhan.
“Apa… itu?”
Aku menelan ludah.
Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Seolah sesuatu di dalam diriku—sesuatu yang bahkan tidak kukenal—baru saja terbangun bersamaan dengan suara itu.
Dan di sanalah aku berdiri, di tengah hutan yang mendadak terasa terlalu sunyi, menatap arah yang belum pernah ingin kutuju… sampai pagi ini.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Tidak semua suara datang untuk menyelamatkan, dan tidak semua yang terbangun ingin diingat.
Jika kamu di posisinya… kamu akan mendekat, atau berpura-pura tidak mendengar?
Vote pilihanmu, tuliskan teorimu—cerita ini mendengar pembacanya.