Tristan sedang memasukkan salinan jadwal Ailana ke laci ketika neneknya menelepon. Ia tersenyum sebelum menjawab, lega mendengar suara Margaret yang biasanya membuat rumah terasa tidak terlalu jauh.
"Bagaimana keadaan Nenek?"
"Cukup baik. Apa kamu sedang sibuk?"
"Pekerjaanku sudah selesai."
Ada jeda yang tidak biasa. Tristan duduk dan menunggu. Ia mendengar Ester berbicara pelan di belakang, kemudian suara kursi digeser.
"Nenek ingin membicarakan ayah dan ibumu."
Senyumnya perlahan hilang.
Margaret meminta agar percakapan tidak dilakukan sambil ia mengemudi atau terburu-buru menuju tempat lain. Tristan mengatakan ia berada di apartemen. Tidak ada pertemuan yang harus dihadiri malam itu.
"Katakan saja, Nek."
Wanita tua itu menarik napas. "Ada bagian dari kematian mereka yang tidak pernah Nenek ceritakan kepadamu."
Tristan tidak langsung memahami. Selama hidupnya, ia mengetahui orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kesedihan yang datang melalui musik ibunya selalu mempunyai ujung yang sama: kendaraan, kematian, dan rumah yang kehilangan dua suara sekaligus.
"Bagian apa?"
Margaret menjelaskan bahwa ada dugaan keterlibatan seorang wanita bernama Joana dalam peristiwa tersebut. Ia menyebut hal yang diketahui keluarga dan bagian yang masih harus diperiksa, berhenti ketika tidak dapat memastikan suatu rincian.
"Nenek mencari wanita itu?"
"Iya. Nenek meminta bantuan seorang detektif."
Tristan berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. Ia berjalan ke jendela, kemudian kembali tanpa mengetahui apa yang ingin dilakukannya.
"Sejak kapan?"
Margaret menjelaskan pencarian yang sekarang dilakukan, tetapi Tristan masih terpaku pada satu kenyataan: ada orang-orang dalam keluarganya yang mengetahui sesuatu tentang kematian ayah dan ibunya, sementara dirinya dibiarkan memercayai cerita yang tidak lengkap.
"Bibi Ester juga tahu?"
Suara Ester terdengar ketika ia menjawab sendiri. "Iya."
Tristan memejamkan mata. "Dan tidak seorang pun mengatakan apa-apa kepadaku."
"Kami takut membuatmu menderita lagi," kata Margaret.
Ia tertawa pendek tanpa kegembiraan. "Apa menurut Nenek sekarang aku tidak menderita?"
Tidak ada jawaban yang langsung datang.
***
Di Cartagena, Ester duduk di samping ibunya dan melihat tangan tua itu bergetar di atas meja. Ia ingin mengambil alih, tetapi Margaret menggeleng. Kali ini ia harus mendengar sendiri kemarahan cucunya.
"Aku tidak tahu apa yang harus kupercaya," ujar Tristan.
"Percayalah bahwa Nenek seharusnya memberitahumu lebih awal," jawab Margaret. "Untuk hal lain, kamu berhak melihat keterangan yang ada dan bertanya sendiri."
Tristan berhenti berjalan. Ia meminta nama detektif dan cara menghubunginya. Margaret memberikannya, lalu mengatakan akan memberi tahu Jason bahwa cucunya ingin berbicara.
Tidak ada foto Joana yang dikirim dengan tuduhan baru atau janji penangkapan segera. Margaret menjelaskan bahwa pencarian belum menghasilkan kepastian keberadaan wanita tersebut.
"Aku ingin salinan hal yang memang bisa dibagikan kepadaku," kata Tristan. "Bukan hanya cerita yang dipilih agar aku tidak marah."
Ester mengiyakan permintaan itu. Ia tidak mengatakan bahwa Tristan harus memaafkan karena neneknya sudah tua.
Percakapan berlangsung lebih lama daripada yang mereka bayangkan. Beberapa pertanyaan belum mempunyai jawaban. Ketika Tristan akhirnya mengatakan perlu berhenti, Margaret menerima meskipun suaranya pecah.
"Nenek menyayangimu."
Tristan memegang ponselnya erat. "Aku tahu. Tapi aku perlu waktu."
Itulah kalimat terakhir sebelum panggilan berakhir.
***
Tristan duduk di tepi tempat tidur tanpa menyalakan lampu utama. Di laci tersimpan cincin yang pernah dipilihnya dengan keyakinan sederhana bahwa ia akan membuat Caramella menjadi istrinya.
Ia tidak membuka laci tersebut.
