Di umur Fiora yang memasuki usia lima tahun, Fiora selalu diberi bisikkan sama, ungkapan yang mengatakan bahwa ketika ia lahir dengan sehat menjadi awal kesialan bagi kehidupan gadis itu sendiri, termasuk orang-orang di sekitarnya. Fiora tahu hidupnya takkan mudah. Semua yang baru dirinya raih, dan peroleh seakan perlahan, secara pasti menguliti kesadaran Fiora, hingga mancabik-cabik kewarasan gadis itu di ujung tanduk, memaksa dirinya agar segera menyerah.
Fiora sudah dipenuhi trauma. Ketakutan seolah melekat menjadi tulang-belulang. Dan demi kehidupan baik yang lebih normal, Fiora mempertaruhkan peruntungannya, tetap bertahan, untuk membuktikan pada Istari bahwa kelahiran Fiora dari rahim Lina Salsika tidak pernah salah. Fiora bukan kesialan, ia merupakan berkat dari Tuhan. Fiora bukanlah seorang Rapunzel yang hidup dalam keajaiban, dan dirawat baik-baik meski dengan orang jahat sekalipun. Persamaan mereka hanyalah tentang kurungan, kesepian juga keinginan menjelajahi dunia luar. Untuk menjadi akhir yang sempurna seperti Rapunzel, Fiora harus mengusahakannya. Maka dengan sekuat tenaga, Fiora memperbaiki tiap-tiap kerusakan. Juni---teman sekelas sekaligus teman pertama Fiora, akan Fiora selesaikan permasalahannya agar... Fiora bisa menjadi berharga.
Dianggap, dicintai, dihargai, dan dibutuhkan, Fiora menginginkan perasaan itu timbul dari orang sekitar yang meminta bantuan dirinya, terdengar konyol, tetapi, memang hal itulah, kenyataan yang diam-diam Fiora simpan di relung hati. Karena ketika Fiora sudah disayangi ketidaksempurnaannya juga diterima masa lalunya, Fiora akan merasa hidup. Hidup yang benar-benar diinginkannya. Hidup tanpa trauma dan dicintai sedemikian rupanya.
Fiora menyorot lurus, retinanya jatuh menangkap wajah dua perempuan yang duduk paling depan dekat pintu, sedang melakukan aktivitas memakan bekal. Fiora mengabaikan beberapa sorot penasaran dan sorak siulan dari kumpulan murid lelaki, mengingat Fiora telah menampakkan kaki di kelas dua belas IPS tiga kala bel istirahat berbunyi.
Fiora mengulang semua kronologi yang berputar di otak. Juni telah menjadi kekasih Riki Irwana, sesudah Fiora melampiaskan amarah besar setelah bel pulang sekolah, besoknya, Juni menghilang selama dua minggu lebih, kemudian di hari pelajaran olahraga tepat kamis sore, Riki mencaci-maki Fiora, mengejek secara gamblang, bahwa lelaki itu sudah mengambil keperawanan Juni Astina. Tepat di sanalah Riki maupun Juni benar-benar hilang dan tak pernah memasuki kelas. Selalu absensi tanpa memberi alasan mengapa mereka tidak bersekolah. Bella turut menghilang membuat pengawasan Fiora mengenai masalah Juni merenggang. Selanjutnya ketika sadar, hampir satu bulan terlewati Juni menelfon Fiora akan kedesakkannya mencari Riki Irwana.
Dari penjelasan Juni, membuktikan bahwa Juni baru saja tahu dirinya hamil tepat kemarin malam. Maka gadis itu, tak lagi mau menampakkan diri pulang ke rumah dan lebih memilih menunggu Riki, di apartemen, tempat biasa mereka melakukan hubungan saling menguntungkan---well---tugas sekolah Riki dan beberapa ujian-ujian, semua dikerjakan Juni, lalu ketika mereka telah tiba memutuskan sama-sama masuk sekolah, Riki akan mengumpulkan semua tugas itu.
