VIONA menyeret tangan Dhisti saat turun dari mobilnya. Ia mengantar sampai depan pintu kafe yang bertuliskan Loveland. Namun, tiba-tiba semangat Dhisti surut terbawa arus saat melihat kafe yang menjadi tempatnya bertemu dengan si tokoh utama konflik ini.
"Gue tinggal ya, Dhis. Jangan lupa, meja nomor delapan! Have fun," katanya seraya melambaikan tangan lalu berjalan kembali menuju mobilnya.
"Have fun, gigimu!" ujar Dhisti pelan sembari mencebikkan bibir bawahnya.
Dhisti menarik napas lalu membuangnya perlahan. Ia harus bertanggung jawab atas ucapannya kepada Viona. Meski semua ini berdasarkan paksaan, tapi Dhisti harus profesional. Pelan-pelan ia masuk ke dalam kafe, lalu mencari meja yang sudah dipesan oleh Viona. Meski kafe tidak terlalu ramai tapi itu membuatnya pusing. Pusing dengan image yang akan dibangunnya malam ini.
Dhisti duduk dengan tenang sambil menunggu lelaki bernama Widhy yang tadi sempat diberitahu oleh Viona. Pikirannya terus melayang memikirkan kalimat apa saja yang akan diucapkannya nanti. Kira-kira seperti apa penampilan dan sifat lelaki itu? Dhisti terus berkecamuk dengan pikirannya sendiri, sampai sebuah sapaan menghentikan lamunannya.
"Selamat malam!" sapa lelaki itu, posisinya masih berdiri di hadapan Dhisti. "Kamu Viona dari Dateperimen?" tanya lelaki itu untuk memastikan.
"Be ... Betul. Si ... Silahkan duduk!" ujar Dhisti yang tiba-tiba gagap karena melihat penampilan lelaki di depannya.
Demi apa? Dia ganteng banget.
"Sudah pesan minum?" tanya lelaki itu kemudian, namun Dhisti masih bergeming di tempat duduknya. Ia ingat kata-kata Viona agar menolak Widhy malam ini. Dhisti berusaha mengempaskan pikiran tentang penampilan Widhy yang cukup membuatnya terpesona sebentar. Iya, hanya sebentar saja karena ia sudah keburu sadar.
"Kita keluar aja yuk, Mas!" Dhisti langsung menarik tangan Widhy lalu membawanya ke luar kafe. Widhy yang kebingungan hanya bisa pasrah tangannya diseret-seret bagaikan kambing.
Sampai di area parkiran Widhy segera melepas cekalan tangan Dhisti. Ia merasa risi ditarik seperti ini, kalau orang lain melihat adegan tersebut, Widhy bisa dikira sedang dimarahi pacarnya karena ketahuan selingkuh.
"Tunggu, tunggu, ini kamu mau bawa saya ke mana sih?"
"Di luar aja Mas sambil nyari angin," ujar Dhisti menyamarkan rasa gugupnya. Sebenarnya ia bingung harus bersikap seperti apa, sedangkan Viona memintanya berakting layaknya gadis nakal. Kalau lelaki di depannya tidak percaya bagaimana? Dhisti ‘kan punya wajah polos dan kelem.
"Enak di dalam bisa sambil duduk." Widhy masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Dhisti.
"Bosan ah," ujar Dhisti kemudian berjalan menuju samping kafe. Gadis itu membuka tasnya untuk mengambil beberapa helai tisu, lalu menaruhnya di lantai. Widhy mengikutinya seraya memperhatikan gerakan Dhisti dengan rasa bingung. Gadis di depannya benar-benar ajaib, bahkan mereka berdua belum berkenalan secara resmi tapi sudah mengajak Widhy melakukan hal aneh. "Duduk, Mas!" Dhisti sudah duduk di atas lantai beralas tisu.
"Kamu nggak salah? Di dalam tadi kita bisa duduk enak sambil minum, lantas kenapa kamu minta saya duduk di emperan kafe seperti ini?" Dhisti meringis mendengar ocehan Widhy. Ia tahu yang dilakukannya adalah hal gila, mana ada orang kencan duduk di emperan kafe. Kere banget. Tapi Dhisti tidak peduli dengan hal itu. Selain image nakal yang harus dibangun, ia juga akan menunjukkan sisi gilanya. Bukan tidak mungkin lelaki ini langsung ilfil kepadanya, kalau perlu muntah sekalian.
