"Mereka menyebutnya kehancuran.
Aku menyebutnya: “Oh”."
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Suara itu masih terdengar.
Tidak sedekat tadi, tapi jelas cukup keras untuk membuat tanah terasa bergetar samar di bawah telapak kakiku. Aku berdiri beberapa detik, menimbang-nimbang sambil mengunyah sisa sate kelinci di tanganku.
“…kalau aku tidak datang, mereka tetap berteriak, ya?”
Aku menggigit lagi. Enak. Dagingnya matang pas, tidak terlalu keras. Aku baru sadar kalau perutku benar-benar kosong tadi pagi—jadi sekarang rasanya jauh lebih baik.
“Hmm. Kalau sudah kenyang, biasanya pikiranku lebih jernih,” gumamku, mengangguk kecil pada diri sendiri.
Aku melangkah menuju arah suara itu datang.
Jalan setapak dari hutan mulai melebar, tanahnya lebih padat. Aku tahu jalur ini. Kalau terus berjalan lurus, aku akan melewati rumahku… lalu tak lama kemudian, pemukiman manusia.
Aku berjalan santai. Bahkan mungkin terlalu santai, kalau dipikir-pikir. Tapi aku memang tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Suara keras memang menakutkan, tapi perutku yang kosong tadi jauh lebih mendesak.
Aku masih menggigit sate kelinci ketika rumah itu akhirnya terlihat.
Atau… yang tersisa darinya.
Aku berhenti.
Bangunannya roboh sebagian. Dinding kayu yang dulu berdiri rapi kini terbelah, atapnya ambruk ke dalam. Kayu-kayu patah berserakan, dan tanah di sekitarnya penuh jejak besar—jejak yang jelas bukan milik manusia.
Aku memiringkan kepala.
“…oh.”
Aku melangkah lebih dekat, menatap rumah itu sambil mengunyah pelan. Tidak ada asap. Tidak ada api. Hanya kehancuran yang sunyi.
“Atapnya runtuh,” gumamku, seperti sedang mengomentari cuaca.
“Dan pintunya hilang…”
Aku menatap sisi rumah yang dulu menjadi tempat tidurku. Sekarang terbuka begitu saja, seperti mulut yang menganga.
Aku menggigit sate lagi.
“…ya sudah.”
Entah kenapa, aku tidak merasa panik. Tidak marah. Tidak sedih. Rasanya seperti melihat mangkuk pecah yang tidak sengaja terjatuh—sayang sedikit, tapi tidak cukup penting untuk menangis.
“Mungkin nanti bisa diperbaiki,” kataku ringan, lalu mengangguk seolah keputusan itu sudah final.
Aku melangkah melewati reruntuhan rumahku sendiri, bahkan sempat menghindari balok kayu agar satenya tidak jatuh ke tanah.
Setelah itu, bau aneh mulai tercium.
Bau darah.
Aku mengerutkan hidung. Tidak enak. Tidak seperti bau daging yang kupanggang tadi. Ini lebih… berat. Hangat. Lengket di udara.
Langkahku melambat ketika aku sampai di tepi pemukiman manusia.
Atau… yang dulu pemukiman manusia.
Rumah-rumah hancur. Dinding-dinding batu retak, kayu berserakan, dan tanah dipenuhi noda merah gelap. Ada tubuh-tubuh tergeletak—manusia. Beberapa tidak bergerak. Beberapa… sudah tidak utuh.
Aku menelan ludah.
“Oh…”
Di tengah kehancuran itu, mereka berdiri.
Monster-monster raksasa.
Tingginya… sangat tinggi. Sekitar lima meter, mungkin lebih. Kalau manusia dewasa di dunia ini setinggi dua meter lebih, maka mereka seperti menara hidup. Bahu lebar, tubuh kokoh, dan kuku panjang melengkung seperti pisau—masih berlumur darah.
Kulit mereka gelap keabu-abuan, tapi wajah mereka… anehnya tidak menyeramkan seperti monster dalam cerita anak-anak. Rahang tegas, hidung lurus, mata tajam. Bahkan… tampan. Gagah.
Rambut mereka panjang, ikal, berwarna coklat tua, tergerai hingga punggung. Bergerak mengikuti setiap langkah berat mereka.
Aku melihat salah satu dari mereka mengangkat tubuh manusia dengan satu tangan—seperti mengangkat boneka—lalu menggigitnya tanpa ragu.
Aku berhenti di tempat.
“…wah.”
Aku masih memegang sate kelinci.
Mereka adalah Kaelvorn. Aku tahu nama itu. Entah dari mana, tapi aku tahu. Monster tingkat tinggi. Pemangsa manusia. Makhluk yang kecerdasan dan kesadarannya jauh di atas manusia.
Aku seharusnya takut.
Tapi yang kupikirkan justru—
“Jadi… manusia itu benar-benar dimakan, ya.”
Aku menatap sisa satenya, lalu ke mereka, lalu ke satenya lagi.
“…rasanya beda.”
Salah satu Kaelvorn berhenti bergerak.
Kepalanya menoleh ke arahku.
Lalu yang lain.
Dalam sekejap, perhatian mereka tertuju padaku—makhluk kecil setinggi seratus lima puluh sentimeter, berdiri di antara puing-puing, sambil mengunyah sate kelinci.
Aku mengangkat tangan sedikit, refleks.
“Halo.”
Tidak ada yang menjawab.
Udara terasa berubah. Berat. Tekanan aneh membuat kulitku merinding, meski aku belum sepenuhnya paham kenapa.
Lalu… mereka membuka jalan.
Dari balik barisan Kaelvorn, muncul sosok yang lebih besar.
Lebih tenang.
Lebih… berbahaya.
Ia berjalan pelan, setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Rambut coklat ikalnya lebih panjang dari yang lain, wajahnya lebih dewasa, lebih tegas. Matanya tajam, dingin, tapi penuh perhitungan.
Raja Kaelvorn.
Aku tahu itu juga, entah bagaimana.
Ia berhenti tepat beberapa meter di depanku.
Kami saling menatap.
Aku menggigit sisa terakhir sate kelinci, mengunyah perlahan, lalu menelan.
“…kamu besar sekali,” komentarku jujur, sambil mendongak.
Ia tidak berbicara.
Tatapannya menelanjangiku, seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mengerti.
Angin berhembus pelan, membawa bau darah, kehancuran, dan sisa api.
Aku berdiri di sana—kecil, polos, kenyang—menatap raja para pemangsa.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku terbangun pagi ini, aku merasa…
Seolah sesuatu yang sangat besar baru saja menatap balik ke arahku.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Tatapan itu belum berakhir.
Raja para pemangsa tidak bergerak, dan aku pun tidak.
Di antara darah dan keheningan, sesuatu yang seharusnya sederhana menjadi teka-teki.
Apakah yang kecil selalu mangsa—
atau justru awal dari kesalahan yang lebih besar?
Jawabannya belum ada di sini.
Mungkin ada di pilihanmu.
Mungkin di teorimu.
Tulis, tebak, dan lanjutkan langkah ini bersamaku—
karena sarang pemangsa baru saja membuka matanya.