DHISTI kira, ia hanya akan bertemu saja dengan teman kencannya tidak di-make over seperti ini. Tapi rencana Viona benar-benar di luar dugaan, Dhisti harus menggunakan make up tebal, rambut palsu dengan model lurus berwarna pirang, tak lupa kontak lensa untuk menanggalkan kacamata Dhisti, dan terakhir dress cantik super seksi dengan warna terang.
Viona benar-benar sudah merencanakan ini semua, sungguh gadis jahat!
Dhisti tidak habis pikir, di mana otak Viona saat membeli dress seksi ini? Kalau Dhisti jadi Viona, ia lebih memilih menyimpan uang lima juta itu untuk modal usahanya dari pada membeli dress yang paling hanya sekali pakai. Lagi pula, mau pergi ke mana Dhisti saat mengenakan dress tersebut? Di bawa pulang ke kampung? Yang ada Dhisti mendapat ceramah dan makian dari bapaknya.
"Sempurna! Cantik banget lo, Dhis." Viona memuji gadis itu dengan wajah yang berseri-seri.
Dasar cewek sadis! Masih saja bisa tersenyum seperti itu di atas penderitaannya.
"Oh iya, pesan gue. Hilangin dulu logat Jawa lo waktu ketemu cowok itu ya!" saran Viona dan Dhisti menangguk paham tanpa menyanggah.
"Oh iya, Vi. Nama cowok itu siapa?"
"Hemp ...." Viona mencoba mengingat-ingat. Ia juga lupa, karena separuh isi kepalanya sedang dipenuhi sang pujaan hatinya. "Oh itu, kalau nggak salah Widhy." Akhirnya gadis itu menjawab.
"Widhy siapa? Profesinya apa?"
"Duh, gue lupa nama lengkapnya. Udah lah nanti 'kan lo bisa tanya langsung. Untuk profesi, kalau nggak salah dia kerja di EO gitu deh."
"Kamu gimana tho, mau kencan tapi buta identitas begitu?"
"Ya dia juga nggak nulis lengkap di profile-nya, mana gue hafal juga semua data pribadi cowok itu. Ini Udah siap 'kan? Ayo gue anter ke tempat janjian!"
"Bentar-bentar, Vi. Ini, aku harus berkarakter kayak gimana? Pakaianku seksi begini lho." Dhisti bingung sembari memperhatikan penampilannya di depan cermin.
Viona senyam-senyum tidak jelas lalu berkata, "Terserah lo mau kayak gimana tapi cewek nakal boleh juga, Dhis!" bisik Viona tepat di telinga Dhisti. Sontak membuat Dhisti berjengit kaget dengan hal itu.
"Oalah, semprul kamu, Vi. Aku harus ngerayu-rayu dia begitu?" Viona mengangguk yakin. "Nggak mau ah," dumal Dhisti yang kini merasa terjebak dengan keputusannya sendiri.
"Dhis, gue kasih tahu ya. Cowok biasanya ilfil sama cewek agresif dan nakal. Jadi, supaya cowok itu menolak kencan ini, ya lo harus jadi cewek nakal!"
"Memangnya dibicarakan baik-baik ndak bisa tho?"
"Yah, Dhis. Zaman sekarang cowok susah dipercaya, bilang A padahal B. Nanti bilang B padahal C dan begitu terus sampai Patung Kuda pindah ke kampung lo!" Dhisti mengernyit di tempatnya berdiri, mendengar ocehan Viona. Lagi pula, siapa juga yang berniat memindahkan patung kuda?
"Ini kamu yakin ngorbanin temen kamu demi membatalkan kencan? Kok ya kesannya kamu sadis bener sih, Vi?" Dhisti masih misuh-misuh.
"Jangan begitu dong, Dhis. Gue 'kan sayang sama lo makanya gue minta bantuan lo. Uangnya juga udah lo terima 'kan? Artinya kita udah sepakat dong?" Viona tersenyum puas seraya menaik-turunkan sebelah alisnya.
