Bulan yang awalnya berdiri kokoh di sana perlahan menghilang, memberi kesan langit tanpa hiasan, karena ketidakadaan bintang-bintang. Awan putih menggelap, suasana malam terasa dipenuhi kesenduan. Sehabis Juni menelfon, gadis berkulit pucat bernetra coklat itu, menghentikan taksi dengan sekantung bungkusan makanan. Fiora berniat menghampiri kediaman Juni di kota, tempat di mana Riki Irwana tinggal, sesuai dengan alamat yang ditunjukkan Juni agar Fiora mendatanginya.
Fiora menggigiti kuku, memandang luar jendela dari balik kursi penumpang. Pikiran negatif menghantui pikiran, hingga Fiora sama sekali tak bisa merasa tenang, sadar bahwa alamat yang gadis itu datangi, bukan alamat Juni sebenarnya di Desa Jangkar.
Sesampainya di sana, Fiora harus menaiki beberapa tangga kemudian menuju apartemen di lantai atas. Jantung Fiora berdegup, ia mulai membuka pintu memasukkan kata sandi, kemudian menatap Juni yang sedang berdiri menunggu kedatangannya. Pintu tertutup secara otomatis.
Fiora tak menutupi keterkejutannya, penampilan Juni yang kini tertangkap di netra coklat Fiora, benar-benar berbeda, wajah gadis itu terawat halus dan bersih, rambut lurus-bergelombangnya dibiarkan tergerai sapanjang punggung, tidak lagi mengenakan kacamata digantikan iris dilapisi lensa kontak hitam, hal itu menambah kesan feminim pada penampilan Juni yang biasanya tak secantik ini. Napas Fiora tersengal, menyorot bingung. Keadaan apa yang sudah menimpa seorang Juni Astina sampai merubah gadis itu sedemikian intensnya?
Juni menorehkan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapih. "Fi akhirnya kamu dateng, aku bener-bener bersyukur kamu mau dateng ke sini." Dia berujar, terlihat agak memaksa, namun, tergambar kelegaan di sana. Juni mendekati Fiora, menggenggam kedua telapak tangan Fiora yang hangat. "Fi, kenapa panjang rambut kamu jadi setengah punggung gini?" Nada si gadis terdengar khawatir tanpa dibuat. Fiora menggeleng sembari tersenyum. "Nggak papa," balas Fiora seadanya.
Juni mengerutkan kening. "Kamu yakin?" tanyannya yang diangguki Fiora ringan. Juni meremas jemari Fiora bergetar, dua alisnya menyatu penuh harap meminta persetujuan. "Fiora, aku percaya kamu satu-satunya yang nggak akan ngejek dan ninggalin aku. Kamu mau 'kan bantu aku. Kamu bilang kamu temen aku, 'kan? T-tolong bantu aku buat kali ini aja!" Tersirat nada pemohonan di sana.
Fiora mengangguk tanpa berpikir, ia memang akan membantu Juni, tidak perlu dimintai, atau disinggung mengenai kesungguhan pertemanan mereka. Fiora berujar cepat. "Aku pasti bantu kamu, aku janji." Fiora membalas genggaman Juni sama kuatnya, dirinya bersyukur Juni baik-baik saja sekarang, Fiora berharap apa yang dikatakan Riki ketika itu tidaklah benar.
Juni tersenyum lebar mendengar penuturan Fiora yang tulus. "Bantu aku cari Kak Riki ya, aku mohon...."
Fiora membulatkan mata, senyumnya memudar. "Kakak kelas itu lagi, kamu ngapain cari dia, Jun!" Notasi Fiora meninggi. "Kamu juga ngapain ada di kamar ini, penampilan kamu tiba-tiba berubah drastis, kamu nggak pernah masuk kelas selama sebulan-nan, dan sekarang kamu minta aku bantu cari kakak kelas nggak jelas itu?!"
Juni menyela, hidungnya kembang-kempis meminta waktu berbicara. "Fi dengerin aku!"
