Ep 3. Kitab Candrawasih
Setelah kepergian kedua orang tua, Bimantara di antar ke kamar bersama Mbah beringin, perasaan senang terlihat di wajah anak berusia 10 tahun, tidak butuh waktu lama ia sudah berada dikamar, Mbah beringin memberikannya seragam perguruan berwarna hitam dengan corak gunung dikelilingi ular putih.
"Nak, kalau kamu lapar? Datang saja ke tempat makan!"
"Terimakasih!"
"Em… aku pergi dulu!"
"Baik!"
Perlahan sosok tua menghilang dari kejauhan, Bimantara menutup pintu kamar, saat itu juga beberapa sosok menahan pintu, Bimantara membentur pintu lalu terjatuh, ia melihat 10 orang anak senior di depan pintu.
"Aku adu parin murid senior disini, cepat serahkan barang berharga!"
"Aku tidak memiliki apapun!" jawab Bimantara ketakutan.
"Bohong… cepat periksa dia!"
"Baik bos!"
Sembilan orang memeriksa seluruh tubuh Bimantara, namun tidak menemukan apapun.
"Bos, dia tidak memiliki apa-apa!"
"Dasar miskin… hajar dia!"
"Baik bos!"
"Apa salahku?"
Semua murid senior memukuli dan menendang Bimantara, bocah berusia 10 tahun memegang kepalanya agar tidak terkena tendangan, bibir pecah menghantam kaki dan dahi benjol akibat pukulan, Bimantara terbaring menahan rasa sakit, 10 murid senior berbalik pergi meninggalkan kamar.
"Itu akibatnya tidak membayar uang pajak kepadaku!"
"Buk!" suara tendangan menghantam perut.
"Aaaa!" Bimantara batu darah.
"Tolong…!"
"Tolong…!"
Satu murid perempuan mendengar suara minta tolong, ia segera menghampiri ke arah kamar tersebut, setelah berada di depan pintu, Mayang melihat Bimantara terbaring lemas dan memar di sekujur tubuh, ia langsung membantu Bima berbangun, tidak butuh waktu lama Bima sudah terbaring di atas tempat tidur.
"Kamu murid baru itukan!"
"Iya!"
"Siapa yang melakukan ini?"
"Dia menyebut dirinya adu parin!"
"s****n, mereka lagi… selalu saja berbuat onar!"
"Maya, sedang apa kamu disini?" tanya Arya dari luar.
"Dia baru saja di hajar komplotan Adu parin!"
"s****n, mereka selalu berbuat onar!"
Arya berjalan memasuki kamar "adik, biar aku bantu sembuhkan lukamu!"
"Terimakasih kak!"
"Maya, kamu ambilkan makanan untuknya!"
"Oke!"
Maya berjalan keluar kamar, sedangkan Arya membantu Bimantara mengobati luka di wajah. Sambil mengoleskan cairan obat, Arya menceritakan kalau kelompok Adu parin memang sering menyiksa murid baru, banyak murid tiada tanpa sepengetahuan guru besar, Bimantara yang mendengar itu mengepalkan tangannya.
"Beritahu aku kalau mereka mengganggumu nanti!"
"Baik kak!"
Maya memasuki kamar, ia membawakan makanan hangat, tiga sosok menikmati makanan bersama, mereka saling memperkenalkan diri. Maya adalah anak dari keluarga bangsawan dan Arya adalah anak pedagang.
"Ayah dan ibuku bertani!"
"Tidak apa adik, selagi kita masih hidup? Keluarga yang utama!"
"Iya kak!"
Maya melihat ke arah Arya "apakah kamu sudah menyelesaikan tugas guru?"
"Sudah, baru tadi aku menyelesaikannya!"
Setelah mengobrol Maya dan Arya meninggalkan kamar, dengan cepat Bimantara menutup pintu kamar, ia begitu ketakutan kalau di hajar kembali, Bima berbaring di atas tempat tidur, perlahan bocah 10 tahun tertidur pulas. Maya dan Arya juga sudah tidur di kamar masing-masing.
Tujuh jam kemudian.
Matahari mulai terbit menyinari perguruan beras putih, semua murid diminta untuk berkumpul di halaman, lima menit kemudian semua orang sudah berada di tempat tersebut, sosok tua berjalan dengan tongkat kayu.
"Semua muridku, apakah kalian sudah sarapan pagi ini?"
"Sudah guru!" ucap semua murid.
"Bagus, hari ini kita harus mengulangi gerakan dan teknik bertarung yang sudah aku berikan!"
"Baik guru!"
"Sebelum itu perkenalkan dia Bimantara, teman baru kalian!"
"Salam!" ucap semua orang.
"Guru, apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu ikutlah dulu dengan guru kunanti, ia akan mengajarimu tahap dan penjelasan sebelum berlatih!" ucap Eyang Ratih.
