“Kadang aku merasa ada sesuatu di dalam diriku yang bangun saat dibutuhkan. Sisanya? Ya… aku juga bingung.”
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku menelan suapan terakhir sate burungku dengan puas.
Tusukan kayu itu tinggal kosong. Aku menjilat ujung jariku tanpa malu, lalu mendongak ke arah Hiro yang masih berdiri tegak, dikelilingi para prajuritnya. Langit di atas kami kini benar-benar gelap. Tidak ada bulan. Tidak ada cahaya perak. Hanya bintang-bintang pucat yang terasa jauh dan dingin.
Aku berdiri.
“Hiro.”
Ia menoleh.
“Aku ikut.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Ringan. Seolah aku hanya meminta ikut berjalan-jalan ke sungai.
Keheningan jatuh.
Bukan keheningan yang cepat. Tapi yang panjang. Berat. Bahkan hutan pun seakan menahan napas. Para prajurit Kaelvorn berhenti bergerak sepenuhnya. Tidak ada suara kayu diseret. Tidak ada suara puing dipindahkan.
Hiro menatapku lama.
“Tidak.”
Jawabannya singkat. Tegas. Tanpa emosi.
Aku berkedip. “Kenapa?”
“Kau lemah.”
Oh.
Aku mengangguk pelan. Itu bukan hinaan. Itu fakta. Aku juga tahu itu.
“Tempat kami bukan tempat untuk manusia kecil sepertimu,” lanjutnya. “Itu seperti memasukkan kelinci ke dalam kandang singa yang lapar.”
Aku memiringkan kepala, berpikir. Perumpamaannya terdengar… masuk akal.
“Tapi aku bukan kelinci,” kataku polos.
Keheningan kembali turun.
“Aku Hoshiko.”
Aku melangkah satu langkah mendekat. “Aku bisa jalan sendiri. Aku nggak ribet. Aku juga nggak rewel.”
Beberapa prajurit saling melirik. Ada yang terlihat bingung. Ada yang jelas-jelas menahan diri untuk tidak bereaksi.
“Tidak,” ulang Hiro.
Aku mengerucutkan bibir.
“Tapi… aku nggak punya tempat pulang.”
Kalimat itu keluar lebih pelan.
Aku menunjuk ke arah belakang, ke arah jalur yang tadi kulewati. Ke arah rumah kecilku—atau yang tersisa darinya.
“Rumahku sudah hancur.”
Bayangan itu kembali terlintas di kepalaku. Kayu-kayu runtuh. Atap yang roboh. Dinding yang tak lagi berdiri. Saat itu aku hanya berpikir, oh, ya sudah. Tapi sekarang, di tengah gelap yang semakin pekat, rasa kosong itu terasa lebih nyata.
“Aku sendirian.”
Hiro tidak menjawab.
Kami berdiri terlalu lama. Langit semakin gelap. Hutan mulai mengeluarkan suara-suara yang berbeda—lebih dalam, lebih berat. Suara yang tidak ramah.
Aku menunduk, berpikir keras.
Sangat keras.
Kepalaku tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Biasanya, jika aku lapar, aku makan. Jika aku bosan, aku berjalan. Tapi sekarang… aku benar-benar ingin ikut.
Aku mengerutkan kening, menekan pelipisku dengan jari.
Apa ya… apa ya…
Lalu aku melihatnya.
Bekas luka di tubuh Hiro.
Tidak besar. Tapi jelas ada. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Darahnya sudah mengering, tapi kulit di sekitarnya masih belum rapi.
Aku mendekat tanpa berpikir panjang.
“Hoshiko—”
Aku mengangkat tanganku dan menyentuhnya.
Ujung jariku menempel di kulitnya.
Cahaya lembut muncul.
Bukan terang. Bukan menyilaukan. Hanya kilau tipis, hangat, seperti sinar pagi yang menyelinap lewat celah dedaunan. Aku tidak mengucapkan mantra. Aku bahkan tidak sadar sedang melakukan apa. Rasanya… alami. Seperti bernapas.
Aku merasakan sesuatu mengalir keluar dari diriku.
Perlahan.
Luka itu menutup.
Tidak dalam satu detik. Tapi sedikit demi sedikit. Kulit yang robek menyatu kembali. Bekas darah menghilang. Bahkan tidak tersisa garis tipis—seolah luka itu tidak pernah ada.
Aku menarik tanganku.
“Oh.”
Aku tersenyum kecil. “Sembuh.”
Keheningan kali ini berbeda.
Lebih berat. Lebih tajam.
Hiro tidak bergerak. Tidak bersuara. Tapi aku bisa merasakannya—sesuatu berubah. Udara di sekitarnya bergetar halus. Dan untuk pertama kalinya, ia menarik napas dalam-dalam.
Aku mencium sesuatu.
Aroma yang lembut. Aneh. Hangat. Seperti dedaunan basah dan tanah setelah hujan. Tidak seperti manusia. Tidak seperti monster.
Elf.
Aku tidak tahu kenapa aku tahu. Aku hanya tahu.
Hiro menatap tangannya sendiri. Bekas luka itu hilang sepenuhnya.
Ia menatapku kembali.
Tatapannya… tidak lagi datar.
“Elf,” gumamnya pelan.
Aku berkedip. “Eh?”
Keheningan kembali menyelimuti kami. Tapi kali ini, bukan karena ketegangan semata—melainkan karena kesadaran baru.
Akhirnya, Hiro berbicara.
“Kau ikut.”
Mataku membesar.
“Tapi ada syarat.”
Aku langsung mengangguk cepat. “Apa pun!”
“Kau akan menyembuhkan prajuritku di benteng.”
Aku berpikir sebentar. Menyembuhkan… aku bisa melakukan itu, kan? Sepertinya bisa.
“Oke!”
Jawabanku terlalu cepat. Terlalu cerah.
Beberapa prajurit menatapku heran. Beberapa lainnya… terlihat lega.
Hiro berbalik, memberi perintah singkat untuk bersiap kembali. Hutan malam mulai bergerak lagi, tapi kali ini aku tidak merasa sendirian.
Aku tersenyum lebar.
Dadaku terasa hangat. Mataku berbinar polos.
Aku boleh ikut.
Dan bagiku, saat itu—
tidak ada hal lain di dunia
yang lebih membahagiakan dari itu.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Malam itu, aku melangkah pergi bersama mereka—
tanpa tahu ke mana, tanpa tahu apa diriku sebenarnya.
Yang kutahu hanya satu:
luka bisa sembuh di tanganku,
dan dunia mulai memperhatikanku kembali.
Apakah ini awal dari perlindungan…
atau undangan menuju bencana?