"Kalau Mas nggak mau ya nggak masalah, saya lebih suka di sini soalnya." Dhisti memperhatikan Widhy yang sudah berubah kesal dan tentu saja hal itu membuat hatinya senang.
Pasti setelah ini Widhy akan marah lalu pergi, begitulah harapan Dhisti.
"Pakai ini!"
"Yah?"
Dhisti lumayan terkejut saat melihat Widhy melepas jasnya lalu ia hamparkan ke atas paha Dhisti yang terbuka. Belum sempat rasa terkejutnya hilang karena Widhy membantunya, kini Dhisti harus dikejutkan dengan sikap tak terbaca dari lelaki ini. Ya, Widhy duduk di sampingnya.
Apa-apaan ini, seharusnya Widhy marah lalu pergi bukan malah menyetujui rencana gilanya. Kini otak Dhisti sudah buntu memikirkan langkah apa lagi yang harus diambilnya.
"Jadi, apa yang membuat kamu memilih duduk di emperan kafe pada pertemuan pertama kita ini?"
Oalah, aku harus jawab opo tho?
"Bosan aja Mas sama suasana kafe," katanya sekenanya.
"Kamu otentik ya," ungkap Widhy seraya memandang gadis di sebelahnya sementara Dhisti hanya bisa menyengir sembari garuk-garuk pundaknya. Biar saja Dhisti dikira panuan, itu lebih baik.
"Oh iya, Mas namanya siapa?" Dhisti mengalihkan pembicaraan.
"Saya Widhy Aryadinata."
"Saya panggil Mas Widhy, boleh?" tanya Dhisti dengan nada s*****l, sementara Widhy hanya mengangguk. "Mas Widhy kerja di mana?" tanyanya lagi. Dhisti mulai memainkan rambutnya, dan hal tersebut membuat leher mulusnya terekspos. Tentu saja niatnya untuk menggoda Widhy, meskipun Dhisti merasa jijik sendiri dengan dirinya.
Widhy tidak terganggu sama sekali dengan tingkah gadis di depannya. Sebaliknya, ia terlihat santai berbicara, kelewat santai malahan. Dan hal tersebut justru membuat Dhisti kalang kabut.
"Saya bekerja sebagai staf legal office di salah satu Event Organization di Jakarta, juga sebagai asisten dosen di kampus Buana Megantara." Ucapan Widhy meluncur bebas tanpan ragu, sementara di tempatnya Dhisti seperti mengingat sesuatu.
Tunggu, tunggu! Apa tadi dia bilang? Buana Megantara?
Bukankah itu merupakan nama kampus tempat dirinya kuliah? Dhisti tiba-tiba panik lalu mencoba mengingat-ingat di mana ia mendengar nama Widhy. Nyatanya, tidak perlu waktu cukup lama, Dhisti langsung mendapatkan memorinya.
Yang Dhisti tahu, Widhy Aryadinata adalah asisten dosen di mata kuliah Hukum Perdata Internasional yang sedang diikutinya semester ini. Kalau tidak salah ingat, Dhisti pernah terlambat dua kali di kelasnya Widhy dan ia langsung tidak diperbolehkan mengikuti mata kuliah tersebut. Satu lagi, Dhisti ingat pernah berdebat dengan Widhy soal antrean saat di kantin. Astaga, betapa banyak kesialan yang dihadapinya selama ini, dan semua itu berhubungan dengan Widhy.
Dhisti tidak bisa tenang di tempat duduknya, ia benar-benar sangat gelisah mengetahui fakta tersebut. Bagaimana kalau ia sampai ketahuan? Bukankah make up hasil tangan Viona merupakan maha karya yang abadi? Setidaknya, Widhy tidak akan curiga kalau Dhisti adalah mahasiswinya. Itu harapannya.
Dhisti melihat Widhy memperhatikan jam tangannya lalu lelaki itu bangkit berdiri.
"Kita nggak bisa cuma duduk-duduk begini aja, lagi pula saya ada meeting dadakan. Jadi, kamu ikut saya ya!"