Alamat rumah Riki, yang tertera di penjelasan buku identitas, bukan alamat rumah sesungguhnya, maksudnya Juni sudah pernah mencoba ke sana dan yang dirinya temukan rumah biasa di kota, hampir, tak pernah Riki kunjungi. Untuk itu, Juni lebih memilih menetap di apartemen.
"Ada yang bisa dibantu?" Suara itu berasal dari perempuan berambut ikat satu berponi, Fiora menelan saliva menekan kegugupan, menghadapi orang asing. Fiora memejamkan mata, kemudian berujar pelan. "Aku... boleh minta tolong kakak jelasin ke aku tentang... Riki... maksud aku Kak Riki Irwana selama di kelas? Soalnya, ini... ada kaitannya sama temen aku." Dua perempuan itu saling berpandangan, kemudian, secara serentak, memandang Fiora lekat. "Maksud kamu temen yang pake kacamata, sering dikepang dua itu?" Ahh mereka mengenali Juni, Fiora mengangguk cepat. Kakak kelas perempuan itu, mulai memanggil salah satu murid lelaki yang menjadi teman tongkrongan Riki. Dari sanalah segalanya mengalir.
Mereka menjelaskan bagaimana sikap Riki yang mudah berbaur, populer, dan cerdas di bidang olahraga. Lelaki itu memiliki banyak teman dari berbagai jenis. Dia merokok, senang minum-minum, dan sekarang-sekarang ini memasang tindik di tengah lidah. Riki tak pernah terlihat mengganggu murid perempuan lain, kecuali pada Juni Astina, yang bisa dirinya manfaatkan. Lelaki itu tidak memiliki wali tetap, berbeda dengan Fiora yang berstatus tanpa wali, Riki Irwana tidak benar-benar memiliki wali, maksudnya dalam berkas identitas tertulis nama ayahnya, namun demikian, acara sekolah, semisal rapat, pengambilan rapot atau kegiatan penting lainnya, tak pernah ada orang tua yang mengunjungi seorang Riki Irwana. Sehingga, teman sekelasnya pun tak ada yang pernah tau mengenai keluarga lelaki berlidah tindik itu.
Benar bahwa ungkapan Juni yang mengungkapkan ketidakjelasan alamat Riki. Tak pernah ada satu pun yang pernah melihat secara langsung rumah utama Riki yang ditempati keluarganya. Riki memang senang bermain, tetapi lelaki itu, seolah tetap memberi batasan pada mereka yang dirinya anggap tidak boleh menjangkau kawasannya. Juni adalah pengecualian, mereka mengatakan bahwa sikap Riki bisa sangat berubah bila berhadapan dengan Juni. Fiora merasa teka-takinya tak terselesaikan dengan baik. Gadis berambut hitam bernetra coklat itu belum menemukan mengenai jati diri sesungguhnya seorang Riki Irwana. Terakhir, Fiora diberi tahu tempat di mana biasanya Riki berada bersama teman tongkrongannya. Kelab malam kota.
Fiora mengenakan gaun biru tua sepanjang lutut, dibalut jaket coklat usang, menaiki taksi menuju tempat yang dijelaskan kakak kelas tersebut padanya. Fiora menggigit bibir, berjalan takut-takut ketika melihat kumpulan orang-orang kota menggunakan pakaian tipis bersama pasangannya. Fiora memejamkan mata, menggunakan tudung jaket menutupi rambut gadis itu sembari merasa gelisah. Fiora menyorot pintu masuk kelab yang dijaga penjaga, ia harus memberikan identitas terlebih dahulu, yang menyatakan bahwa dirinya sudah berumur delapan belas tahun baru bisa memasuki kelab. Fiora tidak bisa memasukinya begitu saja, ia harus menunggu lebih malam agar pengawasan tidak seketat ini. Lagipula, umur Fiora masih menginjak enam belas tahun, bagaimana mungkin ia bisa lolos ke dalam. Dirinya tidak tahu caranya membohongi penjaga kelab.