Pikirannya kembali pada piano, pada kemarahan yang pernah dilemparkannya kepada Caramella ketika wanita itu memainkan musik ibunya. Saat itu ia bahkan tidak memberikan penjelasan yang cukup, hanya berharap orang lain berhenti menyentuh bagian hidup yang terasa menyakitkan.
Sekarang ia berada di hadapan sesuatu yang disembunyikan orang lain darinya.
Ia meraih ponsel dan hampir membuka nama Caramella. Keinginan untuk mendengar suaranya datang begitu kuat hingga tangannya terasa sakit menahannya. Namun wanita itu tidak pernah berjanji menjadi tempat untuk seluruh kesedihannya.
Tristan memilih menelepon Alexis.
Sahabatnya menjawab dengan suara heran. "Ada apa?"
"Aku mendapat kabar tentang orang tuaku. Aku belum tahu bagaimana menjelaskannya."
Alexis tidak langsung menyela dengan pertanyaan. Ia mengatakan sedang berada di rumah dan dapat mendengarkan.
Tristan duduk lebih nyaman, lalu memulai dari awal. Ia tidak menceritakan kehidupan Caramella atau hal-hal yang bukan miliknya untuk dibagikan. Malam itu ia hanya berbicara tentang keluarganya sendiri.
Ketika selesai, Alexis mengembuskan napas panjang.
"Kamu akan menemui detektif itu?"
"Aku akan meminta waktu bicara."
"Kalau kamu ingin ditemani, katakan."
Tristan mengangguk meskipun sahabatnya tidak dapat melihat. "Terima kasih."
***
Keesokan paginya, ia menghubungi Jason Emerson. Pria itu sudah menerima kabar dari Margaret dan bersedia mengatur pertemuan. Tidak ada pembicaraan yang menjanjikan seluruh perkara akan selesai hanya karena Tristan kini ikut mengetahui.
"Aku ingin mendengar yang sudah diketahui dan yang belum," kata Tristan.
Jason menyetujui.
Setelah waktu dipilih, Tristan menuliskan pertanyaan pada kertas kosong. Apa yang pernah diperiksa? Bagian mana yang masih berupa dugaan? Mengapa pencarian kembali dilakukan sekarang? Ia berhenti sebelum memenuhi halaman dengan kemungkinan yang belum mempunyai dasar.
Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini Ailana mengingatkan jawaban tentang jadwal akhir pekan yang dijanjikannya.
Tristan menatap pesan itu dan merasa malu karena hampir lupa. Ia telah memeriksa kalender bersama Finn, tetapi belum memberi kabar kepada putrinya.
Ia menelepon Ailana dan menjelaskan waktu yang dapat dipenuhi serta pilihan hari lain untuk bagian yang tidak bisa. Gadis itu sempat mengeluh, kemudian memilih salah satu waktu yang ditawarkan.
"Ayah sedang lelah?" tanyanya.
"Sedikit. Ada urusan keluarga yang sedang kupikirkan."
"Nenek sakit lagi?"
"Bukan. Nenek cukup baik. Kamu tidak perlu menyelesaikan apa pun untuk Ayah."
Tristan mendengar kelegaan dalam suara gadis itu. Ia menanyakan tugas sekolah sebelum berpamitan, lalu mencatat waktu yang baru disepakati.
Kesedihannya tetap ada sesudah telepon ditutup. Namun ia tidak ingin membiarkan kabar tentang masa kecilnya membuat Ailana kembali merasa tidak mengetahui apakah orang dewasa akan memenuhi janji.
Ia dapat meminta bantuan kepada sahabat dan mencari jawaban dari Jason. Putrinya cukup mengetahui bahwa ayahnya masih dapat dihubungi dan akan mengatakan dengan jujur kalau jadwal berubah.
Tristan menyimpan catatan tersebut dan bersiap bekerja. Ia sempat berhenti di depan cermin. Wajahnya tampak sama, tetapi ada sesuatu dalam cerita hidupnya yang baru saja berubah tempat.
Ayah dan ibunya tetap telah meninggal. Mendapat nama yang diduga terlibat tidak mengembalikan mereka, tidak menghapus duka, dan belum menjelaskan semuanya.
Namun ia tidak akan lagi membiarkan orang lain memilihkan bagian mana dari kebenaran yang boleh diketahuinya.
Di Cartagena, Margaret menatap foto Karina di dekat lampu. Putrinya tersenyum dalam gambar, tidak mengetahui betapa panjang keheningan yang akan ditinggalkan sesudahnya.
Margaret mengusap matanya dan meminta Ester menyiapkan bahan yang diminta Tristan. Kali ini kotak itu dibuka bukan hanya untuk mencari seseorang yang hilang, tetapi juga untuk memberikan kepada cucunya sesuatu yang terlalu lama ditahan.