Ep 2. Bimantara Alias Daryana
10 tahun berlalu.
Selama 10 tahun kabar menghilangnya putra raja tersebar ke seluruh penjuru, anak yang baru lahir membuat semua orang kebingungan bagaimana identitas putra mahkota tersebut, namun satu yang menjadi ciri khas putra Raja yaitu simbol naga di bagian belakang tubuh, sudah 10 tahun pencarian dilakukan, tapi tidak menemukan keberadaan putra mahkota.
Semua orang beranggapan kalau putra mahkota sudah terbunuh, tapi Ratu Ranti Pramudita masih bersikukuh kalau putranya masih hidup, semua orang tahu kalau penyebab menghilangnya Pangeran mahkota yaitu pemberontakan 10 tahun lalu. Meskipun sudah menyebar ke seluruh penjuru, luasnya daratan Nusantara membuat semua orang kesulitan mencari keberadaan pangeran mahkota.
Simbol naga di punggung Daryana menghilang setelah beberapa bulan, simbol naga adalah simbol warisan yang diturunkan langit, simbol naga akan muncul dalam keadaan tertentu, Wulandari menemukan seorang bayi di depan rumahnya, ia mengangkat menjadi anak dan memberi nama Bimantara, suami Wulan bernama Anggabaya, mereka dari keluarga kecil di desa siraman.
Wulandari menghampiri anaknya yang duduk diteras rumah "Putraku, apa yang kamu pikirkan?"
Bimantara melihat ke arah sosok cantik "ibu aku mau masuk perguruan kain kuning!"
"Nanti setelah ayah pulang, kita bicarakan ya!"
"Iya ibu, tapi aku takut ayah marah!"
"Tidak, ibu akan melindungimu…. Sekarang ayo masuk, ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu!"
"Hore… ibu baik sekali!"
Dua sosok masuk ke dalam rumah, saat itu juga sosok pria tiba di rumah tersebut, Wulan langsung menyiapkan wadah untuk makan bersama, Anggabaya pergi mandi membersihkan diri, ia meletakkan keris di atas meja, Bimantara mengerutkan kening melihat keris di meja makan, ia merasakan kehadiran suatu Roh gaib dalam keris, setiap tatapan Bimantara membuat keris berputar-putar.
"Bocah, aku adalah Ratu ular… siapa namamu?" tanya Roh di dalam keris.
"Aku Bimantara anak dari pemilik keris ini!"
"Hoho… tidak buruk, aku bisa melihat kekuatan besar di dalam tubuhmu!"
"Kekuatan apa?"
"Naga Bulan!"
"Sayang, kamu bicara sama siapa?" tanya Wulan melihat Bimantara anaknya.
"Sama dia ibu!" ucap Bimantara dengan Pelos.
"Keris ayahmu? Bagaimana bisa?"
"Itu dia!"
"Ibu tidak melihat apa-apa!"
Sosok pria keluar dari kamar mandi, ia duduk di meja makan bersama anak dan istrinya.
"Wulan ada apa?" tanya Anggabaya
"Anak kita bicara dengan kerismu itu!"
"Benarkah… nak, apa yang dia tanyakan?"
"Dia bertanya namaku!"
"Apa ada lagi?"
"Dia bilang aku memiliki kekuatan!"
"Apa nama kekuatan itu?"
Bimantara menggaruk kepalanya yang tidak gatal "aku lupa!"
"Em… sudahlah, ayo kita makan!"
Tiga sosok menikmati makanan bersama, sambil menikmati makanan Wulan menceritakan kepada suaminya kalau Bimantara ingin masuk perguruan beras putih, Anggabaya terdiam sesaat, ia merasa tidak yakin karena sangat menyayangi putranya Bimantara.
"Istriku, bukannya aku tidak mengizinkan, tapi aku takut dia kenapa-kenapa.. dunia persilatan tidak mudah untuk ditempuh!"
"Ayah, aku mohon izinkan aku… aku hanya ingin melindungimu dan ibu saat tua nanti, aku tidak mau terjadi apa-apa!"
"Suamiku, izinkanlah dia!"
Anggabaya menarik nafas panjang "baiklah, aku mengizinkannya… besok aku akan mengantarkan ke perguruan beras putih!"
"Hore…. Ayah memang baik!"
"Tapi ingat, jangan nakal disana!"
"Baik ayah!"
Setelah menikmati makanan, semua orang berbalik masuk ke kamar, semua mata sudah tertidur pulas, suara jangkrik menjadi nyanyian di malam hari, sosok Roh di dalam keris memperlihatkan diri, ia melayang ke arah anak berusia 10 tahun.