Fiora melepas genggaman Juni kasar, dadanya naik turun penuh amarah. Fiora berteriak serak, "Dengerin apa, dengerin kalau kamu cinta mati sama kakak kelas itu?! Aku udah khawatir sama kamu, aku nggak bisa berkata-kata pas ngeliat kamu berubah sampe kayak gini, sekarang kamu minta aku cari Riki b******k itu!" Kedua mata Fiora memanas. "Aku bener-bener nggak bohong bilang khawatir sama kamu, makanya---"
Juni sesegukkan, ia memekik kalut, notasinya kacau memotong pembicaraan Fiora buru-buru. "Aku hamil!" Suasana berubah menjadi hening, iris Fiora membola, ia tersentak tanpa bisa mengeluarkan suara membalas pengakuan Juni tiba-tiba. Juni merosot, menangis tersedu. Jika diperhatikan secara jelas, dari awal kedua mata Juni membengkak besar, dipenuhi lingkaran hitam tertutupi bedak. Fiora menahan napas. Isakkan kecil lolos dari bibir Juni memenuhi ruangan, ia berlutut menutupi wajah berantakannya. "U-usia kandungannya s-satu minggu... aku...." Juni menelan saliva gelisah. "Ini... anak dari Kak Riki...."
Fiora berjongkok, ia meremas kedua bahu Juni kuat-kuat, seakan Fiora ingin meremukkan tulang gadis itu, dalam sekali cengkeraman. Fiora menyorot sengit. "Ulang sekali lagi." Fiora berujar masih dengan ketidakpercayaan. Tidak mungkin Juni berakhir menyedihkan seperti ini. Sebelah mata Fiora sudah menitikkan air.
Juni kembali sesegukkan, ia menutup kelopaknya gemetar. "Aku minta maaf Fi...." Peryataan itu terdengar parau sampai membentuk robekan pada rongga d**a Fiora.
Fiora menggeleng, ia tersenyum paksa. "Nggak mungkin Jun, alat itu pasti salah, nggak mungkin omongan kakak kelas itu bener! Aku tahu kamu pasti salah lihat, ya 'kan?!" Fiora meraung emosi. Ia menggigit bibir penuh penekanan. "Aku mohon, itu pasti salah Juni!"
Juni meremas pakaiannya tak berkutik. Air mata mengalir deras. "Demi Tuhan aku bener-bener minta maaf Fiora!"
Tangisan Juni pecah, ia tersedu keras. Gadis itu hanya mencintai seorang Riki Irwana, lelaki satu-satunya yang pernah memberikan kasih sayang tak terhingga sampai membuat Juni merasa sebegitu dihargainya. Gadis itu, diberikan banyak kebutuhan. Ia diperhatikan juga dipuji. Tidak ada yang bisa seperti Riki Irwana, ia memikat, dan baik, sekaligus dalam satu tubuh. Hanya pada Juni, Riki memberi perhatian lebih. Juni tahu, seharusnya dirinya tidak boleh memberikan segalanya pada Riki. Tetapi, ketika Juni menatap sepasang iris hitam menawan milik Riki Irwana, membuat Juni jatuh cinta berkali-kali hingga meruntuhkan pertahanan.
Seumur hidup Juni, yang tak pernah dilirik oleh lelaki sesempurna macam Riki Irwana, menumbuhkan sikap Juni, untuk melakukan semua cara agar lelaki itu berada di dekatnya---terikat kuat olehnya. Juni tidak masalah mengerjakan tugas lelaki itu yang menumpuk, menulis tugas yang melelahkan atau mengetik laporan untuk dikumpulkan. Juni tidak pernah mempermasalahkan, yang gadis itu tahu, Riki hanya perlu tetap bersamanya, sebatas itu. Maka dari itu, Juni memberi bagian berharga hidupnya, untuk Riki seorang, agar mereka bisa saling lebih terikat untuk waktu yang cukup lama. Karena... hanya dengan lelaki berlidah tindik logam itu, Juni bisa merasakan kesejahteraan.
Juni memulai ceritanya serak. "Kamu bilang b-b-barusan aku cinta mati sama Kak Riki, aku nggak bisa ngelak itu, karena sadar aku emang ngasih semuanya buat Kak Riki, bahkan hal berharga yang aku punya sekalipun, tapi ka-kamu nggak usah khawatir," Juni menarik napas, ia menggenggam tangan Fiora, mengangkat wajah balas menatap netra coklat Fiora berkilat. "Aku yakin Kak Riki pasti mau tanggung jawab sama perbuatannya Fi!"