Tidak ada pilihan lain, nasi sudah menjadi bubur. Uang pun sudah diterima oleh Dhisti. Sekarang saatnya meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa melakukannya. Semoga lelaki yang akan bertemu dengannya ini bisa diajak berdiskusi secara mudah.
***
Di tempat lain, seorang lelaki tengah mengatur emosinya setelah mendengar berita yang disampaikan oleh mamanya. Lelaki itu adalah Widhy Aryadinata. Ia tidak habis pikir, kenapa mamanya masih saja gencar menjodoh-jodohkan dirinya dengan berbagai macam perempuan? Memangnya ia setidak-laku itu?
Dan yang paling membuatnya kesal adalah ia harus mengikuti kencan lewat sebuah aplikasi. Kenapa mamanya bisa percaya dengan media digital seperti itu sih?
"Widhy!" panggil mamanya lembut.
"Hemp," jawabnya tak acuh.
"Jangan begitu dong, Nak." Sang mama masih merayu anaknya. "Mau ya?"
"Ini pasti gara-gara sugesti Melvin 'kan, Mah? Makanya Mama daftarin Widhy ke situs fakir cinta itu?" Widhy menatap mamanya berang.
"Saran dari siapapun pasti Mama terima, Sayang. Kalau itu memang baik buat masa depan kamu," Rara menjawab pasti. "Pokoknya nanti malam jangan sampai telat, jam tujuh di kafe Loveland! Nama teman kencan kamu Viona, di meja nomor delapan."
"Mah!" Widhy masih berusaha memohon agar sang mama mau mengubah keputusannya.
"No complaint! Sudah ya, ikutin kemauan Mama!"
"Jadi Mama nyuruh Widhy buru-buru pulang cuma buat bilang ini?"
"Iyalah, kalau lewat telepon kamu pasti iya-iya doang tapi tidak menepati janji. Kali ini Mama mohon kamu datang ya! Mama sudah bayar mahal lho." Rara menjelaskan.
"Widhy usahakan kalau nggak sibuk," jawab Widhy pada akhirnya.
"Kamu ‘kan sudah di rumah kok bilang begitu?"
"Nanti Widhy ada meeting, Mah. Eh Mama malah nyuruh Widhy pulang cepet-cepet, kirain ada yang urgent, nggak taunya begini."
“Ya ini juga masalah urgent Widhy Sayang.” Rara masih bersikeras. Widhy tampak akan menyanggah namun Rara mengangkat tangannya guna menghentikan aksi sang anak. “Sudah mandi dulu sana, awas kalau sampai tidak datang nanti malam!”
Widhy memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamarnya, meskipun kesal ia tetap mengikuti ucapan sang mama. Sebelum itu Widhy merogoh sakunya untuk mencari benda pipih. Ia harus menghubungi seseorang, yang rasa-rasanya turut andil dengan malapetaka ini.
“Halo!” sapa lelaki di seberang sana.
"Vin!"
"Kenapa Wid? Lo ke mana sih tadi gue nyariin?"
"Gue di rumah."
"Lho, bukannya lo bilang mau di kantor sampai jam delapan karena ada meeting?"
"Nyokap minta gue pulang," sahut Widhy setengah kesal.
"Kali ini kenapa lagi? Masih masalah perjodohan?"
"Lo pikir masalah apa lagi, Vin?" Terdengar tawa Melvin di seberang telepon membuat Widhy geram dengan hal itu. "Nggak perlu ketawa sok manis begitu, jelek lo!"
"Kalau gue jelek, kenapa Krystal mau sama gue?" tantang Melvin, tanpa mau repot-repot berempati pada sahabatnya yang sedang kesal.
"Sombong lo, sementang udah punya status resmi!" Tawa Melvin semakin meledak mendengar sindiran yang dilontarkan Widhy.
"Kenapa sih, sini cerita sama gue!" tawar Melvin sok bijak.