"Kekuatan ini, siapa anak ini sebenarnya?"
"Kalau dia dibiarkan masuk ke perguruan beras putih aku takut terjadi sesuatu!"
"Tapi ini keinginannya!"
Sosok roh kembali masuk kedalam keris, ia sangat penasaran dengan anak dari tuannya sendiri. Didalam tubuh Bimantara seekor jiwa naga tertidur, kalau naga tersebut bangun maka rumah kecil akan hancur akibat gelombang spiritual. Beberapa jam kemudian matahari mulai terbit, suara ayam berkokok membangunkan semua orang di penduduk desa, pagi itu itu juga tiga sosok berjalan menuju perguruan beras putih.
"Hoi .. mau kemana?" tanya penduduk sekitar.
"Mengantarkan dia ke perguruan beras putih!" jawab Anggabaya.
"Haha… sepertinya desa kita akan memiliki pendekar baru!"
"Tentu saja!"
Identitas Anggabaya adalah Pendekar kampung yang tidak terkenal, atau pendekar tingkat rendah, keris yang dimiliki adalah milik almarhum ayahnya, ayah Anggabaya adalah seorang pendekar kuat dunia persilatan dan kerisnya adalah salah satu pusaka dunia yang dianggap hilang. Untuk tiba di perguruan beras putih tiga sosok harus naik ke atas gunung, setelah itu baru bisa tiba di sana, keberadaan perguruan beras putih di puncak gunung tertinggi, waktu yang dibutuhkan sekitar dua hari.
Dua hari berlalu.
Tiga sosok sudah melihat gerbang besar dan bangunan kayu, disana juga terlihat banyak orang, Anggabaya, Bimantara dan Wulan sudah tiba di perguruan beras putih, mereka langsung menghampiri salah satu orang.
"Ada yang bisa kamu bantu saudaraku?" tanya mbah beringin.
"Mbah, kami ingin memasukkan anak kamu ke perguruan beras putih!"
"Ayo ikut aku, aku akan mengantarkan kalian ke pimpinan!"
"Terimakasih!"
"Lihat-lihat ada murid baru!"
"Benar, ada murid baru!" ucap semua anggota.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah berada di kediaman guru besar, Mbah beringin memberitahu kalau mereka ingin memasuki anak mereka ke dalam perguruan, sosok tua meminta Mbah beringin dan kedua orang tuanya keluar dari ruangan, setelah itu sosok tua melihat ke arah anak di depannya, dua sosok mahluk gaib berusia 1000 tahun muncul di samping sosok tua, Bimantara tidak gentar sedikitpun melihat makhluk halus berusia 1000 tahun, guru besar atau Eyang Ratih mengerutkan kening melihat mental bocah kecil di depannya.
"Apakah kamu tidak takut, mereka berusia 1000 tahun!"
"Kakek, aku punya teman seperti mereka, usianya 10.000 tahun!"
Tubuh Eyang Ratih bergetar mendengar ucapan bocah di depannya "Apakah kamu tidak berbohong?!"
"Tidak, tapi dia tidak mau mengatakan namanya!"
"Namaku Eyang Ratih, siapa namamu!"
"Aku Bimantara!"
"Siapa sebenarnya anak ini, mahluk 10.000 tahun hanya memperlihatkan diri untuk orang yang pantas di temui!" gumam sosok tua.
"Apa tujuanmu masuk ke perguruan ini?"
"Aku ingin menimba ilmu dan melindungi semua orang dari perbuatan jahat!"
"Nak, kalau aku membunuhmu sekarang? Apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan melawan, sebelum mati aku harus berjuang untuk bertahan hidup!"
"Bagaimana kalau kamu benar-benar mati!"
"Sekarang aku masih hidup, kakek tidak mungkin membunuh anak kecil sepertiku… lagipula aku tidak memiliki apa-apa!"
"Haha… kamu diterima, cepat beritahu orang tuamu!"
"Hore…. Terima Kasih kakek!" teriak bocah 10 tahun berlari keluar.
"Anak ini sungguh ceria, sepertinya takdir yang dia miliki sangat menyedihkan!" gumamnya Eyang Ratih.
Guru besar perguruan beras putih memberitahu kedua orang tuanya kalau ia akan menyediakan makanan dan tempat tinggal untuk putra mereka, sebelum berpisah kedua orang tua Bimantara memeluk erat tubuh anaknya, setelah itu berbalik pergi meninggalkan perguruan beras putih, perlahan dua sosok menghilang dari pandangan, Mbah beringin mengajak Bimantara bergabung dengan murid lainnya.
Bersambung …