Caramella tidak mengundang Kristin ke apartemennya. Ketika wanita itu meminta bertemu, ia menawarkan waktu di firma dengan pengaturan tamu yang sudah dibicarakan. Kristin menyetujuinya setelah sempat mengatakan akan lebih nyaman berbicara di rumah.
"Aku lebih nyaman di kantor," jawab Caramella.
Itulah akhir pembicaraan mengenai tempat.
Pertemuan berlangsung dua hari kemudian. Kristin datang membawa tas kecil dan wajah yang tampak kurang tidur. Caramella melihat lingkaran gelap di bawah matanya, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk mengabaikan map di hadapannya.
"Apa kamu membawa dokumennya?"
Kristin duduk sebelum menjawab. "Tidak semuanya."
"Bagian mana yang ada?"
Wanita itu membuka tas, kemudian menutupnya lagi. Gerakan tersebut berlangsung terlalu lama untuk sekadar mencari selembar kertas.
Caramella menunggu.
"Uangnya sudah kupakai," kata Kristin akhirnya.
"Aku tahu ceknya sudah dicairkan. Yang kutanyakan bukti pembayaran utang."
Kristin mengalihkan pandangan ke jendela. Ia telah mencoba menyusun cerita sepanjang perjalanan, tetapi di hadapan Caramella, setiap alasan terasa mempunyai lubang yang akan segera ditanyakan.
"Tidak semuanya untuk utang."
Caramella meletakkan pena. "Berapa yang benar-benar dibayarkan?"
Tidak ada jawaban.
Keheningan itu membuat sesuatu dalam dirinya menjadi sangat dingin. Ia teringat tangis Kristin pada kunjungan pertama, bayangan ayahnya yang kembali menghancurkan kehidupan seseorang, dan betapa cepat ia mengambil keputusan untuk membantu.
"Apa ada penagih yang benar-benar mengancammu atas utang Ayah?"
Kristin menggigit bibir. "Aku sedang sangat membutuhkan uang."
"Itu bukan jawaban pertanyaanku."
Wanita itu menunduk. "Tidak seperti yang kukatakan waktu itu."
Caramella menarik napas perlahan. Ia ingin marah dengan suara keras, ingin mengatakan betapa bodohnya dirinya telah percaya. Namun ia tidak bodoh karena menanggapi orang yang mengaku ketakutan. Kristin yang memilih memanfaatkan keadaan tersebut.
"Aku perlu kamu menjelaskan yang sebenarnya. Tanpa membuat Ayah menjadi alasan."
Kristin mengaku bahwa cerita tentang dirinya sebagai penjamin tidak benar. Ia juga mengakui sebagian uang digunakan untuk kebutuhannya sendiri. Ketika ditanya siapa pria yang berpura-pura menagih, ia kembali diam.
Caramella mencatat pengakuan itu sebagai bagian dari pembicaraan, bukan sebagai jawaban lengkap atas semuanya.
"Aku belum bisa mengatakan masalah ini selesai. Aku akan meminta pendapat independen tentang langkah berikutnya dan menyimpan semua catatan pembayaran."
"Kamu akan melaporkanku?"
"Aku akan menentukan langkah setelah memahami seluruh keterangannya. Aku tidak akan membuat janji untuk menutupinya."
Kristin mulai menangis. Caramella menyodorkan tisu, tetapi tidak menarik kembali perkataannya.
***
Ketika tangisnya mereda, Kristin mengatakan bahwa ia takut kehilangan tempat tinggal. Ia juga kembali menyebut pria yang mengganggunya.
"Siapa namanya?" tanya Caramella.
"Robie."
Nama itu tidak dikenalnya.
"Dia ingin menikah denganku. Aku tidak mau."
"Apa dia mengancammu?"
Kristin mengangguk. Ia menceritakan kedatangan yang tidak diinginkan dan desakan yang semakin sering, tetapi tidak mengatakan apa yang digunakan Robie untuk memerasnya. Ia belum berani menyebut foto lama, detektif, atau nama Joana.
Caramella mendengarkan tanpa mengatakan bahwa penderitaan itu pantas diterimanya.
"Penipuan ini tetap perlu dipertanggungjawabkan," katanya. "Ancaman terhadapmu juga bukan sesuatu yang harus kamu terima. Keduanya tidak saling menghapus."
Kristin memandangnya dengan wajah basah. Ia tampak menunggu kalimat berikutnya berupa tawaran uang atau janji Caramella akan mendatangi Robie.
Tawaran itu tidak datang.
Caramella justru menyarankan agar Kristin mencari bantuan yang dapat menangani ancamannya secara langsung dan menawarkan informasi kontak yang dapat dimintanya melalui kantor. Ia tidak bersedia menjadi penengah pribadi di antara mereka.
"Aku tidak bisa mengurus semuanya untukmu."