Bimantara berjalan ke arah Kunanti, Kunanti adalah putri murid dari perguruan Cendrawasih, ia tidak memiliki suami karena tidak ada yang berani mengangkat sebagai istri, Kunanti mengajak bocah berusia 10 tahun duduk dibawah pohon, setelah itu menjelaskan semua tahapan berlatih.
"Duduklah!"
"Baik guru!"
"Sebelum berlatih, utamakan niat terlebih dahulu… kalau niatmu kuat? Semakin cepat juga perkembanganmu!"
"Em..!"
Tingkat Petarung.
Petarung Awal
Petarung Sejati
Petarung Suci
Pendekar Awal
Pendekar Sejati
Pendekar Suci
Pertapa Telepati
Pertapa Jiwa
Pertapa Samudra
Kaisar Semedi
Kaisar Pedang
Kaisar Nirwana
Nirwana Puncak
Nirwana Dewa
"Itu adalah tingkatan kekuatan yang dimiliki seseorang, sekarang aku berada di pendekar sejati!"
"Aku mengerti guru!"
"Bagus, sekarang aku beritahu tingkatan sebuah pusaka!"
Pusaka Besi
Pusaka Perunggu
Pusaka Emas
Pustaka Putih
Pustaka Merah
Pustaka Hitam
Pustaka Jiwa
Pustaka langit
Pustaka dewa
"Iya guru!"
"Sekarang beridirilah, ikuti gerakanku!"
Bimantara meredakan kuda-kuda, maju dua langkah lalu memutar badan searah jarum jam, Kunanti mengulangi 10 kali, setelah itu menambah keceriaan gerak, di belakang Bimantara terus mengikuti tanpa ada kesulitan sedikitpun, setiap gerakan yang diperlihatkan membuat Kunanti tersentak kaget.
"Perkembangan anak ini, sangat cepat… dia mudah mengingat sesuatu!" gumam Kunanti.
"Lakukan sendiri, aku ingin melihatnya!"
"Baik guru!"
Bimantara maju dua langkah dengan kuda-kuda rendah, memutar badan lalu melesatkan tendangan, setelah itu melompat-mendarat dalam posisi siap, ia kembali mengulang gerakan, gerakan sambungan seolah tidak pernah habis atas putus di tengah jalan. Setelah selesai berlatih, Kunanti memberikan sebuah kitab warisan kepada muridnya.
"Kitab apa ini guru?"
"Itu kitab beladiri cendrawasih, jangan sampai hilangkan kitab itu…!"
"Baik guru!"
"Setelah menguasainya, beritahu aku!"
"Iya guru!"
Kunanti berbalik pergi, Bimantara duduk di bawah pohon, ia mencoba melihat isi kitab, gambar-gambar gerakan terlihat dan beberapa keterangan yang harus di ketahui, di dalam kitab juga dijelaskan dampak setiap gerakan yang terlalu sering di gunakan, di sisi lain semua murid juga memegang kitabnya masing-masing, sebagian murid berlari bersama.
Dua sosok berjalan menghampiri Bimantara, Maya dan Arya duduk di samping bocah 10 tahun.
"Wah, kamu mendapatkan kitab ini!"
"Hebat, pasti orang pilihan guru Kunanti!" ucap Maya.
"Memangnya kitab ini?"
"Hei, kitab itu adalah teknik khusus yang dimiliki guru Kunanti, ini kedua kalinya guru Kunanti mewariskannya ilmunya!" bisik Maya.
"Jadi yang pertama siapa?"
"Hanisi, dia sudah tiada… sayang sekali, waktu itu perguruan beras putih mendapatkan serangan dari perguruan selendang biru… banyak murid tewas, salah satunya murid kesayangan guru Kunanti!"
"Perguruan selendang biru?"
"Iya, hati-hati kalau bertemu mereka? Mereka kejam dan tidak memberikan ampun kepada lawan… mereka juga salah satu perguruan kuat!"
"Iya!"
"Satu tahun lagi akan ada turnamen muda, kamu harus ikut, kalau kamu menang bisa mendapatkan hadiah!*
"Wah, apa hadiah itu?"
"Sebuah pusaka, koin emas, dan kesempatan untuk masuk perguruan lebih besar di pusat kekaisaran!*
"Aku tertarik!"
"Tapi sulit sekali, ada ribuan peserta di seluruh dataran!"
"Iya ya!"
"Jangan putus asa, kita pasti bisa!"
"Oke!"
Tidak terasa matahari mulai tenggelam, semua orang berbalik ke kediaman, Bimantara berjalan ke arah rumahnya, setelah berada di dalam kamar ia kembali membuka kitab cendrawasih milik guru Kunanti, bocah berusia 10 tahun mulai tertarik dengan tehnik-tehnik bertarung, ia juga memiliki cita-cita menjadi sosok terkuat di muka bumi.
Bersambung…