"By the way, lo ya yang udah bujuk nyokap gue buat daftarin gue di Dateperimen ya?"
"Kata siapa?"
"Jangan bohong! Gue paling benci dibohongi. Buktinya ya, kemarin waktu ke rumah gue, lo mepetin nyokap gue melulu."
"Mepet? Ya kali, Wid."
"Serius, Vin. Jawab!"
"Iya-iya, elah sensi banget sih lo! Dateperimen itu bagus, Wid."
"Lo bisa ngomong begitu karena lo lagi promo, Vin!" Widhy duduk di sisi ranjang setelah melepas kemejanya hingga menyisakan kaus dalam.
"Nggak juga, Wid. Nih ya, di Dateperimen itu semua data user-nya aman dan terpercaya. Banyak lho yang setelah pakai, mereka akhirnya punya pasangan bahkan sampai menikah."
"Memang sistem kerjanya gimana?" tanya Widhy yang mulai ingin tahu.
"Nih ya, di Dateperimen itu ada tiga kali Date Meeting atau kencan sesungguhnya. Sebelum itu lo harus ikut Pre Date Meeting dulu, bisa disebut keputusan awal apakah lo mau lanjut atau nolak kencan itu. Ini offline ya, jadi lo harus ketemuan sama pasangan lo."
Melvin tahu tentang aplikasi Dateperimen karena pencetusnya adalah teman kuliahnya yang berasal dari Korea. Tahu sendiri, di negeri ginseng tersebut kencan buta sudah menjadi hal yang biasa atau malah terkesan lumrah di kalangan masyarakatnya. Dan Melvin hanya membantu mengiklankan aplikasi tersebut, baik melalui media maupun bertatap muka dengan teman dan kerabatnya.
"Ada berapa kali kencan kalau semisalnya gue terima?"
"Tiga kali," jawab Melvin, tangannya memeriksa ponsel yang baru saja bergetar, tanda ia mendapat pesan.
"Kalau gue nolak terus ceweknya nerima gimana?"
"Kencan tetap berlanjut soalnya kedua belah pihak nggak sependapat. Karena setelah Pre Date Meeting juga lo harus ngisi ulasan dan rating tentang pasangan lo. Kalau pasangan lo ngasih penilaian bagus dan lo sebaliknya, 'kan malah aneh." Melvin masih setia menjelaskan. "Kalau yang begitu biasanya nanti dia dihubungi sama tim Dateperimen. Ditanyain gitu, alasan kenapa ngasih ulasan dan rating jelek!"
"Ini tuh aplikasi kencan atau online shop sih, Vin? Pakai acara ulasan sama rating segala!" Melvin tertawa sebentar kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Itulah uniknya Dateperimen dibandingkan aplikasi lain, Wid. Tapi kalau lo semisalnya memang mau nolak pasangan lo, cara yang paling aman adalah ngomong langsung secara baik-baik supaya dia juga bisa menolak. Kalau kedua belah pihak udah menolak, ya otomatis kencan batal." Widhy terlihat berpikir di tempat duduknya. "Memang lo mau nolak?"
"Penginnya sih gue terima supaya nyokap nggak nagih-nagih pacar terus."
Widhy sudah membuat keputusan, siapapun yang akan dijodohkan dengannya kali ini akan ia jadikan pacar. Masalah perasaan itu urusan belakangan. Yang terpenting saat ini adalah ia terbebas dari pertanyaan, “kapan punya pacar?”.
"Ya udah, nanti datang ke Pre Date Meeting! Nyokap lo bilang kapan?"
"Nanti malem," jawabnya.
"Tentang perasaan lo gimana, kalau tetep nerima cewek itu?"
"Bisa dikondisikan, yang penting nyokap nggak rewel. Pusing gue ditagih-tagih melulu."
"Good lah, gue dukung lo seratus persen."
Setelah menutup telepon, Widhy melipat kedua tangannya di d**a sembari otaknya mulai berputar memikirkan rencana selanjutnya.
***
16 Mei 2020