Fiora mendorong tubuh Juni, melepas paksa genggaman rapuh gadis itu, pada kedua tangan berkeringatnya. Fiora meninggikan suara. "Gimana mungkin kamu yakin kakak kelas itu tanggung jawab sedangkan sekarang aja kamu ditinggal gitu aja sama dia!" Fiora melanjutkan ungkapannya, setelah melihat Juni sama sekali tidak bergeming. "Apa kamu tahu kakak kelas itu pernah dateng ke aku, sambil bilang secara gamblang, dia ngambil keperawanan kamu. Apa itu yang namanya ciri-ciri cowok yang tanggung jawab?!" Fiora menjerit, "Itu yang namanya tanggung jawab?!"
Juni memotong dengan sama tingginya, ia membalas berteriak keras. "Kak Riki nggak seburuk yang kamu kira Fi!" Fiora melotot, bagaimana bisa Juni mengatakan Riki Irwana tidak seburuk itu, sedangkan jelas-jelas di mata Fiora, Riki adalah laki-laki terbrengsek di dunia. "Terus menurut kamu dia cowok macam apa! Cowok pengecut yang bisanya manfaatin kamu, dengan dalih bakalan ngasih semua kebutuhan kamu termasuk perhatian, kasih sayang, sama pujian. Itu yang kamu bilang nggak buruk Juni?!" Fiora menyampirkan helaian rambutnya ke belakang, menggigit bibir. "Gimana mungkin kamu mikir dia nggak buruk, Jun!"
"Ya! Kak Riki emang manfaatin aku. Ya! Kak Riki ngasih semua kebutuhan aku, karena butuh kemampuan aku. Ya! Dia cowok pengecut, cowok buruk, cowok b******n setengah mati. Ya Fi! Ya! Tapi karena dia, penampilan aku bisa berubah sampai sejauh ini." Juni sesegukkan. "Aku yang salah Fiora. Aku yang salah punya rasa cinta segede itu sama Kak Riki. Aku yang salah Fiora. Aku minta maaf...." Gadis itu terisak dengan tubuh gemetar.
Sedari kecil, Juni tumbuh diiringi banyaknya hinaan, dan makian. Ekonominya rendah, penampilannya buruk, pergaulan Juni pun nyaris tidak ada yang benar. Dengan Riki, Juni sanggup memberi apa pun, sebab untuk pertama kalinya Juni merasakan jatuh cinta, sekaligus ingin mendapatkan perhatikan lebih layaknya orang-orang cantik di luar sana. Dan lihat sekarang! Penampilan Juni amat berubah drastis, hanya tinggal sedikit lagi menuju kesempurnaan bersama Riki Irwana dan menunjukkan pada orang-orang, bahwa seorang Juni Astina bisa menaklukan pemuda brandal, tanpa perlu menjadi yang paling tercantik. Namun, mengapa mendadak Riki meninggalkan Juni begitu saja setelah Juni mengabulkan semua keinginan lelaki itu? Pasti ada alasannya 'kan?!
Juni kembali membuka suara. "Makanya kamu harus bantu aku cari Kak Riki. Kalau dia tahu aku hamil, dia pasti bakalan dateng dan tanggung jawab. Aku yakin Fi! Aku percaya!" Juni menjelaskan sembari mengangkat kepala dengan wajah berantakan penuh air mata. Menyorot lurus Fiora tanpa terlihat keraguan.
Fiora membuang muka. Di saat seperti ini pun mengapa Juni masih memiliki kepercayaan pada Riki yang sudah membuatnya rusak. Cinta seperti apa yang dimaksudkan Juni, untuk seorang lelaki b******k macam kakak kelas IPS tiga itu. Netra coklat Fiora bergerak resah. Tidak tahu apa yang harus Fiora lakukan, ketika keadaan menjadi begini. Juni sama sekali tidak melepas genggaman gelisahnya pada pakaian Fiora, hingga berakhir kain pakaian itu kusut bekas cengkraman. Fiora menyampirkan helaian rambutnya sejenak, gadis itu membuka suara setelah hening mencekik suasana mencekam di antara mereka. "Kalau gitu, gimana sama orang tua kamu Juni?" tanya gadis itu buru-buru.
Juni tersenyum kecil, jejak-jejak air mata terlihat jelas di pipi, meski sudah dihapus. "Aku nggak pernah bilang sama mereka. Setiap hari aku bohong, pagi-pagi aku bakalan bilang mau berangkat sekolah, nyatanya aku jalan bareng Kak Riki, terus sorenya aku pulang sama kayak jam pulang sekolah." Juni menundukkan pandangannya sendu, sama seperti warna langit, yang terlihat tanpa hiasan bintang dan bulan. "Aku nggak mungkin cerita sama Ibu karena dia udah kerja keras ngurusin katering, belum lagi aku punya adik perempuan, Julia. Kalau Ayah, dia belum pulang dari kota. Cuma kamu yang tahu kabar kehamilan ini Fiora."