Kristin menerima tisu baru dan mengangguk tanpa keyakinan. Sebelum pergi, ia berjanji akan memberikan keterangan pembayaran yang lebih lengkap. Caramella meminta agar janji tersebut ditindaklanjuti melalui catatan tertulis, bukan kunjungan mendadak lagi.
Ketika pintu tertutup, ruangan terasa begitu sunyi.
Caramella membuka kembali salinan cek dan pesan-pesan yang disimpan. Ia membaca tanggalnya, lalu menyusun catatan percakapan yang baru selesai ketika ingatannya masih jelas. Bagian yang diakui Kristin dipisahkan dari bagian yang belum dijawab.
Ia berhenti saat sampai pada kalimat tentang membutuhkan uang. Dahulu kalimat itu mungkin cukup membuatnya merasa harus mencari cara untuk membantu. Kini ia mengetahui bahwa sebuah kebutuhan tidak memberikan hak untuk menciptakan ancaman palsu atas nama orang lain.
Namun pengetahuan itu tidak langsung menghapus sedihnya.
Caramella sempat membayangkan dapat berteman dengan ibu tirinya. Ia mengingat ajakan Kristin untuk memanggilnya Ibu dan bagaimana dirinya merasa canggung, tetapi tidak menutup kemungkinan akan mempunyai hubungan yang lebih baik suatu hari nanti.
Yang hilang ternyata bukan hanya uang.
Ia mengambil napas, kemudian menuliskan pertanyaan untuk orang yang akan dimintai pendapat mengenai perkara tersebut. Ia ingin seseorang yang tidak terlibat secara pribadi membaca bahan yang ada sebelum dirinya mengambil langkah lebih jauh.
Meminta bantuan bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan. Justru kali ini ia ingin memahami pilihannya tanpa kemarahan kepada ayah atau rasa kasihan kepada Kristin mengambil alih penilaian.
Setelah catatan selesai, ia menyimpan map dalam laci dan mengunci pintunya. Urusan itu belum berakhir, tetapi tidak perlu memenuhi setiap sudut meja sepanjang hari. Ia masih mempunyai pekerjaan lain dan kehidupan yang tidak seluruhnya dapat ditentukan oleh kebohongan keluarganya.
***
Willow masuk setelah dipanggil. Ia melihat Caramella sedang memegang cangkir dengan kedua tangan, meskipun isinya sudah dingin.
"Apa Anda ingin saya memindahkan jadwal setelah ini?"
"Tidak. Aku hanya perlu beberapa menit."
Ia meminta catatan kedatangan dan komunikasi terkait Kristin disimpan dengan baik. Willow mengangguk dan keluar tanpa menanyakan rincian.
Caramella memandang map di depannya. Peringatan ayahnya ternyata mempunyai dasar, tetapi hal itu tidak serta-merta membuat seluruh perkataan Derick benar. Ia tidak akan berpindah dari mempercayai satu orang sepenuhnya kepada orang lain hanya karena sedang kecewa.
Malam itu ia menelepon ayahnya dan mengatakan bahwa cerita penjaminan tidak benar, sesuai pengakuan Kristin. Derick terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"Ayah sudah menduganya."
"Kenapa tidak menjelaskan sejak awal?"
"Aku malu dengan keadaan rumah tanggaku. Dan kupikir kamu tidak akan percaya."
Caramella memejamkan mata. "Mungkin aku akan ragu. Tapi Ayah tetap bisa memberiku fakta."
"Kamu benar."
Ia tidak menikmati mendengar ayahnya mengaku benar kepadanya. Yang diinginkannya sejak dulu adalah kejujuran yang datang sebelum masalah tumbuh, bukan sesudah ia menghabiskan tenaga untuk membongkarnya.
Derick mengatakan ia sudah mendapat jadwal pertemuan awal untuk membicarakan kebiasaan minumnya. Kali ini ia menyebut hari yang jelas. Caramella mencatatnya tanpa berjanji akan menelepon berkali-kali untuk memastikan ia datang.
"Kabarilah setelah Ayah menjalaninya."
"Akan Ayah lakukan."
***
Kristin pulang dengan perasaan berbeda dari saat meninggalkan kantor Caramella pertama kali. Tidak ada cek baru dalam tasnya. Hanya tisu, beberapa catatan, dan nama seseorang yang dapat dimintai bantuan jika ia bersedia menceritakan ancaman Robie.
Ia meletakkan tas di meja dan membuka ponsel. Sebuah pesan Robie menanyakan mengapa ia tidak menjawab telepon.
Kristin tidak langsung membalas.
Ia telah mengakui satu kebohongan, tetapi kebohongan yang paling tua masih berada di balik semua yang tidak dikatakannya. Jika Caramella terus mencari, ia tidak tahu berapa lama lagi pintu-pintu itu dapat dipertahankan tertutup.