Fiora melihatnya lagi, sosok sama yang telah mengenalkannya, pada dunia luar, agar bisa bebas dari kekangan Istari sementara. Sepasang iris hitam pekat, dengan sinar redup yang berbeda. Fiora memperhatikan punggung tegap Ravin sejenak, kilasan samar punggung bocah lelaki dua belas tahun, merayapi pikiran si gadis, memberi aliran kehangatan di rongga d**a. Fiora kembali mengingat bagaimana Ravin tersenyum, mengajaknya menuju bukit. Gadis itu sama sekali takkan pernah melupakan masa-masa itu.
Kalau melihat sikap Ravin yang seperti ini, bukankah Fiora bisa salah paham. Fiora memalingkan wajah, takut terhadap perasaannya yang kalah. Ia merindukan bagaimana cara mereka berteman seperti dulu. Gadis itu menggigit bibir menekan kegelisahan. Bohong bila Fiora, tidak menginginkan masa-masa itu kemb