Fiora memejamkan mata kuat, ia mulai mengerti mengapa akhir-akhir ini Juni tidak pernah terlihat di kelas. Bahkan meski, sudah dikirimkan surat-surat peringatan dari sekolah. Fiora berujar lirih, "Kalau kamu tahu Ayah dan Ibu kamu kerja keras buat kamu, kenapa kamu mau ngelakuin hal hina sama Kak Riki?" Sorot Fiora yang nanar, semakin terlihat menggelap.
Mendengar hal yang cukup menyentil relung hati, membuat Juni kembali terisak. "Ka-karena... uhh a-ku cinta sama Kak Riki. Dia buat aku ngerasa sempurna sama hubungan ini... demi Tuhan Fi aku minta maaf! Demi Tuhan!"
Maaf dia bilang? Mengapa Juni mudah sekali mengucapkan permintaan maaf, setelah melakukan kesalahan yang cukup kelewat besar itu. Fiora mengepal kedua tangan resah. "Makanya kamu tetep di sini berharap kakak kelas itu pulang?" Juni mengangguk sebagai jawaban. Namun, balasan itulah yang membuat amarah Fiora semakin naik. "Kamu sadar sekolah pasti ngeluarin kamu, tanpa peduli kalau kamu akan naik ke kelas dua belas! Orang-orang bakalan ngejek kamu, ibu sama ayah kamu bakalan kecewa sama sikap yang udah kamu lakuin!" Fiora berdiri, melepas cengkraman tangan Juni pada pakaiannya, setelah melihat keterbungkaman gadis itu yang tak membantah pernyataannya.
Juni sesegukkan. "A-aku minta maaf, ka... kalau Kak Riki mau tanggung jawab aku nggak masalah nunda pendidikan aku buat dia." Suaranya terdengar gelagapan.
Fiora menjerit, "JUNI!" Ia mengusap wajahnya gusar. "Aku... nggak tahu cinta apa yang kamu maksud sampe gampang ngomong ninggalin sekolah demi dia. Aku... kecewa." Fiora berbalik, berniat meninggalkan Juni, dengan menanggung kesalahan besar yang dibuat gadis itu sendiri.
Melihat Fiora yang bertindak membalikkan tubuh, membuat Juni tak bisa meredakan tangisan. Akan tetapi, apakah hal yang dilakukan Fiora sudah benar? Juni berakhir menjadi seperti ini, karena salah satu kesalahannya, yang tidak bisa menyakini gadis itu, mengenai betapa buruknya sikap Riki di kehidupan putih Juni tanpa noda. Juni tidak sepenuhnya salah. Fiora juga bagian dari kesalahan Juni, karena telah menjadi teman yang tidak berguna. Fiora seharusnya sadar bahwa sedari awal dirinya telah melakukan kesalahan yang sama besarnya.
Fiora menghentikan langkah tepat di hadapan pintu. Gadis itu bergeming tak bergerak. Membungkam untuk beberapa waktu. Menarik napas pelan-pelan disertai degupan jantung menggila, Fiora berbalik ke arah Juni. Ia membungkukkan tubuh, berbisik, "Aku...." Fiora memejamkan mata, kemudian, membuka kelopaknya perlahan meminta kekuatan untuk berbicara. "Ka-kali ini aku bakalan bantuin kamu. Tapi kamu harus janji juga sama aku buat pertahanin bayi ini, ya?" Sebab hanya hal ini yang bisa Fiora lakukan. Benar-benar cuma ini satu-satunya. Karena, jumlah peluang kemungkinan kabar terburuk itu, sama besarnya dengan kemungkinan kabar terbaik.
Juni mengangguk antusias, ia menyanggupi begitu saja lalu memeluk tubuh Fiora erat dengan tangis putus-putus. "Makasih Fi. Aku percaya Kak Riki pasti mau tanggung jawab." Fiora tak mengangguk maupun menggeleng akan pernyataan Juni. Ia terdiam. Lalu, kembali membuka suara pelan. "Kamu harus janji Juni." Juni kembali mengangguk mendengar penuntutan Fiora mengarah akan bayi dalam rahim gadis itu. "Iya, aku janji."