Ep 4. Kematian Wulan dan Anggabaya
Setelah makan malam Bimantara melanjutkan membaca kitab cendrawasih, dengan cepat bocah berusia 10 tahun mengingat satu-persatu halaman, semakin banyak halaman yang terbalik maka semakin membuat Bimantara penasaran, tanpa sadar suara ayam berkokok dan matahari pagi menembus dataran, saat itu juga Bimantara selesai membaca semua kitab cendrawasih, namun matanya sangat mengantuk.
"Aduh, aku ikut makan pagi saja, setelah itu tidur?"
Bimantara berjalan ke atau ruang makan, tidak butuh waktu lama Bima sudah berada di ruang makan, disana terlihat banyak murid, Bima duduk di meja makan, saat ingin menyuap makanan? Kelompok Adu parin menghampirinya lalu membalikkan makanan milik Bimantara, wajah Bima terlihat kesal, ia ingin sekali membunuh orang didepannya.
"Kau…!"
"Apa!, kamu ingin melawanku!"
"Pak…!" Pukulan di wajah.
Bima terjungkal dari duduknya, ia memegang pipi yang sakit, adu parin melemparkan sisa makan ke wajah bocah 10 tahun membuat semua orang di dalam ruang makan tertawa lantang, Bimantara merasa malu dan meneteskan air mata, ingin melawan tapi tubuhnya masih terlalu kecil.
"Kamu jahat!"
"Apa, aku jahat… hahaha, itu salahmu terlalu lemah!"
"Hajar saja dia!"
"Baik bos!"
"Berhenti…!" teriak Arya dengan wajah serius.
"Arya, untuk apa kamu melindungi s****h tidak berguna ini!"
"Kataku hentikan, atau tempat ini akan berlumuran darah!" bentak Arya memperlihatkan niat membunuh.
Semua anak buah Adu parin berkeringat dingin, mereka takut kalau Arya menarik kerisnya, kalau keris tertarik dari sarung akan ada nyawa yang melayang meskipun keris tidak menyentuh tubuh, Adu parin memerintahkan semua anak buahnya meninggalkan ruangan makan, disisi lain semua orang terdiam ketakutan, mereka tidak ingin menyinggung sosok Arya.
"Apa yang kalian lihat hah, ingin mati!" ucap Arya ke arah semua murid di ruangan.
"Terimakasih kak!"
"Adik, lain kali kalau mereka mengganggumu, panggil namaku? Biar aku habisi!
"Baik!"
"Ambilah lagi makanan itu, kamu belum makan!"
"Iya kak!"
"Aku pergi dulu, masih ada urusan!" ucap Arya berbalik pergi.
Bimantara mengambil makanan, ia duduk kembali di meja makan, sambil menikmati makanan Bimantara mengingat semua isi kitab cendrawasih, setiap gerakan terlintas di pikirannya, setelah menikmati makanan Bimantara berbalik ke kamar, ia begitu mengantuk setelah tidak tidur semalaman.
Semua murid berkumpul di halaman, beberapa guru sudah berada di sana, mereka menyadari kalau ada satu murid tidak hadir, kelompok Adu parin memberitahu kalau Bimantara tidak ada.
"Guru, Bimantara tidak ada? Dia pemalas, sekarang dia tidur di kamar!" ucap Adu parin.
"Apa… cepat panggil dia!"
Arya mengangkat tangan "Tunggu, guru? Mungkin dia sedang sakit, pagi tadi kelompok Adu parin menyiksa Bimantara!"
"Apakah itu benar?"
"Tidak guru, tanya saja kepada semua murid.. hai kamu Arya, jangan bicara sembarang!"
Semua murid tidak ada yang berani bicara, kalau memberitahu akan dihajar oleh kelompok Adu parin, Arya mengepalkan tangannya melihat keadaan tidak berpihak.
"Arya, lain kali jangan sembarang menuduh… itu tidak baik!" ucap Eyang Ratih.
"Baik guru!"
"s****n!" guamam Arya.
"Adu parin, cepat panggil Bima!"
"Baik guru!"
Arya menghentikan langkah semua orang "Guru, biar aku memanggilnya!"
"Kembali!" ucap Eyang Ratih.
"Ba-baik!"
"Haha … dimarahi kau!" bisik Adu parin berjalan menuju kamar Bimantara.
Setelah berada di kamar, kelompok Adu parin menyeret paksa Bimantara, mereka membawa ke halaman kediaman, semua tetua melihat ke arah anak berusia 10 tahun.
"Adu parin kembali ke tempat!"
"Baik guru!"
Eyang beringin melihat ke arah Bimantara "nak, kenapa kamu masih ingin tidur?"
"Tidak ada, aku hanya masih mengantuk!"
"Aku akan memberikan hukuman untuk pemalas sepertimu!"
"Baik guru!"
"Kamu timba air di sumur itu untuk semua murid!"
"I-iya!"