"Yah?" Belum sempat Dhisti memahami situasinya, Widhy kembali membantu gadis itu untuk berdiri.
"Ayo!" ajak Widhy yang sudah kembali mengenakan jasnya. Melihat Dhisti masih bergeming, Widhy menarik lengannya lalu berjalan menuju tempat di mana mobilnya terparkir. "Jangan kebanyakan bengong, nggak baik lho!" Dhisti hanya tersenyum tipis.
"Mas, sepertinya saya nggak perlu ikut deh nanti saya malah ganggu. Kita batalin untuk kencan selanjutnya aja ya, lagi pula kelihatannya Mas Widhy sibuk banget." Dhisti masih berusaha menolak.
"Batal? Saya nggak berniat batalin kencan ini kok. Saya memang pengin ngajak kamu, nanti pulangnya saya anterin. Kamu tenang aja!"
Dan saat itu juga Dhisti tidak bisa berkutik karena Widhy sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Viona, tolong! Dhisti berteriak di dalam hatinya.
Namun gagal, mobil yang dikendarai Widhy sudah berhasil meninggalkan halaman kafe untuk bergabung dengan kendaraan lain.
Kenapa Dhisti tidak bisa menolak ajakan Widhy sih? Seharusnya pertemuan mereka berakhir di kafe saja, ini justru berlanjut ke tempat lain.
"Handphone kamu mana?" tanya Widhy saat mobil berhenti tepat di lampu lalu lintas.
"Yah?"
"Handphone!" Meski masih bingung dengan permintaan Widhy, Dhisti tetap memberikan handphone-nya. Dhisti terus memperhatikan gerakan Widhy yang terlihat santai ketika sedang mengotak-atik benda pintar itu. "Saya sudah masukkan nomor saya," katanya dan Dhisti hanya mengangguk tidak ingin berpikir lagi. Ia hanya kelewat lelah melakukan kebohongan ini.
Widhy membawanya ke sebuah rumah makan, dan di sana sudah ada beberapa orang yang sedang menunggunya. Widhy menarik tangan Dhisti untuk ia kenalkan ke teman meeting-nya malam ini.
Niat Dhisti hendak kabur ketika Widhy sibuk berdiskusi dengan temannya, kliennya, ah entahlah Dhisti tidak ingin tahu. Dhisti berniat pura-pura pergi ke toilet lalu meninggalkan Widhy. Namun, lagi-lagi semesta sedang tidak berpihak kepadanya. Widhy bahkan sesekali melayangkan pandang ke arahnya, lalu bagaimana caranya Dhisti bisa kabur dari tempat ini?
Mati aku! Wis, iki ancur rencanaku.
Selesai meeting, Widhy berniat mengantar Dhisti pulang. Namun, kali ini Dhisti punya rencana yang lebih gila agar Widhy tidak mengantarnya sampai rumah. Bisa bahaya kalau Widhy sampai tahu tempat tinggalnya.
"Berhenti Mas, saya turun di sini aja!"
"Memangnya sudah sampai?" Widhy menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Belum sih, tapi saya ada urusan. Jadi, saya turun di sini aja ya."
"Tapi ‘kan saya memang udah niat nganterin kamu pulang. Ini udah malem lho, kalau kamu kenapa-kenapa gim—"
Widhy memelotot, jantungnya seketika berdegup kencang. Bahkan sekarang ia sedang mati-matian menahan napas karena kelewat terkejut ketika Dhisti tiba-tiba membungkamnya dengan ciuman.
"Makasih ya, Mas. Please, jangan kejar saya!" cicit Dhisti lalu turun dari mobil. Buru-buru ia mencari taksi agar bisa terlepas dari belenggu seorang Widhy.
"Vionaaaaa!" rengeknya pelan seolah tertahan di tenggorokan saking kesalnya. Dhisti merutuki kebodohannya setelah berhasil duduk di dalam taksi.
Dhisti harus segera bertemu dengan Viona, agar gadis itu mau membereskan masalah ini. Lagi pula semua ini permintaan Viona dan Dhisti hanya menjalani perintah, ya meski ada imbalannya. Tapi dalam berteman memang ada istilah semacam take and give. Menurut Dhisti, ia tidak salah. Walaupun ia sudah melakukan hal gila di luar rencana mereka berdua.
***
16 Mei 2020