Fiora mengusap wajah gusar. Ia berjongkok bersembunyi di balik rerumputan. Matanya memanas. Bohong bila Fiora mengatakan ia tidak ketakutan. Jelas sekujur tubuh Fiora bergetar, melihat tempat asing yang ada di depan mata. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, langit semakin menggelap seiring berjalannya waktu. Fiora menggigit bibir, tersentak ketika iris gadis itu, menemukan lelaki keluar di sana disusul empat teman kumpulannya. Fiora memincingkan mata, memperjelas penglihatan. Gadis itu menguatkan gigitan, saat sadar lelaki perokok itu, adalah Riki Irwana. Fiora menyeka air matanya cepat, mengepal kedua tangan tanpa ragu.
Riki bisa bersenang-senang di sini, mendadak tak ada kabar meninggalkan Juni yang sedang mengandung. Fiora tahu, dirinya sudah terlalu mencampuri urusan temannya itu. Namun, Fiora benar-benar sudah terlanjur mengetahui semua yang sedang terjadi, terlebih Fiora sudah berjanji akan membantu, Fiora tidak bisa membiarkan Juni menanggung masalahnya sendiri.
Gadis itu berjalan mengikuti Riki bersama teman-temannya menuju gang gelap yang agak sempit. Tanpa berpikir panjang, Fiora menghampiri lelaki itu, berdiri di tengah tatapan lekat yang menyorotnya penuh. Fiora terisak, sedetik kemudian, melayangkan tamparan pada wajah Riki. Fiora sesegukkan.
Salah satu teman Riki beranting putih itu, menuduh berceletuk, "Selingkuhan baru nih?" candanya disahuti tawa teman yang lain.
"Kalau lo nggak mau, ceweknya bisa buat gue, Ki. Santai!" Lagi mereka mengujarkan candaan.
Riki tak terganggu, sorotnya menyorot lurus Fiora yang masih setia akan isakkannya. Tanpa perlu berpikir, Riki tahu bahwa kedatangan Fiora berhubungan erat dengan Juni Astina. "Kalau alasan lo nggak bisa gue toleran, gue berani pukul lo balik." Nadanya terdengar mengancam.
Napas Fiora berubah putus-putus. "Ka-Kakak tahu... Juni sekarang sedang mengandung?" Air mata Fiora turun. "Kalau dari awal Kakak nggak pernah serius sama Juni kenapa harus ngambil keperawanan dia!" Notasinya kacau, jantung Fiora berdegup keras.
Riki mengajukan protes menyahutkan balasan. "Denger ya, Juni sendiri yang ngasih semuanya buat gue! Gue nggak pernah maksa, yang gue butuh cuma dia ngerjain tugas-tugas gue!" Mendengar hal itu sebagian diri Fiora membenarkan, di sisi lain, Fiora juga merasa Riki melakukan sikap yang sama salahnya.
Fiora memekik menjerit. "Bukan berarti Kakak beneran ngambil keperawanan Juni! Kakak harusnya punya harga diri!"
Riki tersenyum sinis, sekilas sorotnya terlihat menggelap samar, hanya bertahan beberapa detik lalu berganti dengan sinar mengejek. "Lo bilang harga diri? Seharusnya temen lo diajarin buat punya harga diri!" Riki memegang kedua bahu Fiora, mencengkramnya erat memberikan intimidasi kuat. Selanjutnya pandangannya memburam, ketika pukulan telak mengarah padanya, membuat cengkraman lelaki itu merenggang kehilangan keseimbangan. Riki memundurkan langkah, menatap sesosok yang sama tinggi dengannya sedang melirik tak berekspresi. Sudut bibir Riki terluka, ia mengusap tanpa ringis, tertawa menatap Ravin berdiri menantang melindungi Fiora di belakang. Oh apakah sekarang dia adalah pemeran antagonisnya?