"Haha… !" tawa semua murid melihat Bimantara menerima hukuman.
"Arya!" gumam Maya tidak tega.
Bimantara berjalan menuju sumur, ia harus menimba air untuk semua murid, setelah berada di depan sumur Bima duduk bersandar di tiang, perlahan anak berusia 10 tahun kembali tertidur, rasa ngantuk membuat Bimantara tidak kuat menahannya, baru beberapa detik ia kembali tertidur pulas, disisi lain semua murid sudah memulai latihan mereka.
—----------
Di desa siraman terjadi pertarungan satu melawan puluhan orang, beberapa sosok kuat datang ke desa saat mendengar keberadaan pusaka milik Anggabaya, Anggabaya meminta istrinya membawa keris milik almarhum ayahnya, di tengah hutan Wulan berlari kencang, sedangkan Anggabaya bertarung di desa siraman.
"Serahkan pusaka itu!"
"Tidak akan, kalau pusaka itu jatuh ke tangan kalian… makan dunia persilatan akan kacau!"
"Serang…!"
Pertarungan kembali terjadi, Anggabaya berhasil membunuh tiga sosok di depannya, namun ia sudah sangat kelelahan, di bagian d**a terlihat luka tusukan dan tebasan pedang, sosok Anggabaya sudah berlumuran darahnya dan dari darah musuh, di sisi lain Wulan dikejar beberapa orang, tidak butuh waktu lama ia berhasil ditangkap.
"Lepaskan…!"
"Cepat ambil keris itu!"
"Baik tuan!"
Setelah mengambil keris Wulan dibunuh, saat itu juga Anggabaya juga menghembuskan nafas terakhir, sebuah pedang menancap tepat di jantung mereka, kedua orang tua angkat Bimantara menghembuskan nafas terakhir, Bimantara mengigau dari tidur, ia memanggil ibu dan ayah.
"Tidaaaaaaaaak!" ucap Bimantara terbangun.
"Ayah, ibu? Apa yang terjadi!"
"Aduh… aku belum menimba air sedikitpun, sekarang matahari mulai gelap!"
"Guru!, dia Belum melakukan tugasnya!" teriak adu parin.
"Apa!"
Pimpinan perguruan menghampiri Bimantara, ia melihat ke arah anak berusia 10 tahun.
"Bima, apakah kamu ingin jadi pemalas… sekarang kamu tidak menyelesaikan tugasmu sama sekali!"
"Maaf guru, aku tertidur!"
Sosok tua menghela nafas "sekarang kembalilah, ingat? Mulai besok selama satu bulan kamu harus menimba air setiap hari!"
"I-iya guru!"
Bimantara berjalan menuju kamar, wajah sedih menghiasinya anak 10 tahun, setelah berada di kamar Bimantara duduk diam, suara ketukan pintu terdengar.
"Guru Kunanti, ayo masuk!"
"Em…!"
"Ada apa guru?"
"Nak, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu!"
"Apa itu?"
"Makalah duku makananmu, setelah itu aku akan menceritakannya!"
"Baik guru!"
Bima menyuap makanan, Kunanti merasa kasihan dengan keadaan muridnya, ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya.
"Ayah dan ibumu telah tiada!"
"A-apa!"
"Iya, menurut kabar dari penduduk? Ada beberapa orang yang datang menyerang, mereka ingin mendapatkan pusaka milik ayahmu!"
Bimantara berlutut "Tidak mungkin, ayah dan ibu tidak mungkin tiada!"
"Dalam perjalanan pulang aku mendapatkan kabar pertarungan, aku memeriksanya sendiri, tapi itulah yang aku terima… aku melihat ayahmu tergeletak, setelah itu menemukan ibumu tiada di tengah hutan… aku memakamkan mereka di desa siraman!"
"Tidaaaaaaaaak!"
"Ayah, ibu…!"
Bimantara menangis sejadi-jadinya, Kunanti terdiam melihat kesedihan bocah hadapannya, ia memejamkan mata tidak sanggup melihat.
"Siapa yang membunuh mereka!"
"Masih dalam penyelidikan!"
"Aku sendiri yang akan membalas dendam kematian ayah dan ibu!"
Bimantara memperlihatkan kemarahannya "Siapapun orangnya harus mati!"
Angin berhembus kencang dan suara guntur terdengar di atas langit, semua orang tersentak kaget mendengar langit bergemuruh, mereka tidak tahu apa yang terjadi, di dalam kamar Kunanti mencoba menenangkan muridnya.
"Nak, tenangkan pikiranmu… guru akan membantumu menemukan orang itu!"
"Iya!"
Bima terbaring di atas tempat tidur, ia menangis sambil menutup wajah, Kunanti meninggalkan muridnya sendiri, perlahan pintu kamar tertutup.
"Siapa dia sebenarnya, kenapa aku merasakan jiwa kuat didalam tubuh anak itu?"
Bersambung…