“Kalau dunia mau hancur,
boleh nggak nunggu lima menit?
Sateku masih ada satu.”
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Hiro menatapku cukup lama.
Tatapan itu bukan tajam, bukan juga marah. Lebih seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Aku sudah terbiasa ditatap seperti itu, jadi aku hanya menunggu sambil memegangi perutku sendiri.
“Aku tidak memiliki makanan.”
Jawabannya datar.
“Oh.”
Aku mengangguk pelan. Tidak kecewa, tidak heran. Masuk akal juga. Aku tidak tahu apa yang mereka makan, tapi dari sekeliling kami yang hancur, aku bisa menebaknya… dan aku tahu aku tidak ingin memakannya.
Aku menoleh ke langit, berpikir.
Saat itulah aku melihatnya.
Sekawanan burung terbang melintas di atas kami, membentuk bayangan hitam yang cepat di antara cahaya sore yang mulai meredup. Sayap mereka mengepak, meninggalkan suara lembut yang entah kenapa terdengar sangat menggoda.
Aku menunjuk ke atas.
“Hiro.”
Ia mengikuti arah jariku.
“Ambilin itu.”
Ia menoleh lagi ke arahku.
“Yang terbang.”
Aku tersenyum kecil, merasa ideku sangat cerdas. “Kamu kan tinggi.”
Hening.
Aku tidak langsung menyadarinya, tapi udara di sekitarku kembali berubah. Beberapa prajurit Kaelvorn yang masih bekerja membeku di tempat. Ada yang salah mengangkat puing dan hampir menjatuhkannya. Ada juga yang pura-pura tidak mendengar apa-apa, padahal telinganya jelas mengarah ke kami.
Aku memiringkan kepala. “Kenapa?”
Hiro menatapku. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang.
Untuk kedua kalinya hari ini, aku melakukan sesuatu yang sepertinya… tidak seharusnya dilakukan.
Aku tidak memanggilnya raja.
Aku memanggilnya Hiro.
Dan sekarang, aku bahkan menyuruhnya.
Namun anehnya, ia tidak marah.
Setidaknya, tidak terlihat.
“Burung itu cepat,” katanya akhirnya.
“Iya,” sahutku ringan. “Makanya kamu yang ambil.”
Aku benar-benar tidak melihat masalahnya.
Ia menghela napas pelan—atau setidaknya, dadanya sedikit naik turun. Lalu ia melangkah maju, menatap ke langit yang kini mulai berubah warna.
Aku bahkan belum selesai berkedip ketika—
Whoosh.
Satu gerakan.
Sangat cepat. Terlalu cepat untuk kuikuti dengan mata.
Saat Hiro menarik kembali tangannya, ada beberapa burung yang kini diam dalam satu genggaman besar. Sayap mereka terlipat, tidak bergerak lagi.
Aku terdiam.
“…Wah.”
Mataku berbinar. Bukan karena darah, bukan karena kematian. Tapi karena kekaguman polos yang sama seperti saat aku melihat tanduknya tadi.
“Kamu hebat,” kataku jujur.
Ia menatap burung-burung itu sejenak, lalu mengulurkannya ke arahku.
“Ambil.”
Aku menerima tangkapannya dengan kedua tangan, hampir terhuyung karena beratnya.
“Terima kasih!”
Aku langsung bergerak mencari tempat duduk. Sebatang kayu yang masih utuh cukup nyaman untuk dijadikan alas. Aku mengeluarkan tusukan sate darurat yang tadi kubuat dari batang pohon kecil.
Namun masalah muncul.
“…Keras.”
Aku menusuk daging burung itu. Tidak tembus.
Aku menusuk lagi. Tetap tidak.
Aku mengerutkan kening, lalu melirik salah satu prajurit Kaelvorn yang berdiri paling dekat.
“Bisa bantu?”
Ia ragu. Menoleh ke arah Hiro.
Anggukan kecil.
Prajurit itu jongkok dan dengan hati-hati menusukkan daging burung ke tusukan sate buatanku. Tangannya besar, tapi gerakannya… sangat hati-hati. Seolah takut mematahkannya. Atau takut padaku.
“Wah, makasih.”
Aku tersenyum lagi.
Tak lama kemudian, sate burung pertamaku jadi.
Aku memanggangnya seperti tadi—dengan cara seadanya. Bau daging panggang perlahan mengalahkan bau darah yang masih tertinggal di udara. Perutku langsung berbunyi lebih keras dari sebelumnya.
Aku menggigitnya.
“…Enak.”
Lebih keras dari kelinci, iya. Tapi tetap enak. Aku makan dengan lahap, tanpa peduli tatapan puluhan pasang mata yang kini tertuju padaku. Seperti anak kecil yang baru menemukan makanan favorit baru.
Satu tusuk habis. Lalu dua. Lalu tiga.
Tanpa sadar, matahari mulai tenggelam.
Langit berubah jingga, lalu merah tua. Bayangan pepohonan memanjang. Udara menjadi lebih dingin. Suara hutan pun berubah—lebih pelan, lebih dalam, lebih… waspada.
“Yang Mulia.”
Salah satu prajurit mendekati Hiro, berlutut sedikit.
“Sudah hampir malam.”
Hiro menoleh.
“Hutan ini berbahaya saat gelap,” lanjut prajurit itu. “Terlebih malam ini… tanpa bulan.”
Aku berhenti mengunyah.
Tanpa bulan?
Aku menatap langit yang kini hampir gelap sepenuhnya. Benar saja. Tidak ada cahaya perak yang biasanya menenangkan itu.
Aku mengangkat tangan.
“Tunggu.”
Suaraku keluar agak aneh karena mulutku masih penuh sate burung.
Semua berhenti.
Aku menatap Hiro sambil mengunyah cepat-cepat, pipiku menggembung sedikit.
“Mmf… tungguh bentarr…”
Aku mengangkat satu tusuk sate terakhir, menunjukkannya seperti alasan paling masuk akal di dunia.
“Sebentar lagi habis.”
Dan di sanalah semuanya terhenti—
di antara senja yang mati,
malam tanpa bulan yang mengintai,
dan seorang gadis polos
yang menghentikan Raja Pemangsa
hanya karena…
ia belum selesai makan.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Malam tanpa bulan turun perlahan.
Takdir menahan napasnya—
karena seorang gadis belum selesai makan.
Apakah ini awal bencana,
atau kesalahan kecil yang akan mengubah segalanya?